
Seminggu ini Lily mencoba untuk mendapatkan izin mengendarai roda dua kesayangannya ke kampus. Namun tidak membuahkan hasil. Dion bersikukuh bahwa ia yang akan selalu mengantar. Entah mengapa laki-laki itu seperti tidak mempunyai pekerjaan penting saja, sehingga ia memiliki waktu untuk mengantar bahkan menjemput Lily.
Contohnya siang ini, tadi pagi ia sudah berjanji akan menjemput Lily. Lily sedang menunggu dengan duduk di batas taman gerbang kampus karena jam kuliahnya sudah selesai.
Sudah beberapa waktu ia menunggu di sana, namun Dion tak kunjung datang. Gadis cantik juga imut-imut itu memutuskan untuk membuka sebuah artikel tentang ilmu kedokteran di ponsel pintarnya sembari menunggu. Saat tengah serius membaca, ia mendengar orang bernyanyi menyanyikan lagu Glen Fredly yang berjudul Kasih Putih yang diiringi petikan gitar. Lily mengarahkan pandangan, entah-entah itu adalah pengamen. Namun itu tidak mungkin, pengamen dan pengemis dilarang memasuki kawasan universitas ini.
Lily masih terus mencari sumber suara itu dengan langkah hati-hati. Orang yang bernyanyi dan memainkan alat musik petik itu menggaungkan suara yang sangat enak didengar. Itu suara perempuan. Lily kembali mengayunkan langkah pasti karena suara itu semakin dekat di pendengarannya.
Terlihat seseorang yang tengah duduk di bawah pohon rindang di balik gerbang utama dengan posisi memunggunginya. Orang itulah yang dicari Lily. Gitar di pangkuan dan kepala ditutup dengan topi sweater yang dia kenakan. Hanya itu yang Lily lihat dari belakang.
Dengan perasaan was-was Lily membawa dirinya untuk mendekat. Ingin tahu wajah orang yang memiliki suara semerdu ini juga lihai memainkan alat musiknya. Orang itu berhenti bernyanyi dan memetik gitarnya seperti tahu kalau ada orang yang mendekatinya. Dia menyandarkan gitarnya di batang pohon.
“Ada apa?” tanyanya tanpa menoleh sedikitpun. Lily terlonjak saking kagetnya. Bagaimana orang ini bisa tahu kalau ada yang menghampirinya dari belakang padahal Lily tidak mengeluarkan suara apapun.
“Ka-kamu tahu aku datang?” balas Lily bertanya dengan perasaan takut. Takut kalau orang itu akan marah karena Lily sudah berani mengusik keasyikannya.
Seperti tidak punya waktu untuk meladeni Lily, orang itu berdiri, memasukkan gitarnya ke tas gitar, mengambil tas punggungnya dan menggendongnya dan bersiap untuk pergi.
Dan pada saat orang itu memiringkan wajahnya untuk melangkah melalui Lily, Lily kembali terlonjak.
“Kakak?”
“Kamu?”
Orang itu juga cukup kaget namun kemudian wajahnya datar kembali. “Ada apa?” tanyanya lagi sama dengan pertanyaan awal.
“Kakak kuliah di sini juga?” Bukannya menjawab malah balik bertanya.
__ADS_1
“M.”
“Wahh, benarkah?” Lily sungguh tidak percaya bahwa orang itu juga salah satu mahasiswa di sana. Mengingat penampilannya dulu di angkot yang terkesan menakutkan. Namun untuk kali ini Lily tidak takut lagi karena orang yang belum diketahui namanya itu adalah orang baik.
“Saya pergi dulu.” Orang itu melangkah, tentu saja Lily tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
“Kak, tunggu!” Menghadang jalan. “Kita belum kenalan, namaku Liora, orang-orang biasa memanggilku Lily.” Mengulurkan tangan tidak lupa juga senyum manisnya.
Orang itu masih menatap datar. Tidak, sepertinya orang aneh itu tidak suka kalau ada orang lain yang mencoba untuk dekat dengannya.
“Oh.” Melanjutkan kembali langkahnya. Sama sekali tidak menyentuh uluran tangan Lily, diliriknya pun tidak.
Lily keheranan dengan sikap orang itu. “Kak, tunggu! Kakak belum memberitahu nama Kakak.”
Tidak dihiraukan. Orang aneh itu terus berlalu sampai benar-benar hilang dari pandangan Lily. Lily menatap tidak percaya. Orang itu baik tapi sombong tapi ... entahlah.
“Kamu lihat apa?” tanya Dion penuh selidik sembari melihat arah yang dilihat Lily tadi. Pria itu kemudian keluar dari kursi kemudinya.
“Itu, Mas. Tadi aku mengajak seseorang berkenalan tapi orang itu sepertinya nggak berminat dan berlalu begitu saja,” tutur Lily dan pandangan matanya beralih lagi ke arah di mana orang itu tadi lenyap.
Dion mengerutkan kening, “mengajak berkenalan?” tanyanya dengan suara tidak suka.
Lily menarik matanya dari arah yang lain itu dan kini menghadap suaminya. Ia tersadar kalau ia keceplosan berkata jujur dan mata Dion yang menatapnya tidak berkedip membuatnya sedikit gugup. Dion tetap diam namun sorot matanya seakan menuntut Lily untuk menjelaskan apa yang diucapkannya tadi.
“Orang itu pernah nolong aku, Mas.”
“Nolong? Nolong apa?” Wajah Dion bertambah serius dan menempelkan telapak tangannya pada kedua lengan Lily.
__ADS_1
“Nanti di dalam mobil saja aku jelaskan, Mas. Aku sudah sangat lapar,” jawab Lily santai lalu mendorong Dion untuk segera masuk ke mobil. Namun Dion menahan tubuhnya dan berbalik meraih kedua tangan Lily.
“Kalau ada sesuatu yang terjadi padamu, jangan sungkan untuk memberitahuku. Aku suamimu. Jangan ada yang kamu sembunyikan.”
Lily senyum melihat kekhawatiran Dion. “Tidak ada hal serius, Mas. Dulu saat pulang di hari pertama ospek, aku naik angkot dan ponselku dicopet. Orang itu yang membantuku untuk merebutnya kembali.”
“Dicopet?“ tanya Dion tidak percaya. Lily mengangguk. “Itu adalah hal serius. Bagaimana kamu bisa bilang kalau itu bukan hal serius.” Lily terdiam.
“Itu sebabnya aku tidak mengizinkanmu pergi sendirian. Ada banyak bahaya. Bagaimana kalau kamu diculik? Bagaimana kalau ada yang mengganggumu seperti dulu, apa kamu mau?” Sorot mata Dion menampakkan kalau dia memang benar mencemaskan Lily.
Menunduk, “maaf, Mas.”
Dion merengkuh tubuh istrinya, “aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu. Selalu hati-hati dimanapun kamu berada.” Mengangguk. Dion mendaratkan ciuman hangat di pucuk kepala gadis yang sudah menjadi istrinya itu.
Tanpa mereka sadari, ada orang yang mengamati mereka sedari tadi. Orang itu adalah Clara. Sudah beberapa kali Clara mencoba untuk menemui Dion, namun ia mendapat penolakan. Dia tidak diizinkan masuk oleh satpam ke dalam perusahaan atau ke kediaman Dion dengan alasan apapun karena begitulah perintah Dion. Maka diputuskannya tadi untuk menunggu pria itu di depan perusahaan dan mengikutinya.
“Dion, benarkah kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Aku sungguh tidak rela ada wanita lain yang kau cintai.” Wanita itu mencengkram kuat stir kemudinya dan menatap nanar mobil yang mulai bergerak tidak jauh di depannya. Iapun mengikuti kembali mobil itu.
***
Clara melihat Dion dan Lily memasuki sebuah toko bunga. “Apakah mereka mau membeli bunga?” Clara tertawa sumbang membandingkan dirinya saat dulu masih bersama Dion. “Jangankan membelikanku bunga, bersikap romantispun Dion tidak pernah.” Clara merasakan sakit hati yang berlebih.
Tidak lama kemudian Clara melihat mereka keluar lagi dengan seorang pria paruh baya. Clara terus mengamati mereka yang berjalan menjauh meninggalkan toko bunga.
“Mau ke mana mereka? Kenapa mobilnya ditinggal?”
Karena penasaran, Clara turun. Ia memasuki toko bunga itu untuk mencari tahu.
__ADS_1