
Lily berdiri di depan kaca raksasa transparan di sebuah ruangan di bandara. Matanya asyik bermain melihat banyaknya pesawat di apron bandara yang ada di bawah. Baru kali ini dia melihat pesawat sedekat ini.
Dion duduk santai beberapa langkah di belakangnya. Sementara papi dan mami sudah harus masuk pesawat beberapa saat yang lalu.
“Mas, pesawatnya besar, ya. Lebih besar dari yang aku lihat di tv,” ujar gadis itu dengan girang. Matanya memancarkan kekaguman dan masih terus memandangi pesawat-pesawat di sana yang diparkir.
Orang yang diajak bicara hanya diam. Membiarkan gadis itu melakukan apapun yang menyenangkan hatinya. Gadis itu memintanya untuk tinggal sebentar untuk melihat-lihat. Hanya ada mereka berdua di sana.
“Mas, mami dan papi naik pesawat yang mana?” Sekilas gadis itu menatap Dion meminta jawaban. Namun tidak lama kemudian berpaling lagi ke luar karena terdengar suara pesawat yang akan landing.
Lily menempelkan kedua telapak tangannya pada kaca. Mulutnya sedikit ternganga sambil berulang kali mengucap kekaguman tatkala badan pesawat miring bersiap menuju runway. Sorot matanya semakin berbinar melihat roda pesawat diturunkan dan menyentuh bumi, bibirnya ditarik ke kiri dan kanan sampai memperlihatkan gigi putihnya, tersenyum.
“Wahh, keren.” Gadis itu tepuk tangan sendiri setelah pesawat sukses diparkirkan. Hal sederhana begini bisa membuatnya senang.
“Sudah puas?” tanya Dion datar.
Lily menoleh, “eh, sejak kapan Mas Dion di sini?” Dion berdiri tepat di samping gadis itu menatap lurus ke depan.
“Sejak mulut kamu mangap.”
Dengan spontan Lily menutup mulutnya dengan tangan.
“Ayo pulang!”
“Tunggu dulu, Mas. Mas belum jawab pertanyaanku tadi. Mami dan papi naik pesawat yang mana? Apa mereka bisa melihatku dari sana?” tunjuk Lily pada pesawat-pesawat yang ada di apron.
“Pesawatnya tidak terlihat dari sini. Mereka naik private jet.”
“Private jet? Jet pribadi?”
“Mm. Ayo pulang.” Dion berbalik dan mulai mengayunkan langkahnya.
Lily mengikuti Dion dari belakang. Dia sedikit berlari mengimbangi langkah kaki Dion menuju mobil.
“Mas, jet pribadi itu bentuknya seperti apa? Apa sama dengan jet tempur?”
“Jelas beda.”
“Bedanya apa? Mana lebih keren?”
__ADS_1
“Sama-sama keren.”
“Kalo sama-sama keren, lantas kenapa bisa beda?”
Dan dengan berusaha sabar Dion menjawab pertanyaan-pertanyaan sd gadis itu. Di dalam mobilpun Lily masih terus mencuap-cuap melihat pesawat-pesawat yang take off dan landing di atas sana.
Setelah gadis itu kehabisan bahan untuk bicara, hp-nya berdering menandakan ada panggilan. Nama ‘Axel’ tertera di sana. Sebelum menjawab Lily melirik sebentar orang yang mengemudi.
“Kenapa? Apa mantanmu yang menelepon?” Dion bertanya dengan mata terus fokus ke depan.
Lily terlonjak, “eh, kok tahu?”
Dion diam. Sungguh tidak bisa dibaca suasana hati pria itu. Kalau kemarin-kemarin Dion menunjukkan ketidaksukaannya, namun sekarang tidak. Lily jadi ragu sendiri antara mau dijawab atau diabaikan. Menimang-nimang hp itu sampai akhirnya dering telepon mati.
Tidak sampai disitu saja, dering teleponnya berbunyi lagi dan dari nama yang sama. Diliriknya lagi suaminya, wajah itu masih tetap fokus ke depan.
“Sudah, jawab saja. Jangan membuatnya khawatir dan menunggu.”
Kata-katanya itu memang masuk akal tapi nada bicaranya ketus. Membuat Lily tambah enggan menjawab. Setelah dering mati, cepat-cepat Lily mengetik pesan dan mengirimnya. Tidak mau melihat Dion marah seperti kejadian kemarin.
***
“Mas!”
Lily mengejar. Namun Dion semakin cepat melangkah dengan sedikit berlari. Sampai tibalah di depan pintu utama. Di sana ada Edu yang sedang menunggu.
“Di dalam ada tamu, Tuan,” ujar Edu setelah terlebih dulu menunduk hormat.
Dion menghentikan langkah dengan mengeryit, “siapa?”
Belum Edu menjawab, seorang wanita berperawakan tinggi langsing, rambut hitam panjang yang dibawahnya keriting, kulit putih bersinar, mata yang indah keluar dari bibir pintu dengan berjalan melenggak lenggok bak model di catwalk.
“Sayang.” Wanita cantik itu mempercepat langkahnya mendekat ke Dion.
Dion terperangah. Belum sempat pria itu mengelak, wanita itu sudah terlebih dulu terbenam dalam pelukannya.
“Lepaskan!” Dion berusaha melepaskan kaitan tangan di balik punggungnya.
Wanita itu malah tertawa manis, “baiklah.” Wanita cantik itu memang melepas pelukannya. Namun tanpa diduga, tangannya berpindah merangkup kedua pipi Dion dan mencium bibir pria itu.
__ADS_1
Edu memalingkan wajah geram. Dia melihat nona mudanya mundur pelan di belakang Dion dengan wajah terperangah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, kemudian berlari menjauh. Tanpa disuruh, Edu mengejar Lily.
“Nona!”
Gadis itu terus berlari sampai ke garasi dan Edu terus mengejar.
“Nona!”
“Berikan kunci motorku!” pinta Lily setelah sampai di garasi dengan suara bergetar.
“Maaf, Nona. Saya tidak akan memberikannya.”
“Aku mau pergi!” teriak Lily menahan tangis.
“Tidak dengan keadaan ini, Nona.”
Lily melihat lift. Yakin kalau Edu tidak akan menuruti permintaannya, Lily masuk ke dalam lift itu dan naik ke atas.
Edu menarik napas lega. Untunglah gadis itu menghentikan niatnya untuk kabur. Namun kemudian wajahnya berubah kesal dengan sikap majikannya. Edu melangkah lagi ke pintu utama, dimana Dion berada. Edu melihat pertengkaran hebat disana.
Lily.
Gadis itu kini sedang ada di kamar dengan berurai air mata. Diambilnya buku diarynya yang diletakkan Dion di atas meja tadi pagi, kemudian masuk ke walk in closet. Beberapa saat kemudian dia keluar dengan menggendong tas ransel.
Wanita yang berbeda dengan wanita yang datang ke pernikahan dulu. Lebih dewasa, cantik dan menggoda. Wanita itu sangat cocok bila disandingkan dengan Dion. Air mata gadis itu terus berurai.
“Kenapa air mata ini harus keluar?” Lily menghapus kasar air matanya. “Seharusnya dulu aku menolak pernikahan ini mati-matian. Seharusnya aku sadar kalau aku orang asing di sini. Mas Dion sudah pernah bilang kalau dia tidak menyukai gadis ingusan sepertiku,” gumamnya dengan terus berjalan menuju lift tadi. “Bodohnya aku berani menyukai laki-laki yang umurnya jauh di atasku.”
**
Beruntung Lily mendapati pintu garasi terbuka. Ada seorang penjaga di sana sedang bersih-bersih mobil. Penjaga itu heran melihat Lily membawa tas ransel lumayan besar di punggungnya.
“Nona mau kemana?” tanya penjaga itu kebingungan.
“Mau keluar, Pak,” jawab Lily menahan isak tangisnya. Dia segera memakai helm, memasukkan anak kunci ke lubang kontak motor lalu menggasnya. Ternyata gadis itu memiliki kunci cadangan.
Lily melajukan motornya melewati pintu utama, yang mana masih ada Dion, Clara dan Edu di sana.
“Nona!” teriak Edu. Edu berlari menuruni tangga di depan pintu utama. Dia salah prediksi. Dikiranya Lily naik ke atas dan akan berdiam diri di kamar.
__ADS_1
Mohon dukungan like, komen apalagi vote, ya, sodara-sodara. Author akan lebih semangat menulis dengan adanya partisipasi kalian. Salam hangat😊