Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Mereka Pelangganku


__ADS_3

Sekian menitan Lily dan Dion duduk di depan rumah duka menunggu. Tidak lama terdengar sayup-sayup langkah kaki dan juga obrolan orang, semakin lama semakin ramai. Rupanya acara pemakaman sudah usai, terlihat dari pakaian orang-orang lewat yang serba hitam. Papi dan mami diantaranya. TPU tidak terlalu jauh dari rumah duka.


“Kalian sudah sampai?” Papi. Dion dan Lily menyambut dengan berdiri.


“Iya, Pi. Kami baru beberapa menit sampai. Jalan macet parah,” kesal Dion. “Rol dimana, Pi, Mi?” tanyanya kemudian sambil mata mencari-cari diantara orang-orang yang mulai berdatangan.


“Dia belakangan bersama anaknya. Kasihan mereka ditinggal secepat ini,” sendu mami. Nampak jelas gurat kesedihan di wajah yang baru sedikit keriput itu.


Lily hanya pendengar. Mau ikut nimbrung percuma, toh dia tidak kenal siapa yang berduka.


Sekilas mami tersenyum melihat Lily sedang membenarkan gulungan lengan bajunya, “kamu pakai bajunya Dion, ya?”


“Eh, iya, Mi. Bajunya kegedean,” jawab anak gadis itu sedikit kikuk.


Papi ikut tersenyum, sedang Dion melirik saja.


“Ayo kita masuk. Kita tunggu mereka di dalam saja,” ajak mami. Mereka melangkah kecuali Lily. Dia cukup enggan berada di sana karena merasa asing.


“Ly, ayo sini!” panggil mami.


“Iya, Mi.”


Namun sebelum Lily berbalik badan hendak masuk, matanya menangkap sosok kecil sedang mengucek-ngucek mata, rasanya dia kenal. Gadis itu memicingkan mata untuk memastikan. Benarkah dia mengenalinya?


“Cia?” panggilnya dengan nada bertanya.


Anak kecil yang merasa namanya disebut itu melihat ke arahnya, dia menghempaskan tangannya dari genggaman sang ayah dan berlari menghampiri Lily.


Lily terkesiap. Ternyata betul gadis kecil itu adalah Cia. Gadis cilik itu memeluk erat pinggang Lily dan menangis sejadi-jadinya.


“Kak Lily, Mama, Mama udah pergi jauh,” ucap anak itu dengan sesenggukan dipelukannya. “Mama nggak akan ada lagi di samping Cia, Kak.”

__ADS_1


Apa? Ja-jadi yang meninggal adalah mamanya Cia.


Lily tertegun dengan ternganga dan tidak lama setelahnya butiran-butiran air mata berjatuhan. Diturunkannya tubuhnya agar sejajar dengan anak itu dan dipeluknya dengan erat. Mereka berdua menangis sejadi-jadinya.


Seharusnya tidak begini, Tuhan. Anak ini terlalu kecil untuk kehilangan sosok ibu. Bagaimana mungkin dia bisa kuat menghadapi ini?


Ntah sudah berapa lama mereka berpelukan sampai akhirnya pelukan itu mengurai.


“Lily.” Lily mendongak. Ada Carol dengan mata bengkak dan sembab di belakang Cia. Lily bangkit berdiri dan tidak tahu dorongan dari mana Lily memeluk pria itu, juga erat.


“Pak Carol...” Lily tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Hatinya teriris perih dengan kemalangan ini. Seperti terulang lagi saat-saat kepergian sang mama.


Carol membiarkan Lily menangis memeluknya. Air mata yang sudah sempat kering pun ikut berjatuhan dari pipi. Sekarang Carol tahu rasanya ditinggal pergi orang terkasih untuk selamanya. Ditepuk-tepuknya punggung Lily agar lebih tenang.


Sedangkan bola api terpancar dari sepasang mata. Tangan terkepal. Aura panas keluar dari tubuhnya. Kedua orang itu berpelukan di hadapannya. Berjalan satu langkah hendak menarik tubuh istrinya. Namun sudah didahului.


“Ehm...ehem.” Mami berdehem. Pelukan itupun lepas. Mereka sibuk menghapus air mata masing-masing.


Kak Lily? Bagaimana mereka bisa saling kenal?


Sekali lagi Lily menempelkan lututnya ke lantai agar bisa melihat wajah Cia dengan leluasa, air matanya tidak boleh jatuh agar tidak membuat Cia semakin sedih. Lily mengusap lembut pipi Cia yang masih basah.


“Cia sayang, Cia nggak mau kan kalau mama sedih?” Cia mengangguk. “Kalau begitu, Cia jangan nangis lagi, ya. Kalau Cia nangis, mama di atas sana juga ikut nangis.”


“Bagaimana Kakak bisa tahu kalau mama Cia juga ikut nangis? Mama kan udah pergi jauh.”


Lily senyum terpaksa. “Iya, Kak Lily tahu. Mama Kak Lily juga udah pergi jauh. Mama kita sama-sama udah ada di atas sana.” Getaran suara itu terdengar berat. Sebisa mungkin Lily menahan tangisnya.


Cia mendekap leher Lily. “Berarti kita sama-sama nggak punya mama lagi, ya, Kak.”


Lily mengangguk sedih, dilepasnya dekapan tangan mungil itu dan berkata lembut, “Cia sayang, walaupun sekarang kita nggak punya mama lagi, kita kan masih punya papa. Papa juga sayang kok sama kita.” Lily terus menghibur Cia untuk mengurangi rasa sedih anak itu.

__ADS_1


Carol tersenyum tipis melihat kedekatan Lily dan Cia. Ia bersyukur ada gadis seperti Lily yang bisa menghibur putrinya. Dia tidak boleh menunjukkan kesedihannya di depan putrinya. Kalau dia masih sedih terus siapa yang akan menghibur Cia.


Lain halnya dengan Dion dan orangtuanya. Terbesit tanya di hati tentang kedekatan ini.


_____________________________________________


Perjalanan pulang. Dion dan Lily di mobil yang sama, mami dan papi bersama supir di mobil yang lain.


“Katakan, kenapa kau bisa mengenal Carol dan keluarganya?” Sebentar Dion melirik Lily, kemudian fokus lagi dengan kemudinya. Dia sudah tidak sabar mendengar penjelasan Lily kalau harus menunggu sampai di rumah. Dua nama laki-laki berkecamuk dalam kepalanya, Axel dan Carol.


“Kenapa memangnya? Apa aku nggak boleh kenal mereka?” balik bertanya dengan ringan.


Dion mengeram tajam menambah kemarahannya. Dipinggirkannya mobil hitam itu dan dimatikan mesinnya. Ia menatap tajam wajah manis itu sampai membuat Lily beringsut memundurkan kepala. Dia ketakutan.


“Kenapa kau begini? Sebenarnya apa yang kau inginkan?” tanya Dion berapi-api. Tadi saat di rumah duka, ia ingin menanyakan langsung pada Carol. Namun mengingat di sana adalah rumah duka dan yang berduka adalah Carol dia mengurungkan niatnya. Kesabarannya habis terkuras dipakai semua di sana. “Jawab!”


Lily tersentak. Tidak pernah dilihatnya Dion berapi-api dan marah sebesar ini. Sungguh kemarahan Dion membuatnya ketakutan.


Gadis itu balik badan dan dibukanya pintu mobil. Sayang, pintu itu terkunci.


“Aku memintamu untuk menjawab pertanyaanku bukan keluar dari mobil!” Suara Dion tetap tinggi karena Lily tak kunjung menjawab pertanyaannya.


“A,aku...,” sesaat Lily menarik napas dan membuangnya kasar, “kenapa kamu bertanya harus marah-marah. Kau membuatku takut,” sarkas Lily tidak mau kalah.


“Jawab saja pertanyaanku, bagaimana kau bisa mengenal Carol?” Dion mengulangi pertanyaannya. Seingatnya, Carol tidak pernah bertemu Lily sebelumnya. Di pernikahan pun Carol dan keluarganya tidak datang karena menjaga istrinya yang sakit kala itu. Kalaupun Carol pernah datang ke rumah saat dia di Spanyol, wajarkah mereka berpelukan erat seperti tadi?


“Jawab!!” Suara Dion naik dua oktaf dan itu membuat Lily menangis ketakutan.


“Mereka itu pelanggan di toko bunga,” jawab Lily terbata-bata disela tangisnya.


“Apakah setiap pelanggan yang sedang berduka atau sedih selalu kau peluk? Segitu gampangnyakah tubuhmu untuk dipeluk demi mempertahankan pelangganmu? Begitukah caramu melayani pelangganmu? Ayo, jawab!” Dion sama sekali tidak menurunkan nada bicaranya. Dia bahkan tidak peduli dengan Lily yang sudah terisak ketakutan.

__ADS_1


“Buka pintunya. Aku mau turun.”


__ADS_2