Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Harus Izin


__ADS_3

Malam semakin larut sepertinya. Dion keluar dari ruang kerjanya dan masuk ke kamar. Dilihatnya Lily tertidur pulas dengan mendekap sesuatu di dadanya.


Dion mendekat, karena fokus melihat barang yang didekap istrinya, tidak sengaja menendang sebuah boks ukuran sedang di samping tempat tidur. Didalamnya Dion bisa melihat bermacam-macam buku, alat tulis, kartu ucapan perpisahan, ada juga boneka-boneka lucu dan lain-lain.


Dion tertarik pada sebuah tropi. Diambilnya tropi itu dan dibaca keterangan di bawahnya. Dia mengembangkan senyum. “Lumayanlah, dapat juara lll.” Dia tidak memasukkannya lagi ke dalam boks melainkan diletakkan di atas meja nakas.


Pandangannya tertuju lagi pada bingkai foto yang ada dalam dekapan Lily. Dion sungguh penasaran, ingin melihat foto siapa di sana. Kalau dilihat dari cara Lily memeluk foto itu, mungkin saja foto keluarga begitu yang dibayangkan Dion.


Dion mendekat dan menarik pelan bingkai itu, tidak berhasil diambil. Lily menggeliat namun tidak bangun, hanya mengubah posisinya tidur dan terlelap kembali. Bingkai itu masih dipeluknya erat.


Foto siapa yang ada di sana?


Dion semakin penasaran karena Lily tidak melepas benda itu meski sudah tidur pulas. Tangannya sudah bergerak di udara hendak mencoba kembali mengambil bingkai itu. Namun saat matanya memastikan Lily tidak bangun, dia melihat ada secarik kertas di samping wajah Lily yang sebagian tertutupi oleh rambut. Wajahnya berkerut, sekilas dia membaca ada tulisan cinta.


Ditariknya hati-hati kertas itu agar rambut Lily tidak ikut tertarik. Duduk di bibir tempat tidur dan mulai membaca.


Cintaku yang indah


*teruntuk dirimu yang kucinta


syair sederhana tulisan tanganku


aku mencintaimu tanpa syarat, tanpa batas


walau ribuan kerikil tajam menghadang


pedang menghujam, angin badai menerjang


tetap kukatakan aku sayang


Liora Annetta,


nama yang terukir indah di dalam jiwa


nama yang lebih indah dari bunga lily


menyebut namamu dalam setiap doaku


adalah caraku mencintaimu

__ADS_1


selalulah tersenyum


karena senyummu adalah bahagiaku


your Axel Lewis*


Dion meremas gemas kertas itu bersamaan dengan mengepalkan tangannya. Ada benda tajam yang menusuk hatinya setelah selesai membaca puisi itu.


Apa mereka benar-benar berpacaran?


Lagi-lagi Dion melayangkan pandang pada Lily dengan tatapan tajam. Sorot mata itu dipenuhi kemarahan. Andai saja Lily masih terjaga, Dion tentu sudah dari tadi mengayunkan amarahnya pada Lily.


Pikiran Dion tidak karuan. Lebih baik menyelesaikan tumpukan dokumen di kantor daripada memikirkan kenyataan istrinya punya pacar.


Apa selama aku tidak ada mereka selalu berduaan? Berani sekali dia pacaran padahal sudah menikah. Dan dia bilang tadi apa, pergi dengan pria itu?


Dion frustasi sendiri dengan segala kemungkinan yang dipikirkan. Entah sudah berapa kali putaran dia mengelilingi tempat tidur yang ada istrinya itu dengan perasaan jengkel dan marah. Ditariknya bingkai foto yang menarik perhatiannya dari tadi tanpa peduli akan mengusik Lily. Untungnya Lily tetap tidur.


Beraninya mereka pacaran!


Tidak tahu sudah semarah apa Dion sekarang. Wajah dan matanya merah seketika sambil menatap marah foto itu.


Beberapa waktu Dion memilih keluar dari kamar. Kalau dia masih tetap ada di sana, emosinya tidak akan bisa mereda.


Sayup-sayup terdengar kicau burung di luar sana. Mentari pagi ternyata sudah menyinari alam semesta.


Lily menggeliat kemudian duduk setengah sadar, “mimpi yang indah,” berucap pada diri sendiri.


Lily membuka kelopak matanya, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


“Eh, selamat pagi, Mas.” Lily melihat Dion duduk di sofa, sudah rapi dengan memakai kemeja hitam lengan pendek.


Dion menjawab hanya dengan lirikan sinis. Lalu sibuk lagi dengan buku di tangannya.


Kenapa dengannya? Masih pagi wajah sudah ditekuk begitu.


Lily masuk ke kamar mandi dan tentu saja mau mandi.


Lily sudah keluar dengan celana jeans dan kaus oblong kesukaannya. Wajah dipoles dengan sedikit riasan dan wangi parfum tercium segar dari tubuhnya. Wajahnya terlihat ceria.

__ADS_1


“Mau ke mana kamu?” tanya Dion spontan saat Lily hendak membuka pintu.


“Eum, mau ketemu teman-teman, Mas. Kami sudah janjian kemarin,” jawab Lily sumringah.


“Tidak bisa.”


“Tidak bisa? Kenapa tidak bisa, Mas? Ini kan hari minggu. Mami sama papi nggak pernah larang aku keluar,” protesnya.


Dion menutup bukunya kasar, ”duduk!” perintahnya.


Lily bergidik ngeri melihat tatapan memangsa Dion. Tatapan tidak bersahabat ini lebih mematikan dari sebelum-sebelumnya. Lily tidak berani menjawab apalagi membantah. Reflek tubuhnya bergerak mengikuti yang disuruh Dion.


“Mulai sekarang kau harus izin dulu mau ke mana dan melakukan apa padaku. Kau tahu kan, aku siapamu?!” kata-kata Dion penuh dengan penekanan. Teringat kembali foto dan puisi cinta semalam yang mengoyak hatinya.


Dia ini kenapa? kenapa harus mengingatkan aku kalau dia suamiku. Jelas-jelas dia tidak menginginkan pernikahan ini.


“Iya, aku tahu.”


“Bagus kalau kau tahu. Dan kau harus mengingat itu baik-baik. Jangan sampai aku mengulangi lagi kata-kata itu.”


Eh!!


“Sekarang ganti bajumu dengan warna hitam.” Meraih kembali buku yang diletakkan tadi di atas meja hendak melanjutkan membaca.


“Aku nggak suka warna hitam. Kenapa aku harus ganti baju, baju ini kesayanganku.” Lily berani membantah, berlebihan sekali kalau Dion sampai ikut campur masalah baju dan penampilannya. Tidak peduli raut wajah Dion marah atau bagaimana. “Aku nggak mau ganti baju!” menantang.


Dion menyimpan kembali buku yang belum dibacanya itu. “Kau harus ganti baju dan ikut denganku.” Nada suaranya merendah. Dia sadar dia berbicara dengan orang yang umurnya jauh di bawahnya. “Mami dan papi sudah ada di sana menunggu kita, cepatlah ganti baju kalau tidak kita akan terlambat,” tambahnya lagi karena Lily sama sekali tidak bergerak. “Aku akan menunggu di bawah.” Beranjak dan ingin pergi.


“Kamu memintaku ganti baju dengan warna hitam bukan karena ingin senada dengan bajumu, kan?” tanya Lily penuh selidik.


Geram, “semua orang yang kita temui nanti akan memakai warna yang sama, kita akan melayat. Cepatlah ganti bajumu. Kau ini banyak sekali bicara.” Sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata bagaimana kedongkolan Dion saat ini.


“Tapi bagaimana dengan teman-temanku?”


“Kau memilih temanmu atau ikut denganku?”


“Aku... .”


Dion benar-benar kehilangan kesabarannya di depan Lily. Gadis itu selalu bisa memancing amarah. “Kau bisa menemui temanmu besok atau kapan-kapan. Apa kau tidak bisa patuh padaku?”

__ADS_1


“Baiklah, tunggu aku sebentar, ya.” Berlari ke ruang pakaian.


Dion menarik napas lega, akhirnya perang baju selesai. Berdebat dengan Lily membuat perutnya keroncongan. Masih sebulan menikah dengan gadis itu, stok kesabarannya mulai menipis. Bagaimana caranya menghadapi Lily besok-besok? Apa dia perlu membaca buku ‘Tips Menghadapi Istri Cerewet’? Dion menggoyang-goyang kepalanya yang sudah melantur ke mana-mana sembari menuruni anak tangga.


__ADS_2