
“Siapa orang itu? Kenapa dia seperti kesetanan terhadapmu?” Uni membawa Lily duduk kembali ke kursi panjang agar lebih tenang. Andai ada orang lain yang melihat tindakan Clara tadi, sudah pasti wanita itu tidak akan bisa pergi dengan selamat, ia akan diseret ke kantor polisi atau bahkan akan dihakimi masa terlebih dulu.
“Dia mantan pacar suamiku yang ingin aku berpisah dengan Mas Dion, Kak,” jawab Lily sembari memegangi lehernya yang terlihat merah.
“Jadi kamu memang sudah menikah?” Uni bertanya lagi. Kali ini ia jadi tidak pelit bicara. Atau lebih tepatnya ia penasaran dengan status Lily yang lebih muda dari dirinya.
“Iya, aku udah nikah, Kak.”
Uni memandangi Lily cukup lama untuk menemukan kejujuran di wajah Lily. Sepertinya benar, tidak ada alasan bagi Lily membohongi dirinya. “Wanita tadi sangat berbahaya. Kamu harus hati-hati kalau bertemu dia lagi.”
Lily mengangguk. Benar, Clara wanita berbahaya. Lily tidak menyangka Clara akan melakukan hal nekat yang menyakiti dirinya seperti tadi. Ia memegangi lehernya yang terasa berdenyut akibat dicekik tadi.
“Ini, minumlah! Barangkali bisa membuat tenggorokanmu membaik.” Uni menyodorkan cup gelas jus bekas miliknya yang masih bersisa. Lily melihat tidak percaya.
“Kalau tidak mau, aku bisa membelikanmu yang baru.”
“Bukan tentang mau atau tidak. Tapi jus Kakak itu udah habis. Apanya yang mau aku minum,” ucap Lily dengan ketus.
Uni melihat cup jusnya. “Oh, maaf. Aku kira masih tersisa banyak. Hee.”
Kekesalan Lily kini berubah menjadi terkesima karena senyuman Uni yang menampakkan gigi ginsulnya, manis. Ini kali pertama ia melihat Uni tersenyum dengan tingkah konyol dan tidak dingin seperti biasanya.
“Kak Uni ternyata bisa senyum, ya? Aku pikir bibir Kakak nggak bisa melengkung ke atas.”
Mendengar ledekan Lily, Uni menyudahi senyumnya dan melihat Lily tidak suka. “Tunggulah di sini sebentar. Aku akan membeli minuman di sana,” tunjuk Uni pada sebuah warung kecil.
Lily mengangguk menahan tawa. Selama ia mengenal Uni, wanita bergaya laki-laki itu tidak pernah melakukan kesalahan, selalu serius, dan tidak pernah mengeluarkan kata maaf dari mulutnya. Entah Uni sengaja atau tidak membuat kelucuan seperti itu, Lily cukup terhibur.
Sembari menunggu Uni, kembali Lily memegangi lehernya dan melamunkan kejadian tadi. Untuk kedua kalinya ia beruntung karena diselamatkan Uni. Andai saja Uni tidak datang, entah apa yang akan terjadi pada dirinya. Haruskah ia berterima kasih pada si pencopet karena atas tindakannya di angkot dulu, kini ia berteman dengan Uni yang bisa menyelamatkannya tepat waktu?
__ADS_1
Lily masih melamun sampai sebuah mobil berhenti di depan ia duduk. Orang itu keluar dari belakang kemudi dan menghampiri Lily.
“Kenapa kau melamun? Kenapa kau tidak membalas dan menjawab teleponku?”
Lily masih termangu. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur dalam hati karena Tuhan mengirimkan orang baik seperti Uni untuk menolongnya.
“Lily!”
Masih termenung.
Dion merengut. Bisa-bisanya gadis ini melamun di bawah cuaca yang masih terik. Dion duduk di sebelah Lily lalu mencubit gemas lengan Lily sampai gadis itu meringis.
“Mas Dion? Kenapa Mas Dion bisa di sini?” tanya Lily dengan suara terkejut.
Dion melipat tangan dengan santai. “Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau tidak menjawab teleponku dan malah duduk melamun di sini?”
“Mas Dion menelepon?” Lily mencoba mengingat-ingat apakah ia tadi mendengar nada dering hp-nya. “Ah, tadi aku membuat mode senyap saat dosen mengajar dan lupa mengaktifkannya lagi.” Lily merogoh isi tas punggungnya untuk menemukan benda elektronik itu. “Maaf, ya, Mas. Emang Mas Dion mau bilang apa sampai harus menghubungiku?” tanya Lily, tapi matanya fokus pada hp saat benda itu sudah ada dalam genggamannya.
“Ehm.” Lily jadi gugup. Haruskah ia menceritakan perbuatan Clara yang sudah termasuk dalam hukum pidana?
Saat Lily masih terus memikirkan alasan apa yang akan dikatakannya, Uni datang. “Maaf, Anda siapa?” tanya Uni dengan melirik tangan Dion yang memegang tangan Lily.
Dengan cepat Lily membawa tubuhnya diantara Uni dan Dion hingga tangan Dion terlepas. Jangan sampai Uni bertindak kasar pada Dion seperti yang dilakukannya pada Clara tadi.
“Kak, ini Mas Dion, suamiku. Mas, ini Kak Uni, teman yang kuceritakan yang membantuku di angkot dulu.” Lily memperkenalkan kedua orang yang sama-sama mempunyai sifat dingin itu.
“Terima kasih sudah membantu istri saya,” tutur Dion datar yang hanya diangguki oleh Uni.
“Ini minumannya.” Uni menyodorkan air mineral kemasan.
__ADS_1
“Terima kasih, Kak.”
“Kalau begitu saya duluan.”
“Kak, kita bareng aja,” pinta Lily.
“Tidak, terima kasih. Saya harus ke suatu tempat,” tolak Uni lalu iapun berlalu
***
Sebelum Dion menjalankan kendaraan itu, kembali ia mengamati leher Lily. Samar-samar masih terlihat bekas jari di sana, jadi bisa disimpulkan kalau itu adalah bekas cekikan.
“Katakan kenapa lehermu begini? Siapa yang mencekikmu?” Dion menyingkirkan rambut Lily yang menghalangi leher. Namun kembali Lily mengambil rambutnya dan menutupi leher seperti tadi. “Kenapa diam dan malah menutupinya lagi?” Ingin lagi menyingkirkan rambut itu untuk memastikan seberapa parah cekikannya. Namun Lily menjauhkan kepalanya hingga tangan Dion tidak sampai menyentuhnya.
“Ini hanya kerjaan orang nggak waras, Mas. Tadi sewaktu keluar gerbang, orang itu langsung menyerang aku. Untungnya ada Kak Uni yang menolongku,” jawab Lily tanpa mau melihat Dion. Ia akan gugup kalau mata mereka bertemu dan akan ketahuan berbohong.
“Tidak waras? Maksudmu orang gila?” Dion tidak percaya. “Dimana orang itu?” Dion memindai sekitar. Namun tidak ada orang yang mencurigakan.
“Iya. Kelihatannya orang itu depresi berat.” Lily melihat Dion, “Orang itu udah pergi, Mas. Untung ada Kak Uni yang membantu aku mengusirnya tadi.” Lily tersenyum untuk meyakinkan Dion. Biarlah Dion tidak perlu tahu kejadian yang sebenarnya. Uni juga sudah memberi Clara pelajaran dan tidak akan mungkin lagi berani menyakitinya. Untuk kedepannya ia akan berhati-hati bila bertemu wanita anggun tapi hatinya tidak cantik itu. Ia akan menyediakan merica atau cabai bubuk di dalam tasnya sebagai senjatanya untuk menjaga diri dari hal-hal yang tak terduga seperti tadi.
Dion masih belum memutus pandangannya dari Lily. Dia sendiri tidak tahu harus percaya atau tidak dengan alasan yang diberi Lily. Dion menarik tubuh Lily dan memeluknya. “Maaf, karena pekerjaanku aku jadi terlambat menjemputmu dan kau mengalami kejadian itu.”
“Nggak apa-apa, Mas. Aku yang kurang bisa menjaga diri dari orang kayak tadi.”
Dion melepas pelukan. “Kau ini bagaimana? Menghadapi orang tidak punya akal saja tidak bisa. Bagaimana kau bisa menghadapi orang yang banyak akal?”
Lily terperangah melihat perubahan Dion yang jadi dingin. “Aku juga nggak tahu kalau orang itu nggak punya akal,” balasnya dengan ketus. “Kau mengatainya tidak punya akal tapi kau berpacaran dengannya,” gumam Lily kesal.
“Kau bilang apa?”
__ADS_1
“Aku bilang orang yang nggak punya akal itu pernah pacaran.”