Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Aroma yang Dirindukan


__ADS_3

Siang ini angin yang semula berembus sepoi-sepoi berubah menjadi lebih kencang. Daun pepohonan yang ada di area gedung auditorium berguguran dan jatuh akibat diterpa angin. Langit yang tadinya masih terlihat biru perlahan-lahan tertutupi dengan kerumunan awan hitam.


Lily mencoba mempercepat langkah. Rok batik sepanjang mata kaki membuatnya sulit untuk berjalan cepat. Hari ini dirinya telah diwisuda.


Setelah bertahun-tahun mendalami teori ataupun metode pada masa perkuliahan, menghadapi ujian blok di setiap semesternya, hingga menyusun karya tulis ilmiah yang syarat dengan penelitian dan yang terakhir menghadapi sidang skripsi yang harus berhadapan langsung dengan dosen penguji yang konon siap membantai dengan pertanyaan tajam dan kritisnya. Akhirnya kini Lily mendapatkan gelar S.Ked. Ia patut berterimakasih pada dosen pembimbingnya yang telah banyak membantu dan memberikan arahan. Dan tentunya juga pada orang tersayangnya yang selalu mendukung penuh, Adnan dan Gendis.


Adnan dan Gendis sudah pulang duluan meninggalkan acara wisuda yang belum selesai karena anak mereka rewel. Namun Lily tidak sendiri, ada Uni bersamanya. Hampers, boneka, bunga, makanan terlihat memenuhi tangannya. Bahkan Uni turut direpotkan membawakan hadiah-hadiah yang lain. Kalau ia tahu akan mendapatkan banyak hadiah seperti ini, ia akan membawa tas besar atau sekalian koper.


“Kak, mobilnya udah sampe belum?” Akhirnya mereka sampai juga di depan gerbang setelah Lily bersusah payah berjalan dengan rok seketat itu. Angin bertiup bertambah kencang hingga menerbangkan topi toganya. “Akh, topinya terbang!” Lily mengejar. Namun karena rok panjang yang membuatnya susah bergerak dengan cepat dan juga angin yang semakin jauh menerbangkan topinya, ia akhirnya menyerah untuk mengejar sambil berdecak. “Sial!”


“Sudah, biarkan saja. Nanti beli lagi.” Uni membaca jam di aplikasi mobil online-nya dengan susah payah karena barang-barang yang memenuhi tangannya. “12 menit lagi mobilnya sampai.”


Angin semakin berebutan menggoyang-goyangkan ranting pohon ke sana-sini. Bisa dipastikan sebentar lagi akan hujan. “Kak, kok lama sih?”


“Sabar saja.” Uni melihat hadiah-hadiah yang mereka bawa sembari berpikir. “Aku akan mencari plastik atau tas dulu. Kamu tunggu saja di sana,” tunjuknya menggunakan dagu pada sebuah pembatas taman. Lily mengangguk patuh.


“Lily!” Seruan seseorang membuat Lily menghentikan aktivitasnya memijit-mijit lutut lalu menoleh.


“Rian,” balas Lily dengan malas. Lily sudah merasa lega karena setelah mendapat kembang dari ‘pacar’, Rian tidak pernah lagi menyapanya bahkan bertemu pun tidak.


“Selamat, ‘ya. Akhirnya kamu udah dapat gelar sekarang.” Rian menyerahkan hadiahnya. Tidak tahu apa karena dibungkus. “Maaf aku tadi nggak bisa datang. Aku lagi banyak kerjaan.” Rian tiga semester di atas Lily dan sudah menyelesaikan kuliahnya. Kini ia sudah memiliki pekerjaan.


“Nggak apa-apa.” Karena Lily memang tidak mengharapkan kedatangan laki-laki itu. “Makasih lho hadiahnya. Padahal mah nggak usah repot-repot.” Lily menerima dengan terpaksa.


“Aku nggak pernah merasa direpotin kamu.” Seulas senyum terbit di bibirnya. “Kamu ngapain duduk di sini? Kenapa nggak langsung pulang?” Rian baru sadar ternyata Lily sendiri.


“Lagi nunggu Kak Uni.”

__ADS_1


“Siapa Uni? Pacar kamu?”


“Bukan. Dia perempuan.”


“Bareng aku aja. Biar aku yang antar pulang.”


“Nggak usah, Rian. Kami udah pesan taksi online.”


Keheningan terjadi sesaat hingga Rian membuka suaranya kembali.


“Lily, kamu sebenarnya nggak punya pacar, ‘kan?”


“Pu-punya kok.” Lily kalap karena pertanyaan yang tiba-tiba dan ditatap serius oleh Rian. “Dia lagi nggak ada di sini. Dia lagi di luar kota.”


Rian merasa Lily berbohong terlihat dari sikapnya yang gugup. “Selama ini aku udah perhatikan nggak ada laki-laki yang dekat dengan kamu. Dan aku nggak peduli kamu udah punya pacar atau nggak. Selama kamu belum menikah, siapa aja bebas mendekati kamu termasuk aku. Aku akan datang ke rumah untuk meminta izin kakak kamu.”


“Minta izin untuk apa?” Lily merasa khawatir dengan sikap Rian yang serius. Alasan Lily selama ini menolak Rian adalah dirinya tidak diizinkan pacaran oleh Adnan.


Lily terbelalak bahkan sampai berdiri. “Kamu gila.”


“Aku yakin kakakmu melarang kamu pacaran karena takut kamu akan terjerumus pergaulan bebas. Aku akan menunjukkan keseriusanku dengan kamu, Ly. Kakakmu nggak akan menolak niat baikku. Saat ini juga aku akan menemui kakakmu.” Rian berbalik menuju motornya.


“Rian, jangan!” Lily mengejar Rian. Ia mengangkat roknya, namun tetap saja langkahnya susah. “Rian, kumohon jangan gila.” Akhirnya Lily berhasil menarik tangan Rian.


“Aku ingin serius denganmu kamu bilang gila?! Apa kamu tahu betapa sakitnya diabaikan oleh orang yang disayangi?”


Mendengar itu mata Lily jadi berkaca-kaca.

__ADS_1


“Kamu egois dan juga sombong! Kamu nggak pernah mau memberi orang yang mencintai kamu kesempatan. Kamu akan mendapat balasan kalau kamu mengacuhkan orang yang mencintai kamu dengan sungguh-sungguh.”


“Cukup, Rian, cukup!” Lily tidak tahan lagi. “Aku bahkan pernah mengalami lebih dari itu, dikhianati. Apa kamu akan percaya kalau aku bilang aku pernah menikah dan sekarang statusku janda?” Air mata sudah mengalir di pipi. Rian tergugu tidak percaya. “Aku pernah dicampakkan, Rian. Aku pernah merasakan sakitnya dikhianati dan diceraikan karena tidak dicintai. Bahkan sakitnya masih terasa sampai sekarang.” Lily memukul dadanya yang terasa sesak. Seharusnya hari wisuda diisi dengan senyum dan tawa bahagia, tetapi alam tidak mendukung. Lukanya yang susah payah ia kubur selama bertahun-tahun kembali menganga.


**


“Neng, ini ada yang ngasih payung dan juga sapu tangan.”


Lily menghapus air matanya kemudian mendongak. Seorang wanita berbadan gemuk menyodorkan kedua benda yang disebutkan tadi. Ternyata awan sudah menjatuhkan tetesan-tetesan air ke bumi. Lily menyapu lagi kedua pipinya dari sisa-sisa cairan bening.


“Dari siapa, Bu?”


“Katanya tadi temannya, Neng.”


“Oh, makasih, Bu.” Lily tidak ingin bertanya lebih lagi karena ibu itu keheranan melihat kondisi wajahnya yang sembab.


“Mari, Neng.” Ibu itu akhirnya pamit walau masih penasaran dengan Lily.


Lily langsung membuka payung itu dan melindungi tubuhnya dari tetesan air hujan. Orang yang memberinya tahu saja apa yang sangat dibutuhkannya saat ini.


Lily kemudian memindai sekitar. Barangkali orang yang memberi kedua benda itu berada di sana. Hanya terlihat orang-orang yang berlarian menghindari rintik hujan yang mulai deras. Lily tersadar kalau ternyata Uni sudah lama pergi dan belum juga kembali. Ia mengumpulkan hadiah-hadiahnya dalam pangkuannya. Kemudian berjalan menuju pos satpam di gerbang utama kampusnya itu. Setelah berteduh di sana perhatiannya tersita pada sapu tangan itu. Lily meraihnya. Semakin dekat ke hidung wangi sapu tangan itu seperti tidak asing di indra penciumannya. Seperti aroma tubuh.... Lily menggeleng kepala. Tidak mungkin! Hidungnya pasti salah karena dipenuhi ingus karena baru menangis. Sudah bertahun-tahun laki-laki itu tidak menemuinya lagi dan pasti sudah melupakannya.




__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa buat men-temen yang menjalankannya. Semoga ibadah kita mendatangkan berkah, ya... amin.


Mohon maaf lahir & bathin apabila selama dalam tulisanku ini membuat kalian jengkel karena Dion dan Lily terlalu lama bersatu. Ntar kalau mereka bersatu langsung end donk, mau langsung end aja?😐


__ADS_2