
Sumpah demi apapun, saat Dion menghubungi Lily seminggu yang lalu, gadis itu secara ajaib mendapat kembali keceriaannya yang hilang. Fakta barunya adalah Lily merindukan Dion. Menunggu kepulangan Dion dengan senyum semangat.
Benar kata kebanyakan orang, menunggu adalah sesuatu yang paling membosankan. Hari-hari terasa lama, waktu seperti jalan di tempat, bumi sepertinya sengaja berputar lebih lama, membiarkan Lily mati karena menunggu.
Di waktu yang sama, di hari yang sama , dan di tempat yang sama, Lily menunggu panggilan dari seseorang. Berkali-kali menekan tombol on off, menatap layar hp, memastikan waktu bahwa di jam inilah Dion meneleponnya seminggu yang lalu.
Dia tidak menonton drakor atau dracin. Karena meskipun laptop yang isinya kebanyakan drama romantis itu dinyalakan, tetap saja fokusnya oleng.
Menunggu dan menunggu. Duduk, berdiri, mondar-mandir sudah dia lakukan. Yang ditunggu tak kunjung menelepon. Mulai frustasi karena sudah dua jam fokusnya teralih pada hp namun tidak membuahkan hasil.
*Lily, apa yang kau harapkan? Menunggu suamimu menelepon? Sadarlah, dia tidak mencintaimu.
Biarkan saja. Berharap dicintai suami sendiri tidak dosa, kan?
Kau ini tidak konsisten. Sebenarnya kau mengharapkan cintanya siapa? Noel atau suamimu yang kaku itu? Belum lagi ada si Axel. Kau sendiri yang membuat perasaanmu rumit.
Hei otak, diamlah! Jangan membuatku tambah dilema. Seharusnya kau memberi petunjuk untuk menemukan cinta sejatiku.
Cih, anak ingusan sepertimu membahas tentang cinta sejati? Baiklah, karena aku baik maka aku akan mengatakan sesuatu yang penting. Menemukan cinta sejati itu tidak perlu petunjuk, hanya perlu menggunakan insting. Pakailah insting itu yang ada di dasar hatimu!
Sepertinya aku tidak menemukan insting yang kau maksud.
Berarti kau bukan manusia. Sudahlah, aku pergi!
Hei, tunggu dulu. Bantu aku menemukannya. Hei... . Aaaaa*!
Lily berperang dengan pikirannya. Memijat pelipisnya dengan lembut dan memejamkan mata. Setelah lama dengan kegiatan itu, kini kedua tangan pindah mengunyel-unyel pipi, dengan bibir yang dimonyongkan. Dengan melakukan itu bibirnya seperti mulut ikan hidup yang terbuka dan tertutup. Percayalah, dia sangat imut dengan tingkah konyolnya.
Tidak sampai disitu, dia bangkit berjalan mendatangi bunga yang batangnya berduri, bunga ros. Dia memetik setangkai bunga berwarna merah muda itu dan membawanya ke tempat dia tadi duduk. Diciumnya bunga itu lama dan menikmati bau wanginya.
Perlahan dia mulai menggugurkan kelopak bunga itu dengan menariknya satu per satu seraya berkata, “dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku. Dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku. Dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku.” Dan begitu seterusnya sampai kelopak bunganya benar-benar gugur bergiliran.
“Dia tidak mencintaiku.” Itu jawaban kelopak bunga yang terakhir ditariknya. Wajahnya murung, “benarkah dia tidak mencintaiku? Apa aku tidak boleh berharap kalau dia akan mencintaiku?” gumamnya.
Tanpa disadari papa menghampiri. Memandangi kelopak bunga yang berjatuhan di kaki putrinya. Tidak pernah papa melihat Lily melakukan hal konyol begini.
__ADS_1
“Lily!” Tidak didengar, masih tenggelam dalam lamunannya. Tanpa mengeluarkan suara lagi, papa menyentuh bahu gadis penyuka kaos oblong itu.
“Papa!” Dia tersentak.
“Kamu melamunin apa?” Dengan nada penasaran, papa duduk di sampingnya. Mengamati wajah murung itu. “Kenapa?”
Lily geleng-geleng kepala, menandakan kalau tidak ada apa-apa. “Haha, memangnya apa yang harus aku lamunkan, Pa? Papa kenapa belum berangkat?” Mengalihkan pembicaraan.
Papa tahu ada yang disembunyikan Lily darinya. “Kapan Dion akan pulang?”
Lily terperangah, bagaimana papanya bisa menebak dengan benar hal apa yang dipikirkannya. Cepat-cepat dikondisikan jantungnya yang berdebar. “Dua minggu lagi, Pa.” Dia tertunduk.
“Kamu merindukannya?”
“Haha, kenapa aku merindukannya, Pa.”
Mulut berkata lain, tapi wajah Lily yang memerah sudah menjawab bahwa itu benar adanya. Papa tersenyum melihat Lily yang salah tingkah.
Papa mendekatkan bibirnya ke telinga Lily dan berbisik, “Papa yakin akan ada cinta diantara kalian.”
Papa berdiri, “ayo bantu Papa mengantar barang. Pak Seto sedang kurang enak badan.”
“Iya, Pa.”
***
Sepulang dari mengantar barang, Lily melihat ada anak kecil dan seorang pria duduk di depan toko.
“Kak Lily.” Anak kecil itu bangun dari duduknya dan berlari dan memeluk pinggang Lily.
“Cia.” Lily membiarkan sejenak gadis kecil itu memeluknya. Melihat papanya Cia yang juga ikut berdiri. Pria itu hanya diam. Lily tidak melihat nenek yang super galak bersama mereka.
“Kak, Cia kangen sama Kak Lily.” Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya sebentar menatap wajah Lily, kembali lagi memeluk dan menenggelamkan wajahnya di perut Lily.
“Siapa, Ly?” tanya papa yang sudah berdiri di sampingnya.
__ADS_1
“Oh, ini Pa. Pelanggan kita.”
Pria itu maju mendekati papa dan memperkenalkan diri, “saya Carol, Pak.” Papa membalas menjabat tangan pria yang tidak dikenalnya itu.
“Ada yang bisa kami bantu, Pak?” tanya papa dengan wajah heran. Mengapa gadis kecil nan imut itu bisa sedekat ini dengan Lily?
“Maaf, Pak. Anak saya hanya ingin bertemu Lily.” Pria yang bernama Carol itu terlihat gugup. Papa semakin mengerutkan dahinya. Harusnya dia tahu siapa saja yang dekat dengan Lily. Tapi anak kecil yang bersama papanya ini?
Papa melihat Lily meminta kejelasan.
“Jadi gini, Pa. Mereka pernah datang ke sini mencari bunga edelweis. Lily menyarankan untuk pergi ke tempat pembudidayaannya saja karena toko kita kan nggak menjual bunga itu.”
Papa hanya manggut-manggut entah dia mengerti atau tidak.
Lily berjongkok dan menyentuh pipi Cia. Disentuhnya lagi kening gadis kecil itu seperti memastikan sesuatu. “Astaga, badan kamu hangat Cia.” Cia mengangguk dan tersenyum, dilingkarkannya tangannya di leher Lily.
“Beberapa hari ke belakang dia sempat demam tinggi. Sebelumnya dia merengek ingin bertemu dengan Lily, kangen katanya. Tapi saya tidak menanggapi karena saya terlalu sibuk di rumah sakit,” tutur Carol.
“Sebaiknya kita duduk di dalam saja, tidak enak mengobrol sambil berdiri,” ajak papa.
***
“Memang ke mana ibunya Cia, Pak? Kalau Bapak sibuk kenapa bukan ibunya saja yang mengantar kemari.” Carol menunduk. Papa dan Lily penasaran kenapa Carol tidak menjawab.
“Mama Cia sakit, Kak. Mama sakit kanker.” Cia yang menjawab.
Lily tersentak sampai dia mematung untuk beberapa saat. Sekelebat terulang kembali dipikirannya tiga tahun lalu. Tiga tahun lalu juga mamanya menderita lalu meninggal karena penyakit itu. Kenangan pahit itu masih teringat jelas.
“Kalau saja dari awal mamanya Cia tidak menyembunyikan penyakitnya dari kami, dia pasti bisa disembuhkan. Kami mengetahuinya saat penyakitnya sudah stadium lanjut. Sangat kecil kemungkinan untuk sembuh.” Carol berusaha menyembunyikan raut wajah yang sedih. “Maafkan saya, Pak. Saya jadi menceritakan keadaan keluarga saya.” Mengusap matanya yang mulai berlinang air.
Papa pindah duduk ke samping Carol, menepuk-nepuk pelan punggung papa muda itu, “tidak apa-apa, Pak. Saya sangat mengerti perasaan Bapak sekarang.”
Sementara Lily, dia memeluk erat tubuh Cia. Air matanya berjatuhan tanpa mengeluarkan isakan.
Tuhan, bagaimana bisa ada cobaan berat yang menimpa anak sekecil ini?
__ADS_1