Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Bertengkar


__ADS_3

Hari semakin siang. Namun gumpalan awan yang kehitaman menutupi matahari. Sepertinya akan turun hujan. Kendaraan tidak begitu padat seperti tadi pagi. Mungkin orang-orang malas keluar karena cuaca yang tidak mendukung.


Mobil hitam masih setia terparkir di sisi jalan. Walau di luar berhembus desiran angin, namun di dalam mobil terasa panas.


Gadis itu membuka sabuk pengamannya dan masih terus menggerakkan tangannya yang menempel pada gagang pintu mobil dengan sesenggukan. Ingin keluar, tidak tahan dengan amarah yang menurutnya tidak beralasan.


“Buka pintunya. Aku mau keluar.”


“Tidak! Sebelum kau menjawab pertanyaanku, kau tidak akan ke mana-mana dan aku tidak akan menjalankan mobil ini.”


Glekk!


“Kau membuatku takut, Mas. Ada apa denganmu?” tanya Lily masih berurai air mata. Dia takut Dion akan gelap mata dan melakukan hal buruk.


Sesaat Dion terdiam. Dilihatnya Lily ketakutan karena marahnya yang menggebu-gebu. Menghadap ke depan dan mengatur emosinya yang sedari tadi memuncak. Memejamkan mata dan menarik napas dalam. Menyadarkan diri untuk ke sekian kalinya kalau istrinya adalah gadis yang masih remaja. Bukan cara yang tepat meminta kejelasan dengan emosi.


“Apa benar kau pacaran dengan Axel?” tanya Dion serius dan tegas dengan mata terpejam. Dia sudah menurunkan suaranya.


Lily mendongak menajamkan pandangannya pada orang di sebelahnya. Kenapa jadi membahas Axel?


“I, itu... nggak, Mas.” Lily menghapus air matanya. Ada sedikit kelegaan karena Dion terlihat sudah tidak semarah tadi.


“Kau tidak lupa ingatan, kan?! Kau dulu yang memberitahuku begitu di telepon.” Dion membuka mata, namun pandangannya ke depan. Rintik hujan mulai turun pelan-pelan.


Ahh, seandainya waktu bisa diputar kembali, lebih baik dia jujur saat itu. Sekarang dia terjebak dalam permainannya sendiri di situasi panas begini.


Dion menoleh, membuat Lily beringsut ke pojokan lagi. Lily bisa meraba kalau Dion ingin kejujuran dari sorot matanya itu. Dipikirkannya kata-kata yang pas untuk diucapkan pada laki-laki itu.


“A, anu....”


Jegleerrr! Petir menggelegar. Angin pun bertiup kencang.


“Ampuuun...!” Lily bergerak cepat meraih lengan kiri Dion dan membenamkan wajahnya di sana. Ketakutan sendiri. Suara petir sahut menyahut di angkasa sana, tidak lama kemudian turun hujan yang sangat deras. Lily tetap pada posisinya sembunyi di lengan gagah itu, mendekapnya erat.


Setelah dirasa tidak terdengar lagi suara petir yang bergemuruh, Lily mengintip dari balik lengan itu. Diperhatikan keadaan di luar mobil. Aman, pikirnya.


“Aman, Ma..s.” Lily mendongak, wajahnya sedekat ini dengan leher Dion. Mata itu mematung sibuk memandangi tonjolan yang sudah lama sangat ingin disentuhnya. Diangkatnya salah satu tangannya mendekat ke bagian itu. Sial, pandangannya bertabrakan dengan mata Dion membuat dia tersadar dan buru-buru melepaskan tangannya. Kembali duduk ke posisi semula seraya membenarkan rambutnya yang terburai ke mana-mana.

__ADS_1


“Lebih baik kita pulang.” Berbicara tanpa menengok lawan bicara. Masih malu dengan kelakuannya barusan. Dan anehnya, Dion yang sedari tadi marah tidak menolak dijadikan bahan untuk berlindung.


“Sudah kubilang kita tidak akan ke mana-mana sebelum kau menjawab pertanyaanku.” Suaranya sudah terdengar normal, artinya tidak dengan amarah lagi.


“Axel... dia itu teman sekolahku, Mas. Bukan pacar. Maaf, dulu aku bohong mengatakan pacar.” Gadis itu tertunduk memainkan jemarinya. Mana berani dia menatap wajah Dion karena sudah berani membohonginya.


“Kenapa kamu bohong?”


“Itu karena...” Tidak berani melanjutkan. Masa dia harus jujur bilang kalau dia ingin balas dendam karena cemburu. Dan cemburu pada siapa coba. Masa cemburu pada si Fasa.


“Karena apa?”


Duh, aku harus bilang apa?


“Harus dijawab, ya, Mas?”


“Harus.”


“Kalau tidak?”


“Kita tidak akan pulang. Dan, kamu harus mengatakan alasan yang jujur. Jangan bohong lagi.”


Dion mengetuk-ngetuk stir di depannya. Tidak boleh egois memaksa Lily untuk berpikir seperti sudut pandangnya. Benar kata mami, dia yang harus menyesuaikan diri dengan sikap dan sifat Lily.


“Ayo, jawab saja.”


“Itu karena aku pikir Mas Dion pergi dengan pacarnya ke Spanyol kemarin itu, trus aku bilang saja Axel pacarku, jadi kita akan sama-sama punya pacar, gitu.”


Dion tersenyum dan geleng-geleng kepala. “Panjang ya alasannya.” Namun seketika senyum itu lenyap karena mengingat sesuatu. “Lalu foto mesra dan puisi cinta itu?”


“Foto mesra? Puisi cinta?” Berpikir, “ehh, kenapa Mas Dion tahu?”


“Mulai sekarang dan seterusnya aku akan tahu tentangmu.”


Dia lebih menyeramkan daripada papa.


“Mas, nanti saja aku jelaskan. Aku lapar.” Memegang perutnya yang memang sudah waktunya makan siang.

__ADS_1


Dion sedikit kecewa, dan sekali lagi dia tidak boleh egois. Tidak boleh memaksa Lily untuk berpikir dewasa seperti dirinya sebelum waktunya.


Menyalakan mobil. “Kamu mau makan di mana?”


“Di mana aja, Mas. Yang penting tempatnya aman dan nyaman. Aku lapar banget.”


Hujan masih turun namun tidak sederas tadi. Angin pun sudah bertiup dengan sepoi-sepoi.


***


Sampai di rumah.


“Kenapa kalian baru nyampe? Kalian nggak apa-apa, kan?” tanya mami cemas dengan memperhatikan dua tubuh di hadapannya. Sedang papi terlihat santai duduk di sofa dengan kopinya.


“Iya, Mi. Tadi hujan lebat. Dion sengaja berhenti dulu menunggu reda. Takut jalanan licin atau pohon tiba-tiba tumbang.”


Lily menatap Dion misterius. Benarkah itu alasannya? Kenapa beda dengan alasan yang diberikan padanya tadi? Kalau dipikir, masuk akal juga sih alasannya.


“Dion ke atas dulu, Mi.” Laki-laki itu pun berlalu.


“Mi, sudah Papi bilang jangan cemas. Dion itu sudah dewasa dan pasti bijak menyikapi keadaan. Masa masih meragukan anak sendiri,” celoteh Papi.


“Mami ngeri aja, Pi, sama kejadian tadi. Pohon tumbang dan menindihi mobil di depan kita. Gimana Mami nggak panik dan khawatir coba.”


Lily hanya diam mendengar perdebatan kecil mertuanya.


“Ly, kalian tidak ada kendala di jalan tadi, kan?” tanya mami lagi memastikan. Dan Lily menggeleng saja dan tersenyum.


“Oh iya, kalian makan dulu. Kalian pasti sudah sangat lapar. Kamu ke meja makan dulu, ya, biar Mami panggilkan Dion sebentar.” Mami berbalik dan bersiap melangkah.


“Mami, tunggu.” Panggil Lily. “Kami tadi udah makan, Mi.”


Mami berbalik lagi menatap menantunya, “Oh, kalian sudah makan, ya.”


Sedangkan papi di sana tersenyum dan geleng-geleng kepala. “Mami, Mami. Sudah Papi bilang jangan meragukan anak sendiri. Sudah jam segini mana mungkin anak-anak belum makan. Siapa yang mau menahan lapar, Mi.” Sekali lagi papi membuat mami telak dan itu membuat Lily menahan tawa.


“Papi ini gimana, sih. Itu kan bentuk perhatian Mami ke anak-anak.” Bela mami.

__ADS_1


Papi mengangkat kedua bahunya lalu menyeruput kopinya.


“Kalau begitu Lily juga pamit ke atas dulu ya, Mi, Pi.”


__ADS_2