
Beberapa hari berlalu. Apa yang menjadi harapan Lily terkabul, yakni ia lulus SNMPTN. Tidak bisa digambarkan betapa luar biasanya kebahagiaan gadis itu.
Seperti janji Dion pada papa, lelaki itu tidak membiarkan Lily mengurusi segala kepentingannya seorang diri. Mulai dari daftar ulang online dengan mengisi data diri dan mengunggah sejumlah dokumen persyaratan, membayar biaya UKT dan administrasi lain, menemani Lily tes kesehatan dan psikotes dan lain-lain.
“Mas, biaya kuliah kedokteran tidak sedikit. Lebih baik aku memilih teknik aja.” Lily berujar sebelum ia benar-benar meregistrasikan diri pada fakultas itu. Selain cita-cita yang ingin jadi pramugari, menjadi dokter juga keinginan besarnya. Ia merasa senang bisa membantu dan melayani orang lain.
”Jangan cemaskan itu. Aku bisa menjamin biaya kuliah kamu sampai selesai. Tugas kamu hanya belajar dengan benar.”
Setelah Dion berhasil memberi pengertian, akhirnya Lily setuju memilih fakultas kedokteran. Meskipun sebenarnya ia masih tidak enak hati.
*****
“Sudah siap?” Dion bertanya dengan menahan gelak. Bagaimana tidak, Lily dengan rambut dikuncir menjadi delapan bagian, lipstik merah tebal, perona pipi dan alis pun tebal, sudah seperti badut. Terong ungu disulap menjadi kalung dan cabe merah jadi anting. Tidak lupa nama ditulis di selembar karton sebagai identitasnya yang diberi tali agar bisa dikalungkan. Beruntung kakak tingkatan berbaik hati meminta maba (mahasiswa baru) untuk memakai kemeja putih dan bawahan hitam. Selama tiga hari ke depan, Lily mengikuti ospek di kampusnya.
Lily manyun dan itu sukses membuat Dion tertawa pecah.
“Jangan marah, nanti cantikmu hilang.” Dion mengejar Lily yang sudah mengayunkan kakinya. Semenjak ciuman itu, Dion tidak canggung atau malu lagi menggoda Lily.
Di depan rumah.
“Jangan naik motor, Mas,” larang Lily saat Dion sudah berdiri di samping motornya dan hendak memakai helm. Dion memutuskan akan mengantar Lily ke kampus beberapa hari ke depan sampai Lily tahu arah jalan itu dengan benar.
“Kenapa?”
“Aku kan malu dilihatin banyak orang. Dan nanti rambutku akan berantakan karena pakai helm.”
Dion melirik Edu yang berdiri tidak jauh dari mereka. Matanya penuh isyarat agar Edu pergi dari sana dan Edu paham itu. “Kalau pakai mobil, kamu jadi tidak bisa peluk-peluk, gimana?”
“Ihh, Mas Dion,” gerutu Lily menahan malu. Dan lagi, Dion tertawa lepas karena tingkah menggemaskannya.
Setelah melesatkan mobil bersama dengan pengguna jalan lainnya, tibalah mereka di tempat tujuan. Gerbang utama universitas menyambut kedatangan mereka. Sudah banyak maba yang hadir terlebih dulu dengan perlengkapan dan wajah aneh masing-masing.
“Ciuman selamat pagiku? Tadi kamu belum memberikannya.” Dion menyodorkan pipi setelah mobil baru saja sukses diparkirkan.
Lily tersentak, bisa-bisanya Dion menginginkan itu di keramaian begini.
“Nanti saja di rumah, Mas. Malu dilihat orang,” balas Lily pelan sembari membenarkan tali tas gendongnya ke bahu.
“Baiklah.” Mendekatkan wajah, “jadi dua kali lipat karena kamu membuatku menunggu.”
__ADS_1
“Kok gitu? Aku nggak mau.”
“Karena kamu protes, ciumannya permanen dua kali sehari. Ciuman selamat pagi dan ciuman selamat malam.”
Lily menggeleng kuat sebagai bentuk penolakan. “Nggak mau!”
“Jadi tiga kali ditambah ciuman selamat siang.”
“A–”
“Kamu masih mau protes juga?”
Lily bungkam, tapi mata melotot. Jika ia tetap mengumandangkan protesnya, entah ciuman apalagi yang akan diminta laki-laki itu.
Dion menyeringai atas keterdiaman Lily.
Gadis itu berdecak dan hendak membuka pintu tapi dengan cepat Dion menahan niatnya. “Tunggu!” Lily memutar leher dengan sebagian badannya menghadap Dion. “Kalau senior kamu memberi ospek keras, segera hubungi aku.”
“Nggak mungkin, Mas. Zaman sekarang nggak ada lagi yang begituan, kecuali maba-nya sendiri yang keras kepala dan nggak mau dibimbing.” Lily sedikit ketus karena masih sebal.
“Pokoknya kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku, ok!”
“Iya, iya.” Lily menurut saja dan melanjutkan niatnya untuk keluar.
Lily mengembuskan napas kesal. “Apalagi Mas?” Ketika Lily menoleh, saat itu juga Dion menangkup pipinya.
“Jaga diri baik-baik. Kamu ke sini hanya untuk menimba ilmu, bukan yang lain. Kalau ada orang yang mengganggumu dan terlihat gelagat tidak baik, kamu beritahu aku, ya.” Pancaran mata Dion bersungguh-sungguh.
Lily mengangguk, entah dia mendengar dan mengerti apa yang disampaikan barusan, tidak tahu. Gadis itu kalau sudah disentuh Dion, akalnya tidak berfungsi. Kemudian Dion mengecup kening Lily lebih lama dan lebih dalam dari malam itu, membuat jatung kembali berdendang.
***
Mobil Dion sudah berpindah tangan pada petugas valet. Dion berjalan tergesa. Tidak bisa dipungkiri, pekerjaannya sangat padat. Sebentar lagi ia akan kedatangan tamu dari Spanyol. Ia baru mengingat itu tadi saat tubuh Lily lenyap dari jangkauan matanya yang memasuki gedung kampus. Sama seperti Lily, pria itupun akan lupa segalanya bila mereka berdekatan.
“Maaf, Pak. Ada tamu di ruang tunggu,” lapor salah satu sekretaris saat Dion sudah berada dalam jarak dekat. Kedua sekretaris itu nampak ketakutan.
“Siapa?”
“Nona Clara, Pak,” jawabnya dengan suara hampir tidak terdengar namun masih bisa ditangkap oleh rungu Dion.
__ADS_1
“Apa kalian tidak mengerti dengan perintah untuk tidak memasukkan wanita itu ke ruangan ini!” Suara memenuhi seluruh ruangan.
“Ma, maafkan kami, Pak,” jawab kedua sekretaris itu hampir bersamaan. Sangat terlihat jelas mereka ketakutan dan tubuh bergetar. Seandainya sekretarisnya itu adalah laki-laki, sudah pasti dihajarnya.
“Ke mana Fasa?” Dion mencoba mengalihkan emosinya. Mau bagaimana lagi, Clara sudah terlanjur datang ke sini. Marah pun tidak akan bisa melenyapkan kehadiran wanita itu.
“Asisten Fasa menjemput klien ke hotel karena itu adalah permintaan klien sendiri, Pak.” Takut-takut menjawab.
Dion mengembuskan napas berat, “sebelum jam pulang nanti, kalian temui saya!” perintahnya lalu berjalan menemui tamu yang tak diinginkan itu.
Membuka pintu dengan kasar, “kenapa lagi kau datang ke sini? Sudah kukatakan jangan pernah lagi menemuiku.”
Clara terlonjak. Satu detik kemudian senyumnya mengembang, “Dion. Aku tahu kamu masih marah sama aku.” Ia mendekat. “Gimana caranya biar kamu mau maafin aku?”
“Aku sudah melupakan semua tentang kamu, Lara. Sekarang pulanglah, aku sibuk.”
“Aku tidak percaya kamu sudah melupakan aku. Buktinya panggilanmu terhadapku masih kamu ucapkan.” Clara ingin menggapai tangan Dion tapi cepat-cepat pria itu mengelak sambil tergelak.
“Bukan berarti karena panggilanku padamu tidak berubah, maka perasaanku juga begitu. Tidak, kamu salah! Aku dan kamu sudah berakhir. Dan bukankah sudah kukatakan aku sudah menikah?”
Clara balas menyeringai. “Kalau kamu menikah dengan wanita yang seperti aku, aku akan percaya. Tapi, gadis itu?” Clara makin tergelak. “Dia itu terlihat seperti anak remaja, anak sekolahan. Lebih cocok kalau kamu bilang dia itu adalah keponakan kamu, Dion.”
“Itulah beruntungnya aku. Aku mendapatkan daun yang masih muda. Dan sepertinya kamu juga harus mencoba yang lebih muda dari kamu.”
“Oh, maksud kamu, kamu lagi coba-coba sama yang muda itu, gitu?” balas Clara dengan nada menggodanya.
“Haha, kamu pikir aku sama seperti kamu yang suka coba-coba.”
“Jadi gadis kecil itu kamu anggap apa?” Mendekat dan masih mencoba menyentuh tubuh Dion. Dan tentu saja Dion tidak membiarkan itu.
“Istri. Istriku yang sangat aku sayangi. Sekarang kamu pergilah!”
Clara kembali tertawa. “Hanya aku wanita yang kamu sayangi, semua orang tahu itu. Dia sama sekali bukan tipemu. Aku rasa dia hanya sebagai pelampiasan kamu saja, Dion.”
Rahang Dion mengetat sampai seseorang tiba-tiba datang.
“Pak ...” Fasa tiba di depan pintu. Sebelum Fasa menyelesaikan kata-katanya, Dion sudah terlebih dulu menginterupsi dengan mengangkat sebelah tangannya.
Sebisa mungkin Dion menahan gejolak amarahnya. “Dia tipeku. Dan aku menikahinya karena aku memang jatuh hati padanya.” Dion berdiri. “Pulanglah! Kuharap kamu segera menemukan kebahagiaanmu.”
__ADS_1
Dion pergi, tidak peduli dengan teriakan Clara yang memanggil namanya.
“Kau urus dia. Jangan sampai dia menginjakkan kaki di sini lagi. Kalau itu terjadi, kakimu yang terlebih dulu akan kupatahkan!” ucapnya pada Fasa sambil terus berlalu.