Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Mempengaruhi


__ADS_3

Bukan hal sulit untuk membujuk Lily yang sedang marah. Hanya dengan mengatakan 'apakah kamu mau pulang dengan tangan kosong' dan 'kamu tidak mau membawa sesuatu untuk papa' sudah bisa membuat gadis itu melunak. Kini di tangannya sudah banyak souvenir-souvenir khas pulau dewata. Dan saatnya pulang ke villa dan bersiap-siap pulang ke ibu kota.


***


Dua minggu kemudian setelah mereka pulang dari bulan madu. Pagi ini seperti biasanya Dion mengantarkan Lily terlebih dulu ke kampus.


“Ciuman selamat pagi belum.” Dion menyodorkan pipinya mendekati Lily. Mereka sudah tiba di depan gerbang kampus.


“Tadi 'kan udah di rumah.”


“Tadi tidak kena karena mami langsung menyerobot masuk ke kamar.”


“Kena, kok. Tadi Mas nggak dengar aku sampe digodain mami.”


“Tidak kena. Buktinya aku tidak merasakan apa-apa. Cepat berikan ciuman selamat pagiku!” Dion mengetuk-ngetuk pipinya.


“Ih, Mas curang. Aku nggak mau!” Lily membereskan buku-buku yang ada di pangkuannya sebelum kemudian menyimpannya di dashboard mobil. Mulai dari beberapa hari ke belakang Dion telah menyediakan beberapa buku tentang kedokteran di mobilnya. Lily pernah beberapa kali menanyakan tentang kesehatan padanya, itu sebabnya Dion menyiapkan buku-buku itu. Dion bersyukur sebab Lily mencintai dan mempelajari dengan sungguh-sungguh fakultas yang ia pilih sendiri. Kebanyakan anak kuliahan zaman sekarang hanya ikut-ikutan teman biar terlihat keren, tanpa memikirkan bidang apa sebenarnya yang cocok bagi mereka.


“Ya sudah kalau kamu tidak mau. Kamu juga tidak boleh menyentuh ini.” Dion menyentuh lehernya yang menonjol. Yap, akhirnya seminggu yang lalu Lily memberanikan diri untuk meminta izin menyentuh tubuh Dion bagian itu. Bagian yang sedari dulu diinginkan dan membuatnya penasaran. Dan kini menjadi kesukaannya.


“Baik. Aku nggak akan menyentuhnya.” Lily mencebik lalu berbalik dan bersiap untuk turun dari mobil.


Sial!


Lily mengurungkan niatnya dan berbalik lagi dengan wajah yang masam. Dion tersenyum penuh kemenangan.


**


Dion memandangi punggung Lily yang bergerak dan semakin jauh dari pandangan mata. Senyum cerah secerah mentari pagi ini masih menghiasi bibir. Karena apa yang diinginkan dari Lily selalu bisa ia dapatkan.


Saat Lily masih dalam jangkauan matanya, pintu kaca mobil samping kemudi diketuk. Dion yang menoleh terkejut bercampur marah. Wanita yang dibencinya dan sudah dihapus dari hati kini muncul lagi di hadapannya.


“Sudah berkali-kali aku katakan jangan pernah temui aku lagi. Apa kau tidak mengerti bahasa manusia,” ucap Dion tajam, pandangannya lurus ke depan. Suasana hatinya yang sedang baik berubah jadi buruk. Dion bersiap memutar kontak mobilnya namun dengan cepat tangannya ditahan oleh Clara melalui kaca mobil yang terbuka sebagian. Dion menepis kasar tangan wanita itu.


“Tunggu sebentar!”

__ADS_1


“Aku sibuk!” tegas Dion dengan fokus terhadap kemudinya.


“Kenapa? Kenapa kau memperlakukannya dengan baik, berbeda dengan aku dulu?” tanya Clara dengan suara keras membuat Dion mengurungkan niatnya untuk pergi. “Kenapa kau dengan mudah bisa memaafkannya dan aku tidak? Padahal aku dan dia melakukan kesalahan yang sama.”


“Hahah ....”


Clara mengernyit bingung. “Kenapa kau malah tertawa?”


Dion menatap tajam Clara, “aku tidak perlu memaafkan istriku karena dia tidak melakukan kesalahan apa-apa.”


“Bagaimana kau bisa bilang dia tidak melakukan kesalahan apa-apa. Apa kau lupa kalau istrimu itu sudah selingkuh darimu.”


“Jangan samakan istriku dengan dirimu yang suka berselingkuh!”Dion tersadar karena suara teriakannya mengundang perhatian beberapa mahasiswa dan melihat mereka tidak suka. Tidak boleh seperti ini. Ini adalah tempat menggali ilmu dan seharusnya orang-orang yang berada di sana adalah orang yang berpendidikan yang menerapkan sopan santun.


Dion mengambil napas dalam-dalam. “Clara, aku katakan sekali lagi jangan pernah menemuiku juga keluargaku. Jangan pernah mengurusi kehidupanku. Aku sudah memilih jalanku sendiri dan kuharap kaupun akan menemukan jalanmu. Aku rasa kau cukup bijaksana untuk mengartikan semua yang kukatakan ini.”


“Apa kau bahagia dengan pernikahanmu karena dijodohkan ini, Dion?” Clara melihat jauh ke dalam mata Dion untuk menemukan kejujuran di sana.


“Ya, semakin hari aku semakin bahagia. Semoga kaupun secepatnya menemukan kebahagiaanmu.”


Hingga bulir-bulir air mata lolos dari pelupuk mata wanita itu. Kalau saja saat itu dia setia dan bisa memaklumi kesibukan Dion, saat ini dia yang menjadi istri pria itu dan hidup bahagia. Penyesalan yang teramat menggerogoti hati dan jiwanya.


***


“Kak Uni mau langsung pulang?”


“M.”


“Naik angkot?”


“M.”


“Ih, bicara kok pelit amat.”


“Kalau tidak suka, tidak usah berteman denganku.”

__ADS_1


Lily menarik napas. Berteman atau tidak dengan wanita bergaya metal itu sama saja, tetap bersikap dingin.


“Eh, Kakak mau ke mana?” Tiba-tiba Uni berbelok jalan. Uni tidak peduli. Membuat Lily mengekor dari belakang.


Ternyata wanita metal itu ke kantin kampus dan membeli jus. Cuaca memang panas dan enaknya disuguhi dengan minuman yang dingin.


“Kakak nggak menawariku?” Mereka sudah di luar kampus. Lily melihati sedotan yang dihisap Uni. Membuatnya jadi berselera untuk minum benda cair itu.


“Kau tadi ikut ke kantin. Kenapa tidak membelinya.”


Ais, selain pelit bicara, wanita itu juga pelit terhadap sesuatu miliknya. Menawarinya pun tidak.


Baiklah, Lily tidak boleh sakit hati dengan sikap teman dekat satu-satunya di kampus ini. Karena memang begitulah karakternya.


“Aku ingin bicara denganmu,” cegah seseorang menghalangi jalan Lily. Mereka sudah di luar gerbang kampus.


Lily terkejut karena orang itu adalah Clara. Lily tidak menjawab namun ia menghentikan langkahnya dan melihat wanita dewasa itu. Cantik sekali, batin Lily.


“Aku tahu kalian menikah karena dijodohkan.” Clara memulai pembicaraan. Uni yang baru mengetahui itu tersedak sampai terbatuk. Sejauh ini mereka memang belum mengetahui kehidupan pribadi masing-masing. Hanya saling tahu seputar fakultas yang mereka bidangi.


Clara mengganti pandangan ke Uni. “Kenapa kau terkejut begitu? Apa kau baru tahu kalau pacarmu ini sudah menikah?”


Uni semakin melotot tidak percaya. Pertama dia memang terkejut baru mengetahui Lily sudah menikah di usianya yang masih sangat muda. Dan kedua, pacar? Siapa yang pacar siapa?


Clara tidak peduli pada Uni yang menatapnya heran. Pandangan Clara tertuju lagi pada gadis di depannya. “Kau tahu 'kan kalau aku adalah kekasih yang sangat dicintai Dion?” Clara berucap penuh percaya diri. Lily masih diam. Namun percayalah, hatinya teriris mendengar Clara mengatakan itu.


“Lebih baik kita duduk di sana,” tunjuk Lily pada sebuah kursi panjang yang sengaja disediakan pihak kampus. Clara mengikuti Lily tetapi Uni masuk lagi ke gerbang kampus. Ia cukup tahu diri untuk tidak mendengarkan urusan pribadi seperti ini.


“Aku bisa memberimu toko bunga yang besarnya 10x lipat dari toko yang kau punya atau membuatkan cabangnya di mana-mana asal kau mau meninggalkan Dion.”


Lily membulatkan mata ....


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2