Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Kanker


__ADS_3

“Kak Lily, mama Cia pasti sembuh, kan?” Cia yang masih dalam pelukan Lily bersuara. Lily cepat-cepat menyeka air matanya. Carol merasa heran mengapa Lily sampai menangis begitu mendengar istrinya yang sakit. Segitu prihatinnyakah Lily pada keluarganya? Dia juga melihat papa dengan wajah ditekuk, sedih. Mengapa mereka sampai terharu mendengar kemalangan keluargaku?


“Cia Sayang,” Lily mengurai pelukannya, “kamu mau kan mama sembuh?” Cia mengangguk. “Cia berdoa kan buat kesembuhan mama Cia?” Suara Lily terdengar bergetar menahan tangis.


“Cia selalu doain mama, Kak. Tapi Cia heran kenapa mama nggak sembuh-sembuh. Padahal kata mama, mama hanya sakit kepala.”


Lily memutar badannya, menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar. Hatinya teriris mendengar itu.


“Kak Lily nangis?” Cia dengan polosnya bertanya. Lily berusaha mengendalikan emosinya. Cia saja bisa tenang menghadapi kenyataan, kenapa dia tidak.


“Nggak, Sayang. Kak Lily terharu karena kamu selalu doain mama. Cia memang anak hebat.” Menyunggingkan senyum terpaksa. “Kamu mau nggak Kak Lily ajak ke kebun?”


“Kebun? kebun apa, Kak?”


“Kebun bunga. Kak Lily punya kebun bunga di belakang?” tunjuk Lily ke pintu belakang tokonya. Senyumnya sudah bisa mengembang seperti biasa.


“Mau, mau.” Cia tepuk tangan semangat.


“Saya ajak Cia ke belakang ya, Pak.” Lily minta izin. Carol yang sedari tadi menyaksikan keakraban putrinya dengan Lily tersenyum mengangguk.


Carol memandangi punggung Cia dan Lily yang bergandengan tangan sampai mereka benar-benar tidak terlihat lagi. Terbesit tanya besar di hatinya tentang reaksi Lily tadi yang menurutnya berlebihan. Mereka bukanlah kenalan, rekan atau saudara sampai-sampai Lily harus menunjukkan keibaannya sebesar itu.


Pak Miko yang peka mengerti akan hal itu. Ingin mulai berbicara, Bu Sinta keburu datang membawa beberapa makanan ringan dan teh.


“Silakan diminum dulu tehnya, Pak. Maaf hanya bisa menyajikan seadanya,” tawar Pak Miko.


“Terima kasih banyak, Pak. Saya jadi banyak merepotkan.” Carol menunduk-nundukkan kepalanya tanda ungkapan terimakasihnya. “Mohon Bapak memanggil nama saya saja, saya tidak enak, Pak.”


Pak Miko tersenyum melihat kerendahan hati tamunya itu. Kalau dilihat dari penampilan dan kendaraan yang dibawa, bisa dipastikan Carol adalah orang yang berada.

__ADS_1


“Nak Carol pasti heran kan, mengapa Lily bisa sesedih tadi?”


Carol mengangguk, membenarkan bahwa dia penasaran.


“Dulu mamanya juga sakit kanker.” Papa mulai bercerita. Mengenang kembali masa-masa sulit dan menyedihkan.


Carol terkejut bukan main. Kebetulan sekali ada orang yang senasib dengannya, memiliki istri yang sama-sama mengidap penyakit mematikan itu.


“Apakah istri Bapak sembuh?” Sebenarnya dia enggan untuk menanyakan itu. Kalau dilihat dari raut wajah Lily sesedih tadi, bisa dipastikan jawabannya apa.


“Iya, dia sudah sembuh.” Papa melihat bingkai foto yang tergantung di dinding, tepat ada di depannya. “Dia sudah sembuh dan tidak merasakan sakit apa-apa lagi.” Mata Pak Miko berkaca-kaca dan akhirnya kristal bening itu jatuh dengan sendirinya.


Carol kebingungan. Sudah sembuh tapi kenapa Pak Miko sedih. Ingin bertanya namun enggan. Membiarkan saja, Pak Miko dengan sendirinya juga akan melanjutkan ceritanya. Dia akan membawa istrinya ke tempat pengobatan istri Pak Miko kalau memang bisa disembuhkan.


Pak Miko menyeka air matanya, “dia sekarang sudah ada di keabadian.”


Carol terkesiap, “Pak, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud datang ke sini untuk mengungkit kesedihan Bapak dan Lily.”


Carol semakin sedih mendengar cerita papa. Membayangkan istrinya pergi untuk selamanya. Menyakitkan sekali. Terlebih putri mereka masih kecil, butuh perhatian dan kasih sayang ibu.


Papa melanjutkan kembali bercerita. Bagaimana papa dulu pontang panting membawa istrinya berobat ke sana sini dengan biaya seadanya. Tidak ada yang mau meminjamkan uang untuk biaya berobat karena takut uangnya tidak dikembalikan.


“Penyakit istri saya diketahui setelah toko ini dibeli. Istri saya yang membeli ini dari hasil tabungannya setelah sekian lama bekerja kantoran. Dia berhenti dari kantornya bekerja dan memutuskan untuk membuka usaha sendiri.” Papa lanjut bercerita dan pikirannya menerawang ke masa lalu.


“Saya bersikeras ingin menjual toko ini untuk pengobatan namun mamanya Lily menentang. Kata dokter dulu kemungkinan operasi berjalan lancar dan gagal seimbang, dan mamanya Lily memilih untuk tidak di operasi. Dia ingin meninggalkan sesuatu yang berharga untuk Lily. Masa depan Lily lebih penting dari apapun baginya,” lanjutnya lagi.


Begitulah orangtua. Rela melakukan apa saja demi masa depan anaknya, termasuk mengabaikan nyawa sendiri.


Benar apa yang dikatakan Pak Miko, istri Carol juga mengatakan hal yang sama jangan sampai Cia terabaikan. Apalagi diusia Cia yang sekarang butuh perhatian dan kasih sayang penuh untuk membentuk karakternya.

__ADS_1


Di sela-sela percakapan kedua ayah itu, mereka mendengar keriuhan dari belakang toko tempat Lily dan Cia berada. Terbentuk seulas senyum di bibir Carol. Dia senang mendengar putrinya bersorak bahagia. Ini semua karena Lily.


•••••


Sementara di kebun belakang.


“Cia suka bunga apa?” Wajahnya dibuat semanis mungkin untuk menciptakan keakraban diantara mereka.


“Cia suka semua bunga, Kak. Baunya wangi-wangi.” Lily tersenyum menanggapi jawaban polos Cia.


“Kalau begitu, ayo kita petik bermacam-macam bunga yang ada di sini,” ajak Lily semangat dengan mengepalkan kedua tangan ke udara.


“Ayo!” Cia tak kalah semangat. “Eh, tunggu dulu, Kak. Memang boleh bunganya dipetik?” Cia menarik-narik ujung kaus oblong Lily.


“Boleh sekali. Hari ini Kak Lily akan memberi hadiah spesial buat Cia. Hadiahnya adalah... Cia bebas memetik bunga apa saja.”


“Nggak ada yang marah kan Kak kalau kita memetik bunga di sini?”


“Nggak dong. Kebun bunga ini kan punya Kakak. Jadi kita bebas memetik bunga.” Lily tersenyum seraya merapikan rambut Cia yang menutupi matanya.


“Hore, Cia senang Kak. Kak Lily baik. Aku suka sama Kak Lily.” Anak kecil itu sangat bersemangat dengan apa yang akan dia lakukan.


Mereka memetik bunga satu per satu dengan hati-hati menggunakan gunting. Sembari memetik, Lily menjelaskan nama-nama bunga yang belum dikenal Cia.


Kini mereka duduk di kursi panjang. Bunga-bunga yang mereka petik akan disulap menjadi sebuket bunga. Mereka merangkainya masih dengan gelak tawa.


“Tada... akhirnya selesai juga. Bunga ini Kakak berikan untuk princess yang paling cantik.”


Cia bersorak dan tepuk tangan. Wajahnya benar-benar berbinar dengan perlakuan Lily. “Terima kasih, Kak.” Cia menerima bunga yang tangkainya diikat dengan pita warna merah itu. Tanpa disuruh, Cia mencium pipi Lily. Lily terkesiap dengan perlakuan manis gadis kecil di hadapannya.

__ADS_1


“Kak, Cia akan memberi bunga ini untuk mama. Mama pasti senang.”


Lily mengangguk setuju. “Iya, Sayang. Bilang sama mama kalau Cia yang memetik dan merangkainya sendiri. Mama kamu pasti suka.” Mata Lily berkaca-kaca namun ditahannya agar cairan itu tidak jatuh.


__ADS_2