Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
While in Bali (lll)


__ADS_3

Dion disadarkan kembali oleh teriakan Lily yang terdengar histeris. Setelah Fasa benar-benar lenyap dari jangkauan matanya, pria yang sudah berstatus suami itu masuk ke dalam kamar. Di sana Lily masih tidur tetapi dengan air muka yang sangat ketakutan. Ia juga mengeluarkan air mata dan menggenggam sprei di kedua tangannya dengan sangat erat. Kakinya dihentak-hentakkan sampai selimut tidak lagi membalut tubuhnya dengan benar, ia mimpi buruk.


Dion mendekat dan mulai panik. Terlihat wajah Lily berkeringat sampai rambut di pelipisnya basah. Ia mencoba membangunkan Lily dengan menepuk-nepuk pipinya seraya memanggil nama Lily. Tidak berhasil. Lily seperti terjebak dalam mimpi buruknya. Entah ide darimana, Dion berinisiatif menutup hidung dan mulut Lily bersamaan. Barangkali menghalau oksigen untuk masuk selama beberapa detik ke dalam paru-parunya membuat Lily membuka mata.


Dan ide gilanya itu berhasil, Lily membuka mata dengan napas terengah-engah. Ia memindai sekitar.


“Pa, Papa!” teriaknya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Gadis itu belum sepenuhnya sadar dan masih sangat ketakutan.


“Lily, kamu tenang dulu,” Dion berujar panik. Dion jadi teringat saat malam setelah pernikahan mereka, Lily juga pernah bermimpi ketakutan dan memanggil-manggil papanya. Ia membawa tubuh Lily dalam dekapannya untuk menenangkan gadis itu.


“Jangan takut, ada aku di sini.” Dion mengusap-usap punggung Lily agar gadis itu bisa tenang.


Bukannya tenang, tangis Lily malah pecah. Ia menangis ketakutan dan terdengar pilu.


“Mas, papa, Mas. Papa dibawa pergi oleh orang jahat,” ucap Lily ditemani dengan suara tangisnya yang sesenggukan.


“Tidak apa-apa. Itu hanya mimpi.”


“Tapi aku takut, Mas. Aku takut papa akan diskiti oleh orang-orang itu.” Tangis Lily masih terdengar. Mimpi yang dialaminya baru saja terasa sangat menakutkan dan seperti nyata.


Dion meregangkan pelukannya. Kemudian ia membenarkan selimut agar membalut tubuh Lily dengan sempurna. “Ya sudah kita telepon papa. Tapi kamu tenangkan diri dulu. Kamu tidak mau membuat papa cemas lihat kamu seperti ini, 'kan?” Dion menghapus air mata dan keringat Lily yang masih terus keluar dari pori-porinya.


Lily mengangguk walau sesungguhnya ia sangat tidak sabar lagi mengetahui keadaan papanya yang jauh di sana. Rasa takut di dadanya belum hilang namun perlahan ia sudah mulai tenang.


***


Setelah mandi dan cukup tenang, Lily menghubungi papanya dengan sambungan panggilan video. Benar seperti yang dikatakan Dion kalau papa pasti baik-baik saja. Pak Miko yang sudah rebahan di ranjang empuknya terpaksa bangkit lagi, karena Lily mau melihat tubuh papa dari bawah sampai atas. Papa sampai heran karena tidak pernah sebelumnya Lily menginginkan yang semacam itu.

__ADS_1


Panggilan sudah berakhir. Pancaran mata gadis itu kini terbang jauh ke luar kaca jendela dan melihat langit yang bertaburan bintang. Lily masih duduk di sofa tempatnya tadi menghubungi papa. Seusai panggilan berakhir, ia duduk melamun di sana dengan tubuh dan raut muka yang tidak bersemangat. Entah mengapa mimpi mengerikan itu begitu nyata. Lily berpikir keras dan ia mengingat kalau sebelumnya ia pernah bermimpi yang sama. Papanya digiring dan dibawa pergi jauh oleh preman yang pernah mengganggunya dulu.


Saat Lily tengah melamun Dion datang bersama seorang pelayan villa wanita membawa makanan. Dion meminta pelayan itu menghidangkan makanan di atas meja di mana Lily berada.


“Bagaimana keadaan papa? Baik-baik saja, 'kan?” Dion bertanya setelah ia mendudukkan tubuhnya di samping Lily. Lily hanya mengangguk tidak semangat. Ia merasa sangat malas sekali untuk melakukan sesuatu setelah mimpi tadi. Berbeda saat mereka baru tiba tadi yang terlihat antusias menyambut keindahan alam di sana.


“Sekarang makan dulu. Kau belum makan malam dan ini sudah lewat waktunya.”


“Aku nggak lapar,” ujar Lily lemas. Ia malah mengambil sikap malas dengan menyandarkan punggungnya.


“Walau tidak lapar kau harus makan sesuatu biarpun sedikit. Kalau tidak perutmu akan kosong dan masuk angin nantinya.”


Lily menggeleng. Seperti yang dikatakan tadi ia sangat malas untuk melakukan sesuatu.


“Apa saat pulang besok kau mau sakit? Kau mau papa melihatmu sakit?”


Dion bukanlah pria yang terlalu pandai membujuk apalagi merayu wanita. Hanya karena mimpi buruk membuat gadis itu uring-uringan begini? Padahal ia sudah tahu kalau papa baik-baik saja. Mimpi indah atau buruk hanyalah bunga tidur dan siapa saja bisa mengalami kedua jenis mimpi itu. Apa yang dimimpikan belum tentu akan terjadi di kehidupan nyata.


Dion menghembuskan napasnya. Sepertinya percuma kalau ia berbicara lagi. Lebih baik ia mengambil tindakan dengan menyuapi Lily.


“Aku nggak mau.” Lily menggeleng dan menjauhkan mulutnya dari sendok yang sudah melayang di depan mulut. Dion tidak menyerah. Ke mana mulut Lily pergi ke situ pula Dion mengarahkan sendok yang berisi makanan. Hingga akhirnya Lily mau makan walau hanya beberapa sendok saja.


“Udah, Mas. Aku udah kenyang,” tolak Lily pada suapan kesekian kalinya.


“Baru juga lima sendok. Ayo buka mulut lagi!”


“Nggak, Mas. Udah.” Lily meraih gelas dan meminum isinya.

__ADS_1


“Ya sudahlah kalau begitu.”


Dion meraih beberapa lembar tisu dan membersihkan bibir Lily yang tertempel minyak makanan. “Makan hanya sedikit tapi mulut berantakan,” ujarnya sembari mengelap bibir Lily.


**


Malam semakin larut dan Lily belum juga terpejam. Ia bergerak-gerak mencoba menemukan posisi nyaman. Entah sudah tidur atau belum Dion akhirnya terduduk karena (mungkin) merasa terganggu oleh gelombang ranjang yang diciptakan Lily.


“Kamu tidak bisa tidur?”


Lily mengangguk.


“Kenapa kamu tidak nonton Korea-Korea kamu itu?”


Iya, benar. Ia sudah lama tidak melihat oppa-oppa dan ahjussi-ahjussi tampan semenjak kuliah. Gadis itu pun meraih tablet Dion yang sudah mengudara di depannya lalu mengunduh aplikasi yang dimau setelah mendapat izin dari Dion.


Dion memperhatikan. Setidaknya ia berhasil membuat Lily tidak terus larut dalam pikiran negatifnya. Sampai tengah malam datang akhirnya Lily tumbang, kepalanya menindihi tablet itu. Gadis itu akhirnya tidur. Dion yang melihatnya geleng-geleng kepala dan tersenyum miring. Sebelum gadis itu terlelap ia sempat berkata 'Seo Joon Oppa, aku menunggumu di sini, sarangheo oppa'.


Esok hari sebelum matahari terbit, pagi-pagi sekali Dion membangunkan Lily. Ia berencana ingin mengajak Lily melihat matahari terbit di Pantai Karang, Sanur. Niat itu ada saat kemarin dia gagal untuk mengajak Lily melihat matahari terbenam, kali ini jangan lagi. Mereka hanya punya waktu dua hari di Bali jadi mereka harus menggunakan waktu untuk diri. Apalagi mengingat Lily yang belum pernah ke mana-mana. Lily bahkan belum pernah ke provinsi tetangga.


Tidak tahu mengapa, ia ingin Lily menikmati liburan ini. Hati kecilnya menyuruhnya untuk membuat Lily senang. Seperti ini adalah kesempatan terakhir. Dion cepat-cepat membuang pikiran buruknya. Kenapa dia jadi ikut-ikutan berpikir negatif seperti Lily.


Dengan memaksa, Dion menarik Lily yang tidak mau bangun dari tidurnya. Hari ini ia rela membatalkan rencananya bertemu dengan rekan bisnisnya yang ada di Nusa Dua demi mengajak Lily jalan-jalan menghabiskan waktu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2