
“Dion, kamu yakin akan pergi selama itu?” tanya mami yang duduk di kursi rias dengan cemas.
“Iya, Mi. Mami kan tahu selama ini aku sangat bekerja keras agar bisa membangun cabang perusahaan di Spanyol,” jawab Dion yang berdiri di depan cermin menyisir rambutnya.
“Kamu kan bisa mengirim Fasa saja ke sana.”
“Aku mau turun langsung ke sana, Mi. Aku harus memastikan semua berjalan lancar. Banyak yang harus diurus di sana termasuk merekrut karyawan baru.” Mendekat ke mami setelah penampilannya dirasa sempurna di pantulan kaca. “Kenapa Mami khawatir gini. Biasanya aku juga sering bepergian ke luar kota atau negeri.”
“Sekarang ini situasinya udah beda, Nak. Kamu sekarang sudah punya Lily.” Mami mengingatkan status Dion.
Sejenak Dion terdiam. “Mi, nanti juga dia ngerti dengan pekerjaan Dion yang tidak bisa terus ada di rumah.”
“Tapi kalian kan baru menikah dua hari. Masa harus LDR seperti ini. Tidak bisakah kamu menunda dulu?” rengek mami.
Dion tersenyum, “Mami,” menarik kursi yang tidak terlalu jauh dari meja rias dan duduk di depan mami. “Bukankah ada Mami dan juga Papi yang menemani Lily di sini. Dion pergi hanya sebulan Mi, bukan setahun. Dion nggak mau menunda lagi.”
“Dion, Mami tidak suka kamu yang mementingkan pekerjaan daripada Lily. Mana ada pengantin yang baru menikah pergi meninggalkan pasangannya.”
Dion geleng-geleng kepala, mengerti kalau berdebat dengan mami tidak akan ada habisnya. “Mi, Dion pergi bekerja buat masa depan Dion dan keluarga kita, bukan untuk main-main atau bersenang-senang.” Diambilnya tangan mami, diciumnya dan ditempelkannya di keningnya, “mohon doanya Mi, biar perjalanan dan pekerjaan Dion lancar dan selamat,” tambahnya lagi.
Mami tetap diam. Tapi dibenarkannya apa yang diucapkan putranya itu.
Melihat mami yang masih tetap diam tanpa ekspresi, Dion berusaha lagi membujuk mami. “Kita kan bisa melakukan panggilan vidio, Mi.” Diliriknya mami namun masih tetap diam. “Apa Mami mau di masa depan nanti melihat anak Mami yang ganteng ini hidup susah? mumpung Dion masih muda, Dion ingin bekerja keras sekarang dan di masa mendatang bisa menikmati hari tua dengan tenang bersama keluarga.”
Mami terlihat lebih tenang mendengar semua penuturan Dion. Tanpa disadari papi sudah berdiri di bibir pintu kamar. “Mi, jangan merengek lagi. Kita doakan saja anak-anak kita biar sehat selalu dan sukses dalam karirnya.” Papi berjalan mendekat.
“Iya Pi. Mami tidak pernah absen mendoakan anak-anak kita. Tapi kalau Dion pergi selama itu, bagaimana kita bisa cepat punya cucu.”
Dion kaget bukan main. Tidak pernah terpikirkan kalau mami akan mengeluarkan itu. Dia jadi bingung sendiri ditambah lagi mami dan papi menatapnya bersamaan.
Cucu?
Dia jadi tersadar kalau salah satu tujuan pernikahan adalah memiliki keturunan. Tapi mengingat pernikahannya terjadi akibat dijodohkan, apa mungkin dia akan punya anak. Anak menurut penilaiannya adalah buah cinta dari si ayah dan si ibu sendiri. Sedangkan dia belum menemukan cinta dalam pernikahan ini. Apakah dia dan Lily bisa saling mencintai, mengingat wanita yang dinikahinya adalah gadis remaja? dan egonya pasti labil yang tidak cocok dengan dirinya.
Papi menepuk bahu Dion yang termenung, “apa yang kamu pikirkan? sudah waktunya kamu berangkat.”
“Iya, Pi.”
__ADS_1
Dua orang pelayan datang, membawa koper dan barang-barang Dion yang lainnya.
Mereka berjalan beriringan.
“Ingat, langsung kabari begitu kamu sudah sampai.”
“Baik, Pi.”
“Siapa yang akan kamu kabari?” tukas mami.
“Tentu saja Mami dan Papi.”
“Dan Lily? kamu tidak akan menghubunginya?” Mami menatap tajam Dion karena masih tidak rela Dion pergi.
Dion terperanjat dan menggaruk tengkuknya. “Dion juga akan menghubunginya. Bisa Dion minta nomor ponselnya?” Kikuk sendiri.
“Tuh kan, Pi. Mami sudah menduga mereka tidak saling menyimpan nomor.” Mami menyerahkan hpnya. Dan langkah mereka berhenti untuk sesaat.
Papi melihat tangan Dion yang sedang sibuk mengetik nomor hp. “Tangan kamu yang mana yang dimaksud Lily bengkak?”
“Lily memang cekatan mengurus kamu. Tidak salah Mami menjodohkannya denganmu.” Raut wajah mami masih kesal.
Dion menyerahkan kembali hp mami tanpa menimpali ucapannya yang terakhir. Sedangkan papi geleng-geleng kepala melihat mami yang belum melunak.
_____________________________________________
Di sekolah.
Suara riuh dan tepuk tangan terdengar di setiap kelas. Wali kelas membacakan nama-nama murid yang memiliki peringkat. Sungguh momen yang ditunggu-tunggu siswa berprestasi.
“Luna! selamat kamu peringkat pertama lagi.” Dua sahabat yang duduk sebangku itu berpelukan setelah guru wali kelas selesai membacakan dan pergi keluar.
“Selamat juga buat kamu yang dapat peringkat tiga.”
“Haha.” Lily melepaskan pelukan itu dengan tertawa, “peringkat tiga ya, itu juga karena bantuan dari kamu.”
“Masih lebih banyak kerja keras kamu lah. Aku bantu sedikit saja kok.” Tertawa seperti mengejek.
__ADS_1
“Udah deh, Lun. Kamu ikhlas nggak nih bantuin aku.” Cemberut yang dibuat-buat.
Luna tertawa, “ikhlas dong. Kamu kan sahabat aku yang selalu ada dalam suka dan duka.” Luna merangkul bahu Lily. “Ayo, kita ke kantin. Aku deh yang traktir kamu.” Membujuk Lily dengan makanan.
“Benar nih kamu yang traktir. Dua mangkuk bakso.” Mengacungkan dua jari tangannya dengan mata berbinar.
“Giliran makan aja, semangat kamu langsung berkobar.”
“Kan doyan makan.” Tersenyum secerah mentari di pagi hari karena mendapat makan gratis.
Mereka memasukkan rapor, piagam dan juga piala trofi kejuaraan ke dalam tas masing-masing. Sebelum mereka benar-benar akan beranjak, siswa-siswi yang lain datang mengerumuni mereka, memberi ucapan selamat pada Luna. Karena selain juara di kelas, Luna juga juara umum. Pintarnya Luna.
“Lun, aku sedih karena kita akan berpisah,” ucap Lily di kantin setelah mereka selesai memesan makanan. “Kamu nanti mau ke universitas mana?”
“Kayak yang kamu tahu, aku udah daftar SNMPTN.”
“Kamu masih tetap mau kuliah di perguruan negeri?” Antusiasnya keluar.
“Iya, aku nyaman di negeri.”
Pesanan makanan mereka datang.
“Lun, pendaftarannya masih buka gak? aku juga pengin daftar.” Lily menggoyang-goyang tangan Luna yang sedang menuangkan saus ke mangkuk mie ayamnya.
Luna terlonjak sampai sausnya tumpah ke meja. “Ly, kamu serius? kamu kan udah nikah.” Suara Luna cukup keras karena mendengar kemauan Lily.
Lily menutup mulut Luna dengan tangannya dan melihat sekelilingnya. “Lun, pelanin dong suara kamu. Memangnya kenapa kalo aku udah nikah? kamu nggak senang kalo aku juga mau kuliah?”
Melepas tangan Lily dari mulutnya. “Bukannya gitu cinta. Aku kaget karena yang aku tahu selama ini kamu kan penginnya lanjut ke sekolah pramugari. Kan kamu yang dulu bilang nggak mau kuliah.” Menatap lekat wajah Lily.
“Iya itu dulu sebelum aku nikah.” Menarik napas, “sekarang statusku yang sudah menikah mana bisa aku sekolah pramugari.” Tatapan Lily nanar. “Pokoknya beres makan kamu temanin aku ke ruang BP, titik.” Lily memberi penekanan.
“Iya, iya. Tapi kamu udah izin kan sama suami kamu yang ganteng dan tajir itu?” Luna mengambil beberapa lembar tisu dan membersihkan tumpahan saus tadi.
“Nanti aja izinnya. Lagipula dia nggak bakal larang-larang aku.”
Sebenarnya Lily tidak tahu Dion akan setuju atau tidak. Untuk sekarang ini yang terpenting bagi Lily adalah melanjutkan pendidikan agar bisa menjamin masa depannya nanti.
__ADS_1