Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Cerita Ariel


__ADS_3

Semilir angin malam menerpa wajah putih tanpa polesan make-up itu, membiarkan rambutnya dimainkan oleh angin ke kanan dan ke kiri. Matanya menerawang berusaha menembus pekatnya malam menuju langit yang hanya menampakkan beberapa bintang. Lily berpegangan pada pagar balkon, dinginnya malam tidak ia hiraukan. Ia sedang merenungi jalan hidupnya yang sebentar menyenangkan dan sebentar menyesakkan dada.


“Ma, Lily kangen. Mama lagi apa di sana?” Wajahnya sendu, matanya tidak lepas memandangi bintang yang kerlap-kerlip. “Mama bahagia, kan, di sana?” Diam sebentar untuk menarik napas berharap bisa melonggarkan dadanya yang terasa terhimpit. “Kata papa, tidak ada tempat yang lebih indah daripada yang mama tempati sekarang. Semoga saja itu benar.” Kedua bola matanya berkaca-kaca.


Gadis itu juga manusia biasa yang bisa merasakan rindu, merindukan orang yang sudah melahirkannya dan sudah tiada. Terulang lagi di memorinya bagaimana mama tersenyum, memeluknya, membelai rambutnya, menciumnya, menyuapi makan di kala sakit, memarahinya saat melakukan salah. Dulu hidup begitu indah seakan dunia adalah miliknya.


Lily menghapus air mata yang sudah berani membasahi pipinya. Ia tersadar, pesan terakhir mama adalah:


[ Jangan pernah menangis karena rindu pada Mama. Mama akan selalu hadir dalam setiap napas kamu, langkah kamu, kedipan matamu, detak jantungmu, semua yang kamu lakukan. Kalau kamu menangis maka Mama juga ikut menangis. Yakinlah kalau Mama selalu hadir di hati kamu ]


Menghapus kembali sisa cairan yang masih menempel di pelupuk mata. “Nggak, kok, ma. Lily hanya sedikit menangis. Lily janji akan tersenyum dan bahagia. Lily mencintai mama.” Mendekap dadanya erat seakan sedang memeluk sesuatu. Sekali lagi menarik napas panjang untuk mendamaikan gejolak rindu yang terjadi beberapa saat lalu. Kemudian merekahkan senyum.


Setelah merasa dirinya sudah baikan, ia membalikkan badan untuk masuk ke kamar.


Ketukan pintu dan suara memanggil terdengar saat Lily baru beberapa detik menutup pintu menuju balkon. Suara itu milik Ariel. Bergegas Lily membukanya.


“Bibi Belle, ayo makan malam! Perutku sudah sangat lapar,” ajak Ariel saat Lily sudah membuka pintu. Bocah itu sama sekali tidak merasa canggung untuk meraih tangan Lily dan menariknya.


Lily tersenyum, hatinya yang tadi sedikit kalut menjadi menghangat dengan perlakuan Ariel yang tiba-tiba.


“Kenapa kamu memanggil Bibi, Bibi Belle? Nama Bibi, kan, Lily bukan Belle,” tanya Lily yang mengikuti langkah Ariel.


Mereka bergandengan tangan meninggalkan ruangan itu menuju ruang makan. Tepatnya Ariel yang menggandeng tangan Lily. Ariel memandu langkah karena anak itu sudah tidak sabar untuk cepat sampai.


“Itu panggilan sayangku untuk Bibi,” jawabnya tanpa melirik Lily dan semakin mempercepat langkahnya. “Bibi juga boleh memanggilku dengan panggilan sayang apa saja yang Bibi mau.”


“Baiklah. Tapi sepertinya Bibi harus memikirkannya dulu.”

__ADS_1


“Aku tunggu.” Ariel menarik tangannya semakin cepat menuruni tangga.


“Hati-hati dong, kita bisa jatuh!” Lily memperingatkan.


“Tidak akan. Aku akan menangkap Bibi kalau Bibi jatuh atau terpeleset.”


“Kamu ini, ya.” Lily tidak habis pikir dengan Ariel. Bocah ini walau kecil tapi bicaranya seperti orang dewasa yang sedang merayu.


***


Di meja makan semua orang sudah berkumpul, termasuk Dion. Sepulang pria itu dari kantor tadi, ia tidak mandi atau berganti pakaian terlebih dulu. Rasa capai dan penat yang menggerogoti raganya hilang seketika melihat kedatangan keluarganya.


Setibanya di meja makan, Ariel segera menarik kursi yang di sebelah Mommy-nya dan mendudukinya. Bocah itu benar-benar sudah tidak sabar untuk makan. Lihat saja tangannya segera bergerilya mengambil lauk-pauk dan menumpukkannya di piring yang sudah diisi nasi. Sementara Lily menyapa semua oranh dengan senyum yang terkesan dipaksakan. Ia perlahan duduk di samping Dion tanpa menoleh sedikitpun.


Dion menatap teduh wajah imut di sampingnya itu. Air muka gadis itu terlihat murung, berbeda dengan saat ia mengantarkannya tadi pagi ke kampus. Apakah sesuatu telah terjadi di kampus? Baiklah, ia akan menahan pertanyaan itu. Ada rasa gengsi bila ia memperlihatkan perhatiannya ke gadis itu pada semua orang.


***


“Begitulah di jardin d'enfants-ku, Grandpa. Siapa yang suka bikin ribut akan dihukum. Dan hukumannya menyanyi sebelum pulang.” (Jardin d'enfants \= taman kanak-kanak)


Semua manggut-manggut menanggapi. Begitupun Lily yang jadi pendengar saja. Ia tidak mengeluarkan kata-kata apapun, tidak seperti saat ia baru tiba di rumah tadi.


Bila yang lainnya tertawa, maka ia ikut tertawa. Pikirannya sekarang terbagi dua, antara fokus dan tidak. Kata-kata Tiara tadi melayang-layang di pikirannya.


“Apa Ariel juga pernah dihukum?” tanya mami.


“Tentu saja sering, Grandma. Grandma tahu tidak, aku menyanyikan lagu apa?”

__ADS_1


Mami menggeleng. Siapa saja tentu tidak akan tahu sebelum dikasih tahu.


“Aku sering menyanyikan lagu 'Pada Hari Minggu'.” Sontak anak itu tertawa pecah, entah apa penyebabnya membuat yang ada di sana saling pandang-pandangan.


Melihat wajah-wajah yang kebingungan itu, Ariel melanjutkan lagi, “teman-temanku tidak ada yang mengerti artinya, mereka bahkan tidak tahu itu bahasa apa. Mereka semua kebingungan termasuk guruku.” Lagi, tawa bocah itu memenuhi ruangan.


“Lalu apanya yang lucu?” Tiara yang bertanya.


“Pada saat lirik 'tuk tik tak tik tuk', teman-teman tertawa semua, mereka mengira aku sedang melucu.” Jeda sebentar untuk tertawa lagi. “Lalu mereka ingin agar aku mengajari mereka lagu itu, termasuk guruku. Teman-temanku dan guruku sungguh payah, berulang kali diajari tapi tidak bisa mengucapkan dengan benar. Dasar bule! Tapi mereka menyanyikan itu sangat lucu.” Kembali tertawa.


Dan merekapun ikutan tergelak.


“Kamu he-bak kamu juga aja-l gulu,” kata Kharel putus-putus dengan logat asingnya. Ariel jauh lebih pandai melapalkan bahasa indonesia daripada daddy-nya. Meski logat kebaratan Ariel tetap ada, tapi siapa saja yang mendengar bisa mengerti.


Semua semakin tergelak.


“Nah, seperti Daddy-lah teman-temanku berbicara saat kuajari. Bahkan lebih parah.”


Semua masih tertawa. Kharel kikuk sendiri karena jadi sasaran empuk. Hingga Dion datang dan duduk di sebelah Ariel. Untuk beberapa detik tatapannya terkunci hanya untuk Lily saja. Masih sama seperti tadi, gadis itu seperti memiliki beban. Semua duduk berpasangan kecuali Lily yang duduk di sofa tunggal.


“Membahas apa sampai tertawa begini?” tanya Dion sembari mengacak rambut Ariel.


“Oncle Dion, ne me casse pas les cheveux! Je ne suis pas beau plus tard.” (Paman, jangan rusak rambutku! Nanti aku jadi tidak tampan lagi)


Dion senyum sampai menampakkan giginya. Namun tangan tidak berhenti memainkan rambut keponakannya itu, “tu es toujours beau un toutes circonstances.” (kamu tetap tampan dalam keadaan apapun)


“Hentikan, Paman!”

__ADS_1


Lily melihat interaksi antar mereka, begitu dekat dan akrab. Senyumnya sedikit terulas dan hatinya menghangat walau tidak mengerti apa yang dibicarakan. Tidak pernah sebelumnya ia melihat Dion intim begini dengan orang lain, dengan mami dan papi saja tidak. Tanpa sengaja matanya bersirobok dengan Tiara, sepertinya wanita beranak satu itu memperhatikannya dari tadi. Tidak bisa diartikan maksud tatapan wanita itu. Senyum Lily seketika menyurut dan pandangannya jatuh ke kedua tangannya.


__ADS_2