
Wajah Lily masam terus semenjak kejadian dikerubuninya Dion oleh ibu-ibu dan siswi-siswi untuk meminta tanda tangan dan foto selfie. Dion mendadak jadi idola hari ini, bahkan ia tenar sampai ke kelas lain dan juga guru-guru. Lupa sudah ketegangan akan kelulusan.
Terang saja Dion tidak bisa menolak permintaan orang-orang itu, karena kalau sempat ia menolak, maka ia akan dicap sebagai pengusaha sombong dan itu akan berimbas pada nama usaha keluarganya.
“Lily!” panggil seseorang dari jauh yang ternyata itu adalah Axel.
Lily dan Luna yang hanya duduk berdua menoleh karenanya. Sementara siswa yang lain berkerubun mengelilingi Dion.
“Axel.”
“Gimana hasilnya? Lulus?” tanya pria itu setelah tubuhnya dekat dihadapan kedua gadis itu. Matanya bergerak-gerak menatap Lily dan Luna bergantian. Dan anggukan dan senyuman mereka sudah menjawab pertanyaannya itu.
“Kamu sendiri gimana?”
“Tentu saja aku juga.” Pria itu turut tersenyum.
“Syukurlah,” jawab kedua gadis itu bersamaan.
“Lily, aku ingin bicara denganmu,” kata Axel setelah keheningan terjadi beberapa saat diantara mereka. Tatapan mata itu serius, pun dengan mimik wajahnya. “Hanya berdua saja.” Berharap Lily ingin menuruti kemauannya. Namun gadis itu tetap enggan dan setia di kursi tempatnya duduk.
“Mungkin ini adalah yang terakhir aku memintamu untuk bicara berdua, karena lusa setelah mengambil surat kelulusan sementara, aku akan ke luar negeri.”
Lily tercengang, begitupun Luna.
“Ka, kamu mau apa ke luar negeri? A, apa kamu mau melanjutkan pendidikan di sana?” tanya Lily terbata tidak percaya. Selama ini Axel tidak pernah bercerita tentang itu padanya. Kabar ini cukup mengejutkannya karena bagaimanapun juga Axel adalah orang yang pernah mengisi hari-harinya.
Axel mengangguk. “Hari ini adalah hari terakhir kita memakai seragam putih abu ini. Kita memulai hubungan menggunakan seragam ini dan aku ingin mengakhirinya dengan menggunakan seragam ini pula.”
“Axel ....” Suara gadis itu bergetar. “Lun, aku bicara dulu dengan Axel, ya.” Lily berlalu tanpa terlebih dulu membiarkan Luna menjawabnya. Axelpun mengikut dari belakang sampai mereka tiba di taman sekolah.
“Xel–”
“Ly, biarkan aku yang bicara dulu. Lebih baik kita duduk dulu,” ajak pria itu.
Lily melihat perubahan Axel. Pria itu terlihat lebih dewasa, tidak ada candaan dan keisengan dari kata-kata atau tindakannya. Pria itu sedang serius sekarang.
“Ly, walaupun kamu dan aku nggak ada hubungan apa-apa lagi, tapi kamu tetaplah orang penting bagiku.”
__ADS_1
Lily membiarkan Axel mengungkapkan apa saja yang ingin pria itu katakan. Sekarang ini ia akan menjadi pendengar yang baik.
“Karena kamu selama ini aku semangat belajar. Karena kamu aku berubah jadi lebih baik, nggak ikut-ikutan lagi dengan teman-teman yang suka bolos. Kamu berpengaruh positif buat aku sampai aku bisa seperti sekarang ini.”
Lily tertunduk dalam.
“Terima kasih, Ly, karena kamu pernah mau menjadi bagian penting dalam hidupku.”
Hati gadis itu bagai diremas-remas. Bagaimana bisa Axel mengatakan terimakasih padahal dirinya sama sekali tidak memberi pria ini cinta. Hanya ada rasa kagum karena dulu pria bertubuh tinggi namun tidak setinggi Dion itu pernah mengalahkan tim kakak kelas bermain basket. Kakak kelas yang dimaksud adalah tim Noel, sang ketua osis.
“Axel.” Kini Lily berani mengangkat wajahnya memandang pria itu. “Ada satu hal yang ingin aku katakan dan itu belum kamu ketahui,” ucapnya lirih.
Axel diam.
“Sejujurnya aku nggak benar-benar mencintaimu, Xel,” ucap gadis itu hati-hati. Lily buang muka. Tidak berani melihat reaksi Axel. “Maafkan aku.” Tangisnya hampir tumpah. “Maafkan aku sudah mempermainkan perasaanmu.”
Axel menelah ludahnya yang seperti duri, sakit. Terdengar tarikan napas pria itu. “Aku tahu.”
Axel tahu?
Lily memberanikan diri lagi melirik wajah itu. Namun pria itu melihat ke arah yang lain.
Lily sungguh terkejut. Luna? Ingin rasanya gadis itu berlari menemuinya dan mencabik-cabik mulut embernya. Tapi nanti saja setelah urusannya dengan Axel selesai.
“Walau kamu nggak mencintai aku, aku tetap bersyukur karena pernah menjadi pacarmu.” Axel memutar kepalanya sampai menatap dalam wajah gadis di sampingnya. “Aku bisa merasakan indahnya jatuh cinta meski tidak dicintai. Mungkin karena kamu cinta pertamaku, aku sampai buta tidak bisa melihat apakah ada cinta di matamu untukku atau nggak.” Suaranya serak.
Kata-kata Axel sungguh menyayat hati. Lily tidak kuasa lagi membendung air mata.
“Jangan nangis, Ly. Kamu tahu, kan, kalau aku paling nggak bisa lihat kamu nangis.” Bukannya diam tangis gadis itu semakin tumpah dan itu membuat Axel ikut menitikkan air mata.
“Ly ....”
Gadis itu tetap sesenggukan. Tanpa berpikir lagi Axel menggeser duduknya dan memeluk gadis itu beberapa lama. Benar saja, mereka meluapkan emosi dengan air mata yang terus berjatuhan.
“Maaf, Xel. Maafkan aku.”
“Nggak perlu minta maaf. Aku nggak punya kuasa memaksamu untuk mencintaiku. Kita memang bukan jodoh.” Lily mengangkat wajahnya agar bola matanya mampu menyorot wajah yang sedang memeluknya itu. Axel terlihat meneteskan air mata, dan untuk yang pertama kali Lily melihatnya menangis.
__ADS_1
Axel tersadar lalu melepas pelukannya, “maaf,” ucapnya terdengar lirih. Kedua orang itu menghapus air mata masing-masing.
“Xel, apa kamu mau ke luar negeri untuk menghindar?” tanya gadis itu setelah hatinya merasa lebih baik. Axel mengangguk.
“Aku akan berusaha ikhlas untuk menerima ini semua. Dan ...” Axel berdiri mengulurkan tangannya, “selamat menempuh hidup baru, Ly. Semoga kamu bahagia.” Dengan berat hati Lily menerima tangan itu.
“Kita masih bisa, kan, berteman?”
***
Dion merasa tidak baik. Sudah lama ia di sana dimintai tanda tangan dan foto, bukannya semakin sedikit tumpukan manusia malah semakin banyak, bahkan desakan orang-orang membuat perutnya mual. Ini sungguh tidak benar, bisa-bisa ia alergi seperti yang dikatakan Lily.
“Maaf semuanya. Saya berterimakasih untuk antusiasme kalian terhadap saya. Saya benar-benar harus pergi karena ada pekerjaan yang sedang menunggu saya. Sekali lagi saya minta maaf.”
Orang-orang yang belum mendapat giliran mendesah kesal, wajah berubah murung dan kecewa. Namun mereka sadar, pria ini orang sibuk. Patutnya mereka bersyukur karena bisa bertatapan langsung dengan si tampan nan kaya dengan gratis tanpa ada hambatan.
Dion keluar dari kerumunan itu. Bernapas lega karena tidak dikejar, lalu mencari istri imutnya. Tadi ia masih melihat Lily dan Luna duduk di kursi tempatnya berdiri sekarang. Namun kedua gadis itu menghilang.
Sembari melangkah mencari-cari istrinya ke kiri, kanan, depan, belakang, ia pun mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Lily. Seseorang yang ia kenal berjalan menghampirinya dari depan. Orang itu adalah Axel. Kedatangan orang itu mengurungkan niatnya untuk menelepon.
“Selamat pagi menjelang siang, Pak.”
Pak?
“Mm.”
Tanpa diduga, Axel mengulurkan tangannya pula, “selamat menempuh hidup baru, ya, Pak. Semoga langgeng dan bahagia bersama Lily.” Sebentar Dion diam. Namun bila dilihat-lihat pria remaja di depannya ini benar-benar tulus dengan ucapannya. Akhirnya Dion menyambut uluran tangan itu.
Setelah jabat tangan lepas, “saya titip Lily, Pak. Semoga dia bisa mencintai Bapak, tidak seperti saya,” getir Axel.
Di awal kalimat itu terdengar sangat menyebalkan di telinga Dion. Namun di akhir kalimatnya terdengar menyedihkan.
“Kamu akan mendapatkan seperti yang kamu inginkan.” Dion bisa melihat kesedihan di wajah remaja itu.
Untuk menguatkannya, Dion menepuk-nepuk bahu Axel. Tanpa sengaja Dion melihat sebuah coretan nama yang dibubuhi tanda tangan di kemeja putih bagian dada pria remaja itu. Tangannya mengepal ....
__ADS_1
Tinggalkan like dan kalau bisa vote, ya, manteman ^Δ^