
Bukan hal yang sulit bagi Fasa untuk menyiapkan kamar hotel dengan tipe presidential suite sesuai permintaan bosnya tadi. Bangunan mewah dan bertingkat yang memiliki beribu-ribu kamar itu adalah bisnis real estate Keluarga Surya. Jadi pemiliknya tentu bebas keluar masuk kapan saja.
Mobil berhenti di depan pintu lobi hotel. Dua concierge yang sudah hapal betul plat mobil itu dengan sigap membukakan pintu penumpang kiri dan kanan mobil diikuti kepala menunduk hormat.
Dion masih memejamkan mata saat pintu mobil dibukakan. Menarik dan menghembuskan napas panjang yang terdengar sangat berat. Ia melakukannya lebih dari sekali. Bukan tanpa arti ia melakukan itu, ia harus menguasai diri menahan marah agar tidak dilihat oleh pegawainya atau tamu hotel. Jangan sampai ia meneriaki gadis di sampingnya yang akan menyebabkan reputasi keluarga, kewibawaan dan citranya rusak. Sebentar ia melirik dengan ujung mata ke samping, sebentar hanya sepersekian detik. Kemudian ia turun dan mengayunkan langkahnya tanpa mengeluarkan suara apapun dari mulutnya.
Di situasi inilah Fasa harus paham dan cermat. Kalau ia salah sedikit saja dalam bertindak, bisa hilang karier hanya dalam sekali jentikan jari yang sudah ia bangga-banggakan sejak enam tahun terakhir.
“Ayo, Nona. Silakan turun.” Fasa sudah berdiri di samping pintu mobil yang telah dibukakan oleh concierge tadi setelah terlebih dulu meminta salah satu concierge untuk mengikuti dan melayani Dion.
“Kita mau apa kemari Asisten Fasa?” Tergambar jelas raut bingung juga cemas di wajah polos Lily. Dia belum pernah ke sini. Dia tidak tahu mau apa ke sini. Ini tempat asing baginya. Dia hanya mau pulang ke rumah mewah yang ada mami dan papi mertuanya.
“Jangan cemas, Nona. Karena besok adalah hari libur, jadi Pak Dion mengajak Anda bermalam di sini.” Fasa memilih kata-kata itu dan mengucapkannya setenang mungkin. Walau ia sendiri tidak yakin apakah akan ada perang atau tidak setelah ini.
“Tak bisakah Asisten Fasa mengantarku ke rumah saja?”
“Mari, Nona, silakan keluar. Pak Dion pasti sudah menunggu Anda.”
Maaf Nona. Aku tidak bisa memenuhi permintaan itu. Anda yang membuat kobaran api, maka Anda sendirilah yang harus memadamkannya. Lebih baik Anda membenciku daripada aku menerima kemurkaan Pak Dion.
Dengan membawa langkah takut-takut Lily akhirnya mau ke dalam hotel. Ia merasa semakin tidak nyaman karena pandangan orang yang memakai seragam berlogo khas hotel itu menatapnya seakan penuh tanya. Namun karena mata mereka bertemu dengan Fasa, seketika mereka tertunduk dalam diam. Selain kepada pemilik hotel, mereka juga hormat dan merasa segan terhadap tangan kanan bosnya itu.
“Asisten Fasa, aku merasa takut,” lirih Lily lagi setelah mereka berada di dalam lift.
“Tidak perlu takut, Nona,” timpal Fasa meyakinkan walau ia sendiri sebenarnya juga sangat takut akan apa yang akan dilakukan Dion nantinya.
“Gimana nggak takut, Mas Dion tadi teriak dan terlihat marah,” gumamnya. Ia menyoroti wajah Fasa yang ada di sampingnya dengan tatapan sendu. Berharap laki-laki itu memberi solusi yang masuk akal untuk ketakutannya itu.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Nona. Pak Dion hanya kelelahan saja karena tadi pekerjaannya sangat padat. Itu sebabnya tadi dia terlihat emosi,” sangkal Fasa.
Lily mengambil napas panjang, antara percaya dan tidak untuk penjelasan barusan. “Apapun nanti yang akan terjadi, Anda jangan pergi. Anda harus berada di sampingku, apapun yang terjadi, ok!” Menjulurkan jari kelingkingnya seperti janji anak kecil.
Perintah yang harus dipatuhi Fasa adalah perintah Dion bukan Lily. Namun agar Lily tenang dan tidak banyak bicara lagi, dengan ragu-ragu menyambut jari kelingking itu. “Tidak akan terjadi apa-apa, Nona. Pak Dion orang baik jadi tidak mungkin melakukan hal yang buruk.”
Lift berhenti dan pintunya terbuka. Mengurungkan niat Lily yang ingin kembali menimpali tuturan Fasa barusan. Lily mencoba mengatur dadanya yang kian terasa sesak.
Kenapa aku harus takut. Aku merasa nggak salah apa-apa. Aku tadi udah minta izin memakai kartu ATM itu. Mungkin benar kata Asisten Fasa. Dia begitu karena masalah pekerjaannya.
Lily memantapkan hati juga langkah kakinya.
“Maaf Asisten Fasa. Tuan meminta Anda agar segera menemuinya,” ujar concierge yang mengantar Dion tadi. Mereka bertemu saat Fasa dan Lily baru beberapa langkah keluar dari lift. Fasa mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
***
Mereka sudah di dalam kamar hotel yang dimaksud setelah Fasa terlebih dulu mengetuk pintunya. Lily dibuat tercengang dengan arsitektur dan furnitur yang ada di dalamnya. Kamar yang besarnya menyerupai apartemen ini tidak kalah mewah dengan rumah yang selama ini ditinggalinya. Bisa dibilang kamar ini versi kecil rumah itu.
Lily terhenyak dari kekagumannya. Ia menoleh dan mendapati Dion duduk bersandar di sofa berwarna krim. Pria itu memerintah Fasa namun sorot matanya lekat pada Lily. Suaranya tidak sekeras tadi namun masih tergolong dingin. Fasa mengangguk kemudian mengambil sikap mau pergi.
“Tunggu Asisten Fasa. Bukankah tadi kita sudah bikin janji agar Anda tidak meninggalkan saya.”
Fasa melihat ke arah Dion yang ternyata bosnya itupun tengah menatapnya tajam tanpa berkedip.
Fasa berdehem untuk mengurangi rasa sakit di tenggorokannya karena ia merasa tercekik ditatap begitu oleh Dion. “Saya tidak akan ke mana-mana, Nona. Saya akan ada di luar.”
“Kau tidak usah keluar. Kau boleh memakai kamar itu.” Tunjuk Dion dengan ekor matanya. Ya, kamar itu memiliki kamar tidur lebih dari satu. “Kau tidak boleh pergi dari sini malam ini.”
__ADS_1
Wajah Fasa tersentak seperti mengatakan bahwa ia keberatan. Hatinya protes namun yang dilakukan malah mengangguk dan menuruti perintah Dion karena dia adalah asisten yang harus siap 24 jam untuk bosnya.
“Asisten Fasa, tunggu!”
Panggilan itu menghentikan langkah Fasa dan segera ia membalikkan badan. “Tidak akan terjadi apa-apa, Nona.”
Dion berdiri dan menatap marah Fasa, “memangnya apa yang akan terjadi!”
Fasa tidak berkutik. Ia hanya bisa menjatuhkan pandangannya ke bawah. Takut kalau ia akan salah bicara. Saat ini bukan waktu yang pas untuk mencoba meredam emosi bos yang sedang terbakar cemburu. Yang ada nanti dia diumpat habis-habisan.
Gejolak yang menguasai tubuh Dion rasanya tidak bisa ia tahan lagi. Ia meraih tangan Lily dan membawanya ke dalam kamar tidur yang lain, meninggalkan Fasa yang diam mematung.
Nada panggilan ponsel Fasa yang ada di saku jas membuyarkan lamunannya. Jantungnya mendadak berdebar sebelum ia meraih benda pipih itu. Ia sekarang lebih takut ketimbang mendapat tatapan tajam dari Dion tadi. Setelah mengambil barang elektronik itu dan membaca siapa yang menelepon, ketakutannya semakin bertubi-tubi.
“Halo, Sayang,” jawabnya dengan suara gemetar.
“Sayang, aku sudah selesai mandi dan sekarang hanya menyelesaikan make-up-ku yang tinggal sedikit lagi. Kamu sudah sampai di mana? Kamu jadi kan jemput aku jam 7?”
Fasa menelan ludah yang teramat susah untuk masuk melalui tenggorokannya.
“Sayang. Aku minta maaf. Aku tidak bisa datang karena aku, aku ada pekerjaan.”
Yang di sana tidak menjawab. Bisa dipastikan kalau wanita itu kecewa, marah, seperti perasaan wanita pada umumnya kalau pacarnya membatalkan acara kencan secara sepihak. Dia yang berjanji dia pula yang mengingkari.
“Sayang, aku janji besok akan m–”
Tuut ... tuut ... tuut
__ADS_1
Fasa menatap nanar layar ponselnya. Ingin sekali membanting ponsel itu, tetapi ia urungkan karena gambar wallpaper-nya adalah sang kekasih yang sedang tersenyum manis. Tidak lama satu pesan masuk dan itu dari wanita yang sudah ia kecewakan barusan.
[ Kau selalu membuat janji tapi jarang menepati. AKU MEMBENCIMU!!!!!!!!!!!! ]