Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Fans Dadakan


__ADS_3

Dion mewujudkan perkataannya. Ia melajukan kendaraan yang mereka tunggangi dengan kecepatan tinggi. Entah itu disengaja agar dipeluk Lily atau memang untuk mengejar waktu, tidak tahu. Lily tersenyum menikmati perjalanan yang memacu adrenalin ini, karena memang inilah impiannya sejak lama. Duduk di boncengan motor besar yang melaju cepat. Gadis itu sama sekali tidak ada takut-takutnya. Tanpa ia sadari, ia semakin mengeratkan pelukannya.


Jalanan sudah lengang. Terang saja, matahari sudah lama naik dan ini sudah waktunya bagi orang-orang pekerja atau pelajar untuk bergelut dengan rutinitasnya setiap hari.


Setibanya mereka di parkiran sekolah, Lily baru tersadar.


“Mas, aku belum memberitahu alamat sekolahku, lho. Kok Mas udah tahu aja sih?” tanyanya setelah turun dan melepas helmnya.


“Aku tahu semua tentangmu.” Jawaban Dion membuat Gadis itu planga plongo.


Dasar Lily, tidak ingatkah dia kalau Dion sudah membaca dan bahkan menghapal di luar kepala isi diarynya.


“Tuh, rambutmu acak-acakan.”


“Benarkah?” Lily menggeser spion untuk memantulkan wajahnya. “Ah, benar.” Kemudian menyisir rambutnya dengan jari-jari.


“Tidak bisakah lebih cepat? Di sini sudah tidak ada siapapun.” Dion melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru. Tidak ada orang yang terlihat kecuali satpam penjaga gerbang sekolah.


“Iya, Mas. Ayo!” Gadis itu merapikan rambutnya untuk yang terakhir dengan kedua telapak tangannya. Setelah dirasa sempurna, ia memimpin jalan menuju kelasnya.


“Ayo, Mas, cepetan dong. Biasanya Mas jalannya lebih cepat dari aku,” omel gadis kecil itu. Tentu saja Dion berjalan lebih lambat, ia tidak tahu letak ruang kelas Lily.


***


Lily dan Dion melewati beberapa ruang kelas yang terdengar riuh sebelum mendapat kelas Lily.


“Luna!” panggil Lily yang melihat sahabatnya itu berdiri di luar kelas dengan beberapa siswa lainnya. Di dalam kelas sudah dipenuhi siswa dan walinya. Agar tidak berdesak-desakan, sekolah menyiapkan bangku juga di luar kelas.


Yang dipanggil menoleh, “Lily!” balasnya kemudian sambil merentangkan tangan. Kedua gadis itu berpelukan seperti sudah lama saja tidak bertemu. “Kamu kok lama?” tanyanya setelah pelukan itu mengurai.


“Nggak papa dong sekali-kali.”


Luna melihat keberadaan seseorang di belakang Lily dan dengan iseng menggodanya dengan mendekatkan mulut ke telinga Lily, “cie yang sama suami, ciee.”


Seketika wajah Lily merah padam, “apaan sih?” Memalingkan wajah berusaha menutupi kegugupannya karena digoda.

__ADS_1


Luna mengamati tingkah aneh sahabatnya itu yang malu-malu. Ia mendapati rona merah menggembul di kedua pipi imut itu, berbeda saat di pernikahan dulu yang terlihat jelas kalau Lily menunjukkan ketidaksukaannya pada Dion.


“Kamu udah suka, ya, sama tuan suami kamu?” lanjutnya lagi dengan nada semakin menggoda.


“Nggak lah.” Lily berbohong. Kali ini ia tidak ingin berbagi tentang perasaannya pada orang lain, sekalipun itu sahabatnya. Papanya saja tidak diberitahu perihal ini. Akan memalukan baginya karena dari awal sebelum pernikahan gadis itu mati-matian menolak dijodohkan dengan Dion.


“Oh, nggak. Kirain suka. Jangan marah, ya, kalau nanti banyak yang suka sama dia. Kamu tahu sendiri, kan, wali kelas kita masih jomblo. Bu Wita pasti bakal naksir sama suami kamu.”


“Luna!”


Yang diteriaki cekikikan. Lily masam.


“Lun, nanti kita ikutan, ya, acara coret-coretan baju. Kayak yang dibahas anak-anak di obrolan grup tadi malam.”


“Iya. Tapi yang penting berdoa dulu biar kita semua lulus 100%.”


“Kita semua pasti lulus, kok.”


Dan benar saja. Ciwi-ciwi dan para wali yang berjenis kelamin perempuan sudah bisik-bisik sambil melirik Dion. Mereka hilang fokus dengan tujuan utama datang ke sekolah. Lily menyadari itu dan wajahnya mulai gusar.


“Lama amat ceramahnya,” gerutunya karena sang wali kelas sedang menyampaikan pidatonya. Yang semula gundah karena hasil kelulusan yang akan didapat, kini berubah menjadi risau karena semakin banyak mata-mata genit dan memesona memandang Dion.


“Ada apa? Apa namamu sudah dipanggil?”


“Belum.” Lily menjawab datar begitupun tatapannya. Walau Lily sudah menggandeng tangan Dion, wajah-wajah tadi masih menampakkan ketertarikan mereka pada insan itu. Tentu saja tidak ada yang tahu bahwa kedua orang itu adalah pasangan suami istri.


“Tidak perlu cemas. Aku sama sekali tidak tertarik pada mereka,” kata pria itu pelan. Seakan tahu apa yang dipikirkan dan dikhawatirkan istri kecilnya itu.


“Ihh, memang aku mencemaskan apa?” Dengan cepat Lily melepas gandengannya dan mendekati Luna lagi. Luna dibuatnya senyum-senyum sendiri.


Setelah selesai dengan pidatonya, Bu Wita mulai memanggil nama-nama muridnya sesuai abjad sampai tiba giliran Lily.


“Silakan tanda tangan dulu di sini, P–” Bu guru tidak melanjutkan ucapannya. Dia kira pria yang duduk di depannya adalah papanya Lily.


“Gidion Ignasius?” Bu Wita terperanjak. Guru itu mengenal Dion. Dion tersentak begitupun Lily yang berdiri di sampingnya karena suara wali kelas itu menggema memenuhi ruangan kelas.

__ADS_1


“Iya?”


“Ini benaran Anda, kan? Anda yang punya Bank B** itu, kan?” Bu guru itu antusias.


“Iya, benar, Bu.”


Bu guru menjulurkan tangan, dengan ragu Dion menyambutnya. Semua itu tak luput dari pendengaran dan penglihatan Lily. Keningnya berkerut dalam, sampai di sini dia belum mengerti ke arah mana pembahasan ini.


“Terima kasih banyak, Pak Gidion. Bank Anda memang luar biasa. Saya salah satu nasabah yang beruntung karena telah mendapat hadiah sepeda motor,” tutur bu guru itu dengan berbinar-binar. Merasa kurang puas, Bu Wita bangkit dari kursinya setelah melepas jabatan tangannya. Kemudian berjalan mengitari meja hendak memeluk tubuh pria itu.


Sementara siswa-siswa dan juga walinya yang lain mulai berdesas-desus tentang ucapan Bu Wita yang mendapatkan hadiah itu.


“Ibu mau apa?” Lily yang daritadi diam menghadang jalan.


“Ibu hanya ingin mengucapkan terimakasih pada ommu.” Girangnya ibu guru itu. “Dia ommu, kan? Kenapa tidak bilang kalau Bapak Gidion ini ommu?” Bu Wita hampir menerobos tubuh Lily, namun dengan sigap Lily menghadang kembali. Bu guru itu lupa diri dia sedang di mana dan juga lupa bahwa ia adalah seorang panutan bagi murid-muridnya.


“Maaf, Bu Wita. Tapi omku tidak bisa bersentuhan apalagi dipeluk orang lain. Omku memiliki sejenis penyakit alergi yang menular.”


“Benarkah?” Guru itu tidak percaya. Namun Lily mengangguk dengan penuh keyakinan. Beberapa detik kemudian guru itu sadar kalau sikapnya sudah melebihi batas. Bu Wita akhirnya kembali ke tempatnya.


“Maaf, Pak Gidion. Saya terlalu bersemangat karena senang. Sekali lagi terima kasih, Pak, karena bank Anda sudah memberi saya hadiah.”


“Saya juga berterimakasih pada Ibu telah mempercayakan bank kami.” Senyum Dion membuat hati Bu Wita meleleh.


“Bu, apa benar Ibu mendapat hadiah dari bank itu?”


“Iya, Bu. Apakah itu benar?”


Orangtua dan wali murid yang lain membuka suara.


“Iya, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, benar saya telah mendapat hadiah dari bank itu.”


“Kalau begitu saya juga akan menabung di sana.”


“Saya juga.”

__ADS_1


“Saya juga.”


Dan akhirnya hampir seluruh orangtua/wali murid menginginkan menabung di bank milik keluarga Dion. Kelas berubah menjadi riuh karena urusan di mana mereka akan menabung bukan karena hasil kelulusan.


__ADS_2