
“Katakan, kenapa kau bersamanya di halte bis itu?” tanya Dion. Tatapan fokus ke depan sambil mengemudi.
Tidak memberi reaksi akan pertanyaan Dion. Lily melamun asyik memandangi kaca jendela mobil yang basah tersirami air hujan. Otaknya kalut memikirkan keadaan Axel saat ini. Semoga saja laki-laki itu tidak melakukan hal yang nekat yang melukai dirinya sendiri.
Hp! Ya, gadis itu harus menghubungi Axel untuk memastikan. Bagaimanapun selama ini Axel memperlakukan dirinya dengan baik. Tidak pernah sesentilpun Axel menyakitinya. Lily merogoh ke dalam tasnya mencari hp.
Dion menoleh ke samping dengan raut wajah heran. Bukannya menjawab malah sibuk dengan kegiatan sendiri, pikirnya. Dion dengan sesekali memperhatikan bakal apa yang akan dilakukan gadis itu.
Setelah tahu apa yang diambil dari tas selempangnya, Dion merampas benda yang dipegang Lily dengan tangan kirinya. Tidak terima pertanyaannya diacuhkan dan malah sibuk mengetik.
“Kembalikan, Mas.” Lily berusaha merebutnya kembali. Dengan sigap Dion memindahkan benda itu ke tangan kanannya sehingga Lily semakin sulit untuk menjangkaunya. Akhirnya gadis itu menghentikan aksinya sambil mengomel tidak jelas.
Karena penasaran, Dion melihat layar hp itu. Tertera nama Axel di layar paling atas. Emosi Dion yang sudah sempat teredam beberapa saat lalu, kini berkobar lagi. Diremasnya hp itu untuk meluapkan emosinya. Dan dengan mendadak menginjak pedal rem membuat mereka terpental.
“Maas!” teriak Lily dan terdengar napasnya tidak beraturan. Kepala tertunduk, mata terpejam dan telapak tangannya menutupi kedua telinganya. Sesaat kemudian Lily membuka mata dan memperhatikan sekitar. Tidak terjadi apa-apa, syukurlah. Namun ketakutannya masih tergambar jelas di setiap sudut wajahnya.
Lily menoleh ke samping ke arah Dion. Dion ternyata sedang menatapnya juga. Tatapan seperti menghujani tubuhnya dengan bara api.
“Mas.” Dengan susah payah Lily mengeluarkan suara itu.
Tidak dijawab. Tatapannya tetap memanah tubuh gadis itu.
Ada apa ini? Kenapa dengannya?
Dengan mengacuhkan Lily, Dion kembali lagi menginjak pedal gasnya, mengemudikan kendaraan roda empat itu dengan secepat yang ia bisa menuju ke rumah. Gadis itu sampai berpegangan erat saking cepatnya laju kendaraan itu. Sudah beberapa kali Lily memperingatkan agar mengurangi kecepatan namun tidak digubris.
................................................................
Sampai di depan rumah. Lily bisa bernapas lega. Sepanjang perjalanan tadi jantungnya melompat-lompat karena kecepatan laju yang luar biasa. Gadis itu mengusap-usap dadanya.
Apa dia pernah ikut Formula One?
Lain halnya dengan Lily, Dion segera keluar dan membanting keras pintu mobil sampai membuat Lily terlonjak kaget. Lily sampai bisa merasakan kursi yang dia duduki terguncang. Ditatapnya punggung laki-laki itu yang bergerak masuk ke dalam rumah.
“Nona.” Penjaga gerbang berdiri di pintu samping kemudi dan Lily sepertinya tidak menyadari kehadiran pria berseragam itu. Benar apa kata Dion, gadis itu sepertinya hobi sekali bengong.
“Nona!” Kali ini diikuti dengan ketukan di kaca jendela mobil dan itu berhasil membuat Lily tersadar.
“Eh, iya, Pak.”
__ADS_1
“Saya akan memarkirkan mobil ini ke garasi.”
“Oh, iya. Maaf, ya, Pak.” Tersenyum lalu keluar.
Di dalam rumah gadis itu bertegur sapa dengan mami yang kebetulan tengah berbincang dengan Edu. Tidak terlihat Dion di sana.
“Sayang, kamu pulang bareng Dion, ya?”
“Iya, Mi,” jawabnya singkat. Matanya sibuk melihat tangga mencari sosok Dion.
“Kok bisa?”
“Iya, Mi.” Ditanya apa, yang dijawab juga apa. Gadis itu tetap menyapu pandangan ke atas. Bukan karena apa, dia ingin meminta hp-nya yang masih sama Dion. Masih mengkhawatirkan Axel.
Mami memperhatikan pakaian Lily yang juga basah. Mereka naik mobil kok bisa basah?
Mami ingin bicara lagi, tapi berhasil didahului Lily. “Mi, Lily ke kamar dulu, ya.”
Mami mengangguk terpaksa. Baiklah, nanti mami akan menanyai lagi.
Lily menaiki tangga, membuka pintu kamar. Benar saja Dion ada di sana, gemericik air terdengar dari kamar mandi.
“Lama sekali,” gumamnya. Gadis itu sudah sepuluh menitan menunggu. Dia mulai kedinginan, jari-jari tangannya mulai berkerut.
Dia mendekat ke pintu kamar mandi dan mengetuknya. Tidak ada jawaban. Ingin mengetuk lagi, pintu pun dibuka.
Mereka bersitatap sesaat. Lily mengagumi rambut yang masih basah dan acak-acakan itu, menambah ketampanan Dion. Bau harum sabun mandi dari tubuh Dion pun mampu menghipnotis gadis itu. Lily sungguh terpana.
“Minggir!”
“Eh, iya.” Lily memberi jalan. Dia masih terus memantau Dion yang berjalan menuju balkon, mengagumi ketampanannya. Beberapa saat kemudian dia disadarkan oleh rasa dingin yang membangkitkan bulu kuduknya berdiri. Gadis itupun masuk ke kamar mandi.
***
Lily keluar dari kamar mandi, sudah cantik. Didapatinya Dion duduk bersandar di tempat tidur dengan memainkan ponsel. Lily pun mendekat.
“Mas, mana ponselku?” Menjulurkan tangan.
Dion hanya melirik tangan itu, lalu mengangkat tangannya dan menunjuk ke sebuah meja. Di atas meja itu hp-nya terletak. Lily mengambilnya dan menghampiri Dion lagi.
__ADS_1
“Mas, gimana dengan permintaanku kemarin?”
Yang ditanyai tetap diam dan asyik menggulir layar hp ke bawah. Gadis itu didiami.
“Mas, aku mau kuliah.”
“Terserah.”
“Kok terserah, Mas? Bukannya Mas pernah....”
“Mulai sekarang aku tidak peduli apa yang mau kau lakukan. Jangan mengusikku lagi!” ucapnya tanpa melihat Lily sedikitpun.
Gadis itu heran sendiri. Bukankah Dion sendiri yang memberi penegasan untuk meminta izinnya dulu mau ke mana dan melakukan apa. Kenapa tiba-tiba jadi begini?
“Mas.”
“Sudah kubilang jangan menggangguku. Kau juga tidak akan aku ganggu.” Dion berdiri. “Untuk seterusnya kau boleh tidur di sini. Aku hanya akan kemari untuk mandi dan mengganti baju.” Dion pergi keluar meninggalkan Lily yang tercengang.
Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba jadi lebih dingin begitu?
**
Di meja makan sebelum makan malam dimulai.
“Kalian tadi pulangnya bareng, ya?” tanya mami.
“Iya, Mi.” Lily yang menjawab karena Dion membisu sibuk mengisi piringnya.
“Kenapa kalian bisa bareng?” Lanjut mami lagi bertanya. Sedang papi hanya pendengar.
Lily melirik Dion. Pria itu masih sibuk dengan piringnya seolah tidak mendengar apa-apa.
“Kok pada diam?” tanya mami lagi dengan bergantian memandang wajah-wajah di depannya.
“Tidak apa-apa, Mi. Tadi kebetulan saja Dion melihatnya di halte bis menunggu hujan. Makanya Dion ajak bareng pulang,” jawab Dion santai tanpa melihat Lily. Segera pria itu memasukkan makanannya ke dalam mulut.
Lily mengamati wajah laki-laki di sampingnya dengan banyak sekali pertanyaan di kepala.
“Lily, seharusnya kamu pakai mobil saja, Sayang.” Pinta mami.
__ADS_1
“Iya betul. Kamu pakai mobil saja apalagi di musim hujan begini.” Papi ikut angkat bicara.