
Dion's POV
Kalau ada alat pengukur penyesalan di dunia ini, sudah pasti aku yang akan jadi juaranya. Miris. Karena memang itulah yang membuncah di dadaku saat ini, menyesal.
Suara klakson kendaraan lain yang berkali-kali memperingatkanku, kuabaikan begitu saja. Itu karena aku menyetir ugal-ugalan. Bahkan umpatan-umpatan kasar mereka lontarkan, namun itupun tidak membuatku untuk mengurangi laju mobil atau untuk lebih berhati-hati. Rasa sedih, kecewa, marah, menyesal yang teramat sangat, jauh lebih menyakiti diriku daripada umpatan-umpatan mereka. Ingin rasanya lenyap dari kehidupan ini karena kebodohan yang telah kulakukan.
Dan....
BRAAKKK!!!
Sebuah hantaman keras berhasil menghentikan laju mobil yang kukemudikan. Karena tidak memakai sabuk pengaman, membuat tubuhku terpental hingga kepalaku membentur kaca depan mobil dan membuatnya retak. Aku menabrak sesuatu. Aku terpaku dalam waktu yang lama.
“Pak, Anda tidak apa-apa?”
“Apa dia masih hidup?” Suara orang yang lain. “Oh, ternyata masih hidup. Sudah, biarkan saja dia. Sudah diperingatkan untuk berhati-hati tapi nggak didengar. Inilah akibatnya.”
“Pak....” Suara orang yang pertama tadi sembari berusaha membuka pintu mobil kemudi.
Suara orang yang baru. “Apa dia bisu atau tuli? Kenapa daritadi dia diam saja? Eh, bukannya dia itu Gidion Ignasius anak dari bla... bla....”
Masih banyak lagi yang kudengar dari mereka. Tapi aku sama sekali tidak berniat untuk menjawab atau mengeluarkan suara.
Setelah diam dalam waktu yang cukup lama, aku keluar dari mobil dibantu oleh beberapa orang. Aku melihat bagian depan mobilku menabrak pembatas jalan.
“Pak, sebaiknya Anda ke rumah sakit. Kepala Anda berdarah.”
Aku menggeleng dengan tatapan kosong. Kenapa aku tidak langsung mati saja?
“Luka Anda harus segera diobati, Pak.”
__ADS_1
Orang baik hati itu terus mencemaskan lukaku dan menyarankan supaya dengan segera ke rumah sakit, namun kudiamkan saja. Yang kurasakan paling sakit di bagian tubuhku sekarang adalah hatiku.
“Tolong antarkan saya pulang saja, Pak,” pintaku kemudian setelah lama berdiam diri. Orang baik itu ternyata adalah seorang driver taksi. Terlihat dari seragam yang dipakainya. Bapak itu walaupun bingung namun akhirnya mengangguk dan menuntunku menuju taksinya.
.
.
.
“Pak, tolong tunggu sebentar. Saya akan segera kembali.” Dion berpesan pada Bapak Sopir taksi setelah tiba di depan pintu rumah. Sopir taksi yang sempat tercengang semenjak masuk dari gerbang karena kemegahan rumah itu, mengangguk menyanggupi permintaan Dion.
“Dion, Dion, kamu baru pulang?” Mami dengan wajah cemasnya bangkit dari duduk setelah menyadari Dion datang. Beliau kemudian menarik pandangannya menemui daun pintu. Barangkali Lily ikut bersama putranya. Namun tidak ada siapa-siapa yang masuk dari sana. “Lily....” Mami melihat Dion. “Dahi kamu kenapa?” Mami terkejut setelah menyadari dahi Dion yang terluka dan terlihat darah yang hampir mengering di sana. Penampilan Dion yang berantakan juga baju yang basah menambah kecemasan di raut wajah mami. Dion sesaat terdiam. Namun kemudian laki-laki yang berpenampilan kacau dan suasana hati yang benar-benar hancur itu kembali meneruskan langkahnya.
“Dion...,” panggil papi. Namun tetap saja Dion bungkam dan mempercepat langkah kakinya.
Pria itu menatap marah pada kakaknya. Kedua tangannya terkepal dengan sangat erat, begitu pula dengan wajahnya yang dilingkupi oleh emosi.
“Aku tidak ingin membicarakan apapun lagi, Mbak. Sudah cukup selama ini aku mendengar dan menuruti semua permintaan Mami, Papi dan juga Mbak.” Tatapan Dion menghunus tajam pada Tiara. Tiara jadi bergeming melihat kemarahan Dion yang menggebu-gebu. Tidak pernah sebelumnya adiknya itu marah bahkan sampai murka begini.
“Dion–”
“Cukup, Mbak. Aku tidak mau lagi jadi boneka yang bisa digerakkan dengan sesuka hati.” Bola mata Dion ikut memerah karena begitu emosional. “Karena kebodohanku yang mau mengikuti saran Mbak menikah lagi, aku jadi menyakiti Lily, istriku. Apa Mbak tahu bagaimana menderitanya istriku itu sekarang?” Emosinya benar-benar ia ledakkan.
Mami merasa sedih bahkan sampai menjatuhkan air mata di pipinya mendengar ucapan Dion yang mengatakan dirinya sendiri boneka. Apakah benar beliau memperlakukan Dion seperti boneka?
“Is–Istri? Bukannya kamu su–”
“Tidak. Aku tidak menceraikan Lily. Aku tidak pernah menandatangani surat pengajuan perceraian itu. Surat perceraian yang kalian lihat itu palsu,” tandasnya.
__ADS_1
Mereka semua terkesiap mendengar pernyataan Dion. Yang mereka tahu Dion sudah menceraikan Lily. Namun nyatanya... Mami sampai terisak di tempatnya. Begitupun dengan papi yang tidak mampu berkata-kata.
**
“Dion....” Tiara nampak masuk ke dalam kamar yang pintunya terbuka lebar. Ia memutuskan menyusul Dion ke kamar untuk meminta maaf. Masalah yang terjadi pada rumah tangga adiknya itu disebabkan oleh dirinya. Tidak mampu dibayangkan olehnya bagaimana rasa sakit menjalar di hati Lily atas pernikahan Dion yang hampir terjadi.
Wajah Tiara terlihat bingung dan juga cemas melihat Dion sedang memasukkan pakaian-pakaian ke dalam koper. “Kamu mau ke mana? Kenapa kamu mengemasi baju-bajumu?”
Namun Dion tidak menjawab. Laki-laki itu semakin mempercepat gerak tangannya mengepak barang-barangnya ke dalam koper.
“Dion.” Tiara menghentikan tangan Dion agar adiknya itu mau berbicara dengannya. “Kamu mau ke mana?”
Dion melirik sebentar wajah kakaknya. Kemudian melepas tangan wanita itu dari tangannya dan kembali melanjutkan mengemasi barang keperluannya. “Untuk kali ini, biarkan aku melakukan apa yang dikatakan hatiku, Mbak,” ujarnya kemudian tanpa ada emosi yang tersulut lagi. Namun mampu membuat Tiara membisu untuk sesaat. Dion sadar tidak ada gunanya marah-marah.
“Jangan pergi. Mbak yang menyebabkan masalah ini. Mbak akan menjelaskan semuanya pada Lily.”
“Tidak perlu, Mbak,” bantah Dion tegas. Sorot matanya meskipun sendu namun menunjukkan laki-laki itu sedang serius. “Tolong biarkan aku dengan caraku sendiri yang meyakinkan Lily. Aku yang melukai hatinya maka aku yang harus mengobatinya.” Terbayang saat Lily mengatai dirinya jahat. Hati Dion lagi-lagi seperti disentil oleh sesuatu yang tidak kasat mata.
“Tapi, Dion... masalah ini ada gara-gara Mbak,” sesal Tiara yang sudah menjatuhkan air mata.
Dion mengembuskan napas beratnya. “Sudahlah, Mbak. Semua sudah terjadi,” pasrahnya. Pria itu lantas memasukkan barang terakhirnya, foto pernikahan dengan Lily dan juga buku harian.
Dion lantas berdiri setelah menutup dan menarik kancing kopernya. Ia terkesiap melihat mami dan papi yang berdiri di bibir pintu. Orang tua itu terlihat begitu sedih. Bisa dipastikan mereka sudah mendengar percakapannya dengan Tiara. Dion mendekat sembari membawa barangnya.
“Dion harus pergi, Mi, Pi. Dion harus memperbaiki rumah tangga Dion yang retak.” Dion melihat orangtuanya bergantian. “Mami dan Papi dulu bersikeras meyakinkan Dion bahwa Lily-lah yang terbaik untuk Dion. Hingga akhirnya Dion yakin. Sekarang pun Lily tetap yang terbaik buat Dion, ‘kan, Mi, Pi?” Mata laki-laki itu berkunang-kunang dan mampu membuat mami terisak sambil mengangguk.
Mami melihat punggung putranya yang bergerak semakin jauh. Linangan air mata semakin deras membasahi pipinya yang mulai keriput. Menyesal karena menyetujui usulan Tiara untuk menikahkan Dion lagi, semata-mata hanya karena ingin segera memiliki cucu. Mami memanjatkan doa di relung hati agar kebahagiaan segera menghampiri putranya itu.
__ADS_1