
Bukan hal yang mudah bagi Lily memutuskan untuk datang ke kediaman keluarga Dion. Ada banyak kemungkinan yang akan terjadi bila dia ke sana. Entah itu akan disambut dengan baik atau malah akan dianggap orang asing. Atau bahkan akan disuguhkan dengan pemandangan menyakitkan seperti saat dulu ia pulang dari rumah sakit jiwa.
Tetapi kalau ia masih saja bersembunyi dan menjauh dari masalah, maka sampai kapan pun permasalahannya tidak akan menemui titik terang. Berulang kali Lily mengembuskan napas. Namun tetap saja jantungnya berdebar lebih cepat dari normal. Harus melihat Dion dengan keluarga barunya bukan hal yang mudah untuk Lily. Kini dia berada di dalam mobil taksi online menuju kediaman keluarga Dion.
Lily terpaksa berbohong pada Adnan dan istri bahwa ia harus pergi ke rumah sakit untuk mengerjakan laporan tambahan yang mendadak yang diberi oleh konsulen penguji koas. Padahal yang sebenarnya masa koasnya sudah selesai. Hanya menunggu ujian kompetensi yang akan berlangsung seminggu lagi. Agar Adnan tidak curiga, ia mengenakan serta jas putihnya itu.
Lily tidak ingin membuat Adnan selalu terlibat dalam urusannya. Karena memang hanya dirinya lah yang dapat menyelesaikan semua ini. Sudah cukup ia menyusahkan Adnan dengan biaya pendidikan dan kehidupannya selama ini. Entah bagaimana cara kakak angkatnya itu mampu membiayai uang kuliahnya yang tidak sedikit.
“Kenapa, Bu Dokter? Apa ac–nya kurang dingin?” tanya Bapak Supir yang melihat Lily duduk gelisah. Dari pakaian dan juga mungkin aura seorang dokter sudah melekat pada Lily, sehingga orang lain langsung mengetahui profesinya.
“Ahh, mungkin sepertinya iya, Pak.” Lily menjawab malu-malu. Keningnya yang berkeringat tidak dapat ia sembunyikan dari pantauan Bapak Supir.
Bapak Supir mengatur suhu ac. Keamanan dan kenyamanan penumpang adalah yang utama. Setelahnya bapak itu menyetel musik. Biasanya dengan seperti itu penumpangnya merasa terhibur tidak merasa bosan dalam perjalanan.
Alunan musik mulai mengalun. Namun Lily tampak tidak tertarik. Pandangannya ia lempar keluar melihat keramaian yang semakin dekat dengan pusat kota. Setelah lebih kurang 7 tahun tidak melihatnya, ternyata sudah banyak bangunan yang berubah dan juga banyak yang baru. Lily tersenyum tipis. Waktu memang bisa mengubah apapun, seperti waktu yang sudah menakdirkan dirinya untuk hidup tanpa orangtua.
Dari pengalaman selama koas di rumah sakit, banyak orang yang juga bernasib malang seperti dirinya, kehilangan orang yang disayang untuk selamanya. Kembali Lily tersenyum. Waktu telah membentuknya menjadi wanita kuat dan tegar untuk menerima takdir dari Sang Khalik.
Musik yang semula bergenre pop berganti dengan lagu lawas. Petikan gitar yang terdengar mendayu merdu menarik perhatian Lily.
Mungkin lebih baik begini
Menyendiri di sudut kota ini
Kututup pintu hati untuk semua cinta
__ADS_1
Walau batin ini menangis
Lily tertegun. Syairnya menggetarkan hati.
Jangan datang atau titip salam
Hanya menambah luka di hatiku
Hapuslah namaku hapuslah semua
Kisah kasih yang pernah ada
Biarkan aku sendiri menyendiri tanpa dirimu lagi
Walau harus kuakui hanyalah kau yang sangat kusayangi
(bisa dengar di you*tube WALAU HATI MENANGIS voc: Vanny Vabiola)
Kedua bola mata Lily mengembun mendengar syairnya ditambah lagi dengan suara melengking penyanyinya yang mengena di hati. Penyanyi itu seperti menceritakan isi hati dan kisah cintanya yang menyedihkan. Membuat hatinya merasakan sesak dan perih secara bersamaan. Lily menghapus lelehan air mata yang tidak dapat ia bendung lagi. Kenapa ia masih cengeng begini, padahal sudah bertahun lamanya ia terbiasa hidup tanpa cinta.
***
Lily’s POV
“Bu Dokter, kita sudah sampai.” Teguran Pak Supir membuatku tersadar dari lamunan. Aku terkejut karena ternyata bapak itu sudah membukakan pintu dan berdiri disampingku. “Kita sudah sampai, Bu.”
__ADS_1
“Oh.” Dengan seketika aku mengindai sekitar. Lagu lawas yang diputarkan tadi membuatku mengenang masa lalu saat dia menikahi wanita lain, meninggalkan aku yang dalam kondisi memprihatinkan.
Di sinilah kakiku sekarang. Di depan gerbang yang menjulang tinggi. Rumah ini masih sama, megah dan terawat.
Sayup-sayup aku mendengar suara anak kecil yang berteriak dengan girang. Itu bukan suara Ariel. Dadaku bergemuruh tidak karuan. Aku belum memasuki rumah ini, tetapi sudah membuatku dilanda sesak napas. Aku membalikkan badan, berharap udara yang ada di belakangku bisa melonggarkan kesesakan ini.
“Permisi, ada yang bisa dibantu?”
Aku segera membenahi diri. Tujuanku datang kemari bukan untuk menangis. Aku kuat. Setelah menyeka bulir air mata, aku berbalik dan memasang wajah ramah, “selamat siang, Pak,” sapaku dengan senyum yang kupaksa mengembang.
Penjaga senior yang masih kukenal itu terkejut bahkan sampai terjingkat karena melihatku. “No–na Li–ly.” Ia sampai terbata-bata menyebut namaku. Aku merasa sedikit senang karena masih dikenal juga. Namun kemudian aku merasa ciut melihat ekspresinya. Mungkin ia tidak habis pikir mengapa aku bisa mempunyai keberanian untuk datang ke rumah ini, padahal sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi.
“Maaf, Pak, saya hanya ingin mengambil barang-barang yang tertinggal,” jelasku untuk menjawab keterkejutannya. Ekspresinya saja seperti itu bagaimana dengan yang empunya rumah ini.
“Eh, oh, eh. Silakan masuk, Nona.” Penjaga itu kelabakan membuka gerbang yang sebenarnya tidak dikunci. Aku paham dengan kegugupannya. Ia pasti bingung harus membukakan gerbang atau tidak. Ia pasti takut kedatanganku akan mengusik majikannya. Seperti saat kedatanganku dulu di waktu pernikahan... Mas Dion.
“Setelah mengambil barang-barang yang tertinggal, saya akan segera pulang, Pak,” ungkapku meyakinkan. Karena tujuanku kemari memang begitu.
“Iya, iya, silakan, Nona.”
Kakiku dengan perlahan melangkah membawa tubuhku ke pintu utama. Hawa yang tadinya kurasa panas mendadak menjadi terasa dingin dan mencekam. Aku merapatkan jas di tubuhku. Sembari terus berjalan aku memejamkan mata. Sekali lagi menyugesti diri bahwa aku kuat dengan apapun yang akan aku lihat sebentar lagi.
“Kakek curang, kakek curang.” Suara anak laki-laki itu semakin jelas terdengar di telingaku. Suara gelak tawa papi juga terdengar membuat lututku gemetar. Siapapun yang mendengar papi yang tertawa seperti itu, bisa menyimpulkan bahwa mereka hidup bahagia. Aku menelan ludah untuk membasahi leher yang terasa tercekik.
Aku kuat.
__ADS_1
“Selamat siang, Om.”
Om Surya menoleh dan terkejut bukan main melihat aku berada di rumah mereka. Beliau berdiri dan menendang bidak-bidak ular tangga yang sedang mereka mainkan di lantai. “Lily? Kamu?”