Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Tetap Memenuhi Tanggung Jawab


__ADS_3

“Jangan bicara seperti itu, Mas,” ucap Lily setelah lebih bisa menguasai diri untuk tidak terisak. “Tidak ada yang pantas untuk dihukum. Kalau saja aku memberi Mas kesempatan berbicara waktu itu, kita nggak akan melewati hidup sendiri-sendiri,” sesal Lily. “Maafkan aku, Mas,” imbuhnya lagi.


“Sudah, jangan menangis terus.” Dion tersenyum tulus. Lily merasa semenjak kemarin laki-laki ini lebih banyak senyum ketimbang dulu. “Mari kita lupakan saja masa lalu itu.” Seiring dengan usaha Dion yang selalu gagal untuk bertemu Lily pada waktu itu, laki-laki yang semakin matang itu mengerti dengan apa yang dirasakan Lily. Tentu siapapun orangnya akan merasa kecewa yang mendalam kalau satu-satunya orang yang kita harapkan untuk bersama-sama melewati hidup malah pergi meninggalkan kita dengan menikah lagi. Itu sangat menyakitkan.


“Mau berapa lama atau seberapa jauh kita hidup terpisah, tapi kalau kita memang jodoh pada akhirnya akan bersama juga.” Tangan kekar Dion merangkum wajah penuh derai air mata itu, lantas menghapus cairan tersebut dengan lembut. “Terimakasih.” Dalam tangisnya yang tidak mau berhenti Lily bingung, terimakasih untuk apa pikirnya. “Terimakasih karena kamu sudah datang kembali. Terimakasih kamu telah menjaga hati kamu dengan baik selama ini, tidak sepertiku yang dengan mudahnya dihasut untuk menikahi wanita lain.” Lily terenyuh. Air mata kian menganak sungai melihat manik mata Dion yang sarat akan kesungguhannya. Lantas wanita yang air matanya seakan tidak ada habisnya itu mengikis jarak dengan memeluk kembali tubuh Dion, begitu eratnya.


“Aku mengerti satu hal, Mas,” ucap Lily setelah beberapa saat diam yang sebelah pipinya bersandar di dada bidang Dion. “Kamu menyanggupi keinginan mami menikah lagi itu karena Mas adalah anak yang patuh dan berbakti pada orangtua. Sama seperti Mas yang dulu setuju dijodohin denganku meskipun kita nggak saling kenal. Seharusnya aku bisa mengerti posisi kamu, Mas,” sesalnya lagi dengan mata terpejam, menikmati kehangatan yang ada pada tubuh yang sedang dipeluknya itu.


*


*


*


Dion memberitahu semua ruangan di rumah setelah entah berapa lama mereka berpelukan tadi. Tidak sebesar dan semewah rumah Papi-Mami, namun terlihat indah di mata Lily meskipun warna furnitur-nya lebih dominan hitam dan putih.


Lily memperhatikan semuanya termasuk juga foto pernikahan mereka yang di pajang di dinding dan di beberapa sudut ruangan dengan rapi. Membuat rasa bersalah dan haru bercamur di hati karena foto pernikahan pun dijaga dengan baik oleh Dion. “Dan ini kamar kita,” ujar Dion sembari membuka pintu kamar, ruangan terakhir yang ia beritahukan pada Lily. “Kalau kamu mau istirahat, istirahat saja dulu.” Lily mengangguk. “Aku mau mandi dulu.” Lily kembali mengangguk meskipun kedua bola matanya sibuk mengamati semua sudut ruang kamar itu. “Atau kamu mau mandi juga?” tanya Dion sebab kalau sehabis menangis lalu mandi, tubuh akan segar kembali.


“Eh, nggak usah, Mas.” Lily malah gelagapan. Mendengar kata ‘mandi juga’ membuat otaknya mencerna kalau Dion mengajaknya mandi bersama. “Maksudku, Mas aja mandi duluan. Aku mau membereskan ini dulu,” tunjuknya pada dua tas besar miliknya yang diletakkan Dion di atas kasur.


Dion mengangguk bingung, “Ya sudah.” Lantas pergi ke kamar mandi setelah beberapa saat memperhatikan gerakan tangan Lily yang nampak gugup membuka penutup tasnya.


Lily sudah menyusun pakaiannya ke dalam lemari dengan terburu-buru. Entah apa yang terjadi padanya hingga ia begitu kalut hanya berdua dengan Dion di satu ruangan. Padahal kemarin saat masih di rumah mami-papi, ia tidak merasakan itu.


Kini saatnya menyimpan alat-alat kedokteran beserta buku-bukunya. Kembali ia menyapu setiap sudut ruangan di mana tempat yang pas untuk menyimpan peralatan tersebut. Nakas. Ya, nakas di samping tempat tidur menjadi pilihannya. Lily berjalan ke sana membawa yang akan ia simpan.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya dia karena selain foto pernikahan, foto dirinya sewaktu wisuda pun terpajang di atas meja nakas itu. Benarkah ini foto dirinya? Karena setahunya selama ini dia tidak pernah bertemu dengan Dion. Lantas bagaimana Dion mendapatkan foto ini?


Meski pikiran masih bingung, Lily membuka laci bermaksud menyimpan buku-buku kedokterannya di sana. Namun sekali lagi matanya terbelalak karena menemukan buku harian, sampul yang berwarna peach. Ia ingat betul buku harian itu adalah benda yang dulunya menjadi tempat ia mencurahkan isi hatinya. Tentu ia pun merindukan buku harian itu.


Lily membalikkan lembar demi lembar halaman buku diarynya. Setiap tulisan yang ia baca seakan mampu membawanya kembali ke masa lalu.


Gumpalan air mata kembali memenuhi maniknya. Kenangan-kenangan tentang mama dan papa yang ia tulis dulu, kini menggelayut di memori. Lily juga manusia biasa yang bisa merasakan sedih dan rindu pada orang-orang yang disayangi yang tidak mungkin dapat ia temui lagi di dunia ini.


Hingga akhirnya Lily sampai pada halaman yang menurutnya itu bukanlah tulisan tangannya. Di atasnya ada tertempel sebuah foto. Tentu saja Lily ingat foto itu adalah hasil usg janinnya dulu.


Anakku... meskipun kita tidak pernah bertemu di kehidupan saat ini, tapi papa percaya kita akan bertemu di kehidupan berikutnya. Papa menyesal karena membuat mamamu pergi dengan membawa kecewa yang mendalam. Papa memang bereengsek. Namun papa akan berusaha sekuat tenaga sampai mama mau kembali dan memaafkan papa, walau sejujurnya papa sangat takut tidak akan mendapatkan maaf dari mama. Kalau sampai maut menjemput dan papa tidak mendapatkannya, papa siap menerima hukuman apapun dari kamu.


“Mas Dion,” lirihnya pilu.


Lanjut lagi dengan lipatan kertas yang lainnya yang Lily kenal itu adalah kertas kwitansi. Ada tertera sejumlah uang yang juga sungguh fantastis. Dan yang membuat dahi Lily berkerut, alamat rumah itu adalah alamat rumah yang kini dijadikannya sebagai toko bunga.


“Ja–di....”


Sebuah sentuhan mendarat di bahu membuatnya menoleh. Dion lagi-lagi memberi senyuman hangat padanya.


“M–Mas, ini....?”


“Kamu lebih baik mandi dulu, biar segar.”


*****

__ADS_1


Lily sedang sibuk di dapur, memasak beberapa aneka makanan yang akan menjadi makan malam. Telinganya tadi mendengar perut Dion berbunyi pertanda lapar dan dengan segera ia berlari ke dapur. Lily sudah menanyakan perihal kertas-kertas yang ia baca tadi namun hanya dibalas dengan senyuman dan mengatakan, “itu cuma kertas.”


Walau Dion tinggal seorang diri, bahan makanan lengkap di dapur. Tadi Dion yang entah sedang apa sekarang di kamar mengatakan kalau ada Mbak-Mbak datang ke rumah dua kali seminggu untuk mengurus rumah, termasuk juga membeli apa-apa saja kebutuhan di rumah.


Setelah tinggal bertahun-tahun dengan Adnan dan juga istrinya, Lily jadi terlatih memasak makanan rumahan yang bisa dikategorikan enak dimakan.


Ia kini menata makanan hasil karyanya di meja makan. Tak lupa juga dengan piring, sendok dan gelasnya. Sejenak Lily menatap dengan sedih makanan yang ia hidangkan itu. Membayangkan bagaimana selama ini Dion menjalani hidupnya seorang diri. Apakah makan teratur, tidur nyenyak dan hidup dengan benar? Mami sudah bercerita saat dirinya pergi, saat itu juga Dion meninggalkan rumah.


Kembali penyesalan menghinggapi hatinya karena sikapnya dulu yang tidak mau bertemu dengan Dion. Ia menyeka bulir air mata yang hampir jatuh. Aroma udang saus tiram yang paling menyengat diantara masakannya yang lain diimbangi dengan wangi sabun mandi. Lily jadi bingung kenapa di dapur tercium bau sabun mandi padahal letak kamar mandi cukup jauh.


“Kamu masak apa?”


“Eh....” Lily terjingkat karena terkejut. Dilihatnya ke belakang ada Dion sedang berjalan mendekat ke arahnya hanya melilitkan handuk di pinggang. Matanya melotot, “Mas kenapa masih belum pakai baju?” Sudah dari tadi Dion selesai mandi tetapi mengapa belum memakai baju juga, pikirnya.


Dion tidak mengindahkan. Ia sibuk memperhatikan makanan yang tersaji di meja. “Memang kamu bisa masak?” tanyanya seolah tidak percaya.


“Mas pakai baju dulu.” Lily salah tingkah dengan membalikkan tubuhnya membelakangi Dion. Melihat laki-laki hanya memakai handuk terasa tabu.


Dion tidak peduli. Laki-laki itu malah menggeser kursi dan duduk di sana. “Aku mau makan.”


Lily antara kesal dan gugup berdecak melihat Dion malah duduk dan ingin makan pula. “Mas pakai baju dulu baru makan. Nanti masuk angin.”


“Nanti kamu kerokin kalau masuk angin.”


*****

__ADS_1


__ADS_2