Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Pak Miko, Adnan dan Axel


__ADS_3

Setelah kejadian di halte itu, Axel jadi berubah. Ia jadi lebih banyak diam dan mengurung diri di kamar. Anak yang biasanya banyak bicara dan suka menjahili adiknya kini tidak terlihat lagi.


Orangtuanya gagal menebak apa gerangan yang menimpa anaknya sampai berubah sikap. Bila ditanya, jawabnya selalu ‘nggak apa-apa’.


“Sudah biarkan saja, Mom, namanya juga anak laki-laki. Paling juga masalah cinta. Wajar uring-uringan, karena sebentar lagi kelulusan dan dia tidak akan bertemu lagi dengan doi.” Kalimat itu yang diucapkan daddy-nya Axel pada istrinya yang terus khawatir.


Axel menelepon Lily dua kali namun tidak diangkat. Setelah dering panggilan kedua berakhir, anak itu mendapatkan sms dari gadis yang dicintainya yang berisi;


Axel, sekarang aku adalah perempuan yang sudah menikah. Tidak baik kalau sering berhubungan dengan laki-laki lain. Kuharap kamu mengerti dengan posisiku. Sekali lagi maaf karena tidak memberitahumu dari awal.


Apa kamu bahagia dengannya? Apa kamu mencintainya? (Axel)


Sekian lama menunggu, Lily belum juga membalas pesannya.


Axel memutuskan untuk menemui Lily di toko bunga. Keingintahuannya tentang pernikahan Lily sangat besar. Kalaupun gadis itu tidak ada di sana, ia bisa meminta penjelasan pada Pak Miko. Tidak memiliki rasa takut lagi terhadap papanya Lily. Toh sebelumnya mereka pernah bertemu dan bercengkrama.


***


“Pa, apakah Lily ada di toko bunga? Adnan kangen sama dia, Pa,” tanya Adnan. Kemarin Adnan baru kembali lagi ke ibukota setelah sekian lama di kampung membantu mengurus ayahnya yang sakit. Pak Miko mengizinkannya untuk tinggal sementara waktu di sana sampai ayahnya benar-benar sembuh.


Papa tersadar. Belum ada yang memberitahu Adnan tentang pernikahan anak gadisnya. Papa juga tahu bagaimana perasaan Adnan pada Lily karena Adnan sendiri pernah memberitahukannya pada papa.


“Adnan ...” Papa menjeda. Sulit sekali rasanya menyampaikan fakta ini pada pria yang usianya sudah dewasa, mungkin tiga tahun lebih muda dari Dion.


“Ada apa, Pa?”


“Kamu tahu, kan, kalau Papa sudah menganggapmu seperti anak sendiri?”


“Tentu saja, Pa, aku tahu.” Adnan mengernyit, “ada apa sih, Pa?”


Sebelum papa melanjutkan lagi, tiba-tiba teriakan terdengar dari arah pintu.

__ADS_1


“Lily!” panggil seseorang yang tak lain adalah Axel. Pria remaja itu menyerukan nama Lily setelah masuk. Axel diberitahu Bu Sinta bahwa orang yang dicarinya tidak ada di toko bunga. Mungkin ada di kafe, begitu yang disampaikan Bu Sinta padanya.


Adnan dengan sigap menyambut tamu itu karena mengundang perhatian pengunjung yang lain. Sedangkan Pak Miko berdiri dengan heran menatap Axel di balik meja kasir.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Adnan dengan sopan pada tamu yang kurang sopan.


“Saya mencari Lily. Apa dia ada di sini?” Mata Axel berputar ke sana sini mencari sosok yang ia ingini.


“Maaf, kamu ini siapanya, ya?” Adnan balik bertanya dengan penuh selidik.


“Saya Axel. Saya teman sekolahnya.” Axel melihat Pak Miko. Pria remaja itu dengan cepat berjalan ke sana dan diikuti Adnan.


“Om, Lily di mana?”


“Dia tidak ada di sini.” Papa bisa merasakan sorot mata Axel yang sendu juga tajam. Sorot mata yang menginginkan kejujuran, berbeda saat pertama kali mereka bertemu penuh dengan keramahan.


“Om, apakah benar Lily sudah menikah?” tanya Axel dengan tatapan dalam.


Pak Miko menarik napas. Dua pria dihadapannya ini adalah orang yang mencintai putrinya. Untuk menghindari ketidaknyamanan pengunjung, papa memanggil salah satu pelayan untuk menjaga kasir. Kemudian papa mengajak kedua orang yang dirasuki banyak pertanyaan itu ke ruangannya.


Mereka bertiga sudah duduk di ruangan yang dimaksud. “Benar, Lily sudah menikah,” tutur papa.


Kedua pria beda usia itu terlihat frustasi setelah mendengar kalimat pertama papa. Adnan mengepalkan tangannya kuat dan Axel mengusap kepalanya berkali-kali. Papa bisa meraba kekecewaan mendalam mereka.


“Bagaimana pernikahan itu bisa terjadi, Pa? Apa ada laki-laki yang merusak Lily duluan?” Adnan menduga sedang Axel diam. Sedikit heran karena laki-laki di sampingnya memanggil Pak Miko dengan ‘papa’. Setahunya Lily anak tunggal.


“Tentu saja tidak,” jawab papa cepat. “Papa yang ingin Lily menikah cepat.”


Adnan sungguh sulit untuk memercayainya. Selama ini Pak Miko melarang Lily untuk pacaran, semua orang terdekat tahu itu. Tidak masuk akal rasanya kalau sampai Pak Miko menginginkan anak gadisnya menikah di usia muda.


“Jika Papa ingin Lily cepat menikah, kenapa menikahkannya dengan orang lain, Pa? Kenapa Papa tidak menikahkannya denganku? Papa kan tahu aku mencintai Lily.”

__ADS_1


Axel terbelalak. Benarkah yang dia dengar barusan. Bukan hanya dia saja yang menginginkan Lily.


“Pa, seandainya saja Papa tidak melarangku untuk mendekati Lily dengan alasan dia masih sekolah, dari dulu aku sudah siap menikah dengannya.” Mata Adnan berkaca-kaca. Pria itu frustasi bukan main. Separuh nyawanya seperti hilang.


“Adnan, Papa menganggapmu seperti anak sendiri dan Lily juga menganggapmu seperti kakaknya. Mana mungkin Papa akan menikahkanmu dengannya. Dan lagipula Papa menikahkannya karena ada alasan tertentu.”


Bicara cepat, “Pa, Adnan dan Lily bukanlah saudara kandung. Apa salah kalau Adnan ingin bersama Lily seumur hidup?” Adnan menatap fokus kedua mata Papa. Pria itu berbicara sangat tulus. “Kalau memang Papa menganggapku seperti anak sendiri, kenapa tidak memberitahuku sebelumnya tentang rencana pernikahan Lily? Kalau saja anak ini tidak datang, Papa mungkin tidak akan buka suara.”


Papa kehilangan kata-kata. Sulit rasanya menjelaskan semua ini.


“Pa, apa Papa tahu selama ini aku setia menunggu Lily? Aku meyakinkan diri sendiri untuk tetap bersabar menunggunya sampai dia menyelesaikan sekolahnya dan menggapai cita-citanya. Aku bahkan sudah menyicil rumah untuk kami tempati nanti. Tapi sekarang?” Suara Adnan bergetar.


Di hati yang paling dalam papa sedih. Ternyata sebesar itu cinta Adnan pada Lily. Tapi papa juga tidak memungkiri kalau menantunya, Dion, memanglah yang terbaik bagi Lily. Di tambah lagi pernikahan itu juga keinginan terakhir istrinya.


Melihat papa yang hanya diam, Adnan berdiri, “Pa, Adnan mengundurkan diri.” Pria itu keluar membawa kecewa, marah, sedih, semua jadi satu.


“Nan, Adnan, jangan begini!”


Namun Adnan tetap berlalu meninggalkan Pak Miko yang memanggil-manggil namanya.


Axel terkesiap. Secara nyata ia melihat ada cinta yang lebih besar pada Lily melebihi cintanya. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah dirinya benar-benar mencintai Lily.


“Om, Axel pamit pulang.” Pria remaja itu akhirnya membuka suara setelah lama menjadi pendengar. Tidak bisa didefinisikan bagaimana perasaannya sekarang setelah mendengar kejujuran Adnan tentang isi hatinya.


“Hati-hati di jalan.”


Adnan benar dengan ucapannya, papa menemukan seragamnya di meja kasir.


_________


Tinggalkan jejak, ya, guys ^.^

__ADS_1


__ADS_2