
“Lily!” seru Dion berkali-kali sambil berjalan tergesa sampai akhirnya tubuh pria yang berbalutkan jas berwarna silver itu berada dekat pada Lily. “Kamu, kamu sembuh?” ucap Dion lagi dengan binar kebahagiaan di matanya namun tidak ditanggapi Lily. Gadis itu menunduk dengan tetap memegangi bagian pinggiran meja agar tidak terjatuh.
Musik instrumen piano dan suara tamu-tamu yang tadi ramai kini tidak terdengar lagi. Semua mematung menyaksikan ketiga orang di sana.
“Kamu mau apa?” tanya Adnan tidak ramah saat Dion hendak menyentuh bahu Lily. Ingin rasanya dia memukul wajah pria yang ada di hadapannya ini. Laki-laki yang selama ini dia kenal akan melakukan apa saja untuk kesembuhan Lily, nyatanya kini telah menjelma menjadi seorang pengecut yang memilih menikah lagi ketimbang harus lebih bersabar menunggu Lily sembuh.
“Lily. Aku, aku bisa menjelaskan dengan yang terjadi ini.” Dion sadar dengan situasi rumit ini.
“Menjelaskan apa?” Lagi-lagi suara Adnan yang terdengar menggelegar di rumah itu. Membuat tamu-tamu undangan mulai berbisik-bisik. Sementara Lily menunduk menangis menyedihkan dengan tangan masih memegangi bagian tepian meja.
“Aku memang salah karena mau menikah lagi. Tapi–”
“Sayang!” Indira datang menghampiri dengan gaun indah senada dengan warna jas yang dipakai Dion. Membuat Dion dan Adnan serentak melihat wanita itu. Namun tidak dengan Lily. Dia terus menunduk dengan air mata semakin mengalir deras di pipinya. “Siapa mereka?” Sesaat Indira mengamati wajah Lily yang tertunduk menangis. “Oh, dia ini mantan istri kamu yang gila itu, ‘kan? Kenapa dia da–”
“Indira! Jaga bicaramu!”
Sekujur tubuh Lily gemetar mendengar itu. Benarkah dirinya sudah menjadi mantan istri yang artinya dirinya kini sudah janda? Akhirnya tubuh Lily merosot meskipun Adnan sudah memegangi tubuhnya yang kurus.
Betapa terkejutnya Dion karena melihat darah dari sela-sela jari kaki Lily. Ternyata pecahan vas bunga itu terinjak oleh Lily. Pria itu ikut berjongkok dan panik. “Lily, kaki kamu berdarah. Ayo, biar kuobati dulu.” Dion mengulurkan tangannya lagi mencoba meraih tubuh Lily.
Namun dengan cepat Adnan menepis tangan itu dengan kasar. Seolah-olah sentuhan yang akan diberikan pria itu akan melukai Lily. “Jangan sentuh adikku!”
“Biarkan saja, Mas. Hatiku jauh lebih sakit daripada luka di kakiku ini.” Dengan air mata yang terus berlinang dan suara gemetar Lily mengucapkan itu. Gadis itu kemudian membawa wajahnya yang sembab dan penuh dengan air mata untuk melihat Dion. “Kamu jahat,” ucapnya dengan sorot mata sedih bercampur kecewa yang mampu menghantam jantung Dion.
“Lily... mari kita bicara. Pernikahan ini–”
__ADS_1
“Ayo kita pergi dari sini, Mas,” ajaknya pada Adnan memotong ucapan Dion. “Aku nggak sanggup lagi ada di sini.”
Adnan mengangguk. Ia membantu Lily berdiri.
Dengan cepat Dion turut beranjak dan menghalangi jalan kedua orang itu. “Lily, kita harus bicara. Pernikahan ini bel–”
“Minggir! seru Adnan marah sembari mendorong tubuh Dion ke samping. “Kau selalu saja mengatakan pernikahan ini. Ya, kami tahu ini acara pernikahanmu yang begitu agung. Kami akan pergi supaya tidak mengganggu kalian. Bersenang-senanglah dengan pestamu ini!” ucap Adnan membara lalu kembali lagi menuntun Lily berjalan.
“Lily. Sayang... jangan pergi.”
Lily mendengar suara mami dari belakang. Sesaat Lily menghentikan langkah, memejamkan matanya. Seharusnya ketika dia pulang yang terjadi adalah pelukan haru bersama keluarga ini. Namun yang dia dapatkan adalah torehan luka baru di hati. Dion, mami atau papi seharusnya ada satu diantara mereka yang menentang pernikahan ini kalau memang mereka benar-benar menyayangi dirinya. Namun nyatanya, mereka semua turut merayakan pernikahan ini dengan berbalutkan pakaian yang indah.
“Ayo, Mas, kita pergi.” Lily berjalan secepat yang ia bisa. Sudah tidak sanggup lagi berlama-lama di sana. Luka lama belum sembuh, kini ia mendapatkan luka baru lagi di hatinya.
“Sayang, ayo kita lanjutkan pernika–”
Lily mengacuhkan semua yang didengarnya. Ia terus melangkah walau dengan kaki yang terluka juga hati yang sangat sesak. Noda-noda darah yang menempel di lantai bekas pijakan Lily menjadi saksi, bahwa gadis itu pergi dengan membawa banyak luka menyakitkan.
***
“Kamu dari tadi nangis terus. Bukannya kamu udah janji kalau kamu nangis hanya 5 menit saja.” Teringat akan perjanjian Lily saat mereka akan pulang ke rumah keluarga Dion. Saat ini mereka dalam perjalanan pulang setelah lebih dulu ke klinik untuk mengobati kaki Lily yang terluka. Beruntung lukanya tidak terlalu dalam.
“Siapa yang nggak nangis, Mas, kalau kakinya luka gini. Ini sakit tahu!”
Adnan tahu bukan luka itu yang ditangisi Lily. Tetapi menangisi kenyataan suaminya menikah lagi. Ralat, mantan suami.
__ADS_1
“Cengeng amat. Ya udah sini, biar Mas Adnan pijitin.” Adnan sudah bersiap hendak mengangkat kaki Lily.
“Ini luka, Mas, luka. Bukan pegal.”
Adnan tersenyum miring. Sebetulnya dirinya juga masih tidak menyangka dengan keputusan Dion yang menyerah tidak menunggu kesembuhan Lily. Laki-laki yang selama satu tahunan ini ia lihat bijaksana dan ia nilai pantas untuk Lily, namun dengan tidak punya hati malah menikah lagi, mencampakkan Lily yang seharusnya mendapat dukungan penuh darinya. Adnan menghela napas kemudian meraih jemari Lily dan menggenggamnya.
“Apapun yang telah terjadi, jangan meratapinya terus.” Tentu Adnan masih ingat dengan wejangan-wejangan dari Dokter Hendri supaya Lily tidak larut dalam kesedihan yang mengakibatkan kondisinya fatal lagi. “Masih ada aku bersamamu. Semua akan baik-baik saja kalau kita bersama-sama. Kamu menganggapku sebagai kakakmu, ‘kan?”
Lily mengangguk dengan air mata yang semakin merebak. Tentu ia masih ingat pesan papa supaya menganggap Adnan saudara kandungnya. Adnan membawa kepala adik angkatnya itu dalam pelukannya.
“Kamu boleh bersedih untuk hari ini saja.” Adnan membelai kepala adiknya dengan sayang. “Tapi mulai besok kamu harus bisa berlapang dada. Kamu masih ingat, ‘kan, yang dikatakan Dokter Hendri tadi, kalau bukan cuma kamu saja yang bisa sedih.”
Lily mengangguk lagi dalam tangisnya.
“Itu, ingusmu hapus dulu. Jorok amat.” Adnan meminta tisu pada sang driver taksi dan menyerahkan beberapa lembar pada adiknya. “Yang bersih. Kalau udah bersih boleh lanjut lagi nangisnya.”
Sepanjang jalan Adnan berusaha menghibur Lily. Hingga akhirnya mereka tiba di rumah. Rumah yang dulu ditempati Lily dan juga papa.
Lily termangu di tempatnya berdiri. Rumah ini masih seperti yang ada dalam ingatannya, asri. Rumah yang begitu terawat dan hampir dikelilingi oleh banyak jenis bunga dan juga tanaman hias. Rumah peninggalan orangtuanya yang begitu berharga yang memiliki kenangan-kenangan indah. Kembali mata Lily berkaca-kaca setelah tadi Adnan berhasil membuatnya tidak menangis.
“Ayo!” ajak Adnan untuk masuk ke dalam.
“Lily!” Lily bisa merasakan tangan kirinya diraih oleh seseorang. Gadis itu pun mengenali suara itu.
Untuk memastikannya Lily menoleh, “Masss Di–on.”
__ADS_1
“Mau apa lagi kamu?” Adnan maju, melepas genggaman Dion dari tangan Lily. “Jangan kau ganggu lagi adikku. Tolong, biarkan dia hidup dengan tenang.”