
Lily memegangi kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Membuat Dokter Hendri langsung sigap bertanya. Ikatan di tangan juga di kaki sudah dilepaskan.
“Kenapa? Apa yang kamu rasakan?”
“Kepalaku sakit, Dokter.” Dari jas dan stetoskop yang menggantung di leher Hendri, Lily tahu orang itu adalah dokter.
“Mulai kapan kamu merasakannya? Barusan atau sudah lama?” Dokter Hendri memulai tugasnya dengan mengajak Lily berkomunikasi. Ia juga mulai memeriksa kondisi kenormalan tubuh Lily mulai dari detak jantung, mata, mulut, dsb.
“Tadi setelah terbangun karena mimpi, aku tidak merasa sakit. Tapi setelah mengingat....” Mata gadis itu kembali berembun. Dan tanpa bisa dicegah air matanya sudah menganak sungai di pipi.
“Kenapa kamu menangis?” Dokter itu memancing Lily lagi untuk berkomunikasi.
“Gimana nggak nangis, Dokter? Aku kehilangan orang-orang yang aku sayangi sekaligus. Papa dan juga bayiku.” Lily terisak. Namun tidak disertai jeritan atau berontak.
Bukannya ikut iba, dokter itu kembali berbicara, “bukan kamu saja yang bisa sedih dan menderita karena orang-orang yang kamu sayangi telah meninggal. Saya juga pernah mengalaminya. Adik, kakak dan kedua orangtua saya tubuhnya hancur berkeping-keping dan itu saya lihat sendiri di depan mata saya. Jadi, jangan pernah berpikir kalau kamu orang yang paling menyedihkan di dunia ini.”
Entahlah. Hanya Dokter Hendri yang tahu apakah yang dikatakannya itu benar atau hanya mengambil kisah hidup orang lain. Namun itu sukses membuat tangis Lily berangsur melunak. Adnan dan perawat tadi juga terhenyak mendengar ucapan sang dokter.
“Kenapa tubuh mereka hancur berkeping-keping, Dokter?”
“Mereka korban bom bunuh diri.”
Sambil terus bercerita, dokter itu memeriksa dan menilai emosional Lily. Lily melihat dokter itu dengan prihatin. Itu lebih mengerikan daripada yang dialami papa. Ternyata benar, bukan hanya hidupnya yang ditakdirkan malang. Dia pun akan mencoba sekuat hati menerima kenyataan seperti yang disarankan dokter itu.
***
“Ini sebuah keajaiban. Sebelumnya tidak ada tanda-tanda kalau dia akan membaik.” Kini Dokter Hendri dan Adnan sudah ada di ruangan dokter itu. Beberapa lembar hasil scan kepala Lily memenuhi meja kerjanya. “Dokter jiwa terbaik dari negara-negara maju bahkan sudah angkat tangan dan memfonis Lily tidak akan sembuh.”
__ADS_1
Adnan mendengarkan dengan mata berbinar, pun dengan senyum yang terus mengembang.
“Sistem sarafnya sudah berfungsi dengan baik. Cara berkomunikasinya lancar, gestur tubuhnya tidak ketakutan lagi bila bertemu orang, semuanya normal. Ini benar-benar ajaib.” ungkap Hendri lagi dengan kagum.
“Iya, Dokter. Saya sangat bersyukur akan kesembuhan Lily.”
“Agar dia tidak depresi lagi, jangan biarkan dia sendirian supaya tidak mengingat kejadian itu. Atau Anda bisa memberi dia kesibukan positif untuk mengalihkan perhatiannya.” Adnan manggut-manggut.
Setelah sepertinya dokter itu sudah selesai mengatakan yang harus dikatakannya, dengan ragu Adnan bertanya, “untuk permintaannya tadi, apakah dia sudah bisa pulang, Dokter?” Ya, tadi Lily merengek meminta pulang. Gadis itu merasa asing di ruangan sempit itu yang tidak membuatnya merasa nyaman.
“Sebenarnya belum bisa. Masih harus dipantau dan ada tahapan pemeriksaan lanjutan. Tapi melihat dia yang bersemangat ingin pulang, baiklah....”
Adnan tersenyum menanggapi.
“Oh, iya. Pak Dion ke mana, ‘ya? Seharusnya pantangan-pantangan tadi saya beritahukan langsung pada beliau.”
“Sayang sekali. Andai saja dia ada di sini, dia pasti akan sangat senang melihat keadaan istrinya yang sudah membaik.”
Adnan sendiri bingung. Untuk seminggu ke depan katanya laki-laki itu akan absen menjenguk Lily. Biasanya seharipun tidak pernah dilewatkan suami adik angkatnya itu untuk tidak datang. Urusan penting apa sampai-sampai Dion harus pergi dalam waktu satu minggu. Bahkan perusahaan yang dipimpin olehnya sudah diabaikan selama lebih dari satu tahun terakhir ini.
Setelah Dokter Hendri berulang kali mewanti-wanti Adnan tentang apa-apa saja yang boleh dan tidak dilakukan Lily, akhirnya gadis kurus itu diperbolehkan pulang. Tak lupa juga Dokter Hendri meresepkan vitamin penambah nafsu makan.
Saat ini mereka sudah ada di dalam mobil online di parkiran rumah sakit ini. Adnan harus memesan taksi online, karena pada saat datang tadi ia menggunakan motor. Tidak mungkin ia membonceng Lily yang tubuhnya masih lemah. Air mata Lily tidak berhenti sejak beberapa saat lalu setelah sudah mengetahui di tempat apa selama ini dia tinggal.
“Jadi, a–aku sampai gila, Mas,” isaknya terbata-bata. “Sampai satu se–setengah tahun?” ujarnya lagi dengan gurat kesedihan di seluruh wajah.
Adnan mencoba menahan diri agar air matanya tidak ikutan tumpah. “Yang penting sekarang kamu sudah sehat. Jangan lagi mengingat-ingat kejadian itu. Kalau kamu selalu terpuruk kesehatanmu akan terganggu lagi.” Tangan kekarnya membawa kepala Lily ke dadanya yang bidang. Mengusap-usap kepala gadis itu dengan penuh cinta. Bukan seperti cinta yang pernah ia rasakan dulu terhadap Lily, melainkan cinta seorang kakak pada adiknya. “Papa tidak akan suka melihat kamu seperti yang kemarin itu.”
__ADS_1
Lily membenarkan apa yang diujarkan Adnan dalam hati. Walau goresan-goresan menyakitkan itu akan terus melekat di hati, ia akan berusaha menegarkan hatinya dan hidup dengan bahagia seperti yang diucapkan papa dalam mimpi. Ada banyak kenangan indah bersama papa yang akan dijadikannya sebagai penyemangat hidup.
“Untuk sekarang ini, biarkan aku menangis, Mas. Aku janji mulai besok aku akan berusaha bahagia.”
Tepukan-tepukan lembut diberikan Adnan di punggung adiknya yang kurus itu. “Cukup hanya lima menit saja. Karena selama satu tahun ini kamu sudah banyak sekali mengeluarkan air mata. Mungkin kalau ditampung sudah ada satu toren penuh.”
Lily tersenyum di sela-sela tangisnya karena merasa lucu. Ia mengaitkan tangannya pada pinggang pria itu. Merasa beruntung mempunyai kakak angkat seperti Adnan. Laki-laki yang pernah mencintainya tanpa ia tahu. Hingga mobil yang mereka naiki terus melaju ikut meramaikan jalanan kota di pagi hari beranjak siang ini.
Epilog
“Jadi kita langsung ke rumah mertuamu?” Lily mengangguk. Tangisnya sudah reda. Untuk saat ini ia tidak mau ke toko bunga dulu karena merasa trauma dengan tempat itu. Tempat yang menjadi saksi bisu bagaimana papa dianiaya dengan tragis.
“Tapi suamimu mungkin tidak ada di rumah. Katanya dia ada urusan penting. Tadi sudah kutelepon beberapa kali tapi tidak dijawab.”
Tidak bisa dipungkiri. Satu-satunya orang tercinta yang paling dia rindukan adalah Dion. Sungguh. Sepanjang jalan Adnan bercerita tentang perjuangan Dion untuk kesembuhannya. Bagaimana laki-laki itu menjalani hari-hari dengan terpukul. Bagaimana Dion yang tidak mau mengurus dirinya sendiri karena lebih mementingkan pengobatan untuk istrinya.
“Sepertinya dia mencari dokter lagi. Dia sangat gigih siang dan malam agar kamu cepat sembuh.”
Mata Lily kembali berkaca-kaca karena merasa tersentuh. “'Kan ada papi sama mami di rumah, Mas. Aku merindukan mereka juga.”
Akhirnya mobil itu melaju ke sana.
.
.
.
__ADS_1
Apakah Lily berhasil menghentikan pernikahan itu ataukah Dion sudah menceraikannya dan terlanjur menikah?