
“Bapak, Ibu, Mas, Mbak, Adik dan Kakak. Ayo, ayo dibeli bunganya untuk orang terkasih. Bunga-bunganya masih segar dan wangi. Dijamin tidak akan mengecewakan. Harga juga bersahabat. Silakan dilihat-lihat dulu.”
“Benar nih, Mbak, harganya bersahabat?”
“Iya, benar, Mas. Dan kalau Mas-nya mau beli banyak, kita kasih diskon.”
Orang-orang yang mendengar itu banyak yang penasaran dan langsung masuk ke toko bunga.
Ya, gadis itu sedang berdiri di depan toko sembari berteriak merdu untuk menarik pembeli. Sekarang adalah jam pulang bagi mereka yang bekerja dan juga pelajar yang punya tambahan ekstrakulikuler. Letak toko bunga itu cukup strategis sehingga banyak orang yang berlalu lalang di sana. Bu Sinta dan Pak Seto yang melayani pembelinya di dalam.
“Tumben-tumbenan kamu teriak memanggil pelanggan.” Papa yang baru kembali dari kafe-nya mengampiri Lily. Benar, sebelumnya Lily tidak pernah melakukan ini. Tidak melakukan itupun sebenarnya toko bunga mereka sudah banyak pelanggannya. Papa juga melihat wajah Lily lebih bersinar, senyumnya terlihat bahagia.
“Kamu sepertinya lagi senang.”
“Iya, Pa. Lily memang lagi senang.” Senyum gadis itu memang tulus dan terlihat sangat manis. Seseorang datang dan ingin masuk ke toko. “Ayo, Mbak, silakan. Bunga-bunganya segar-segar dan wangi-wangi.” Lalu menuntun calon pembeli itu sampai masuk ke dalam toko dan keluar lagi.
“Apa yang bikin kesayangan Papa ini senang? Coba beritahu Papa.” Merangkul bahu Lily dan mengecup pucuk kepalanya.
“Lily punya teman baru, Pa,” tutur Lily dengan berseri-seri. Ia balas memeluk pinggang papanya yang masih tetap kokoh dan tegap itu.
“Hanya karena punya teman baru kamu sesenang ini? Memangnya seperti apa sih teman kamu, sampai kamu bangga sekali berteman dengannya.”
“Teman Lily ini berbeda dari Luna.”
“Berbeda?” Papa ingin penjelasan. Itu terlihat dari rangkulannya yang beliau lepas dan menatap wajah Lily.
“Nanti Lily pasti akan mengenalkannya pada Papa. Selain baik dia juga ... unik.” Mengingat kembali bagaimana penampilan dan cueknya Uni padanya. Tapi hatinya baik.
__ADS_1
“Tentu kamu harus mengenalkannya.” Beralih topik. “Ini sudah sore. Ayo Papa antar kamu pulang.”
“Nggak usah, Pa. Nanti Mas Dion akan jemput.”
“Oh, sekarang panggilnya udah mas, ya,” goda papa dan itu sukses membuat Lily malu-malu. Papa tidak tahu saja, mereka bahkan sudah melakukan lebih dari itu. Papa baru menyadari kalau leher Lily dililit oleh kain panjang, seperti selendang berbahan tipis.
“Tidak biasanya kamu pakai ini.” Papa menunjuk leher Lily yang terlilit kain itu. Papa mengatakan itu dengan santai, tapi Lihatlah Lily malah grogi dibuatnya.
“Ah, ini, ini mode baru, Pa. Iya, mode terkini.” Menyembunyikan wajah agar tidak dilihat papa semburat merah di pipinya. Malu sekali bila papa atau yang lainnya melihat apa yang ada di dalam lilitan kain itu.
Suara ribut-ribut di dalam mengalihkan perhatian Papa dan membawa diri untuk masuk. Pun diikuti Lily ke dalam membantu Bu Sinta dan Pak Seto yang kewalahan melayani pembeli. Yang dilakukan Lily tadi membuahkan hasil. Berbagai bunga yang berjajar di atas meja besar setengahnya habis terbeli. Tanaman hias lain pun ada juga yang membelinya.
“Permisi.”
“Ya.” Pak Seto yang menjawab karena dia yang paling dekat dengan sumber suara. “Eh, Pak Fasa. Mau menjemput Lily, ya?” Fasa mengangguk diiringi senyumnya yang tipis. Tidak ada yang menyadari kehadiran Fasa karena yang lainnya sibuk melayani pembeli yang masih tersisa.
Tidak lama kemudian Lily dan papa keluar. Melihat itu, Dion keluar dari mobil. Ia kira Pak Miko tidak ada di sana sehingga dia lebih memilih tinggal daripada ikut dengan Fasa tadi. Tidak sopan juga kalau ia masih tetap duduk manis di dalam mobilnya sedangkan papa mertua sudah berdiri di luar. Ia bukan raja yang siapa saja harus membenarkan dan menghormati apa saja yang diperbuatnya.
“Selamat sore, Pa.” Ia mengambil tangan kanan Miko dan mencium punggungnya. Tidak sedikitpun ia melihat ke arah Lily padahal sedari ia turun tadi gadis itu sudah melebarkan senyum.
“Sore.” Miko bisa menangkap air muka yang tak biasa dari menantunya itu. Tidak ada senyum atau keramahan. Yang terlihat hanyalah wajah yang lelah bercampur ... kesal. Sangat kesal atau bisa dibilang amarah. Mungkin pekerjaannya hari ini yang membuatnya begitu, pikir Pak Miko.
“Kalau begitu kami pulang dulu, Pa,” lanjut Dion berpamitan tanpa sedikitpun melirik Lily. Miko cukup heran dengan sikap menantunya itu. Karena biasanya laki-laki yang lebih tinggi darinya itu sebelum pergi akan mengajaknya mengobrol ringan kalau datang menjemput Lily. Misalnya menanyakan kabar, omset penjualan dan lain-lain.
“Iya, kalian pulanglah. Kamu terlihat sangat kelelahan.” Miko menampik pikiran negatif yang sempat hinggap di kepalanya. Tidak mungkin rumah tangga anaknya sedang bermasalah karena ia melihat Lily sangat ceria.
***
__ADS_1
“Mas, terima kasih, ya, udah izinin aku membeli buku ini pakai kartu Mas.” Senyumnya terus terkembang. Buku sudah ada di tangan yang ia ambil terlebih dulu dari dalam tasnya. Lily mengucap terima kasih tulus adanya.
Beda dengan Lily, wajah Dion sangat kecut. Benar-benar usang tapi tetap ganteng. Namanya orang ganteng mau dia marah, nangis, teriak, jungkir balik, buang ingus, ya tetap ganteng.
Pria itu sejak masuk kembali ke dalam mobil matanya terpejam. Menahan emosi yang sejatinya ingin ia ledakkan sedari tadi.
“Mas–”
“Fasa! Arahkan mobil ke Hotel Mutiara dan siapkan kamar.” Dion benar-benar tidak sanggup lagi mendengar suara Lily. Suaranya itu membuat kobaran api cemburu semakin menggebu memenuhi hati bahkan mengalir sampai ke denyut nadi.
“Baik, Pak.” Biar bagaimanapun keadaannya seorang asisten harus mematuhi perintah sang bos, sekalipun situasi teramat urgen. Fasa sendiri merasa was-was akan apa yang dilakukan bosnya itu pada Lily. Semoga saja Si Bos masih bisa berpikir jernih nantinya.
“Mas mau apa ke hotel?”
“Diamlah! Jangan banyak bicara.”
Lily menelan ludah. Kenapa keadaannya jadi tegang begini? Perasaan tadi pagi adem ayem aja. Apa dia lagi ada masalah? Tapi kenapa kalau dia punya masalah malah melibatkanku dalam urusannya?
Lily meraba situasi tidak baik. Sungguh tidak nyaman duduk bersebelahan dengan orang yang sedang marah. Apalagi tidak tahu jelas apa penyebab kemarahannya.
Lebih baik aku menanyakannya pada Asisten Fasa. Tidak mungkin dia tidak tahu yang sebenarnya terjadi.
“Asisten Fa–”
“Sudah kubilang jangan bicara!”
Sekejap Lily mengangsurkan tubuhnya hingga menempel di pojok pintu mobil karena mendengar suara Dion yang setengah berteriak. Dia bingung sekaligus takut.
__ADS_1
Kenapa kemarahannya dilimpahkan padaku?