Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Tidur Bersama


__ADS_3

Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Sehabis makan malam, Dion segera naik ke atas tanpa menciptakan obrolan yang berarti dengan Lily atau siapapun yang ada di rumah ini. Selang beberapa saat kemudian Fasa datang, si asisten pribadi Dion. Lily tidak mengerti mengapa Fasa mengatakan banyak dokumen penting yang harus dibahas dengan bosnya. Sementara tadi Dion bilang bahwa pekerjaannya sudah selesai.


Lily dipenuhi oleh rasa jenuh. Akankah selamanya ia melewati waktu seperti ini? Rumah ini besar dan mewah tetapi sunyi tidak terdengar suara apapun, padahal ada banyak pelayan di sana. Sepertinya bila ada jarum yang jatuh akan terdengar nyaring.


Lily berdiri dari duduknya. Tidak tahu pasti sudah berapa lama ia tetap duduk di meja makan seusai makan malam tadi. Edu dan beberapa pelayan lainnya sedang membicarakan sesuatu, tidak jelas terdengar. Sebentar Edu berpaling ke gadis itu yang sudah siap mengayunkan kakinya. Sudah tahu akan ke mana tujuan Lily, Edu lanjut lagi memberi instruksi kepada beberapa bawahannya itu.


Gadis itu merebahkan tubuh malasnya ke sofa empuk ruang tamu. Dirinya benar-benar jemu. Disambarnya remot tv yang tergeletak di meja kaca, dinyalakannya benda elektronik bergambar itu, dipilihnya satu-satu tayangan yang sekiranya bisa mengusir rasa bosannya. Namun tidak ada yang berhasil menghibur dirinya.


Lily mengembuskan napas frustasinya. Baiklah, mungkin alat elektronik berbentuk pipih yang ada di sakunya bisa membangunkan semangatnya. Ia pun mengambil benda itu, menggulir layarnya beberapa kali untuk mencari satu aplikasi dan ....



Jadilah seperti di atas.


Belum juga ia mengambil gambar terbaiknya ....


“Apa yang Anda lakukan, Nona?”


“Eh?” Hampir saja ponsel itu ia lempar ke wajah Edu kalau tidak mengingat benda itu adalah pemberian mama saking terkejutnya.


Edu dengan santainya datang membawa nampan yang berisi potongan buah.


“Mas Edu bisa nggak, sih, kalo datang itu bilang-bilang dulu? Seenggaknya kasih aba-aba atau alarm gitu,” ketusnya dengan jengkel.


Edu hanya menarik sudut bibirnya tipis tanpa menjawab lalu meletakkan yang dibawanya ke atas meja. Ia sudah tahu suasana hati Lily saat ini, saat tadi Lily mengajak Dion untuk menonton atau melakukan hal lain tapi tidak disanggupi pria itu.


“Makan buah di malam hari ampuh menyegarkan hati yang gundah.”


Apa itu?


Lily mengulang dalam hati apa yang diucapkan Edu tadi. Maksudnya apa coba?


“Silakan dimakan, Nona.”


“Nggak mau. Emangnya aku kerbau ngunyah terus.”


Gadis itu wajahnya ditekuk, masih kesal karena keterkejutannya tadi.


Edu punya satu cara untuk mengembalikan good mood nonanya ini. Diambilnya remot tv dan menukar channel yang menayangkan mobil-mobilan, tepatnya serial anak-anak menjadi komedi. Mari kita lihat, apakah gadis itu tetap marah setelah menonton ini. Edu sengaja menaikkan volume tv.


Dua menit berlalu, sesuai yang ditebak Edu, tawa Lily pecah. Dua pasang suami istri yang bertetanggaan yang suami masing-masing bertingkah konyol. Yang satu suami takut pada istri sedangkan yang satu lagi bucin bukan main.


Pada saat acara komedi terus berjalan dengan menunjukkan akting kocak para pemainnya, pada saat itu pula piring yang berisi potongan buah hampir tandas.


Lalu yang tadi mengatakan, ‘emang aku kerbau ngunyah terus’ siapa, ya?

__ADS_1


“Mas Edu, lawakan ini seru, ya. Aku suka,” ucapnya dengan gembira saat acara itu memberi jeda untuk iklan.


Dan lagi, Edu hanya mengurai senyum miring. Gadis ini gampang dibujuk hanya dengan disuguhi tontonan lawak dan sepiring buah. Tidak seperti wanita sebelumnya yang dulu sering diajak Dion kemari yang banyak maunya itu.


“Mas Edu nggak capek berdiri terus? Duduk saja.” Gadis itu berucap seraya menunjuk sofa yang ada di sebelahnya.


“Saya lebih nyaman berdiri, Nona Lily.” Tentu saja Edu tidak punya keberanian sampai sejauh itu.


Lily tidak percaya. Namun karena acaranya sudah mulai lagi, otaknya menyuruh mulutnya agar bungkam. Sambil menonton sambil mengunyah, dasar Lily.


Satu jam berlalu, acara sitkom pun selesai. Diganti dengan talkshow. Acara ini juga tak kalah menggelitik perut karena pembawa acaranya seorang komedian. Edu berhasil membuat Lily tidak murung lagi.


*****


Lily menuju kamar dan hendak menaiki tangga. Namun terlihat di atas sana Fasa menuruni tangga dengan tergesa-gesa.


“Udah selesai urusannya, Asisten Fasa?” tanya Lily penasaran saat Fasa sudah melangkah di akhir anak tangga.


“Iya, sudah, Nona Lily. Saya pamit pulang dulu. Selamat malam.”


Lily ingin bertanya lagi, namun itu tidak mungkin lagi karena Fasa segera pergi dengan setengah berlari.


Di dalam kamar Lily mendapati Dion sedang bersandar di tempat tidur dengan kaki berselonjor sambil digoyang-goyangkan. Tubuhnya sudah dibalut dengan baju tidur. Tangannya memegang sesuatu, entah apa.


Lily cukup kaget karena selama ia tidur di tempat tidur itu, Dion tidak pernah lagi menyentuh kasurnya. Pria itu masuk ke dalam kamar hanya untuk mandi dan berganti pakaian saja. Gadis itu termangu di depan pintu.


“Nggak apa-apa,” jawab Lily singkat.


Gadis itu memilih ke kamar mandi saja. Menggosok gigi dan mencuci muka. Lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Mungkin nanti setelah ia keluar dari sana Dion sudah pergi.


Tetapi ....


“Kenapa Mas Dion masih di sini?”


Lihatlah, lelaki itu bahkan sudah menutupi tubuhnya dengan selimut sampai sepinggang.


“Kenapa memangnya? Ini kamarku.”


“Kalau Mas Dion di sini, trus aku tidur dimana?”


“Tentu saja di sini.” Sambil menepuk ruang di sampingnya.


Lily terbelalak. Tidak mungkin!


“Kemarilah. Ada yang ingin aku bicarakan.”

__ADS_1


Syukurlah. Ternyata dia hanya ingin berbicara. Setelah itu dia pasti akan pergi seperti biasanya.


Lily mendekat.


“Kenapa berdiri? Kakimu akan pegal, ayo naik.”


Walau ragu Lily menuruti yang dikatakan Dion. Semenjak kejadian kaburnya tempo hari, Dion berbicara lebih lembut padanya.


“Kartu kredit yang aku beri dulu, kenapa tidak pernah kamu pakai?”


“Mm ..., kan aku udah bilang, Mas, kalau aku masih punya uang.”


Dion terlihat bingung, “punya uang? Kamu anak sekolah, bagaimana bisa punya uang? Apa kamu minta uang pada papa?” Dion sedikit menaikkan volume suaranya di pertanyaan terakhir. Kalau itu benar terjadi, hilanglah harga dirinya di depan papa.


“Ya nggak lah. Biarpun aku anak sekolah, aku ini gadis yang rajin menabung sejak dulu.” Lily membanggakan dirinya. “Dari masih SD aku sudah menyisihkan uang saku-ku untuk pendidikan ke universitas. Dan sekarang nominalnya melebihi angka yang aku targetkan. Uangku banyak. Papa bahkan sampai bangga padaku.”


Dion lega, untunglah. Dan beberapa detik kemudian lelaki itu tersenyum mengingat penjelasan barusan. Ia merasa lucu dengan semua yang diungkapkan Lily.


“Gadis pintar,” ujarnya dengan mengusap rambut Lily.


“Aku memang pintar. Kan aku juara 3.”


Dion tertawa dan Lily merasa dihujani bunga. Tampan sekali bila pria itu tertawa seperti ini.


“Baiklah.” Sesaat kemudian ada binar indah di pupil mata pria tampan itu. “Kamu tahu aku ini siapamu?”


“Tentu saja tahu.” Gadis itu langsung tertunduk.


“Siapamu?”


“Suami.”


“Ya, benar.” Dion menangkup kedua pipi Lily agar mata mereka saling beradu. Jantung gadis itu mulai berdendang, semakin lama semakin cepat dan kuat, tidak tahu apakah itu kedengaran sampai keluar atau tidak.


“Karena aku adalah suamimu, maka kamu adalah tanggung jawabku. Apapun keperluan yang kamu butuhkan, gunakan kartu yang aku berikan itu. Uangmu itu tetap kamu simpan, ok!”


“Ta-tapi ....”


Cup!


Ciuman mendarat di kening. Gadis itu hilang akal, pipinya terasa panas dan pikirannya kosong. Jantung? Jangan ditanya, sudah seperti genderang mau perang. Ini kali pertama dia dicium laki-laki selain papa.


“Jika kamu tetap tidak menggunakannya, maka ...” Dion mendekatkan lagi wajahnya.


“Iya, aku akan menggunakannya,” potongnya dengan cepat.

__ADS_1


“Bagus. Sekarang kita tidur.” Dion membenarkan letak bantalnya dan merebahkan kepalanya. Tapi terlebih dulu pria itu mematikan lampu utama menggunakan remot dan menyalakan lampu tidur.


Lily : ???


__ADS_2