Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Kenapa Tidak Pakai Baju


__ADS_3

“Maksudku adalah ....” Dion menelusuri kedua netra Lily dengan sorot matanya secara mendalam membuat jantung Lily cenat-cenut. Pancaran mata itu sama persis seperti tadi malam sebelum mereka melakukan itu.


“Ka-kamu mau apa, Mas?” Gadis itu dapat merasakan gelagat mencurigakan. Segera ia menggeser diri dari jangkauan Dion. Namun itu tidaklah mudah. Tentu Dion tidak membiarkan ada celah di antara mereka barang sesenti pun. Dion dengan cepat berdiri dan mendorong bahu gadis itu hingga terbaring kemudian menaikinya dengan bertumpu pada kedua lutut. Lily tidak bisa melepaskan diri.


“Dirimu! Aku mau kamu.” Tatapan Dion dipertegas dan semakin mendekat. Terlihat jelas wajah Lily kalang kabut. Hingga bibirnya mendarat di belahan bibir Lily dan menjelajah di sana. Setelah cukup lama di sana, bibir itu kini menelusuri setiap sudut wajah Lily, tidak membiarkan wajah yang sudah menyembulkan rona merah itu terabaikan begitu saja. Diikuti tangannya sudah merayap dan tidak bisa dikondisikan lagi.


Pekikan-pekikan kecil keluar dari mulut Lily. Sentuhan tangan dan bibir Dion yang liar membuat Lily hilang akal. Dengan suara Lily yang seperti itu, semakin membuat Dion bergelora untuk memberi dan merasakan kehangatan cinta. Sampai akhirnya pergumulan indah tercipta lagi.


Sementara di kamar yang lain, Fasa merenung sembari menatap nanar layar hp. Sudah berkali-kali ia menghubungi sang pacar, namun tidak direspon. Malah panggilan terakhir yang ia lakukan barusan, nomor tujuannya menjadi tidak aktif. Malang nian nasib Si Fasa, pacar tidak memberi kesempatan sedikitpun untuk memberi penjelasan. Ia memiliki bos dan kekasih yang sama-sama tidak pengertian.


“Sial, sial, sial!”


Baiklah, besok aku akan mengerahkan seluruh cintaku agar dia yakin kalau aku serius mencintainya.


*****


Lily membenarkan selimut di tubuhnya dengan sisa tenaga yang ia punya. Deru napasnya berpacu saling sahut-menyahut dengan irama jantung. Terdengar terengah-engah setelah percintaan yang baru saja berakhir.


Jam dinding digital berbentuk persegi panjang menunjukkan angka 20.45, artinya mereka menghabiskan waktu di kamar lebih dari 3 jam tidak mandi dan telah melewatkan waktu makan malam. Tubuh Lily benar-benar remuk dengan perut yang terasa perih menahan lapar.


Tanpa komando, Dion menarik tubuh Lily dan membenamkan wajah gadis itu dalam dekapannya dengan erat. Ia mencium pucuk kepala dengan sangat lama.


“Aku nggak bisa napas, Mas,” ujar Lily dengan suara yang tenggelam di dada polos Dion. Untuk berontak pun ia tidak mampu lagi.


Dion terlonjak dan segera melepaskan dekapannya itu. “Maaf.”


Lily bernapas semakin tersengal akibat ulah Dion barusan. Ia menarik napas dalam-dalam sampai paru-parunya terasa sudah agak normal. “Mas, kamu udah bikin badanku remuk. Trus barusan kamu menghambat pernapasanku. Apa Mas mau membunuhku?”


Dion menanggapi dengan menarik satu sudut bibirnya. “Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya bersemangat.”


Lily diam. Ia sungguh tidak punya tenaga untuk mendebat Dion, padahal dalam hati jengkelnya sangat menggunung. Saat ini bahkan untuk menurunkan kakinya dari ranjang, ia tidak sanggup. Rasa sakit dan pegal yang dirasakan lebih parah dari kemarin.


“Kamu lapar?”


Lily mengangguk sebagai jawaban.


“Tunggulah sebentar.”


Dion memakai celananya dan keluar dari kamar. Di luar ia melihat Fasa duduk bersandar, terlihat seperti tidak bernyawa. Asistennya itu tidak sadar kalau bosnya keluar dari kamar. Televisi yang menyala dibiarkan begitu saja, malah sepertinya tv itu yang menonton Fasa. Ada apa dengannya?


Dion semakin dekat lalu berdehem. Ia menjatuhkan tubuhnya di samping Fasa, membuat pria itu nanap dan segera bangun dari duduknya.


“Maaf, Pak. Saya tidak tahu Bapak sudah keluar kamar,” sesalnya.


“Pesankan makanan!”


“Baik.”


“Kamu sudah makan?”


“Belum, Pak.”

__ADS_1


“Kenapa belum?”


“Tidak mungkin saya makan duluan sedangkan Bapak dan istri belum.”


Fasa tercenung. Bosnya saat ini sedang bertelanjang dada. Dan kulitnya berkilat-kilat karena basah. Aromanya bukan seperti habis mandi, tapi bau keringat. Apa yang baru terjadi? Apa mereka adu jotos? Pikiran polos Fasa tidak mampu berpikir.


“Apa lagi yang kamu tunggu?”


“Maaf, Pak. Saya akan memesankan makanan.” Fasa berjalan untuk meraih gagang telepon yang ada di atas meja telepon di seberang sofa.


Setelah memesankan makanan melalui handy talkie, Fasa kembali menemui Dion. Bersiap untuk melaksanakan tugas berikutnya yang akan diberikan.


“Kamu sudah memberitahu orang rumah kalau saya dan Lily akan tidur di hotel?”


“Sudah, Pak. Sekitar satu jam yang lalu.”


Dion manggut-manggut bangga atas kinerja Fasa.


“Tadi nyonya sempat khawatir sesuatu terjadi pada nona karena tidak biasanya Anda mengajak nona Lily tidur di hotel,” lapor Fasa lagi secara detail.


“Lalu?”


“Saya belum menjawab apa-apa, nyonya sudah langsung terdengar kegirangan dan meminta saya agar melayani Bapak dan nona dengan baik.”


Dion diam. Mami pasti mikir yang macam-macam karena kejadian tadi pagi.


Tidak lama kemudian pintu kamar hotel diketuk. Tidak mungkin itu adalah pelayan hotel yang akan mengantarkan makanan, karena Fasa memesannya kurang dari lima menit yang lalu. Sementara koki butuh waktu memasak sekitar 10-15 menit.


Saat pintu dibuka tampaklah mami dan Edu dengan seabrek barang-barang.


“Mi, barang-barang apa ini?” tanya Dion menyerobot. Ternyata dia menyusul Fasa ingin tahu siapa yang datang.


“Barang-barang penting.” Mami memindai sekitaran dengan matanya. “Di mana menantu Mami?” Mami masuk dengan menerobos tubuh Dion yang menghalangi jalan. “Di mana Lily?” ulang mami lagi bertanya karena beliau tak kunjung mendapati gadis yang dicarinya.


“Dia di kamar.”


“Sedang apa dia di kamar? Apa dia sudah tidur?” Mami berjalan menuju kamar. Tentu kamar yang ditujunya adalah kamar yang biasa ditempati Dion.


Dengan langkah panjang Dion menghadang jalan mami yang hampir sampai di daun pintu kamar. “Iya, Mi. Dia sudah tidur.” Air muka Dion nampak sedikit panik. Ia berdiri menghalangi pintu. Entah apa yang terjadi kalau mami sampai melihat keadaan Lily sekarang.


“Kenapa kau panik? Apa Lily tidak bisa dilihat saat tidur?” Mami tersadar kalau Dion sedang tidak pakai baju. “Kenapa kau tidak memakai bajumu? Dan ...,” mami mendekatkan hidungnya untuk merasai aroma tubuh Dion, “bau keringat begini.” Mami mengibas-ibas tangannya di depan hidung.


Fasa dan Edu diam di belakang. Mereka berdua juga penasaran dengan tingkah Fasa yang tidak biasa.


“Dion baru olahraga lari di tempat, Mi.”


“Lari di tempat?” Mami menelusuri tubuh Dion hingga ke celananya. “Kau lari di tempat memakai celana bahan ini?”


Fasa melongo. Apa benar begitu, pikirnya.


“Iya.” Pria itu meraih tangan mami dan ingin menuntunnya duduk di sofa sana. Tidak penting membahas hal yang tidak penting. “Kita duduk saja, Mi.”

__ADS_1


Mami menarik tangan, menolak ajakan Dion. “Tidak. Mami ke sini untuk bertemu dengan menantu Mami bukan untuk duduk.” Mami berbalik dan ingin masuk ke kamar itu lagi. Namun Dion dengan langkah lebih cepat mencegahnya. Tanpa tahu, Dion malah menunjukkan punggungnya yang bekas cakaran pada mami yang berjalan di belakangnya.


“Mi, Lily sudah tidur. Kasihan dia kalau sampai diganggu.”


Mami diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Cukup lama sampai ketiga pria yang bersamanya itu melihatnya heran.


“Kau baru berolahraga?”


Dion mengangguk dan menjawab, “iya.”


“Kau juga mengajak Lily berolahraga?”


Dion mulai gelisah. Mami sepertinya sudah tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Itu terlihat dari guratan wajah mami yang semula bersikukuh ingin bertemu Lily berubah menjadi seringai menggoda.


Saat Dion belum menjawab, pintu kamar hotel diketuk lagi dan yang datang kali ini adalah pelayan hotel yang mengantarkan makanan.


Edu beranjak. Ia menoel tangan Fasa agar ikut dengannya. Edu kelihatannya lebih peka daripada Fasa untuk urusan ini meski ia belum menikah. Mereka pun berlalu.


“Apa kau mengajak Lily berolahraga sampai dia kelelahan?” Kali ini mami berbicara dekat di telinga Dion.


“Mi ....” Dion sungguh tidak bisa menyembunyikan perasaan malunya.


Epilog


Dion sudah masuk ke kamar. Tinggal mami, Fasa dan Edu di sana.


“Fasa, saya sudah menyiapkan paket akomodasi bulan madu ke Bali untuk mereka berdua besok. Juga untukmu.” Mami mengeluarkan kertas dari tasnya dan menyerahkannya pada Fasa. “Barang-barang yang perlu dibawa juga sudah siap.” Menunjuk barang yang mereka bawa tadi.


“Tapi Nyonya–”


“Tidak usah khawatir Dion akan marah karena rencana mendadak yang tidak diketahuinya ini. Saya yang akan mengatakannya besok. Kamu hanya perlu mengawasi mereka. Kalau sesuatu terjadi di sana, segera kabari saya.”


“Baik, Nyonya,” jawab Fasa lesu.


“Baiklah.” Mami berdiri, “kami pulang. Ingat, kalau sesuatu yang buruk terjadi, segera hubungi saya.”


“Iya, Nyonya.”


Fasa mengantar orangtua bosnya itu sampai pintu. Setelah kepergian Nyonya Surya dan Edu, Fasa bersandar lemah di bibir pintu.


Bagaimana dengan nasib cintaku. Harusnya besok aku menemuinya, membujuknya, merayunya biar tidak marah lagi. Kalau begini, kami malah akan semakin jauh.


Fasa frustasi.


Semoga saja, semoga saja yang baca tidak lupa tekan like juga vote. Salam hangat dari Fasa yang bernasib malang.


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2