
“Lepasin, Mas!” pinta Lily lagi dengan berusaha melepaskan tangan kokoh yang melingkar di pinggangnya itu. Sungguh ia tidak berdaya. Debaran jantung Lily kian membuncah. Tatapan Dion yang mendalam berhasil membuat ia kewalahan untuk mengatur napasnya.
“Kenapa aku harus melepaskanmu?”
“Mas, jangan begini. Ini nggak benar.” Masih berusaha meronta namun tidak berani menatap mata teduh itu.
“Siapa bilang tidak benar?” Semakin menekankan pinggang Lily agar gadis itu berhenti meronta, “diamlah! Kalau tidak aku bisa melakukan yang lebih jauh dari ini.”
Kedua insan itu akhirnya diam beberapa saat setelah Lily perlahan mulai menghentikan geliatannya. Tenaganya sudah habis sia-sia, tubuhnya sedikitpun tidak bergeser dari pangkuan suaminya itu.
“Untuk yang diucapkan Ariel tadi, tidak usah kau hiraukan.” Dion menatap penuh lekukan wajah istrinya dari samping. Gadis itu masih menunduk, belum berani bertatapan dengan dirinya. “Itu hanya masa lalu. Bukankah sudah kubilang kalau masa depanku adalah bersamamu?”
Lily mengangkat wajahnya dan memberanikan diri membalas tatapan Dion. Ingin memastikan kalau Dion berkata jujur yang tidak dibuat-buat.
Lily menangkap kejujuran dan kedamaian di mata pria itu. Tatapan Dion sama sekali tidak berpindah dari penglihatan Lily bahkan mata lelaki itu tidak berkedip untuk beberapa saat. Dion memang berkata jujur.
Tidak tahu apakah itu artinya Dion sama dengan dirinya yang perlahan mulai membuka hati, atau Dion hanya membuat kesepakatan dengan dirinya sendiri untuk berlapang dada menerima dan melanjutkan pernikahan ini. Tapi tidak mungkin begitu, Tiara memberitahunya tadi bahwa Dion menginginkan perceraian.
Tidak adil memang karena lelaki itu belum mengutarakan bagaimana sebenarnya isi hatinya. Sementara Dion sendiri sudah tahu kalau Lily tertarik pada dirinya dari diary. Lily ingin menanyakan itu, tapi sungguh ia tidak punya keberanian. Takut jawaban Dion mengecewakan hatinya. Cinta tidak bisa dipaksa agar mau hadir di hati orang yang kita sukai, bukan?
“Mas, aku ingin bertanya,” kata Lily walau ragu. Ia sudah lebih berani membalas sorot mata Dion demi ingin tahu jawaban pria itu.
“Apa yang ingin kau tanyakan?” Tangannya sudah sedikit dilonggarkan namun masih melingkar di pinggang Lily.
“Sampai kapan pernikahan ini akan bertahan?” tanya Lily dengan suara sangat pelan tapi masih bisa didengar dengan jelas.
__ADS_1
Dion diam dengan mengerutkan kening. “Kenapa kau bertanya begitu? Bukankah sudah kubilang kalau kita akan sama-sama menuju masa depan?”
“Ta-tapi, bukannya Mas Dion ingin cepat bercerai?”
Dion terkesiap, “kenapa kau berkata begitu?” Ia tidak bisa mengontrol keterkejutannya itu. Tidak menyangka Lily mengungkap keinginan terbesarnya dulu saat mereka baru menikah.
Tiara. Ya, hanya mbak-nya itu satu-satunya orang yang menjadi tempat gudang rahasianya selama ini. Dion mulai gusar, apakah Tiara memberitahu semua unek-uneknya dulu pada Lily.
“Seseorang memberitahuku.” Wajah Lily mulai menunduk diiringi dengan suaranya yang terdengar parau. “Sebelum usia pernikahan ini semakin bertambah, sebaiknya diakhiri saja, Mas. Untuk apa dipertahankan lama-lama kalau ujungnya akan berpisah. Toh hasilnya akan sama baik sekarang ataupun nanti, sama-sama mengecewakan. Lambat laun orangtua kita juga akan mengerti dengan keadaan kita yang tidak bahagia dengan pernikahan ini.”
Dion semakin terperanjat. Wanita muda ini ... gadis yang kata Dion ingusan ini berbicara layaknya orang dewasa. Dan gadis ini sedang membicarakan kebaikan dari hati ke hati. Bukan membandingkan, tapi Clara saja yang sudah dikenalnya lama tidak pernah berbicara dengannya sedewasa ini.
Melihat Dion yang diam, Lily turun dari pangkuannya. Benar yang dikatakan Tiara kalau Dion menginginkan perpisahan. Lihat saja dia, sudah diam membeku.
Lily melirik Dion. Pria itu tetap diam dengan pikirannya. Dengan mencoba menunjukkan dirinya baik-baik saja, Lily membereskan barang sisa perlengkapan ospek-nya. Jika perpisahan memang yang terbaik bagi mereka, maka akan ia hadapi. Dari awal mereka adalah orang asing yang tidak saling mengenal.
“M-mas.”
Dion meregangkan pelukan dan tangannya beralih menangkup wajah Lily. Gadis itu sungguh terkejut dengan perlakuan Dion yang tiba-tiba. Mata mereka bertatapan dan semakin dalam.
“Tidak akan ada perceraian.”
“Hah?”
“Kau dan aku tidak akan pernah bercerai.” Lagi, Dion merebut pinggang Lily dan membenamkan tubuh mungil gadis itu dalam dekapannya. Napas pria itu terdengar berat. Lily bisa merasakan degup jantung Dion yang tidak beraturan sama sepertinya jantungnya.
Lily bagai terbang melayang, terlebih lagi Dion mendaratkan beberapa ciuman di ujung kepalanya. Mendapat perlakuan ini, bolehkah ia berpendapat kalau suaminya itu membalas perasaannya?
__ADS_1
“Mm-mas.”
Dion melonggarkan dekapan, matanya sedikit berkabut dan tatapannya sangat teduh yang memiliki arti. Kedua ibu jari tangannya bergerak menghapus air mata yang entah kapan sudah jatuh di pipi gadis itu.
Kembali ia menangkup wajah Lily dan menyorotkan bola matanya ke mata gadis itu dengan tatapan mendalam. Tidak bisa dipungkiri, Lily merasakan kehangatan atas perlakuan Dion sampai ia tidak lagi bisa berucap satu kata pun.
Hitungan detik kemudian Dion mengecup kening Lily cukup lama dengan mata terpejam. Menyalurkan kasih sayang yang ia miliki untuk istrinya itu. Dan tanpa aba-aba, ia menurunkan bibirnya hingga mencapai bibir gadisnya.
Lily terlonjak dengan mata membulat. Ini? Ahh, ciuman pertamaku!
Ingin mendorong kuat tubuh pria yang sudah mencuri ciuman pertamanya itu, tapi sentuhan bibir Dion yang begitu lembut membuat otaknya kosong dan hilang akal. Ciuman itu bergerak dengan berirama menjelajah di kedua bibir Lily.
Dion semakin kalap. Dipindahkannya salah satu tangan ke tengkuk Lily dan tangan yang lainnya memeluk pinggang agar ciuman itu semakin dalam dan sempurna meskipun Lily tidak membalas.
Entah bagaimana cara Dion, ia berhasil membuat Lily terduduk di atas ranjang. Ciuman Dion semakin menggila hingga senyar aneh menjalar di sekujur tubuh Lily sampai membuat tubuhnya bergetar. Tunggu, ranjang?
Bersusah payah Lily mendorong dada kekar itu yang nyaris menindihinya sampai Dion tersadar. Napas mereka memburu saling bersahutan dan saling berpandangan. Dion duduk setelah kesadarannya kembali semua.
“Maaf, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk begitu.”
Lily tertunduk menahan malu.
“Mulai sekarang kalau ada orang yang menyinggung perpisahan dalam pernikahan kita, jangan dengarkan. Tidak akan ada perpisahan atau perceraian. Kita akan tetap bersama-sama, kau mengerti?”
“I, iya.”
Mereka diam lagi.
__ADS_1
“A, aku ke kamar mandi dulu.” Lily memilih kabur ke kamar mandi. Masih merasa grogi berpandangan muka dengan Dion karena ciuman tadi.