
Suara dering dan getaran ponsel yang berulang-ulang di atas nakas samping tempat tidur memaksa Dion untuk membuka mata. Ia melihat sebentar jam digital dinding dan membacanya. Dion berdecak kesal karena ada orang yang berani mengganggu tidurnya yang nyenyak di pagi buta begini.
Ini hari minggu, hari libur yang digunakan banyak orang untuk bermalas-malasan saat bangun pagi. Awas saja kalau tidak penting, ancamnya dalam hati. Ia terlebih dulu memindahkan kepala Lily dari atas tangannya dengan hati-hati. Lalu laki-laki itu meraih ponsel dan melihatnya heran karena mami yang menelepon.
“Iya, Mi, ada apa?” tanya Dion menjawab telepon itu dan menahan kesal juga kantuk yang masih menyergap. Ia mengubah posisi tubuh untuk duduk. Kalau saja telepon itu bukan dari orangtuanya, sudah pasti dimaki-makinya orang itu.
“....”
“Bersiap untuk apa, Mi? Ini hari libur, Dion tidak punya acara atau pekerjaan penting.”
Lily yang merasakan indra pendengarannya menangkap suara segera terjaga. Ia mencoba membuka mata yang terasa berat.
“....”
“Bali? Untuk apa ke Bali, Mi?”
“....”
“Bulan madu?” Dion melotot tidak percaya diikuti volume suaranya naik dua oktaf. Bisa-bisanya mami memutuskan sendiri tentang bulan madu mereka tanpa berdiskusi dulu. “Mi, kenapa mendadak begini dan tidak memberitahu terlebih dulu?”
Setelah mami memberikan jawabannya, beliau segera memutus panggilan tanpa mau lagi mendengar protesan Dion. Dion menatap sebal layar ponselnya sambil menggerutu.
“Ada apa, Mas? Siapa bulan madu?” Lily yang baru saja ada dalam kesadaran penuh bertanya. Sama seperti Dion, Lily juga merasa malas untuk beranjak apalagi karena pertempuran tadi malam yang serasa tubuhnya tidak bertulang.
Dion menaruh ponselnya dengan asal ke tempat semula. “Kita akan ke Bali. Jadi bersiap-siaplah,” ujar Dion malas.
“Bali? Pulau yang dijuluki Pulai Dewata, 'kan, Mas?” Segera antusiasme Lily keluar. Terang saja, objek wisata itu bukan hanya terkenal keindahan alam dan keunikan budayanya di Indonesia saja tetapi juga sampai ke penjuru dunia.
Dion mengangguk malas sebagai jawaban.
__ADS_1
“Asyik, aku akan ke Bali.” Gadis itu sungguh kegirangan seperti anak kecil membuat Dion mengernyit. Hanya ke Bali, sesenang itu? Dion jadi teringat cerita Lily yang belum pernah pergi ke mana-mana saat dulu mereka mengantar papi dan mami ke bandara.
Namun sekilas Dion memikirkan sesuatu. “Bukannya tadi malam kamu bilang kalau badanmu remuk? Kita bisa membatalkannya kalau kamu merasa tidak baik.”
“Jangan, Mas, jangan dibatalkan. Aku udah baikan sekarang,” sorak Lily. Bohong. Mana mungkin badan yang remuk langsung pulih hanya dalam semalam. Karena rasa bahagia gadis itu menjulang tinggi, rasa sakit di tubuhnya kalah.
“Kamu yakin?”
“Sangat yakin,” jawab Lily penuh semangat. Namun seketika air muka gadis itu berubah sedih. Ia seperti memikirkan sesuatu yang terasa berat di hatinya.
Dion melihat perubahan itu dan membuatnya bertanya, “ada apa? Kenapa kamu jadi sedih?”
“Kita perginya berapa lama, Mas?”
“Kita pergi hanya dua hari. Besok juga pulang.”
Lily diam terlihat sedang berpikir keras. Itu terlihat jelas dari kerutan di dahinya.
“Kalau kita ada di sana, aku pasti kangen sama papa.” Tentu rasa rindu akan datang karena belum pernah berjauhan dari Pak Miko.
Dion tidak bisa berasumsi kalau Lily adalah anak manja. Sudah pasti Lily akan terus mengingat papanya, mengingat hanya Pak Miko-lah keluarga satu-satunya yang ia miliki selama ini.
“Kamu tidak perlu cemas. Selama kita ada di sana, kita akan tidur dengan pulas sehingga tidak akan ada waktu untuk memikiran apa-apa.”
Lily tidak dapat mencerna ucapan Dion dengan baik. Gadis itu berusaha mengartikan apa yang dikatakan Dion barusan.
Melihat Lily yang seperti kebingungan, Dion berbicara lagi, “kita akan di kamar terus untuk–” Dion menurunkan penglihatannya ke bagian bawah tubuh Lily. Dilihat seperti itu Lily merasa tidak baik, ia menutupi dirinya dengan menarik selimut. Pikiran negatifnya keluar.
“Untuk apa?” tanyanya penuh selidik dengan mata membeliak.
__ADS_1
Melihat respon Lily yang seperti itu, Dion terkekeh pelan nyaris tak terdengar. Pria itu lalu mengambil lagi ponselnya bermaksud melakukan panggilan terhadap seseorang. Ia menelepon Pak Miko.
Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, Dion pun menyampaikan tujuannya menelepon.
“Kami akan pergi ke Bali selama dua hari, Pa.” Dion sengaja mengeraskan speaker agar didengar juga oleh Lily.
“Iya, kalian pergilah. Kalian juga memerlukan waktu untuk berdua.”
Dion tercenung mendengar ujaran papa yang tidak terkejut atau bertanya mengapa mereka ke sana, bahkan langsung memberi izin.
“Kalian bersenang-senanglah di sana. Oh ya, beritahu Lily agar tidak merisaukan Papa. Papa berharap sepulang kalian dari sana, Papa akan mendengar berita baik bulan depan,” lanjut Pak Miko lagi dengan suara yang ramah namun penuh harap.
“Ehm, iya, Pa.” Dion tidak punya jawaban lain.
Sementara Lily, pipinya sudah sangat bersemu merah. Ia sudah cukup dewasa untuk mengartikan arah pembicaraan papanya itu.
***
Perjalanan yang memakan waktu lebih kurang dua jam dari kota asal menuju Denpasar sudah mereka lalui. Pemandu wisata yang diutus dari villa menjemput mereka di bandara. Wajah Lily berseri-seri menikmati setiap pemandangan yang bisa dijangkau oleh penglihatannya saat menuju villa.
Mereka sudah tiba di villa mewah bernuansa etnik Bali dengan fasilitas bintang lima. Saat baru melewati pintu, Lily begitu terkesima tatkala disuguhi infinity pool menghadap langsung lautan bebas yang tidak bertepi. Tanpa sadar ia berlari ke sana untuk menikmati lebih dekat. Dari kejauhan terlihat ombak dan para peselancar kejar-kejaran di laut biru sana. Dan yang membuatnya semakin takjub, kolam renang itu dibangun di atas tebing.
“Ini benar-benar surga,” gumamnya.
Mata gadis itu benar-benar dimanjakan dengan segala view yang ada. Belum pernah ia menemukan keindahan sehebat ini. Mulutnya tidak berhenti mengagumi ciptaan Tuhan yang saat ini ia pandangi.
Dion, pria itu membiarkan Lily memanjakan matanya di sana. Ia meminta pemandu wisata untuk pergi saja, karena kemungkinan siang ini mereka akan menghabiskan waktu di dalam villa. Setelah pemandu wisata itu pergi, Dion menghampiri Lily yang masih terus berdecak kagum.
Fasa? Laki-laki itu sudah tahu tugasnya. Sesampainya mereka di villa beberapa menit yang lalu, ia sudah melapor pada mami. Setelahnya Fasa memilih duduk di ruang utama dengan wajah murung. Mana mungkin dia juga menghampiri Lily.
__ADS_1
Ini tidak lucu. Di mana-mana yang namanya bulan madu, ya berdua. Aku sudah seperti kambing congek di sini.
Kalau saja seorang asisten bisa berontak tanpa ada efek samping, sudah ia lakukan sejak semalam. Fasa mendesah. Ia meratapi hubungannya yang sedang di ujung tanduk. Wanitanya masih belum jua mengaktifkan ponselnya.