
Gadis penjual bunga itu kini sudah ada di toko bunga. Mertuanya tadi mengirim pesan bahwa mereka akan ada urusan di luar rumah. Lily sebenarnya diajak ikut, tapi ditolaknya dengan alasan masih ada yang diurus di sekolah. Jadi sepulang dari kafe tadi diputuskannya untuk ke toko bunga saja. Tubuhnya sudah direbahkan di sofa di dalam toko bunganya. Dipejamkannya matanya, terlintas kembali kalimat panjang terakhir Axel.
Lily, sabarlah menunggu kesuksesanku. Aku akan membuktikan pada papamu kalau aku layak untukmu. Jangan nakal, jaga hatimu hanya untukku.
Ahh, ingin rasanya Lily mengungkap pernikahannya dan meminta maaf karena telah mempermainkan hati Axel. Namun juga tidak sampai hati meruntuhkan semangat Axel yang mungkin ada di level maksimal, menggebu-gebu memproklamirkan ke mana dia akan melanjutkan pendidikan dan tujuannya setelah itu. Lily merasa serba salah. Membiarkan Axel dengan pikirannya sendiri atau membongkar perasaannya yang sebenarnya.
“Xel, maaf. Kuharap suatu saat nanti kamu mengerti dan menerima kalau aku tidak bisa bersamamu.”
Sementara Lily masih dengan pikirannya, terdengar suara keributan dari luar.
Ada apa ini!
“Bu Sinta, ada apa?” tanyanya setelah berdiri diantara Bu Sinta, Pak Seto dan juga seorang nenek.
“Ini Dek Ayu. Nenek ini memaksa mau membeli bunga Edelweis.”
Lily menatap nenek yang dipenuhi amarah itu. Lalu berusaha tersenyum agar nenek itu melunak hatinya. “Nenek,” menyentuh lengan yang dipanggilnya nenek. “Nenek bisa memilih bunga yang lain, asal jangan bunga itu ya,” ujarnya lembut.
“Kenapa?” ketus sang nenek.
“Bunga itu tidak ada di sini. Bunga-bunga yang lain juga tidak kalah cantik, Nek. Coba nenek lihat bunga ini.” Mengambil salah satu bunga dengan tangkainya dan menunjukkan pada nenek.
“Tidak mau!” Menepis tangan Lily dengan kasar sampai bunga mawar itu jatuh. Bu Sinta dan Pak Seto mematung, tidak tahu bagaimana harus bersikap.
Lily menarik napas panjang dan menunjukkan senyum manisnya lagi. “Nenek, memang untuk apa bunga edelweis itu?” masih dengan sikap lembut, menunjukkan bahwa pelayanan di tokonyalah yang terbaik. Tidak akan terpancing segalak apapun pelanggan yang datang.
“Bukan urusanmu. Memang siapa kau harus tahu!” Membentak.
Huff
“Oma.” Seketika ada seorang pria datang dengan menggandeng tangan seorang gadis kecil. Lily dan semua orang menatap pria itu.
“Ayo Oma, kita pulang saja,” ungkap pria itu lagi. Kalau ditafsirkan usianya mungkin sama dengan suami Lily.
“Oma tidak mau pulang sebelum bunga itu dapat.” Menatap Lily lagi dengan tajam. “Oma heran, kenapa semua toko yang kita datangi tidak ada bunga itu. Sepertinya mereka ini tidak ada niat menjual bunga.”
“Maaf Oma, Pak. Kami tidak menjual bunga edelweis. Bunga itu sudah dilindungi karena langka.” Lily menatap oma dan laki-laki itu bergantian.
“Papa, langka itu apa?” Gadis kecil yang sedari tadi diam itu angkat bicara membuat perhatian semua orang beralih padanya.
__ADS_1
“Langka itu jarang ditemukan, Cia.” Pria itu berjongkok di depan gadis kecil yang ternyata adalah putrinya.
“Saya tidak peduli. Bagaimanapun caranya saya harus mendapatkan bunga itu. Kalau tidak, saya akan tetap ada di sini.” Oma masih kekeh.
Lily kebingungan. Dipandangnya Pak Seto dan Bu Sinta bergantian meminta usul, tapi sial merekapun tidak punya ide.
“Oma, ayo kita cari lagi di tempat lain.” Pria itu yang berusaha membujuk oma. Lagi-lagi wanita yang sudah berumur itu mendengus kesal tidak beranjak.
“Oma sudah capek keliling ke semua toko dan hasilnya nihil. Lebih baik Oma tunggu di sini sampai bunga itu ada.” Oma mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi rotan yang ada di sana.
Lily masih tetap dalam kebingungan. Setelah beberapa waktu hanyut dalam bingung, dia menghampiri pria itu. “Pak, maaf. Memang bunga itu untuk apa?”
“Itu untuk—”
“Sudah kubilang bukan urusanmu!” Oma menjawab dengan suara kasar.
Ya ampun. Baiklah Lily tenang, tenang. Ini ujian. Kamu tidak akan goyah hanya karena mendengar bentakan nenek-nenek ini.
Lily mengusap dadanya, mengatur napas supaya kenormalan suara masih tetap seperti biasa. Tidak lupa menunjukkan senyum manis, “Oma, Pak, saya punya saran. Kalau memang bunga itu sangat penting, lebih baik dipesan via online saja.”
“Tidak, tidak. Saya pernah membeli lewat online dan saya tertipu. Saya pikir bunganya masih segar, tidak tahunya sudah kering. Lagipula bukankah kamu bilang tadi bunga itu tidak dijual.” Kali ini pria dewasa itu menjawab sampai selesai tanpa terhalang suara si oma.
“Lalu kenapa kamu tidak menjual bunga yang dibudidayakan itu?” Nenek dengan tatapan tajamnya.
“Maaf, Nek. Seperti yang bapak ini bilang tadi, walaupun bunga edelweis tidak gampang layu tapi lama kelamaan akan kering juga. Dan bunga ini tidak akan tumbuh di kota kita ini. Dia hanya bisa tumbuh di daerah pegunungan.”
Nenek itu akhirnya membungkam mulutnya yang kasar itu.
“Lalu bagaimana?” tanya pria itu mengalihkan perhatian Lily dari nenek.
“Heum, Bagaimana kalau dipesan langsung dari tempat pembudidayaannya? atau Bapak juga bisa datang langsung ke lokasinya biar lebih meyakinkan.”
Pria itu berpikir.
“Kakak.” Gadis kecil yang dipanggil Cia itu menarik-narik rok sekolah Lily.
Lily tersenyum dan berjongkok di depan gadis cilik itu. “Iya Adik Cantik, ada apa?” Lily mengelus-elus pipi mulus Cia.
“Budiya itu apa?”
__ADS_1
“Budiya?” Balik bertanya karena tidak mengerti.
“Maksudnya budidaya.” Tentu saja papanya harus mengerti apa yang diucapkan anaknya sendiri.
“Oh, budidaya. Budidaya itu merawat tanaman atau makhluk hidup lain yang sudah langka dengan baik-baik biar nggak punah atau mati,” tutur Lily dengan senyumannya.
“Kalo gitu mamanya Cia juga harus dibu-di-da-ya biar nggak meninggal ya.” Anak itu berbicara dengan terbata.
Lily tersentak. Ditatapnya papa anak itu dengan seksama. Seketika ada gurat kesedihan di wajah itu. Begitupun dengan oma.
Kenapa jadi begini?
Saat semua masih terdiam dan saling pandang, ada pelanggan lain yang datang. Lily mengajak masuk ke dalam pelanggan yang keberadaannya sudah cukup lama, yang ngotot mau membeli bunga edelweis itu. Baiklah, pembeli memang adalah raja. Tapi bukankah kelewatan kalau harus memaksakan keinginannya. Apalagi memaksa yang tidak ada harus ada. Pakai acara bentak-bentak segala.
Pak Seto dan Bu Sinta yang melayani pelanggan yang baru datang itu.
“Di mana ada budidaya bunga edelweis itu?” tanya papa Cia setelah duduk.
“Yang saya tahu ada di lereng Gunung Bromo dan dataran tinggi Dieng. Selebihnya Bapak bisa mencari di google.”
Bapak itu bangkit. “Terima kasih banyak untuk penjelasannya. Maafkan kami sudah mengganggu waktumu.” Mengulurkan tangannya.
“Tidak masalah, Pak. Kalau ada keperluan mengenai bunga datang saja ke sini. Kami akan senang membantu.” Menjabat tangan papa muda itu. Papa Cia tersenyum sumringah melihat Lily yang masih tetap ramah.
Lily mengulurkan tangan pada oma, tetapi diacuhkan dan malah pergi ke luar. Terpaksa ditarik kembali tangannya yang menggantung di udara itu.
“Kakak namanya siapa?” Malah anak kecil itu yang mengulurkan tangannya.
Disambut hangat tangan mungil itu olehnya. “Kamu bisa panggil kakak dengan Kak Lily. Dan anak manis ini namanya siapa?”
“Leticia. Kakak bisa panggil aku Cia.”
“Cantik sekali nama kamu, Cia. Sama kayak orangnya.”
“Kakak juga cantik. Cia suka sama Kakak.” Lily membalasnya dengan senyuman.
“Kalau begitu kami permisi dulu. Sekali lagi terima kasih.”
Lily mengantar tamu, atau pelanggannya sampai ke mobil. Cia mendongakkan kepalanya dari kaca jendela mobil, melambaikan tangan pada Lily. “Kak Lily, kapan-kapan ajari Cia merawat bunga ya.”
__ADS_1
Lily tersenyum mengangguk dan membalas lambaian tangan anak kecil itu yang tubuhnya sudah dibawa mobil.