
A few months later.
Dion duduk termangu di kamarnya. Suara hiruk-pikuk yang sedari pagi buta memenuhi rumah lantai bawah tidak diindahkan. Dia tidak merasa terganggu ataupun merasa hatinya yang sudah lama kosong terhibur dengan suara alunan musik yang terdengar syahdu. Sudah dua jam pria itu begitu.
Sampai akhirnya mami datang dengan riasan wajah full make-up yang tetap memancarkan kecantikan walau usianya tidak muda lagi, rambut yang sudah disanggul, juga tubuhnya dibalut dengan kebaya berwarna abu silver. Tidak lupa juga dengan selendangnya yang diapit di kedua sisi tangan.
“Dion, kamu masih belum bersiap juga?”
Dion melirik sebentar dan kemudian pandangannya lurus lagi ke depan. Ini sudah yang kedua kali mami datang untuk melihat kesiapan putranya itu.
“Sebentar lagi acaranya dimulai. Mempelai wanitanya juga hampir sampai. Kenapa kamu belum ganti baju?” Usapan lembut di bahu diberikan mami. “Apa kamu masih belum ikhlas untuk menikah lagi?”
“Mami dipanggil sama papi.” Tiara tiba-tiba datang menghampiri. “Biar aku saja yang membantu Dion bersiap.”
Mami mengangguk. Sejujurnya beliau juga tidak menginginkan pernikahan lagi, sama halnya dengan Dion. Namun terkadang kita harus melakukan apa yang paling tidak diinginkan karena suatu alasan yang kuat. Mami menatap putra kesayangannya dengan iba sebelum akhirnya berlalu.
“Apa lagi yang kamu tunggu, Dion?” Lelaki itu masih bergeming dengan sorot mata menerawang jauh. Kasihan sekali pria itu. “Kamu masih berharap Lily sembuh?” ketus Tiara. Dia merasa jengkel dengan sikap adiknya yang keras kepala tidak mau bangkit dari keterpurukan. Rambut yang sudah gondrong, brewok yang semakin lebat, wajah yang kusam dan juga jerawat di sana-sini, bentuk badan tidak seproporsional dulu, sudah menunjukkan kalau Dion tidak peduli dengan apapun. Namun entah mengapa laki-laki itu tetap saja tampan.
“Jangan seperti anak kecil, Dion,” bentak Tiara pada akhirnya karena Dion yang terus diam membeku. “Jangan mempermalukan papi dan mami dengan sikapmu yang seperti ini. Sebentar lagi Indira dan keluarganya akan ti–”
“Baik, aku akan bersiap-siap. Mbak puas?” Dion meraih setelan jas yang sedari tadi diabaikannya yang tergeletak di atas tempat tidur dengan kasar dan hendak menuju kamar mandi. Namun langkahnya terhenti karena matanya bertemu dengan foto pernikahannya dengan Lily, masih terpajang dengan cantik di dinding.
Maafkan aku. Aku harus melakukan ini.
***
Sebuah danau berwarna biru dikelilingi oleh pegunungan hijau. Terdapat pula di pinggir danau itu taman yang indah yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang bermekaran cantik. Tidak seindah taman yang dimiliki Lily yang ada di belakang toko bunga. Kupu-kupu dan kumbang-kumbang beterbangan ke sana-kemari, turut menikmati keindahan alam ini. Ya, alam yang seperti tidak pernah dijamah oleh manusia karena keasriannya yang luar biasa.
Di sinilah gadis yang bernama Lily itu sekarang. Mungkin begitu. Karena ia bisa melihat sendiri bagaimana indahnya dan tenangnya alam itu. Dia duduk termenung dengan mata kosong di sebuah bangku. Bagaimana orang yang tidak bergairah hidup, begitulah Lily saat ini.
__ADS_1
“Bunda... Bunda....”
Sayup-sayup ia mendengar suara anak kecil. Namun ia tidak peduli.
“Bunda.” Kembali suara itu didengarnya. Kali ini lebih jelas dan lebih dekat. Membuat Lily dengan ragu-ragu memutar kepalanya, mencari siapa orang yang berani mengusiknya. Tidak ada sesiapapun yang ditangkap oleh matanya. Karena sejak ia berada di sana tak seorangpun yang ia temui di tempat itu. Hingga saat dia ingin memutar kepalanya kembali seperti tadi, ia melihat sosok anak kecil yang berjarak sekitar 10 meter dari tempatnya duduk.
Anak kecil itu melambai-lambai kepada Lily dengan senyum semringah. Sementara tangannya yang satu lagi menggandeng tangan seseorang yang dewasa. Wajah orang dewasa tersebut tidak terlihat begitu jelas karena dihalangi oleh kilauan sang mentari. Namun bila dilihat dari pakaian yang dikenakan orang itu adalah laki-laki.
“Bunda,” kata anak kecil itu lagi.
Lily mengamati lagi sosok anak kecil yang berjenis kelamin perempuan itu. Rambutnya yang sepanjang bahu dibiarkan tergerai. Mirip seperti dirinya saat masih balita dulu, manis.
“Bun–da,” ucap Lily dengan terbata. Setahunya tidak ada orang lain lagi selain dia. Mungkinkah panggilan itu ditujukan untuk dirinya?
“Bunda jangan syedih-syedih. Bunda jangan satit-satit.” Anak itu berbicara layaknya anak balita pada umumnya. Dan itu membuat Lily menangis. Ia melihat dirinya ada pada anak itu.
“Hiduplah dengan bahagia, agar kami juga bahagia.”
***
Lily terduduk dengan napas terengah-engah. Bulir-bulir keringat berjatuhan dari dagunya yang runcing. Ia merasakan tubuhnya begitu sakit dan lemah.
Ia melempar pandangan ke sekeliling. “Tempat apa ini?” gumamnya. “Di mana papa juga anak kecil itu?” Tidak ada lagi taman atau danau atau pegunungan yang indah. Yang ada hanya ruang sempit. Ruang yang tidak diisi apa-apa selain... tempat tidur kecil yang ditempatinya sekarang. Ia juga mendapati tangan dan kakinya yang terikat.
Apa yang telah terjadi?
Lily mencoba mengingat-ingat. Ia merasakan sakit di kepala namun gadis itu tidak peduli. Ia berada di tempat ini dengan keadaan kaki dan tangan terikat pasti ada sebabnya. Ia terus mengajak otaknya untuk berpikir namun tidak berhasil.
Sampai akhirnya pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita dengan kostum serba putih beserta atributnya. Lily yakini bahwa wanita itu adalah suster.
__ADS_1
Suster itu nampak terkejut mendapati Lily yang duduk dengan tenang. Biasanya jika Lily sudah tersadar dari obat penenang, gadis itu akan berteriak-teriak dengan sangat histeris. Dengan ragu ia mendekat.
“Suster. Saya ada di mana ini? Kenapa tangan dan kaki saya diikat begini?”
Suster dengan kulit sawo matang itu kian terkejut dan menghentikan langkah. Bukannya menjawab malah terperangah.
“Suster....”
Dan selanjutnya suster itu berlari ke luar dengan kencang sambil menyerukan nama seorang dokter. Membiarkan Lily yang masih terikat dengan bingung di dalam ruangan itu.
***
Adnan, yang setiap paginya akan menyempatkan diri mengunjungi Lily sebelum ke toko bunga dan kafe peninggalan papa, dibuat terkejut dengan teriakan suster itu. Ia dan juga dokter yang menangani Lily selama ini sedang sarapan bersama di kantin rumah sakit. Jadwal dokter itu sekitar lima lagi untuk memeriksa Lily. Jadi sembari menunggu waktu berlalu mereka memutuskan ke kantin saja, saat mereka tadi bertemu di parkiran.
“Apa? Lily sudah sadar?” Adnan mengulang kembali apa yang disampaikan suster itu. Antara tidak percaya dan binar bahagia menyatu di mata Adnan, demikian juga Dokter Hendri.
Mengangguk dengan napas yang tidak beraturan, “iya.”
Adnan dan Dokter Hendri serentak langsung menggusur kursi masing-masing ke belakang. Membiarkan makanan juga minuman yang belum disentuh oleh mereka terbengkalai. Dengan kecepatan lari yang dimiliki, akhirnya mereka tiba di ruang perawatan Lily.
“Lily!” seru Adnan saat sudah tiba di depan pintu. Namun yang ia lihat adalah Lily yang sedang menangis pilu, seperti biasa yang ia dengar. Tapi bedanya gadis itu tidak menjerit-jerit atau berontak dengan sekuat tenaga.
Sepertinya suster itu sudah ketularan gila. Kondisinya masih sama dibilang sudah sadar, batin Adnan jengkel. Ia sudah terlanjur senang, tapi nyatanya....
Lily mendongak dengan uraian air mata. “Mas Adnan, papa, Mas. Papa sudah tiada,” lirihnya lemah. Adnan dibuat terkesiap. Selama Lily menghuni RSJ ini belum pernah dia mendengar Lily berbicara lebih tenang dari ini. Yang ada hanyalah jeritan histeris.
“Lily. Kamu sembuh?” Adnan menghambur mendekati adik angkatnya itu dengan perasaan gembira yang tidak bisa diungkapkan. Senyum dan air mata menyatu di wajahnya. Doa terbesarnya selama ini adalah kesembuhan Lily dan sekarang ia melihat sendiri perubahan yang terjadi pada Lily. Adnan kemudian membawa kepala Lily dalam pelukannya. Mendekapnya dengan erat.
“Kenapa tangan juga kakiku diikat begini, Mas? Ini sakit.”
__ADS_1
“Oh, itu–”