Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Dion Menahan Diri


__ADS_3

Lily berjalan mondar-mandir di dalam kamar memikirkan permintaan Ariel tadi. Ia pikir permintaan Ariel hanya seputar permainan atau kesukaan anak kecil lainnya. Nyatanya anak itu mampu membuat dada Lily ketar-ketir tidak karuan. Bagaimana mungkin ia mempunyai nyali untuk menyampaikan permintaan Ariel yang memalukan dirinya itu kepada Dion.


Jarum jam menunjuk pukul 21.40. Sebaik Lily memandang jam yang menggantung di dinding, daun pintu bergerak perlahan dan menampakkan sosok Dion melangkah masuk dari sana. Membuat Lily sedikit terlonjak karena sedari tadi ia melamun dan napasnya belum teratur.


“Tumben jam segini kamu belum tidur.” Dion berkata setelah menutup pintu kembali. Lily semakin merasa dadanya bergemuruh karena Dion berjalan mendekati dirinya yang berdiri mematung. “Kenapa? Apa tugas kuliah kamu ada yang sulit?” tanya Dion karena matanya menangkap beberapa buku berserak di atas meja.


“Ng-nggak, Mas. A-aku belum ngantuk saja. Jadi aku iseng membaca buku untuk mengisi waktu,” jawab Lily kaku. Jantung Lily semakin berulah kala Dion mengunci tatapan pada kedua manik matanya.


“Oh begitu.”


Lily mengangguk mantap agar Dion percaya.


“Aku kira kamu belajar sembari menungguku.” Pipi Lily seketika berubah merona. Ia berjalan menuju meja di mana buku-bukunya berserak untuk memutus pandangannya dari Dion. Sesaat Dion menyadari ada yang beda dari pakaian Lily. Gadis itu tidak pernah memakai yang seperti itu sebelumnya.


“Ya nggak lah, Mas. Kenapa juga aku harus menunggu Mas Dion.” Jemari-jemarinya bergerak mengumpulkan buku-buku. Dion membawa tubuhnya untuk duduk di sisi ranjang.


“Kupikir kau membutuhkan bantuanku karena tidak mengerti materimu.”

__ADS_1


“Ng-nggak. Sejauh ini aku masih mengerti semuanya.”


Diam beberapa saat. Setelah menimang di dalam hati antara ragu atau ingin ditanyakan, Dion akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. “Apa yang kau pakai itu?” tanya Dion sembari memandangi punggung gadis yang dibalut dengan jubah tidur tipis. Lily masih mengumpulkan buku-bukunya dan juga beberapa helai kertas dengan membelakangi Dion. Jadi tidak tahu bagaimana mimik wajah Dion sekarang.


“Apanya yang pakai apa, Mas?” balik bertanya tanpa mau berpikir untuk mengartikan pertanyaan Dion.


“Baju yang kau pakai itu.” Sejenak Lily mengamati gaun tidurnya. Kenapa tiba-tiba Dion menanyai tentang pakaian yang dipakainya. Selama ini dia tidak pernah mencampuri atau membahas masalah baju yang dipakai untuk tidur. Lily berdiri dan menghadap laki-laki berwarna mata hitam itu.


“Oh, ini hadiah dari mami, Mas. Kata beliau ini gaun tidur terbaik di Prancis. Aku sangat suka karena bahannya sangat lembut di kulit.” Lily memutar badannya dan tersenyum senang. “Bagus, kan, Mas?”


Segera Dion memalingkan muka. Bukan tentang bagus atau tidaknya sekarang. Tetapi gaun tidur itu membentuk lekukan tubuh Lily. Biasanya gadis itu memakai baju piyama yang berkancing di depan untuk tidur.


Lily belum menyampaikan permintaan Ariel. Takutnya Dion pergi lagi untuk bekerja atau ke luar kamar dalam waktu yang lama dan ia tidak memiliki kesempatan untuk memberitahukan itu pada Dion. Sedangkan ia sudah berjanji pada Ariel akan menyampaikannya pada Dion malam ini juga. Bukan janjinya, lebih tepatnya Ariel mengancam tidak mau berbicara dengannya bila permintaannya tidak dipenuhi. Tentu saja itu berbahaya kalau sampai seisi rumah tahu alasan Ariel mendiamkannya.


Dion yang sudah sempat berjalan beberapa langkah, berbalik lagi dengan menyiratkan kerutan di pelipisnya, “mau ganti baju, kenapa?” Seringai jahil kemudian tersungging di ujung bibirnya, “kau mau ikut?”


Lily melengos gemas, “nggak. Aku 'kan hanya bertanya saja.” Sesegera mungkin membereskan kembali bukunya, gadis itu salah tingkah. Dion melanjutkan langkahnya menuju ruang ganti.

__ADS_1


...


Setelah mengganti bajunya dengan piyama tidur, Dion kembali sekitar sepuluh menitan dan segera merangkak naik ke tempat tidur. Ia menarik selimut, merebahkan tubuhnya lalu memejamkan mata. Ia mungkin lelah bekerja hari ini atau ... entahlah. Lily yang sedang memasukkan buku ke dalam tas yang ia butuhkan untuk besok merasa bingung. Lelaki tampan itu biasanya sebelum benar-benar tidur akan membaca buku atau memainkan ponselnya terlebih dulu, atau yang wajib ia minta sebelum tidur adalah ciuman selamat malam.


Lily cepat-cepat menyelesaikan urusannya sebelum Dion masuk ke alam mimpi. Dengan gerakan cepat ia turut merangkak naik ke ranjang dan duduk bersimpuh memperhatikan Dion yang sudah terpejam.


“Mas.”


Tidak ada sahutan atau gerakan.


Apa dia benar-benar sudah tidur? Ah tidak mungkin. Dia 'kan baru semenit yang lalu naik ke tempat tidur.


“Mas,” ulangnya lagi dengan suara yang lebih keras. Karena panggilannya tidak direspon, ia menusuk-nusuk pipi Dion dengan jari telunjuknya namun belum juga menunjukkan reaksi.


Benar-benar udah tidur.


Lily merenggut dan ikut membaringkan tubuhnya di sisi Dion.

__ADS_1


Memiringkan tubuh, menyangga kepala dengan sebelah tangan dan menghadap lelaki itu, “Mas udah tidur, ya?” Dion masih bergeming di tempatnya.


__ADS_2