Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Mencari Lily


__ADS_3

“Nonaa!” Edu terus berteriak dan mengejar. Tugas terpenting yang diberikan mami padanya adalah memastikan Lily tinggal di rumah dengan aman dan nyaman. Jangan sampai gadis itu terusik apalagi menangis. Namun lihatlah, baru beberapa jam mami dan papi meninggalkan rumah, Lily sudah main kabur sambil menangis.


Disaat Edu mengejar, Dionpun menyusul dari belakang. Dion tahu Lily pergi karena melihat kelakuan gila Clara. Mereka berlari meninggalkan wanita cantik itu seorang diri.


“Buka gerbangnya!” titah Lily dengan berteriak. Gadis itu sudah di depan pos gerbang.


“Tapi Nona.” Penjaga itu kebingungan. Tadi saat majikannya itu kembali dari bandara baik-baik saja. Dan sekarang? Apalagi terlihat di belakang, Edu dan Dion mengejarnya dan terdengar samar-samar perintah untuk tidak membuka gerbang menambah kebingungannya. Penjaga itu jadi dilema bagai makan buah simalakama.


“Aku bilang cepat buka gerbangnya!” perintah Lily lagi dengan suara memburu, “ kalau tidak dibuka juga, akan kutabrak gerbang itu!” Lily tidak main-main dengan ucapannya. Dia mulai memutar handle gas motor.


“Ba, baik, Nona.” Penjaga itu bergegas membuka gerbang. Pasrah dengan nasib apa yang akan dia dapatkan setelah ini. Dan baru kali ini juga penjaga itu melihat Lily memberi perintah dengan kasar.


“Jangan dibuka gerbangnya!!” teriak kedua pria yang mengejar di belakang bergantian dengan melambaikan tangan dengan terus berlari.


Sayang, Lily sudah menerobos keluar sebelum gerbang dibuka sempurna. Sementara dua makhluk di belakang yang terus mengejar baru tiba beberapa detik kemudian.


“Aku sudah bilang jangan dibuka! Apa kau tidak dengar?!” Dion menghardik penjaga itu. Kedatangan Clara ke rumah ini diluar dugaannya. Clara adalah orang yang nekat meski sudah dilarang.


“Ma, maaf, Tuan.” Penjaga itu gemetaran dengan kepala tertunduk.


“Kemana kau taruh telingamu??” Ingin rasanya Dion menghajar pria paruh baya itu. Namun akal sehatnya masih bisa dipakai.


Terlihat Edu kembali. Dia mengejar Lily sampai keluar gerbang. Namun sepertinya usahanya sia-sia. Dion kini beralih pada Edu.


“Kenapa kau biarkan wanita gila itu masuk ke rumah?” Dion mencengkram leher kemeja Edu dengan berteriak. Kemarahannya sama seperti saat Clara kedapatan selingkuh dulu. “Apa gunanya banyak penjaga di sini tapi tidak bisa mencegah satu orang wanita? Sudah berkali-kali kubilang, jangan biarkan wanita itu masuk ke rumah ini!”


“Maaf, Tuan. Nona Clara mengatakan ada perjanjian bisnis yang harus dibicarakan dengan Anda.”

__ADS_1


“Aku tidak pernah punya bisnis apapun dengannya.” Suara Dion tetap terdengar menakutkan. Edu hanya bisa menatap ke bawah. Dia mengutuki kebodohannya yang berhasil diperdaya Clara.


Dion melepas kasar cengkramannya. “Kau urus dia! Jangan sampai wanita itu masuk lagi. Ini kesalahanmu yang terakhir!”


Dion kembali masuk dengan langkah seribu menuju garasi. Dia akan mengejar Lily walau tidak tahu ke mana.


“Dion, tunggu! Siapa yang kalian kejar tadi? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.” Clara menghalangi jalan Dion. Dia tidak mengenali Lily. Bertemu saja belum pernah. Namun dia yakini bahwa gadis itu adalah orang penting karena Dion dan Edu sampai mengejarnya.


“Bukan urusanmu.” Dion mencengkram kuat lengan wanita itu. “Aku peringatkan untuk terakhir kalinya, jangan pernah lagi datang dan mengusik hidupku. Kau hanya serpihan sampah di masa lalu.” Lalu Dion mendorong tubuh Clara ke samping, berlari lagi untuk mengambil mobil.


“Dion!”


Tidak dihiraukannya panggilan wanita itu. Dion terus berlari menuju garasi.


Dion sudah masuk ke dalam mobil hendak menghidupkan mesinnya. Namun sesaat dia berpikir, lalu keluar lagi. Dia masuk lagi lebih dalam dan dibukanya satu gerbang garasi lagi yang ditutupi oleh tembok bergerak. Tidak akan ada yang tahu kalau di balik tembok itu juga dijadikan garasi. Ada banyak mobil dan motor mewah berbaris di sana, mungkin semua itu adalah bagian hobinya sebagai koleksi.


***


Lily melajukan motornya membawa hati yang luka. Dia memikirkan apa yang harus dia lakukan. Mengatakan pada papa tentang apa yang dilihatnya, tidak mungkin. Papa akan sedih. Biarlah sakit ini dia rasakan sendiri. Gadis itu terus menembus kebisingan kota.


Sementara Dion.


“Apa dia pergi ke toko bunga dan mengadu pada Pak Miko?” Diam sebentar. “Sial!” Mengumpat kesal dengan mata sibuk menyusuri motor satu per satu yang warnanya sama dengan milik Lily. Berharap menemukan gadis itu.


Dion menyingkir sebentar ke sisi jalan, mengambil ponsel di saku, mencoba menghubungi. Sayang, panggilannya tidak dijawab. Sampai beberapa kali menelepon hasilnya tetap sama, tidak juga dijawab.


“Apa yang akan dikatakan Pak Miko tentang aku setelah tahu kejadian tadi?” Diam. “Sudah pasti dia akan menilai keluargaku buruk. Ahhh!” Dion semakin frustasi. “Papi dan mami juga akan segera tahu. Mereka juga pasti akan sangat kecewa. Sial! Sial!” Pria itu melajukan lagi moge-nya dengan pandangan terus sibuk mencari-cari.

__ADS_1


Gadis itu masih remaja, masih dalam proses menuju pendewasaan. Cepat menyimpulkan dengan apa yang dilihatnya.


Baiklah, sekarang Dion harus menemukan gadis itu terlebih dulu lalu menjelaskan apa yang dilihatnya tadi. Semoga saja Lily tidak mengadu pada siapa-siapa. Kalau Lily saja mau minta maaf dan berterus terang tentang hubungannya dan perasaannya pada Axel, kenapa dia tidak bisa?


Dion melihat ada motor yang mirip dengan milik Lily parkir di depan mini market. Dion segera memarkirkan motornya dan turun. Pandangannya kini terarah ke dinding kaca transparan mini market itu. Mencari sosok Lily dengan terus berjalan memasuki pintu toko mini market itu.


Tidak ada sesiapa di dalam. Hanya ada pegawai berseragam di meja kasir. Orang itu kebingungan dengan mata Dion yang sepertinya mencari keberadaan seseorang.


“Maaf, Pak. Ada yang bisa dibantu?” tanya pegawai wanita itu sedikit takut, apalagi hanya ada dia sendiri di sana. Takut kalau-kalau Dion adalah orang jahat. Namun dilihat dari wajah dan penampilan, sangat tidak cocok pria itu dibilang begitu.


“Itu, pemilik motor itu siapa?” Dion menunjuk motor yang dimaksud. Orang itu melihat sesuai arah yang ditunjuk Dion.


“I, itu motor saya, Pak.” Orang itu semakin gemetaran karena Dion berjalan mendekatinya.


Apa orang ini orang jahat? Masa ganteng-ganteng mau merampok.


“Pak, tolong jangan sakiti saya, Pak. Saya masih jomblo dan belum pernah pacaran.”


Dion langsung berhenti. Ada apa dengan wanita ini?


“Maaf sudah mengganggu.” Dion bergegas keluar.


“Eh.”


Di parkiran Dion mengedarkan pandangannya ke jalan. Kendaraan hilir mudik. Dion menarik napas frustasi. Matahari sudah semakin naik dan Lily belum juga ketemu.


Apa dia benar-benar menemui Pak Miko? Clara membuatku dalam masalah besar.

__ADS_1


Kembali lagi Dion melajukan motornya. Menyisakan harapan kalau Lily tidak benar-benar pergi ke toko bunga atau menemui papanya. Walaupun pergi ke sana, Dion berharap Lily sedikit dewasa tidak akan menceritakan tentang apa yang dilihatnya tadi pada orang terdekat, terutama Pak Miko.


__ADS_2