Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Akan Berdamai dengan Masa Lalu


__ADS_3

Dokter Muda. Adalah dua kata yang disandang Lily saat ini. Atau istilah lain yang paling umum digunakan di dunia kedokteran, Anak Koas.


Bila fakultas lain setelah lulus kuliah dan mendapatkan gelarnya, mereka bisa langsung melamar pekerjaan, tidak dengan fakultas kedokteran. Untuk bisa mendapat gelar dokter yang sesungguhnya, Lily harus melewati tahapan koas ini dulu sekitar 1,5–2 tahun, lalu mengikuti Ujian Kompetensi maka bisa disumpah menjadi seorang dokter. Kalau ingin menjadi dokter spesialis maka waktu pendidikannya akan bertambah lagi. Harus mengikuti program Internshif kemudian pendidikan spesialis. Terbayang ‘kan berapa banyak waktu, pikiran dan tenaga yang dihabiskan? Belum lagi biayanya.


Terjun langsung memeriksakan pasien apalagi pasien yang kritis mampu membuat tubuh Lily gemetaran, berbeda dengan saat masih kuliah dulu yang kebanyakan mempelajari teori saja. Beragam jenis kondisi pasien ia dapati. Dari jeritan wanita yang hendak melahirkan, pasien yang tidak sadarkan diri akibat serangan jantung, kepala pasien yang pecah karena kecelakaan, patah tulang, dan berbagai jenis penyakit dalam, dan ia juga melihat sendiri pasien yang mengembuskan napas terakhir alias meninggal yang membuat dirinya berkeringat dingin.


Tak jarang banyak konsulen yang memarahinya karena kedapatan gugup bahkan panik yang membuat konsentrasinya ambyar. “Kalau tidak sanggup melihat darah, kenapa dulu memilih fakultas kedokteran? Sudah, lebih baik kamu pulang saja sana!” Begitu salah satu teguran tidak mengenakkan hati dari dokter senior yang konon katanya galak.


Itu dulu saat pertama kali ia memasuki dunia per-koas-an. Jelas saja orang seusia Lily emosinya masih cenderung labil ditambah lagi dengan trauma akan papa yang dulu terkulai lemah di hadapannya dengan darah yang mengalir deras dari perut. Namun seperti kata peribahasa ‘Alah Bisa Karena Biasa’, perlahan ia bisa meredam kegugupan dan kepanikan yang muncul. Teguran dan kemarahan konsulen ataupun staff lain di rumah sakit itu ia jadikan motivasi. Karena, toh mereka mengatakan yang benar. Tidak mungkin ia pulang seperti yang dikatakan konsulennya itu mengingat Adnan sudah menyekolahkan sampai lulus. Tidak sedikit uang yang telah ia habiskan sampai pada titik ini.


Lily terduduk lesu sembari memijit bahu yang tulangnya rasanya ingin copot. Hari sudah pagi. Tadi malam ia dan dua temannya kebagian jatah jaga malam. Malam yang begitu panjang dan melelahkan.


“Haaahh.” Lily mengembuskan napas lelahnya diikuti mata yang terpejam.


“Malam yang sangat melelahkan. Aku sungguh capek dan ngantuk,” keluh temannya yang satu.


“Iya,” balas yang satunya.

__ADS_1


Lily turut membenarkannya juga. Ini jauh lebih menyiksa jiwa dan raga ketimbang menjaga toko bunga. Sudah capai kadang-kadang ditegur sampai dimarahi pula padahal ia merasa sudah melakukan yang terbaik. Tidak lama kemudian ia membuka mata dan duduk tegak, “nggak, kita nggak boleh mengeluh begini. Hanya tinggal satu langkah lagi agar koas ini selesai. Kita harus semangat,” ucapnya menyemangati diri mereka. Stase anak adalah stase terakhir mereka.


“Dokter, Suster, tolong saya. Tolong obati luka majikan saya.” Selagi Lily sedang merapikan alat tempur kedokterannya, ia mendengar teriakan panik. Sudah hal biasa ia mendengar permintaan tolong seperti itu. Lily beranjak dan berjalan keluar dari ruangan diikuti teman-temannya. Karena meskipun sekarang sudah jam pulang mereka, tidak mungkin mereka abai terhadap teriakan orang yang minta tolong.


Namun saat mereka keluar, pasien yang butuh pertolongan itu sudah didatangi dokter dan perawat dan membawanya ke ruang UGD. Lily dan kawan-kawan memutuskan masuk kembali ke ruangan mereka dan melanjutkan bersiap-siap untuk pulang.


***


Papi!


Lily terkejut bukan main melihat Pak Surya ada di rumah sakit tempatnya magang. Ia sampai menghentikan langkahnya saat memasuki ruang rawat anak. Setelah sekian tahun tidak melihat orang tua yang ‘pernah jadi’ mertuanya itu baru sekarang ia melihatnya lagi. Tidak ada yang berubah dalam perawakan beliau. Masih terlihat gagah dan rupanya tentu mirip Dion. Hanya saja rambutnya mulai memutih. Lily ingin melangkah mendekati beliau dan mengungkapkan kerinduannya.


Suara itu memutuskan keinginan Lily untuk mendekati papi. Kini pandangan matanya menatap anak yang terbaring di brankar yang usinya berkisar 4–5 tahun. Anak itu adalah pasien yang kemarin dalam kondisi gawat sebelum dirinya pulang.


“Nggak apa-apa bagaimana? Lukamu banyak begini.” Papi tampak cemas. “Dokter, apa tidak sebaiknya cucuku dioperasi saja?” tanya papi pada dokter yang sedang follow-up pasien yang saat ini menjadi konsulen Lily. Papi tidak terlalu peduli dengan kehadiran Lily yang mematung di tempatnya atau mungkin tidak mengenalinya karena Lily mengenakan masker yang menutupi sebagian wajah. Pagi ini dirinya kurang fit akibat kemarin sehari semalam ikut bertugas.


“Tidak perlu khawatir, Pak. Tidak ada luka dalam yang serius.”

__ADS_1


Cucu?


Yang jelas itu bukan Ariel dan pasti bukan juga adiknya. Tiara tidak bisa mengandung lagi karena rahimnya sudah diangkat. Jantung Lily langsung berdebar hebat. Apakah anak itu adalah anaknya... Dion?


Perasaan nyeri kembali menggerogoti hati mengingat Dion telah menikah dengan wanita lain dan kini anak mereka ada di hadapannya sendiri.


Lily tersenyum pahit. Tepatnya menertawakan dirinya sendiri. Bertahun lamanya ia membiarkan hatinya kosong tanpa mau menerima cinta dari pria mana pun. Ia mengutuki kebodohannya karena bisa-bisanya meyakinkan diri kalau suatu saat nanti Dion dan dirinya akan bersatu.


*


*


*


Beberapa minggu ini setelah Lily melihat papi di rumah sakit dengan anak kecil yang dikatakan beliau adalah cucunya, Lily banyak berpikir dan baru sadar kalau seharusnya ia memiliki surat cerai.


Sungguh hingga pada saat ini ia tidak pernah memegang atau bahkan hanya melihat surat perceraiannya. Identitasnya yang lain juga masih ada di rumah Dion, termasuk motor kesayangannya. Mengapa ia tidak pernah terpikir untuk hal itu? Bagaimana Adnan bisa mengurus segala keperluan perkuliahannya dulu dan magang di rumah sakit tanpa identitas? Apakah Adnan sudah mengambilnya ke sana?

__ADS_1


Ingin menanyakan langsung pada Adnan, namun diurungkan. Kalau pun Adnan sudah mengambil semua barang-barangnya, Lily merasa dirinya perlu bertemu dengan Dion. Ia merasa harus berpisah dengan baik-baik tanpa ada benci atau sakit hati karena dulu mereka dinikahkan dengan baik-baik juga meski dijodohkan. Seperti pesan papa dalam mimpinya dulu, Lily akan mencoba memulai hidupnya dengan bahagia setelah berdamai dengan Dion, masa lalunya.


Sekian lama tercenung, Lily menarik dan mengembuskan napas berat dan panjang, “aku akan ke sana.”


__ADS_2