
Warna langit mulai menjingga dan matahari sudah mencondong ke barat. Pusat tata surya itu sebentar lagi akan tenggelam ke peraduannya. Pun semilir angin yang berhembus lebih kencang terasa mulai menusuk tulang menandakan hari akan berganti malam.
Papa mengantarkan Lily pulang dengan mobil bak terbuka miliknya.
“Pa, terimakasih udah mengantar Lily. Papa benar nggak mau mampir dulu?” tanya Lily sekali lagi. Mereka sudah tiba di depan gerbang rumah setelah melewati jalan yang panjang dan cukup macet. Papa mengantar Lily sekalian juga untuk mengantar tanaman hias ke rumah pelanggan, kebetulan searah dengan rumah mertua Lily.
“Lain kali saja, Sayang. Pelanggan kita sedang menunggu pesanannya. Papa tidak enak kalau mereka sampai menunggu terlalu lama,” balas papa dengan senyum hangatnya.
“Baiklah. Papa hati-hati.”
Papa senyum. “Kamu juga baik-baik di rumah. Semangat kuliah dan jangan membuat Dion kesal.”
“Siap, Bos.” Memberi hormat.
Papa sedikit tertawa, “kamu ini.” Dan melakukan kesukaannya membelai rambut Lily dengan lembut. “Papa menyayangi kamu.”
“Lily jauh lebih menyayangi Papa.” Melayangkan pelukan. Papa membalas dengan mencium kepala.
“Sudah sana! Nanti pelanggan Papa komplain.”
.....
Lily berjalan dengan bersenandung riang, wajahnya begitu ceria kendatipun belum mandi. Sebelum menapaki tangga menuju teras pintu utama, sayup-sayup terdengar suara orang bercanda dan tertawa dari dalam rumah. Lily bertanya dalam hati siapa gerangan. Edu yang biasanya selalu menyambutnya di depan pintu pun tidak ada.
Dengan hati-hati Lily membawa langkah kakinya sampai pada sumber suara. Ia sungguh terkejut mendapati papi dan mami dan tiga orang lainnya sudah berada di rumah.
“Mami?” ungkapnya sampai semua orang yang sedang bersenda gurau mengalih perhatian padanya.
“Sayang, akhirnya kamu pulang juga.” Mami berdiri dari duduknya dan melambai tangan meminta Lily untuk mendekat. “Sini, Sayang.”
Lily patuh. Berjalan sembari memperhatikan tiga orang baru yang yang belum dikenalnya. Ah, bocah itu dia kenal karena pernah sekali bertemu dan dua orang dewasa itu, yang satu dia yakini adalah Tiara karena mirip dengan Dion dan bule itu pasti suaminya.
Setelah dekat, mami menyambar tubuh Lily dan membawanya ke pelukannya. “Mami kangen sama kamu.” Mendekap erat. “Gimana kabar kamu, Ly?”
Lily balas memeluk, “baik, Mi. Mami dan Papi kapan pulang?”
__ADS_1
“Sekitar setengah jam yang lalu.”
Setelahnya Lily menyapa papi dan mencium punggung tangannya.
“Ara, ini dia Lily. Lily, ini Tiara dan suaminya. Dan itu Ariel.” Mami memperkenalkan.
Lily dengan ciri khasnya tersenyum ramah memperkenalkan diri. Tiara menyambut dengan air muka datar diikuti suaminya yang bernama Kharel yang lebih bersahabat.
“Hai,” sapa Lily pada bocah sekitar umur enam tahunan itu yang tetap duduk sembari memainkan lego-nya, tidak merasa terusik dengan kedatangan Lily.
Anak itu mendongak, mata birunya yang terang menyapu wajah Lily. Benar-benar bule sekali bocah itu.
“Hai aussi. Qui est cette tante?” (Hai juga. Bibi siapa?)
“Maaf. Kakak kurang pandai bahasa perancis,” sesal Lily. “Apa kamu bisa bahasa indonesia?”
“Bisa.”
“Bukan kakak, Ly. Tapi bibi,” ralat papi.
“Philippe Gabriel. Tapi orang-orang suka memanggilku Ariel. Setelah aku berumur lima tahun, sebenarnya aku mau protes karena nggak mau dipanggil begitu. Tapi, sudahlah. Bibi juga bisa memanggilku begitu,” ujarnya dengan logat kebarat-baratan.
Lily tertarik. Anak ini suka banyak bicara. Dan, gaya bicaranya itu lho, bikin Lily tambah gemas.
“Memangnya kenapa kamu nggak mau dipanggil begitu?” lanjutnya lagi bertanya karena ingin mengakrabkan diri. Sementara dua pasangan suami istri itu menyimak. Yang paling bahagia di sini adalah mami.
“Nama itu juga nama seseorang yang tinggal di lingkungan kami di Prancis. Orang itu penjahat. Pernah suatu kali saat aku dan Bimbo jalan-jalan, polisi datang dan berkata begini, ‘He petit frere, pourquoi traines-tu? Tu ne sais pas qu'Ariel est tres dangereux? Faites vite chez vous!’” (Anak kecil, mengapa kau berkeliaran? Tidakkah kau tahu kalau orang yang bernama Ariel itu berbahaya? Cepat pulang!)
Kecuali Lily dan Ariel, dua pasangan itu tertawa. Lily yang tidak mengerti hanya mampu mengulum senyum. Ia tersenyum karena merasa lucu melihat ekspresi Ariel yang terlihat dongkol.
“Mm, menurut Bibi, nggak semua yang bernama Ariel orang jahat. Contohnya kamu, kamu bukan orang yang begitu, kan?”
Percakapan mereka pun berujung panjang hingga tercipta keakraban antara Lily dan bocah itu. Sampai akhirnya papi dan mami pamit ke kamar, ingin istirahat dulu sebentar sebelum makan malam, begitupun dengan Kharel yang mendapat panggilan telepon. Meninggalkan Lily, Tiara dan Ariel.
“Oh, ya. Kamu umur berapa?” Tiara membuka obrolan.
__ADS_1
“18 tahun, Mbak.”
Tiara manggut-manggut, “masih sangat muda. Hati kamu sangat besar mau menerima pernikahan ini. Jujur aku salut sama kamu.”
Lily menunduk saja. Sementara Ariel sudah fokus bermain game di ponsel pintar milik Tiara.
“Kamu tahu kenapa kalian dinikahkan?” tanya Tiara lagi.
Lily menjawab sesuai yang ia tahu, menikah karena dijodohkan. Sumpah ia begitu tegang diinterogasi oleh Tiara. Wanita itu bertanya dengan air muka datar. Tidak jauh beda dengan sifat Dion di awal pertemuan dulu.
“Bukan hanya itu saja. Mami dan papi menikahkan kalian agar segera memiliki cucu. Kamu tahu maksudku, kan?”
Lily mengangguk, ia paham betul arah pembicaraan Tiara.
“Aku sebenarnya kurang setuju kalian menikah.” Lily membeliak. Tidak habis pikir Tiara akan berani berucap begitu.
“Kamu masih terlalu muda untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Karena saat aku seumur kamu, yang aku lakukan adalah berkumpul dengan teman-teman dan belajar. Jadi aku tahu persis bagaimana perasaan di usia kamu ini,” tambah Tiara mantap.
“Tapi aku udah ikhlas, Mbak, untuk menerima pernikahan ini.” Membalas tatapan Tiara. Namun beberapa saat kemudian ia tertunduk lagi. Tatapan Tiara begitu mengintimidasi.
“Apa itu artinya kamu sudah memiliki perasaan pada adikku?”
Lily bergeming, tidak tahu harus menjawab apa.
“Kamu sendiri tidak tahu. Dan apakah Dion sudah memiliki perasaan padamu?”
Lily berpikir dalam diam. Tiara ini terlalu ikut campur masalah perasaan dan rumah tangganya.
Seperti tahu apa yang dipikirkan Lily, Tiara berucap, “tidak ada yang tersembunyi antara aku dan Dion. Sebelum dan selang beberapa hari pernikahan kalian terjadi, Dion selalu bercerita dan memintaiku bantuan untuk membatalkan dan mengakhiri pernikahannya. Tapi aku bisa apa, kehendak mami dan papi tidak bisa diubah oleh siapapun termasuk kami anaknya.”
Benarkah begitu? Segitu besarkah ketidakinginan Dion hidup bersamanya? Bahkan setelah mereka menikah, Dion menginginkan perpisahan? Lantas perubahan sikap yang sedikit melembut dan manis beberapa hari ini artinya apa?
“Pernikahan kalian sudah terjadi. Semoga saja rumah tangga kalian yang tanpa pondasi cinta itu bisa bertahan lama sesuai keinginan orangtua kita.”
Lily membawa tubuhnya yang lunglai naik ke atas setelah deru mesin mobil Dion terdengar dari luar. Ia ingin menghindari pria itu dulu. Menenangkan hati sejenak dengan menjauhkan diri walau sesaat.
__ADS_1