Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Axel Pacarku!


__ADS_3

Hari demi hari dilalui Lily setengah semangat dari biasanya. Keceriaannya pun tidak full. Benarkah penyebabnya karena ditinggal sebulan oleh Dion? Noel saja, kakak kelas yang menjabat sebagai ketua osis dulu yang ditaksirnya, pergi jauh melanjutkan study tidak sampai membuat Lily uring-uringan begini.


Setiap hari memang dia ke toko bunga, tapi tetap saja keindahan dan wewangian bunga tidak mampu menghiburnya.


“Bu Sinta, Lily ke kebun belakang saja ya. Toko kelihatannya sepi.” Bu Sinta hanya mengangguk mengiyakan.


Lily menyeret tubuh malasnya ke belakang toko dengan tangan yang berisikan laptop dan hp. Papa dan Pak Seto seperti biasa pergi ke rumah pelanggan tetap mengantarkan tanaman hias atau menjadi ahli tanaman dadakan bagi pelanggan yang memiliki masalah di taman rumahnya. Begitulah kesibukan dua paruh baya itu setiap hari.


Menonton drakor sepertinya adalah pilihan terbaik mengisi waktu dan mengusir jenuh. Sudah ada kudapan dan jus buah yang menemani di kursi bambu panjang di kebun belakang. Earphone sudah menempel di telinga. Film pun dimulai.


“Kayaknya seru, lanjut,” ujarnya pada diri sendiri selepas episode pertama selesai. Memasukkan kudapan ke mulut, mata tetap fokus pada layar laptop yang dipangkunya.


Di tengah keseruan menonton, hp di sampingnya berbunyi dan bergetar, pertanda panggilan masuk. Karena kursinya terbuat dari bambu, langsung bisa dirasakan getaran hp itu. Luna memanggil. Drakorpun dihentikan sementara.


“Iya, Lun. Kenapa?”


Mendengarkan.


“Oh, jadi kamu dan orangtua kamu mau ke kampung.”


Mendengarkan lagi.


“Iya, nggak papa kok. Hati-hati di jalan ya. Semoga kakek kamu cepet sembuh.”


Telepon pun berakhir. Sejenak ada rasa kecewa dalam benaknya. Namun cepat-cepat menyadarkan diri kalau Luna bukanlah sahabat yang bisa dimiliki seutuhnya. Luna juga punya kehidupan dan urusan pribadi sendiri. Melanjutkan kembali menonton drama asal negeri ginseng yang sempat terhenti.


Episode kedua dan ketiga sudah selesai di tonton. Kini yang keemat. Baru saja lima detik menonton, hpnya bergetar lagi. Sama, ada panggilan masuk.


“Iya, Xel. Ada apa?” tanyanya malas setelah menggeser ikon hijau ponselnya. “Belum. Bulan depan baru diumumkan.” Diam mendengarkan ucapan orang di seberang telepon.


“Kalau kamu nggak percaya tanya aja langsung guru BP,” tukas Lily dan mematikan sambungan telepon.


Baru saja mengklik tanda lanjut laptopnya, hp bersuara lagi. Axel menelepon lagi.


Huh si Axel benar-benar ... .


Lily menyentuh ikon speaker hp tanpa mengangkat benda itu, dan menjawab kembali panggilan. Laptop kali ini tidak dipause.


“Iya, Axel. Apa lagi? mau nanya apa lagi?” Jengkel.


“Lily sayang, aku mencintai kamu!”


Tertegun, “Axeeel!” Lily mengedarkan pandangannya ke pintu belakang toko. Takut bila-bila papa atau siapapun mendengar ucapan Axel yang menggelegar itu. Lily menyambar ponselnya yang terletak di samping tubuhnya, dan langsung menonaktifkan speaker.


“Xel, kamu ini apaan sih?” Untung tidak ada orang yang dengar.

__ADS_1


Yang di seberang terdengar terkekeh. “Ly, kamu ingat pesan aku kan. Jaga hati kamu hanya untukku.”


“Xel, udah dulu ya. Papa manggil aku, dah.” Memutuskan panggilan.


Huf, ini nggak bisa dibiarkan terus. Aku harus secepatnya jujur dan terus terang pada Axel. Maafkan aku, Xel ... .


Lily menyedot jusnya sampai tandas. Pemain drakor di laptopnya terus berakting tanpa ditonton olehnya. Pikirannya bekerja keras untuk menemukan cara menjelaskan semua pada Axel. Kalau Axel tahu dari orang lain, tidak bisa dibayangkan seberapa kecewanya Axel.


Hp bunyi lagi.


Axeel! Bergumam geram.


Tanpa melihat tulisan di layar hp, menjawab cepat, “Axel, kamu jangan gini dong! Baiklah, lebih baik kita ketemuan saja, ya?”


“Siapa Axel?”


“Siapa Axel. Ya kamu lah.”


Tunggu dulu, kenapa suara Axel berubah?


Lily melihat layar hp untuk memastikan siapa lawan bicaranya. Nomor tidak dikenal namun tertera foto disana.


Dia!


Yang awalnya panggilan suara berubah jadi panggilan video. Rasanya ingin saja mengabaikan hp itu tapi tidak mungkin. Sudah terlanjur diangkat tadi. Akhirnya dijawablah panggilan video itu.


Lily membuang muka. Tanpa ekspresi.


“Siapa itu Axel?” tanya Dion penasaran, karena Lily mengajak ketemuan dengan laki-laki yang bernama Axel.


“Bukan siapa-siapa. Dia t—,” berpikir sejenak. Ada seringai tipis di bibirnya, “dia pacarku.”


“Berani sekali kamu memproklamirkan pacarmu di depanku.” Dion geram.


“Biarkan saja.”


Kau saja bahkan sedang berduaan dengan kekasihmu. Apa aku lanjutkan saja berpacaran dengan Axel untuk membalasnya, ya? tidak, tidak. Itu kekanakan. Dan aku juga nggak mau lagi mempermainkan perasaan Axel.


“Kau...,” Dion menahan amarahnya, menarik napas, sadar kalau istrinya masih remaja. “Sebaiknya kau sudahi hubunganmu dengannya. Kau sekarang adalah gadis yang menikah.” Intonasi suara sudah merendah, namun masih terdengar jelas kekesalannya.


“Lalu, apa kau sadar kalau kau juga sudah menikah,” tukas Lily tajam dan melirik Dion dengan sudut matanya, marah.


“Kau ini kenapa?”


“Kau yang kenapa? kenapa pergi nggak bilang-bilang!” Tersenyum getir, “ya, ya. Tentu saja nggak penting untuk memberitahu aku. Aku kan bukan orang penting bagimu yang harus selalu tahu ke mana dan apa yang kau lakukan.” Lily berusaha menahan air matanya yang mau tumpah.

__ADS_1


Dion di belahan bumi sana terheran-heran mendengar kecerewetan Lily. “Kau ini ngomong apa? maaf kalau aku pergi tidak pamit. Karena saat itu kau pergi terburu-buru, dan aku lupa untuk berpamitan.”


Lily tidak luluh, yang dia bayangkan sekarang Dion sedang berduaan dengan kekasihnya.


“Setelah kau kembali, lebih baik kita segera bercerai.” Air mata tidak sanggup untuk dibendung lagi.


Bodoh! kenapa air mata ini harus datang.


Lily menjauhkan wajahnya dari pandangan Dion, dan menyapu air matanya dengan jari-jarinya sampai benar-benar kering.


Dion tercengang mendengar kalimat itu. Setelah wajah Lily terlihat lagi di layar ponsel, dia menyuarakan isi kepalanya. “Sebenarnya ada apa denganmu? Apa karena laki-laki itu?” Dion di sana juga tersulut emosi.


“Kau jangan lempar batu sembunyi tangan. Jangan bawa-bawa Axel dalam hal ini. Dia pria baik, tidak sepertimu.”


Membanggakan orang yang tidak dicintai, rasanya bagaimana ya?


“Beraninya kau mengatakan itu.”


Dion terdiam memikirkan ucapan Lily.


Kesalahan apa yang kulakukan sampai dia marah? apa karena pergi dan tidak pamit? harusnya aku yang lebih marah karena dia berani pacaran dan terus terang padaku.


“Sudah kukatakan, aku minta maaf karena tidak berpamitan.”


Lily tetap acuh dan memalingkan wajahnya.


“Pak, sarapannya sudah siap. Apa mau sekarang sarapannya?” Mendengar suara itu, Lily menatap kembali layar hp. Di sana terlihat Fasa berdiri di belakang Dion.


“Iya, sebentar lagi aku datang.”


Fasa pun berlalu.


“Apa hanya kalian berdua di sana?” Lily memberanikan diri bertanya.


“Iya.” Singkat menjawab.


“Apa tidak ada wanita?” Menggigit bibir, takut mendengar jawaban berikutnya.


“Kenapa harus ada wanita di sini?” Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


“Apa tidak ada wanita dari sini yang ikut bersama kalian?” Lily tambah berani bertanya lebih dalam walau dengan suara pelan.


“Apa kau sedang mencurigaiku?”


“Tidak, tidak.” Gugup. “Kalau begitu cepatlah sarapan. Aku matikan dulu teleponnya, bye.” Cepat-cepat mematikan sambungan. Lalu menyentuh dadanya yang berdebar. Dia tidak tahu kalau di sana Dion tersenyum mengingat kegugupannya.

__ADS_1


Di belahan bumi sana. “Akan kucari tahu sendiri siapa itu Axel.”


Bersambung dulu.....


__ADS_2