
“Mas, kita ke mana?”
Dion melirik sekilas kemudian fokus kembali pada kemudinya. “Tentu saja pulang. Memang mau ke mana lagi.” Sedari tadi Lily tidak membuang pandangan dari wajah suaminya itu—yang kata hatinya semakin hari semakin tampan. “Kenapa melihatiku? Aku tampan?”
Lily melengos. Namun akhirnya ia menarik kedua ujung bibirnya membuat senyuman sembari geleng-geleng kepala. Biarlah Dion berbicara sesuka hatinya. Toh itu adalah fakta.
“Mas, apa habis ngantar aku, Mas balik lagi ke kantor?” Ia tetap tidak memutus pandangan dari wajah lelaki itu. Tetap tampan meski hanya sebelah wajah yang nampak.
“Memangnya kenapa?”
“Emmm, itu, aku ingin ke laut.” Lily bisa melihat dahi Dion berkerut meski pria itu tidak menoleh padanya.
“Laut? Mau apa kamu ke laut? Mau membuat laporan observasi lagi?”
“Nggak, Mas. Ini nggak ada hubungannya sama tugas kuliah. Udah beberapa hari ini aku ingin melihat laut. Aku juga ingin mencium aroma laut,” ujar Lily terus terang dan penuh kehati-hatian. Selama hidup bersama Dion, ia belum pernah mengutarakan keinginan aneh begini.
Dion memilih jalur kiri dan mengurangi kecepatan kemudinya. Kemudian ia menoleh dan melihat wajah Lily. Kedua iris mata gadis itu penuh dengan binar-binar harapan. Pria itu tidak menjawab, ia fokus lagi ke depan sambil menghela napas.
“Kalau misalnya Mas Dion nggak bisa, aku mengajak Kak Uni saja.”
Dion belum menjawab. Ia sejenak membaca jarum jam di pergelangan tangannya, melihat kaca spion lalu memilih jalur kanan setelah dipastikan tidak ada kendaraan lain di belakang. Kemudian ia memutar balik kendaraannya.
Apa gunanya dia sebagai suami kalau permintaan kecil istri saja tidak bisa ia wujudkan?
***
“Lily, bangun! Kita sudah sampai.” Rupanya gadis itu tertidur. Perjalanan yang tak kunjung tiba membuatnya bosan dan akhirnya terlelap. Dosen killer tadi juga sudah menguras seluruh tenaga sehingga ia merasa lelah dan tidak perlu waktu lama untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Lily merasa tubuhnya diguncang. Ia mengerutkan kening lalu mengangkat kedua tangannya untuk menghalau sinar mentari yang mengenai wajah manisnya. Setelahnya ia mencoba membuka mata.
“Kau yang mengajak ke sini, tapi kau malah tidur.”
Kesadaran gadis itu belum berkumpul. Ia mengucek-ngucek matanya yang terasa menempel tidak mau dibuka.
__ADS_1
“Ayo turun!” Masih suara Dion yang terdengar dibarengi dengan deburan ombak berkali-kali yang menghantam karang atau apapun itu yang ada disekitarnya.
Lily mengerjap. “Di mana ini?” Ia melihat Dion menjauh dari mobil dan sedang menelepon. Lalu ia memalingkan muka ke kiri. “Laut!” Gadis itu memekik senang.
Setelah keluar dari mobil, Lily berlari menemui tepian laut. Bukan, ia berlari di atas tembok rendah yang memanjang di tepi pantai yang menjorok ke laut. Ya, Dion membawa gadis itu ke sebuah dermaga yang ada di utara kota. Tempat berlabuhnya kapal-kapal untuk memuat atau membongkar barang. Namun tidak ada aktivitas yang berarti di dermaga itu saat ini, selain hilir mudik beberapa orang. Jadi keberadaan Lily tidak mengganggu mereka.
Angin yang berhembus berhasil mengibarkan kerah kemeja dan rambutnya ke segala arah. Berulang kali ia mengambil napas dan mengeluarkannya sembari merentangkan tangan dan memejamkan mata, merasai setiap terpaan angin yang menyentuh tubuhnya.
“Memangnya kamu belum pernah melihat laut selain waktu di Bali?” tanya Dion dengan suara keras.
Lily membuka mata dan berpaling. Sudah ada Dion di sampingnya sedang menatapnya lekat. Gadis itu menurunkan tangannya. “Pernah kok, Mas. Udah tiga atau empat kali mungkin dengan teman-teman sekolah dulu.” Lily turut mengeraskan volume suaranya agar tidak tertelan oleh deburan ombak yang berlomba-lomba menerjang tepian.
“Sudah pernah tapi seperti tidak pernah.” Dion memicingkan mata tidak percaya.
“Emangnya kalau udah pernah ke laut dilarang datang ke laut lagi, gitu.” Kembali Lily menghadap ke lautan lepas dan menarik napas dalam. “Aroma laut ini sungguh menenangkan pikiran.”
Dion diam namun mengikuti yang diperbuat Lily, menikmati angin laut yang memiliki aroma khas. Sampai akhirnya Lily mengajak pergi meninggalkan tempat itu. “Udah yuk, Mas, kita pergi. Aku lapar juga haus.” Muka gadis itu nampak lesu.
“Udah? Bukannya tadi kamu semangat sekali untuk ke sini? Kenapa sekarang jadi ingin cepat pergi?” Dion bingung dibuatnya.
“Ya, sudah kalau gitu. Ayo!” Sebelum Dion pergi, Lily menyambar tangannya dan bergelayut di sana.
“Eh, Mas. Itu apa, ya?” Lily menunjuk suatu pagar yang ada banyak gembok berjajar rapi di sana, tidak jauh dari tempat mereka sekarang. Pagar itu menjadi pembatas antara pantai dan daratan. “Ayo, Mas, kita ke sana!” Tanpa menunggu Dion menjawab, Lily langsung menarik tangan suaminya itu membuat Dion tak berdaya dan terpaksa mengikut.
“Mas dan Mbak-nya mau menyematkan gembok cinta juga?” tanya seseorang saat mereka baru saja tiba di sana.
“Gembok cinta?” Lily tampak berpikir. “Terakhir aku ke sini, sepertinya tempat ini belum ada,” gumamnya sembari mengingat-ingat terakhir dia datang kesitu.
“Tempat ini memang baru dibuka beberapa bulan, Mbak,” ujar orang tadi menjawab rasa penasaran Lily yang ternyata adalah penjual gembok. Mungkin karena destinasi wisata ini masih baru atau karena hari ini bukan hari libur jadi pengunjungnya sepi.
“Oh, gitu, ya, Bu,” balas Lily tak kalah ramah dengan si Ibu Penjual Gembok. “Mas, kita juga pasang gembok cintanya, yuk.”
“Katanya kamu mau makan. Kenapa jadi ingin main gembok-gembokan?”
__ADS_1
“Cuma sebentar, Mas. Biar kita ada kenang-kenangan di sini.”
Lily mengambil gembok yang dijajakan ibu itu. Kemudian menuliskan nama dengan semangat sesuai petunjuk si ibu. Dion dibuat tercengang. Katanya gadis itu sudah tidak punya tenaga lagi. Tapi ini?
“Mas, ayo, Mas juga harus tulis nama biar langsung digantungkan. Habis itu kita foto. Eh, tapi fotonya pake hp Mas, ya. Tasku ketinggalan di mobil.”
***
Di kafe papa.
“Jadi gimana, kamu tertarik?”
“Boleh, Om.”
“Mulai kapan kamu sudah bisa datang ke sini?”
“Kapan saja saya siap, Om.”
“Baiklah. Saya akan menghubungi kamu lagi kalau ruang dan alat musiknya sudah siap.”
Rupanya papa dan Uni sedang melakukan kesepakatan kerjasama. Lily yang memberi ide membuat musik live di kafe. Tentu ini disambut baik oleh papa juga Uni. Sebelumnya Uni sudah pernah datang ke toko bunga atas ajakan Lily. Dan disitulah ide itu muncul.
“Terima kasih, Om.”
“Saya yang terima kasih karena kamu mau menghidupkan kafe kami yang tidak seberapa ini dengan skill musik luar biasa kamu.”
Ditengah percakapan hangat mereka, seseorang datang menghampiri.
“Papa.” Mereka berdua menoleh. Dan alangkah terkejutnya papa mengetahui siapa yang datang.
.
.
__ADS_1
.