
Dion menunggu Lily keluar dari kamar mandi sembari memainkan posel. Ada beberapa pesan masuk dan salah satunya tertera nama ‘Mbak Ara’. Dion mengernyit penasaran akan isi pesan dari mbak-nya itu. Dilihatnya waktu pengiriman dan itu tadi malam.
[ Oncle, ini keponakanmu. Tolong kirimkan no hp bibi, ada yang mau kutanyakan. Kalau tidak, berikan sebentar hp paman pada bibi ]
[ Paman sudah memberi hp paman pada bibi, ‘kan? ]
[ Paman! ]
[ Pamaaann!!! ]
[ Paman, aku hanya mau bertanya pada bibi apakah bibi sudah menyampaikan permintaanku pada paman tentang keinginanku mempunyai adik kecil atau belum ]
[ PAMAN DION!! ]
[ Paman sudah tidur, ya? Baiklah, besok aku sendiri yang akan menanyakannya. Selamat malam paman, selamat tidur ]
Ariel mengirimi Dion pesan menggunakan bahasa prancis, kira-kira seperti di atas terjemahannya.
Dion membaca pesan itu sambil senyum-senyum hingga menampakkan deretan giginya. Ternyata ini yang ingin disampaikan istrinya tadi malam. Dan yang membuat pria itu semakin melebarkan senyum adalah, mereka sudah sukses mencoba membuat adik untuk Ariel. Dion merasakan rasa bahagia menyelinap masuk ke rongga dadanya.
Derik pintu kamar mandi terdengar. Lily dengan malu-malu menjulurkan kepalanya keluar tanpa membuka pintu itu dengan sempurna. “Sudah, Mas.” Kemudian ia menarik diri setelahnya dan berjalan menuju ruang pakaian. Masih terlalu malu untuk bertatapan lama dengan suaminya itu.
Di ruang baju Lily memandangi tubuhnya yang belum dipakaikan baju. Ada banyak tanda merah di setiap inci tubuhnya. Pipi gadis itu kembali merona mengingat kejadian semalam. Dion menjamah tubuhnya begitu lembut sampai bisa mengenai relung hatinya. Untuk pertama kalinya ia tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata bagaimana bahagianya ia saat ini.
***
“Mas, apa masih terlihat?” Lily mengangkat kerah kemejanya lagi. Ia memutuskan memakai baju berkerah untuk menutup kulit leher yang ada tanda merah ciptaan Dion itu. Sebenarnya ia ragu untuk ikut sarapan bersama. Namun alasan apa yang harus ia berikan, sedangkan anggota keluarga ini tidak boleh ada yang melewatkan makan bersama selagi mereka ada di rumah.
Dion yang sedang memasang dasi mengalihkan pandangan pada gadis itu, “tidak. Tapi sebaiknya rambutmu digerai saja, biar tertutupi,” usulnya.
Lily mengangguk mengiyakan dan melepas ikatan rambutnya kemudian merapikannya di depan cermin raksasa. Merasa sudah rapi, Lily melirik Dion melalui pantulan cermin. Pria itu berdiri di belakang masih dengan urusan dasi yang hampir selesai.
Lily berbalik dan melangkah mendekat. “Mas belum selesai?”
“Sebentar lagi,” jawabnya tanpa melihat. Kemudian Dion mengambil tie clip dan menjepitkannya dengan asal lalu meraih jam tangan dan memakainya. “Ayo!”
“Tunggu, Mas! Ini kurang rapi.” Lily segera memperbaiki dasi dan juga tie clip yang miring dengan berjinjit. Setelah beres ia melihat kancing lengan kemeja Dion yang belum dikancing. “Ini juga belum dikancing.” Ia menyambar tangan Dion dan segera mengancingkannya.
__ADS_1
“Maaf, Mas. Selama ini aku nggak pernah bantu menyiapkan keperluan Mas,” sesal Lily. Wajahnya berubah sayu.
Dion terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka Lily akan berkata begitu. Toh selama ini dia juga tidak menuntut Lily untuk menyiapkan segala kebutuhannya.
“Tidak papa.”
Namun tetap saja hati Lily tersentil karena selama ini ia tidak mau membagi perhatiannya pada Dion, sekedar mengingatnya saja tidak. Ia sadar ia belum menjadi istri yang baik saat ini. Kemudian kakinya bergerak dan mengambil jas yang diletakkan Dion di sandaran sofa. Dan lagi Lily membantu Dion memakaikannya dengan sedikit rasa gugup karena belum terbiasa.
“Terima kasih,” ungkap Dion setelah jas biru navy itu melekat di tubuhnya. Ia mengembangkan senyumnya agar istrinya itu tidak lagi merasa bersalah. Namun tetap saja mata Lily menunjukkan penyesalan.
“Ayo! Ariel dan yang lainnya pasti sudah menunggu,” ajak Dion agar Lily berhenti merasa bersalah.
“Mas, mulai besok aku janji akan membantu Mas Dion menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan.”
***
“Kalian lama sekali. Ariel sampai sarapan duluan karena kalian terlalu lama,” celoteh mami yang sebetulnya beliau juga akan memulai sarapannya. Terlihat dia sudah selesai mengolesi rotinya dengan selai kacang kesukaannya. “Tumben sekali kalian lama,” selidik mami.
“Mm ... Dion kesiangan bangun, Mi.” Dion yang menjawab. Sedangkan Lily diam tertunduk menahan malu dan mengolesi rotinya dengan selai lalu memakannya. Ingin sekali sarapan ini berakhir sekarang juga walau perutnya sangat lapar. Tidak ingin diinterogasi lebih jauh lagi.
Papi mengerutkan kening berikut dengan alisnya, “tadi malam kita tidak sampai larut membahas proyek yang ada di Bali dan setelahnya langsung tidur.” Memperhatikan Dion dengan seksama, “bukankah pagi ini jadwal kamu rapat dengan dewan direksi?”
“Tidak biasanya sekali kamu bangun kesiangan.”
Dion tidak lagi menimpali. Ia mengambil nasi goreng sebagai sarapannya. Sedang Lily sudah hampir selesai memakan rotinya. Gadis itu memang ahli dalam makan memakan, cepat luar biasa. Selanjutnya ia meminum susunya.
“Lily, memangnya kamu tidak membangunkan Dion?” Tiara yang sudah selesai sarapan terlebih dulu membuka suara setelah melihat Lily menandaskan susunya.
“Mm ... maaf, Mbak.” Kembali menunduk dengan wajah menyesal.
“Sebagai istri, kita wajib memperhatikan suami mulai dari hal kecil seperti membangunkannya, menyiapkan pakaian, dan-” Tiara melirik piring Dion, “juga melayani saat makan.” Kembali lagi fokus pada Lily. “Kami sudah berhari-hari di sini tapi saya belum pernah lihat kamu melayani Dion.”
Lily semakin tertunduk dalam. Apa yang diucapkan Tiara adalah kebenaran yang belum pernah dilakukannya. Ia benar-benar istri yang tidak berguna.
“Sudahlah, Mbak. Jangan mempermasalahkan itu. Aku yang salah karena tidak bisa tidur semalam dan akhirnya lama bangun.” Tentu Dion harus mencari alasan agar masalah ‘bangun kesiangannya’ segera berakhir.
“Tapi setidaknya Lily membangunkanmu.”
__ADS_1
“Iya, Mommy. Jangan memarahi Bibi Belle. Paman yang tidak bisa tidur.” Semua orang mengarahkan pandangan pada anak kecil itu, termasuk Dion. Manik mata Dion sudah mewanti-wantinya agar tidak bicara sembarangan. Namun sepertinya anak itu tidak mau mengindahkan.
“Darimana kamu tahu Paman Dion tidak bisa tidur?” tanya Tiara.
“Iya, darimana kamu tahu kalau pamanmu tidak bisa tidur?” Mami ikut bertanya.
Dion merasa was-was dengan jawaban apa yang akan diberikan keponakannya itu. Sampai ia tidak berselera lagi melanjutkan sarapannya.
“Tadi paman bilang padaku kalau tadi malam punggung paman gatal. Lalu paman meminta bibi untuk menggaruknya.” Semuanya masih setia untuk mendengar kelanjutan cerita Ariel. Lily, gadis itu bertanya dalam hati kapan Dion bertemu dengan Ariel. Dan tidak ada sama sekali memori di kepalanya tentang permintaan Dion menggaruk punggung.
“Bibi Belle menggaruk punggung paman dengan keras sampai berdarah, sampai mengenai sprei–”
“Ariel.” Dion mencoba menghentikan Ariel.
“Tidak apa-apa, Paman. Aku hanya ingin meluruskan salah paham ini.”
“Sampai berdarah?” tanya mami tidak percaya begitupun dengan yang lainnya. Mereka memandangi Dion dan Lily bergantian.
“Jangan didengar, Mi. Ariel hanya mengada-ngada.”
“Aku tidak mengada-ngada. Aku lihat sendiri sprei-nya ada darah. Punggung paman juga luka. Kalau tidak percaya, Mommy dan Grandma bisa lihat sendiri.”
Lily bingung. Dion sama sekali tidak memintanya menggaruk punggung. Tapi tentang sprei berdarah?
Seketika wajah Lily memanas. Tentu akan ada bercak di sana. Mungkinkah Ariel datang ke kamar saat ia ada di kamar mandi?
“Lily, apa benar kamu menggaruk punggung Dion sampai berdarah?”
Lily mengangkat wajah. “Ng-nggak, Mi. Lily nggak melakukannya,” lirih gadis itu diikuti dengan gelengan kepala beberapa kali. Tidak sadar kerah bajunya ikut bergeser dan menampakkan yang telah susah payah dia sembunyikan. Mami yang duduk di depannya melihat itu.
“Leher kamu kenapa? Kenapa me–” Mami tidak melanjutkan lagi. Ia malah tertawa kegirangan menatap Dion dan Lily. Dion dan Lily tertunduk sangat malu, yang lainnya masih dalam bingung.
“Mi, ada apa?”
“Nanti akan Mami beritahu.” Tawa mami belum surut, “Lily, sebaiknya kamu tidak usah kuliah dulu hari ini.”
.......................................
__ADS_1
BERSAMBUNG