Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Rencana Jahat


__ADS_3

Beberapa hari kemudian setelah malam itu, Dion tidak akan bisa terlelap kalau belum mengajak lembur istrinya. Pernah satu kali mereka tidak melakukannya karena Lily punya banyak tugas dan belajar hingga larut. Dan pada akhirnya Dion yang tersiksa dan tidak bisa tidur sampai matahari terbit keesokan harinya.


Dion kini memilih menghabiskan banyak waktu di rumah. Ia dengan suka hati mau menemani Lily belajar agar cepat selesai dan keinginannya bisa ia dapatkan. Meski ia sendiri jadi lembur mengerjakan tugas kantornya yang menumpuk atau dengan sengaja ia akan melimpahkannya pada Fasa.


Keinginan untuk selalu berdekatan dengan Lily ia rasakan akhir-akhir ini. Pada hubungan sebelumnya Dion belum pernah merasakan cinta sebesar ini. Cinta? Dion tidak mau mengakuinya. Cinta tidak perlu diutarakan berkali-kali seperti hubungannya dengan wanita sebelumnya, yang akhirnya berujung kandas. Lebih baik menunjukkan rasa cinta melalui perbuatan dan sikap ketimbang menyatakannya berulang-ulang, begitu pikirnya.


Pagi ini, pria itu sedang duduk melamun di meja kerjanya sembari memandangi foto wajah Lily di layar ponsel. Foto saat mereka ada di Bali. Ia sungguh merindukan istrinya padahal baru beberapa menit yang lalu ia mengantarkan Lily ke kampus. Apalagi bau tubuh istrinya, ia sungguh ingin mencium aroma tubuh istrinya yang katanya seperti wangi bunga lily.


“Pak.” Suara Fasa menginterupsi imajinasi Dion yang sudah melayang-layang.


Jantung pria itu sedikit berpacu lebih cepat dari normal karena terkejut. “Apa?” Dion bertanya dengan air muka tidak suka membuat Fasa merasa takut. Fasa merasa akhir-akhir ini bosnya itu lebih sensitif dan cepat marah.


“Anda sudah ditunggu di ruang rapat.” Fasa takut-takut menjawab. Ia menunduk tidak berani melihat Dion lebih lama yang seperti ingin membakarnya.


Fasa mendengar Dion mendengus. Ini sudah lebih sepuluh menit dari jadwal rapat. Biasanya tanpa diingatkan Dion sudah tahu agendanya dan tidak pernah terlambat seperti sekarang ini.


Dion berdiri. Sebelum berjalan ia meraih ponselnya yang sempat ia taruh di mejanya. Menggulir layarnya. Dan tanpa diduga oleh Fasa, Dion mencium benda pipih itu membuat Fasa terbelalak. Namun detik berikutnya Fasa buang muka, pura-pura tidak melihat hal konyol barusan yang dilakukan Dion.


***


“Kenapa kau lama sekali? Aku sudah 1 jam menunggumu.”


Orang yang ditanyai itu heran. Lily melihat jam tangannya. “Aku pulang memang jam segini, Mas,” bela Lily. “Kenapa Mas Dion beberapa hari ini datang lebih awal? Apa Mas nggak punya kerjaan?”


Dion tidak menggubris. Dia meraih tangan Lily dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.


“Kau naik kendaraan lain,” ucapnya pada Fasa yang berdiri mematung. Ya, karena Dion menuntun Lily masuk ke kursi di samping kemudi, Fasa sudah menduga kalau bosnya ingin berduaan dengan istrinya.


Kalau ingin berduaan kenapa tadi mengajakku ikut? Umpat Fasa dalam hati.


“Mas, Kak Uni gimana? Dia mau ikut ke toko bunga, Mas.” Saking fokusnya pada Lily, Dion baru sadar ternyata ada Uni juga di sana.


“Fasa yang akan bersamanya ke toko bunga.” Dion melirik Fasa sekilas untuk memastikan kalau asistennya itu mendengar perintahnya. Kemudian Dion bersiap untuk melesatkan kendaraannya dari depan gerbang perguruan tinggi itu. Tidak menghiraukan gerutuan Lily yang ingin ke toko bunga bersama Uni.

__ADS_1


“Asisten Fasa, tolong bawa Kak Uni ke toko bunga, ya! Papa sedang menunggunya!” seru Lily sebelum mobil itu ikut merayap di tengah padatnya lalu lintas.


**


“Ayo, silakan naik.” Fasa membukakan pintu taksi yang ia panggil barusan untuk Uni. Banyak taksi dan juga angkot yang berjajar di sana.


“Saya bisa naik kendaraan lain. Anda tinggal sebutkan saja alamat toko bunganya si Lily.”


Baru kali ini ada cewek yang menolak Fasa. Eh, tunggu. Ini cewek atau cowok? Fasa memandangi dari atas sampai bawah dan dari bawah ke atas lagi.


“Saya perempuan.”


Fasa terlonjak. Perempuan di dekatnya ini tahu apa yang sedang ditanyanya dalam hati. Fasa menelan ludah. Perempuan kok tampilannya begini. Tidak ada feminin-femininnya sama sekali.


“Kalau Anda tidak mau memberitahu, saya pergi saja.” Uni bersiap pergi karena tidak terima dilihat sedemikian rupa oleh Fasa.


“Eh, jangan pergi, Nona. Saya bisa dimarahi Pak Dion. Tolong pergilah bersama saya.” Wajah Fasa memelas. Tentu ini akan menjadi bumerang baginya kalau sampai ia membiarkan Uni pergi.


“Mau berangkat atau tidak?” Suara Uni yang tegas membuat Fasa dan juga supir taksi tersentak. Fasa masuk ke dalam mobil sambil mengelus dada.


Sementara di ujung jalan sana, Clara menatap penuh benci atas kepergian orang-orang yang sedari tadi ia intai. Ia tidak punya kesempatan untuk bertemu dengan Lily secara empat mata karena Dion sudah terlebih dulu datang dan menunggu. Kemarin dan kemarinnya lagi pun Dion datang sangat awal untuk menjemput.


“Apa gadis itu memberitahu Dion kalau aku mencekiknya?” gumam Clara dengan perasaan takut.


Wanita cantik tapi hatinya tidak itu bahkan rela melalaikan pesanan konsumennya. Yang ia pikirkan saat ini, bagaimana cara agar ia bisa bersatu lagi dengan Dion. Tapi kalau benar Lily mengadukan perbuatannya pada Dion ....


“Aarggh.”


Clara memukul-mukul stir mobil Mini Cooper-nya sebagai pelampiasan amarah. Ya, ia juga sampai mengganti mobilnya agar Dion tidak mengenali. Apapun caranya akan ia lakukan demi bisa kembali bersama pria yang ia cintai itu.


Clara menghidupkan mesin mobilnya dan mengikuti dari belakang. Tidak lupa ia menggunakan masker agar tidak dikenali.


***

__ADS_1


Mobil yang Clara kendarai berhenti beberapa meter dari taksi yang ditumpangi Fasa dan Uni. Mereka sudah tiba di tujuan, yakni toko bunga. Clara memindai sekeliling namun tidak ada mobil Dion di sana. Wanita itu mengutuki kebodohannya, mengapa dia malah mengikuti Fasa bukan sasaran utamanya.


Clara turun tak lupa memakai kacamata hitam. Ia mengendap-endap dan sekali lagi mencari-cari keberadaan Dion dan Lily dengan indra penglihatannya, barangkali orang yang dicarinya itu berada diantara kerumunan orang yang sedang mengantri membeli bunga. Hasilnya sama, kedua orang itu tidak ada di sana.


Clara berdecak. Kembali ia memaki kebodohannya. Kalaupun kedua orang yang dicarinya itu ada di sana, lantas apa yang akan dia perbuat. Memohon-mohon atau meronta-ronta pada Dion supaya mau menerimanya kembali? Bukankah cara itu justru mempermalukan dirinya mengingat Dion sudah menikah dan toko ini sedang dipadati banyak orang. Rupanya wanita itu masih memikirkan harga dirinya.


Clara menyandarkan punggung pada badan mobilnya kemudian mengembuskan napas frustasi. Pekerjaannya sudah ia terlantarkan namun usahanya untuk bersama Dion belum juga tercapai.


Lama ia berdiri di sana untuk menemukan ide. Namun tidak ada ide yang melintas di kepalanya. Mungkin lebih baik dia pulang saja dan mencari ide di apartemen.


Sebaik Clara berputar dan ingin membuka pintu mobil, beberapa motor dengan suara knalpot bising berhenti di belakang mobilnya. Clara sampai menutup daun telinganya karena suara knalpot yang memekakan telinga.


“Itu, Bos. Pemilik toko bunga itu yang dulu menghajar dan memenjarakan kami,” ujar seorang dari mereka setelah lebih dulu mematikan mesin motornya. Clara mendengar itu dengan jelas. Ia mengurungkan niatnya untuk pergi dan memasang telinganya dengan baik.


“Badan kalian besar tapi otot dan otak tidak berguna untuk melawan orang-orang seperti mereka.” Clara masih bisa mendengar orang pertama yang berujar tadi mengaduh. Mungkin kepalanya dijitak.


“Orang yang menangkap dan memukuli kami besar-besar dan jago dan menakutkan dan sa....”


“Tidak ada yang lebih jago dari aku, BANG JACK. Hanya aku yang perlu kalian takutkan. Hanya aku yang harus kalian segani. Kalian memang tidak berguna! Kalau aku tidak datang, kalian masih di dalam sel hingga detik ini.”


Selagi orang yang disebut bos itu mengomel pada anak buahnya, Clara datang mendekat.


“Apa kalian punya dendam terhadap pemilik toko bunga itu?”


Semua menoleh, “siapa kau?” tanya sang bos preman.


Clara tersenyum dengan wajah smirk, “aku adalah keuntungan bagi kalian dan kalian adalah keuntungan bagiku.”


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2