Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Dion berjalan tergesa di lorong lantai atas untuk menemukan di mana istrinya berada. Saat ini masih begitu subuh.


Suara teriakan istrinya semakin jelas terdengar menuntut Dion untuk segera mempercepat langkah meski kepala terasa pusing karena kurang tidur. Dion dibuat terperanjat setelah matanya menemukan Lily yang dipegangi dan dikepung oleh beberapa pelayan di bawah sana. Gadis itu menghentak-hentakkan tangannya dengan brutal agar dilepaskan dan terus berteriak.


“Lepaskan aku! Aku bilang lepaskan!”


“Nona, tolong berikan pisau itu!” Wajah mereka panik bukan main melihat Lily yang berontak, yang mencoba mengarahkan benda tajam dan runcing itu pada perutnya.


“Kalian jangan menghalangiku! Kalian nggak tahu bagaimana sakitnya ditinggal orang yang kalian sayang. Aku sudah yatim piatu sekarang. Jadi untuk apa aku hidup.” Derai air matanya luruh seketika. “Katakan, untuk apa lagi aku hidup?” ulangnya lagi. Semua pelayan dibuat tergugu mendengarnya. Mereka bertambah iba dan kasihan menyaksikan Lily yang nekat ingin mengakhiri hidup.


Tidak berapa lama, Dion sudah berada di hadapan Lily dan berhasil memegang tangan kanan gadis itu. Seperti kemarin, ia pun menyingkirkan benda berbahaya itu dari genggaman Lily meski sedikit kesulitan.


“Jangan simpan pisau atau sejenisnya sembarangan. Bila perlu buang saja benda itu semua.” Mereka yang berbaju seragam itu mengangguk-angguk. Maksud dari majikannya itu ialah supaya benda itu tidak mudah didapatkan oleh Lily.


“Lepaskan aku! Lepaskan tanganku!” hardik Lily pada Dion yang tangannya kini sudah beralih digenggaman Dion. Menariknya untuk kembali ke kamar. Sepertinya mami dan papi tidak mendengar keributan ini. Dion bersyukur untuk itu. Sudah sebulan ini orang tua itu juga ikut stress melihat dan memikirkan keadaan Lily yang semakin hari semakin memprihatinkan.


Akhirnya Dion berhasil membawa Lily ke kamar. Dengan bersusah payah harus menggendong gadis yang tidak mau tenang itu supaya cepat sampai.


“Kau jahat! Kau sama saja dengan mereka,” desis Lily sengit setelah tubuhnya diturunkan. “Kalian melarangku untuk mati, sementara papa dan bayiku kalian biarkan dibunuh oleh mereka. Hwa...a...a....” Tangisnya kembali pecah. Lily begitu kacau. Dion ingin meraih Lily dalam dekapannya namun Lily menolak dengan mundur ke belakang.


“Udah kubilang jangan pergi, tapi kau tetap pergi.” Ia memukul-mukul tubuh Dion disertai isak tangis. Tubuh pria itu sampai terguncang tapi ia membiarkannya. “Udah kubilang papa dalam bahaya tapi kau nggak percaya. Hwaaa....” Dion diam membisu. Sudah dijelaskan dulu kalau hatinya pun menentang kepergiannya. Namun takdir sudah berkata. Seandainya memang ada mesin pemutar waktu, ia akan membelinya dengan semua harta yang ia punya.


Pukulan gadis itu terasa semakin kuat di tubuh Dion, namun tetap dibiarkannya. Pukulan ini tidak sebanding dengan kesakitan batin yang dialami Lily, pikirnya. Biarlah gadis itu memukulinya kalau memang itu bisa sedikit meredam sesak di dada. Melihat Dion yang tidak bereaksi Lily tersandar ke tembok dan terduduk lemah di sana.


“Papa....” lirihnya dengan tangis yang kembali menyayat hati. Ia menenggelamkan wajah di antara lututnya. “Kenapa papa membiarkanku sendiri di sini?” gumamnya dengan bibir bergetar.

__ADS_1


“Kau tidak sendiri. Ada aku bersamamu.” Lily mengangkat dagu. Dion sudah berjongkok di depannya. Dion bisa melihat dengan jelas ada banyak luka di mata istrinya. Sorot mata yang mampu membuat jantungnya berdenyut nyeri. Ia ingin turut menangis. Namun jika ia pun menangis, itu akan membuat Lily semakin terjerumus dalam kesedihan.


Akhirnya ia meraih kedua lengan Lily, bermaksud agar gadis itu beristirahat di atas tempat tidur. Namun yang ia terima, Lily menampik tangannya. Wanita itu kecewa, marah, sedih, frustrasi, semuanya menyatu.


“Jangan sentuh aku! Biarkan aku mati aja!” serunya. Dion terus berusaha membujuk Lily agar gadis itu mau tenang. Baik itu memeluknya atau mengajaknya beristirahat di tempat tidur namun selalu ditolak.


“Kenapa kau selalu begini?” bentak Dion pada akhirnya. Kesabaran pria berjakun indah itu runtuh juga. Secara manusiawi ia juga lelah terus-terusan membujuk Lily yang tidak ada perubahan sikap sebulan ini. Bahkan semakin parah. “Kau pikir hanya kau saja yang terpukul karena kehilangan papa dan juga janin kita? Aku juga sedih, aku terpuruk, aku menderita,” jelasnya dengan emosi jiwa meluap-luap. Air matanya hampir tumpah menyampaikan isi hatinya yang ia pendam. “Tidak bisakah mulai sekarang kita menerima semua yang sudah terjadi dengan ikhlas?”


“Nggak bisa!” balas Lily cepat seraya memegangi kepalanya yang seakan mau pecah. Suaranya tidak kalah kuat dengan suara Dion. “Kau bilang aku harus menerima semuanya dengan ikhlas? Kau nggak tahu gimana orang-orang jahat itu memukuli dan membunuh papa sambil tertawa! Kau nggak tahu gimana rasanya melihat orang yang kita sayang mengembuskan napas terakhir tepat di depanmu!” Deru napasnya tersengal-sengal menyampaikan itu.


Gadis itu semakin kuat memegangi kepalanya di kedua sisi. Matanya terpejam seperti sedang menahan sesuatu yang begitu menyakitkan. Seperti ada sesuatu yang menghantam kuat kepalanya. “Aaahhrrgg....!”


“Lily, kau kenapa?” Dion panik mencoba meraih tangan Lily. Namun gadis itu tidak mau melepas pegangannya dari kepala dan terus menjerit.


Kejadian sebulan yang lalu terulang kembali di memori Lily. Dari kedatangan pria-pria tidak berperikemanusiaan itu sampai bagaimana mereka menikam papa. Suara tawa menggelegar pun masih teringat jelas di ingatan Lily.


***


Dion mendengar jelas helaan napas panjang Carol yang berulang kali. Carol baru saja selesai memeriksa keadaan Lily yang tidak sadarkan diri. Dion sudah menjelaskan pada Carol bagaimana histerisnya istrinya itu sebelum pingsan.


“Kenapa?”


Tidak langsung menjawab. Helaan napas Carol kembali terdengar. Kali ini lebih panjang. Membuat yang ada di sana mati penasaran akan hasil pemeriksaannya. Sorot matanya malah meneduh memandangi wajah Lily yang terlelap. Bukan terlelap, tetapi yang tidak sadarkan diri itu.


“Carol ada apa?” Mami yang bertanya karena dokter itu tidak kunjung menjawab. Sungguh, dokter berkaca mata itu membuat mereka tidak sabar menunggu jawabannya.

__ADS_1


“Sebaiknya kita duduk di sana,” ajak Carol. Papi dan mami setuju, sementara Dion memilih tetap duduk di ujung ranjang memerhatikan Lily. Hatinya berdebar. Bukan berdebar karena jatuh cinta, tetapi berdebar karena ia merasa akan mendengar sesuatu yang tidak baik mengenai istrinya. Gerak-gerik Carol sudah mengatakannya.


“Begini, Om, Tante.” Sebentar Carol melihat Dion yang masih tetap duduk di sana. “Sebaiknya Lily dirawat di rumah sakit saja.”


“Bukankah dirawat di sini dan di rumah sakit sama saja? Dan bukannya selama ini Lily juga mendapatkan pengobatan?” tanya mami tidak mengerti. “Iya, kan, Pi?” Sepertinya hanya mami yang belum mengerti ke mana arah pembicaraan Carol. Papi sudah lemas menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa sambil memijit pelipis. Sementara Dion, pria yang saat ini gagal menjadi seorang ayah itu sudah tertunduk meremas sprei dengan kuat.


“Tante, mmm.” Carol memikirkan bagaimana menguntai kata yang tepat untuk menyampaikan hasil pemeriksaannya. “Depresi yang berkepanjangan yang dialami Lily, tidak hanya mengganggu kondisi fisik dan psikologisnya saja. Tapi juga bisa merusak fungsi otak si penderita.” Dengan berat hati Carol harus menyampaikan ini.


“Ma-maksudmu, Lily... Lily, mental Lily–” Mami tidak sanggup lagi meneruskan kalimatnya. Kedua tangannya sudah terlebih dulu terangkat untuk menutup mulut. Air mata pun tidak sanggup lagi untuk dibendung.


Dion sudah berdiri di sisi Lily terbaring. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata bagimana hancurnya hatinya mendengar kabar ini.


Seandainya waktu bisa diulang. Seandainya tidak ada perjalanan bisnis. Seandainya ia mengundurkan waktu perjanjian kerjasama itu seperti keinginan Lily. Seandainya ia tahu kalau mimpi buruk Lily adalah pertanda buruk. Seandainya dan seandainya.


Dion menatap sayu wajah Lily yang terlelap. Meski terlelap tapi nampak menyedihkan. Terselip harapan di hati yang paling dalam kalau semua akan baik-baik saja. Ia membawa tangan mungil yang sudah ia genggam itu menyentuh dadanya sambil menutup mata. Seakan menyalurkan semua cinta dan kekuatan yang ia miliki pada Lily agar kuat menghadapi ini. Ia tidak sanggup membayangkan kalau Lily... ah, tidak. Dion tidak mau membayangkan apapun.


Laki-laki itu merasakan tangan Lily bergerak perlahan saat ia masih menempelkan tangannya dan tangan Lily di dada. Dion membuka mata, begitupun Lily. Suara isakan tangis mami masih terdengar jelas meski papi sudah berusaha menenangkan beliau sedari tadi.


“Anakku, anakku menangis. Di mana anakku? Anakku pasti bersama papa. Papa... Papa di mana?”


.


.


.

__ADS_1


Oh Lily 😭


__ADS_2