
Lily berjalan limbung tak tentu arah setelah mami akhirnya tertidur karena kelelahan berbicara panjang lebar dengan berbagai penyesalannya. Dalam langkah gontainya, Lily memejamkan mata untuk mengingat-ingat semua yang dikatakan mami tadi.
“Mas Dion,” jeritnya pilu dalam hati memanggil nama itu sembari menyentuh dada. Dalam diam air mata berhamburan tiada henti. Sangat sulit dijabarkan bagaimana sesaknya hati saat ini.
Hingga tanpa disadari, langkahnya membawanya ke depan pintu kamar yang dulu menjadi kamarnya juga. Wanita itu meratapi pintu kamar dengan pandangan nanar. Dan entah karena segudang rindu atau karena alasan lain, Lily membuka pintu tersebut.
Tidak ada yang berubah di dalam sana. Barang-barang yang dikenalinya masih pada tempatnya. Tidak ada debu yang menempel atau sarang laba-laba di langit-langit. Rapi, tidak terlihat kalau kamar itu sudah lama tidak dihuni. Wangi vanila khas kamar itu juga masih sama dirasakan oleh penciumannya.
…………
Lily mengangkat wajahnya yang tertunduk kala merasakan ada seseorang sedang memperhatikannya saat ini. Bantal yang sedari tadi ia peluk dengan erat untuk berbagi kesedihan dan kerinduan diremassnya kuat-kuat. Sebelum berbalik ia memejamkan mata, mengatur hati yang bergetar.
“Mas Dion,” ucapnya pelan dan terdengar pilu.
Wanita yang mengenakan atasan putih itu kemudian berdiri dan berbalik dengan perlahan.
Benar. Siapa yang baru saja disebutkan namanya sedang berdiri di bibir pintu. Lily membatu dengan linangan air mata yang tidak berhenti sedari tadi. Sering ia merasa kalau laki-laki yang selama ini dianggapnya sudah menjadi mantan suami itu ada di kehidupannya sehari-hari. Hanya saja ia selalu menepisnya karena merasa itu imajinasi semata.
Lily menyusut air matanya. Semakin dihapus semakin banyak saja yang berhamburan.
Dion, laki-laki yang entah darimana tahu Lily ada di sini tersenyum dan mendekat. Ia mengangkat tangannya untuk menghapus air mata di pipi wanita itu. “Jangan menangis,” bujuknya walaupun matanya sendiri sudah digenangi kristal bening yang siap untuk jatuh.
“Huuuaaa.” Tangis Lily malah menjadi karena sentuhan di pipi dari orang yang paling dirindukan. Saat itu juga ia melempar bantal yang tadi dijadikannya teman menangis dan berhambur memeluk tubuh kekar itu. Ya, tubuh itu masih begitu kokoh meskipun sudah 7 tahun bertambah usianya. Lily terisak. Tidak peduli kalau tangisnya akan terdengar oleh seisi rumah.
__ADS_1
Bau harum tubuh Dion yang telah lama tidak ia rasakan membuatnya semakin terisak kuat. Begitupun dengan pelukan yang semakin merapatkan tubuh mereka. Dion melakukan hal yang sama, memeluk istrinya melepas rindu yang sekian tahun dipendam.
“Mas, (hiks, sruutt) kenapa nggak bilang kalau–” Bertanya diiringi dengan sesenggukan yang tidak bisa diredamnya. Begitu juga dengan ingus yang naik-turun.
“Bilang apa?”
Suara berat Dion yang sekian lama tidak didengarnya membuat penyesalan dan kerinduan semakin bertubi-tubi di hati. “–Bilang kalau kita masih suami-istri huuuu... uuu.”
Dion hanya menggerakkan tangannya mengelus lembut punggung wanita yang ada di pelukannya itu supaya tenang. Untuk saat ini tidak perlu menjelaskan apapun. Yang dibutuhkan cukup dengan berpelukan saja untuk menyalurkan seluruh kerinduan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
……………………………
“Pergilah! Sudah saatnya kalian untuk hidup bahagia. Doa Mami menyertai kalian. Dan jangan sampai kalian lupa untuk sering berkunjung kemari. ” Begitu pesan mami melepas kepergian anak dan menantunya.
Dion memutuskan membawa Lily pulang ke rumah setelah kesehatan mami membaik. Ya, sebuah rumah yang selama ini ia tempati seorang diri. Baik mami maupun papi tidak ada yang berniat untuk mencegah keputusan putranya itu. Meskipun berat merelakan, namun orangtua itu sadar, Dion berhak menentukan bagaimana akan membangun rumah tangganya. Melihat putra dan menantu mereka bersatu, sudah merupakan suatu kebahagiaan yang patut disyukuri.
Sedari tadi Lily hanya terdiam di kursi joknya. Saat ini mereka tengah menuju rumah yang dikatakan Dion, setelah lebih dulu mengambil barang-barang keperluan Lily dari rumah Adnan.
“Kamu kenapa?”
“Oh.” Lily sedikit tersentak karena semenjak tadi ia melamun. “Nggak apa-apa, Mas,” jawabnya dengan gelengan lemah. Terlalu sulit baginya untuk mengatakan bahwa ia menyesal karena dulu tidak memberi Dion kesempatan untuk menjelaskan apa pun padanya.
Sampai akhirnya mobil memasuki pekarangan sebuah rumah. Rumah yang cukup besar kalau hanya untuk satu atau dua orang. Lily mengikuti Dion turun dari mobil. Dilihatnya ke sekeliling. Rumah yang indah dan terawat.
__ADS_1
Alih-alih membantu Dion menurunkan barangnya dari bagasi, sepeda motor berwarna maroon yang ada di depan garasi menarik perhatiannya. Matanya langsung berkaca-kaca karena itu adalah sepeda motor kesayangannya, hadiah dari papa. Lily mendekat dan menyentuhnya dengan perasaan, seolah-olah benda itu bernyawa.
“Naiki saja motornya.” Dion tahu betapa wanita itu sangat merindukan sepeda motor kesayangannya tersebut.
“Terimakasih, Mas, sudah merawatnya,” ujarnya tulus tanpa melepas pandangan dari kendaraan roda dua itu. “Melihat motor ini, aku seperti merasakan kehadiran papa,” tambahnya lagi.
Dion melihat Lily yang sekarang berbeda. Bukan hanya perawakannya yang telah dewasa. Calon Dokter di sampingnya ini sudah lebih tenang menyikapi kenyataan bahwa papa telah tiada ketimbang dulu yang selalu menjerit histeris.
“Kalau kita sering mendoakan papa, kita akan merasakan kehadirannya di hati kita.”
Lily mengangguk lantas menyusut air mata yang sempat terjatuh. Kemudian menghadap laki-laki yang masih begitu ia rindukan itu. Rahang yang kokoh, hidung bangir, dan sorot mata tajam namun memancarkan keteduhan itu kini dapat dilihat oleh Lily dengan jelas.
“Mas kenapa nggak bilang kalau dulu Mas Dion nggak jadi menikah?” tanyanya dengan wajah serius. Berharap Dion akan menjawabnya dengan serius pula.
“Ayo kita masuk dulu,” ajak Dion karena merasa tidak penting untuk dibicarakan. Namun Lily bergeming ditempatnya.
“Jawab dulu, Mas. Kalaupun dulu aku nggak mau bertemu dengan Mas Dion, Mas, ‘kan bisa memberitahu Mas Adnan atau dengan cara lain. Jadi aku nggak berpikir kalau kita sudah berpisah.” Lily berbicara dengan bibir bergetar. Menyesali sikap kekanak-kanakannya dulu.
Dion kembali mendekat setelah tadi berjalan beberapa langkah. Dihapusnya air mata Lily yang tidak ada habisnya bercucuran. “Karena aku pantas dihukum dengan jauh dari kamu.” Sesaat ia menarik napas. “Aku yang telah mengucap janji suci untuk tetap setia bersama kamu dalam keadaan suka dan duka, dalam keadaan sehat atau sakit, tetapi aku sendiri yang melanggar janjiku dengan hampir menikahi wanita lain, meninggalkan kamu yang sedang sakit.” Jeda sesaat meneliti wajah yang semakin bercucuran air mata. “Aku layak mendapat hukuman seperti itu.”
“Mas... hiks.” Pelukan erat mendarat lagi di tubuh kokoh itu. Dion membiarkan baju yang ia pakai basah oleh air mata dan ingus Lily yang semenjak kemarin tidak ada lelahnya menangis.
.
__ADS_1
.
.