
Di kamar apartemen. Wanita yang bernama Clara itu duduk di meja riasnya sembari memandang pantulan wajahnya di kaca. Tatapannya kosong dan terlihat sendu. Ia sungguh kecewa mengetahui laki-laki yang ia cintai menikah dengan orang lain karena dijodohkan. Harga dirinya seperti terinjak mendapati kenyataan bahwa ia kalah dengan gadis yang masih bau kencur. Seharusnya ia yang menikah dengan pria itu karena mereka sudah lama bersama dan saling cinta (menurutnya).
Berulang kali ia sudah mencoba menelepon Dion tetapi sambungannya tidak terhubung. Media sosial pujaan hatinya itupun tidak ada lagi, sudah dihapus oleh sang empunya. Clara sudah kehabisan ide agar bisa bertemu dengan Dion.
“Dion, bagaimana caraku untuk bisa dekat padamu? Sedangkan kau tidak mau menemuiku dan nomormu tidak bisa dihubungi. Seharusnya kau memberiku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita. Aku yakin kau tidak bahagia dengan gadis itu karena kau tidak mencintainya. Kau hanya mencintaiku, Dion, kau hanya mencintaiku.”
Clara frustrasi dengan membanting ponselnya ke lantai sampai benda penting itu terbagi menjadi beberapa bagian.
Merasa seluruh amarahnya belum terlampiaskan, Clara lanjut lagi menyapu seluruh peralatan make-up-nya yang ada di meja rias dengan telapak tangannya, hingga alat-alat kecantikan itu juga hancur dengan tragis di lantai.
“Sial, aku memang ditimpa kesialan! Kalau saja dulu aku tidak bertindak bodoh, sekarang ini aku sudah menjadi Nyonya Dion, bukannya malah gadis itu.” Clara menyingkap rambutnya ke belakang dengan kasar karena sudah berani menutupi wajahnya yang sedang tersulut api amarah.
“Aarggh!” Ia kembali menggerakkan tangannya untuk meraih sebuah pot bunga yang berdiri di sudut meja. Ingin melempar benda itu ke kaca raksasa yang ada di depannya namun ia urungkan. Sejenak ia mengamati bunga yang menempati pot itu. Bibirnya kemudian menyunggingkan senyum karena menemukan sebuah ide.
“Sepertinya aku tahu bagaimana caranya.” Ia mencium bunga itu dan meletakkan lagi ke tempat semula.
***
Malam hari di rumah mewah bergaya klasik yang dominan warna putih itu dipenuhi suara tawa. Lebih tepatnya suara Ariel dan Lily saja. Mereka berdua sedang duduk di lantai dengan lego-lego balok berserak di mana-mana. Bedak tabur sudah menghiasi wajah mereka, tidak bisa diukur sudah setebal apa.
Sedangkan para suami sedang di ruang kerja, Tiara dan Mami tidak tahu ke mana.
“Ayo Bibi Belle, kita lomba lagi,” ajak Ariel dengan sangat bersemangat.
“Ayo, siapa takut.”
“Kali ini hukumannya berbeda, tidak pakai bedak lagi. Siapa yang menang boleh meminta apa saja dari yang kalah.”
“Apa saja?” Lily memastikan yang diucapkan Ariel.
“Iya, apa saja. Asal jangan nyawa.”
__ADS_1
Lily tergelak, “kamu sedang menantang Bibi, ya?”
“Tidak. Aku hanya mengajak berlomba.”
“Memang apa yang kamu inginkan dari Bibi kalau kamu menang?”
“Rahasia. Itu nanti diucapkan kalau sudah ada yang menang diantara kita. Kalau Bibi yang menang dan belum punya permintaan, Bibi bisa memikirkannya sampai besok.”
Lily geleng-geleng kepala, “baiklah, Bibi akan segera memikirkannya. Apa sih permintaan kamu? Kamu terlihat lebih bersemangat daripada lomba tadi.”
“Rahasia tetap rahasia, Bibi. Bibi harus janji kalau aku menang nanti, Bibi harus mengabulkannya.”
“Baiklah.” Tanpa berpikir panjang, Lily mengiyakan. Memang apa yang akan diminta anak sekecil ini hingga ia harus berpikir lama. Paling juga permintaannya dibelikan mainan atau ditemani bermain. “Kamu juga harus janji akan mengabulkan permintaan Bibi kalau Bibi menang.”
“Baik. Aku laki-laki sejati yang tidak mungkin ingkar janji.” Lily tertawa pecah mendengar pernyataan dewasa diucapkan anak kecil ini. “Berikan tangan Bibi biar kita berjabat tangan, sebagai tanda perlombaan kita ini ada taruhannya.” Lily belum juga menyurutkan tawanya. Bocah ini begitu menggemaskan dengan setiap ucapan dan tingkahnya. Alangkah bahagianya dia bila Ariel lebih lama tinggal bersamanya.
“Kita mulai, ya, Bibi Belle. Satu, dua, tiga ....”
Tiba-tiba Ariel tertawa di tengah-tengah perlombaan seperti tawa yang sudah lama dipendamnya. “Aku pasti menang, aku pasti menang,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Lily sedikit bingung mengapa Ariel seyakin itu akan menang. Namun ia tidak peduli, ia terus menyusun miliknya. Meskipun Ariel bukan tandingannya bila dilihat dari umur, tapi kecepatan dan kelihaian tangan bocah itu tidak bisa dianggap remeh. Ariel ahli dalam susun menyusun lego.
Lily tidak tahu saja kalau bagian atap legonya teronggok di kolong sofa. Jadi sudah dipastikan nanti rumahnya itu tidak akan bisa selesai dengan sempurna. Ariel mendiamkan itu dan menjadikannya sebagai senjata.
“Ariel, balok untuk atap rumah Bibi mana, ya?” Lily memutar bola mata mencari-cari benda yang dimaksud itu.
“Tidak tahu, Bibi,” kilah Ariel dengan semakin mempercepat gerak tangannya. Balok lego miliknya tinggal beberapa potong lagi untuk disusun.
“Ke mana, ya?” Lily berdiri dan memutar tubuhnya hingga 360° akan tetapi benda yang dicari tidak jua dilihatnya.
“Hore! Aku menang, aku menang,” teriak Ariel kegirangan. Anak itu langsung berdiri, menjulurkan kedua tangan ke atas dan melompat-lompat, “aku menang, Bibi, aku menang.”
__ADS_1
“Yah, seharusnya Bibi yang menang kalau saja bagian atapnya tidak hilang,” ucap Lily dengan suara sedih yang dibuat-buat. Itu hanyalah sebuah permainan, tidak mungkin ia sampai kecewa karena kalah. “Baiklah, Bibi mengaku kalah. Sekarang katakan apa yang kamu inginkan,” ujar Lily sambil kembali duduk bersila di lantai.
Ariel ikut duduk tepat dihadapan Lily dan menatap wajah bibinya itu dengan serius. “Ariel ingin memiliki adik.”
“Oh, kamu ingin adik?” Ariel mengangguk.
“Kalau begitu, nanti Bibi akan mengatakannya pada mommy-mu.” Senyum Lily menghias bibirnya, tangannya turut memberi sentuhan pada rambut anak kecil yang menjadi keponakannya itu.
“Tidak, Bibi Belle. Mommy tidak akan bisa memberiku adik.”
“Kenapa mommy-mu tidak bisa memberimu adik?” Kerutan di kening Lily terlihat sebagai bentuk penasarannya.
“Mommy pernah sakit perut dan harus dioperasi. Karena operasi itu mommy jadi tidak bisa memberiku adik.” Lily tidak mengerti dengan ucapan Ariel yang ini.
“Operasi apa yang pernah dijalani mommy kamu?” Bertambah penasaran.
“Aku lupa namanya, Bibi. Dan itu membuatku sedih tapi mommy bilang kalau Paman Dion bisa memberiku adik. Saat aku mengatakannya pada paman, paman malah marah.”
“Kenapa paman kamu marah? Memangnya kapan kamu meminta adik pada paman?” Tentu saja Lily mati penasaran dengan jawaban atas pertanyaannya itu.
“Aku tidak tahu kenapa paman marah. Aku memintanya sekitar tiga bulan lalu.”
Lily terdiam. Tiga bulan yang lalu adalah waktu di mana papanya dan mertuanya sedang gencar menjodohkan mereka.
“Aku juga pernah meminta grandpa and grandma untuk membujuk paman agar mau memberiku adik. Tapi hasilnya sama.” Anak itu memajukan bibirnya.
Lily tersenyum terpaksa sebagai reaksi atas ungkapan Ariel. “Mungkin pamanmu sekarang ini belum bisa memberi adik buat Ariel.”
“Tidak mungkin, Bibi Belle. Paman sudah menikah. Orang yang sudah menikah sudah pasti bisa memiliki adik bayi.” Wajah sampai telinga Lily memerah. Secara tidak langsung Ariel juga menyinggung dirinya.
Tidak tahukah kamu Ariel, kalau saja ada orang lain yang mendengar obrolan ini, sudah pasti Lily malu setengah mati.
__ADS_1
“Jadi permintaanku pada Bibi adalah ... Bibi harus berhasil membujuk paman agar mau memberiku adik.”