
Sudah beberapa hari ini Dion berulang kali menyambangi rumah Lily, rumah peninggalan orangtua gadis itu. Namun berkali-kali pula Dion harus menelan pil pahit karena Bi Itan–yang mengurus rumah itu–selalu berujar bahwa Lily tidak ada di rumah. Awalnya Dion mengira Lily sedang butuh waktu untuk sendiri, tidak ingin bertemu dengannya dulu. Namun kedatangannya ke rumah itu yang selalu saja tidak membuahkan, membuatnya semakin dikepung frustrasi yang hebat.
“Bibi yakin Lily tidak di rumah?” tanya Dion untuk ke sekian kalinya dengan gusar. Matanya menyipit menaruh curiga pada Bi Itan, mungkin saja Lily atau Adnan menyuruh bibi itu untuk merahasiakan keberadaan Lily yang sebenarnya ada di rumah tersebut.
“Iya, Mas, benar tidak ada,” jawab Bi Itan sungguh-sungguh. “Setelah Mas-nya pulang tempo hari, Neng Lily dan Mas Adnan juga langsung pergi. Sampai sekarang belum pulang-pulang,” sambungnya lagi. Tidak ada yang mencurigakan pada gerak-gerik wanita yang memakai daster itu kalau dirinya sedang berbohong.
“Memangnya mereka tidak bilang ke mana akan pergi?”
Menggeleng, “tidak, Mas.”
Dion semakin mendesahkan napas frustrasinya, diikuti dengan kelopak mata menutup dan gerakan tangan menarik rambut dengan kasar.
Kamu ke mana, sayang?
Melihat Dion yang sebegitu kacau, baik penampilan maupun suasana hatinya, Bi Itan memberi saran supaya Dion ke kafe atau ke toko bunga.
“Sudah, Bi. Saya sudah berulang-ulang ke sana. Bahkan sebelum matahari terbit saya sudah ada di sana, tapi mereka tidak ada. Saya juga sudah menanyakan keberadaan mereka pada karyawan di sana, tetapi mereka juga tidak ada yang tahu di mana Lily atau Adnan.” Semakin kecewa saja wajah Dion. Kepala dan hatinya berdenyut nyeri dalam waktu yang bersamaan dengan ritme yang sama pula. Tubuhnya sudah melorot dan terduduk lesu di pembatas taman yang ada di depan rumah itu. “Benar, Bibi tidak tahu di mana mereka?” tanya Dion lagi dengan sorot mata mengiba, berharap wanita berumur sekitar 40 tahunan itu sebenarnya tahu keberadaan Lily.
“Iya, Mas, saya benar-benar tidak tahu di mana Neng Lily. Kalau saya tahu, sudah dari tadi saya kasih tahu.”
Embusan napas kekecewaan dari mulut Dion semakin nyata terdengar. Bi Itan semakin kasihan. Entah ada masalah genting apa antara majikan dan suaminya itu. Bibi tidak melihat dan mendengarkan semua yang terjadi di depan rumah tempo hari. Lily dan Adnan tidak memberitahu apapun. Selepas masuk ke dalam rumah setelah pertengkaran, Lily langsung berdiam diri di kamar dan katanya ingin sendiri.
“Apa Mas Dion sudah mencoba menghubungi Mas Adnan lewat telepon?” Bi Itan mencoba saran yang lain pada pria yang sedang menopang kepalanya dengan kedua tangan. Baru kali ini Bi Itan melihat orang begitu terpuruknya. Mengalahkan dirinya yang dulu bersedih karena penyakit yang diderita sang suami.
“Sudah, Bi, sudah. Tetapi nomornya tidak aktif,” lirih Dion getir.
Bi Itan akhirnya diam membisu. Seharusnya ia tahu bahwa orang seperti Dion tidak mungkin belum melakukan seperti yang disarankannya tadi.
*
Seminggu kemudian.
Dion tidak henti-hentinya mendatangi rumah Lily, kafe ataupun toko bunga, meskipun hasilnya selalu nihil. Pagi, siang, malam, bahkan tengah malam pun ia selalu memantau tempat-tempat itu. Dan lagi-lagi kekecewaan yang harus ia dapatkan. Adnan benar-benar berhasil menyembunyikan Lily darinya. Atau mungkin Lily yang tidak ingin bertemu dia.
__ADS_1
Pernah suatu kali saat Dion sedang ada di toko bunga, Adnan menelepon Pak Seto. Saat tahu yang menelepon adalah Adnan, Dion segera mengambil alih gagang telepon itu. Namun sayang beribu sayang, baru saja Dion menyerukan nama Adnan, Adnan dari seberang sana langsung menutup telepon tanpa memberi Dion sepatah kata pun. Dan lebih sialnya lagi, Adnan menggunakan nomor yang tidak ber–id alias no number, sehingga menyulitkan dia untuk menghubungi kembali.
Sore ini Dion kembali mendatangi kafe peninggalan papa setelah tadi siang ia menghabiskan beberapa jam di sana. Ia sudah menanyakan pada salah satu pelayan yang bekerja di sana, apakah Adnan dan Lily datang sepeninggalnya tadi. Dan jawabannya adalah tidak.
Pria itu memutuskan duduk di salah satu kursi dekat pintu masuk. Menggunakan topi dan masker untuk penyamaran. Kalau seandainya Adnan atau Lily datang, mereka tidak langsung mengenali dirinya. Dion sengaja memilih duduk di sana dengan harapan besar Lily atau Adnan akan datang kali ini. Kedua bola matanya tak henti-henti mengabsen orang-orang yang masuk dari sana.
Benar saja, 45 menit kemudian terlihat dari kaca di sebelah kiri Dion, Adnan datang dengan menaiki kendaraan roda duanya. Hanya Adnan seorang. Setelah melewati pintu masuk, tanpa menyia-nyiakan waktu Dion langsung menghadang jalan Adnan, salah satu orang yang paling dicari-cari dan ditunggu-tunggu kehadirannya selama seminggu ini.
“Adnan!” Suara Dion yang lumayan kuat menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung yang lain. Adnan tentu terkejut melihat Dion ada di sana. Karena sebelum ia memutuskan untuk datang, orang yang ia percayakan mengurus kafe selama seminggu ini mengatakan bahwa Dion tidak ada.
Adnan menatap sengit Dion. Sepersekian detik kemudian ia melengos. Akal sehatnya masih ia gunakan. Tidak mungkin ia berteriak atau memaki Dion di sana, yang akan membuat pengunjung tidak nyaman.
“Pergilah dari sini!” ucap Adnan dengan suara marah yang tertahan tanpa melihat wajah Dion. Ia lantas menerobos tubuh Dion yang menghalangi jalannya dan melanjutkan langkah.
“Adnan, di mana Lily?” Dion mengikuti Adnan di belakang. Ia tentu tidak akan melepaskan pria itu begitu saja setelah pencarian yang membuatnya terbelenggu selama satu minggu ini. Kalaupun akan terjadi baku hantam, Dion tidak akan menyerah sampai laki-laki itu mau mengatakan keberadaan Lily.
Namun pertanyaan Dion yang berulang-ulang, tidak membuat Adnan untuk menjawabnya. Adnan semakin melebarkan langkah hingga akhirnya ia sampai di meja kasir.
“Su-sudah, Mas,” jawabnya tergagap.
Tanpa berbicara lagi, Adnan berjalan dengan langkah cepat. Mengacuhkan Dion yang sedari tadi membuntutinya dan terus melayangkan pertanyaan yang sama.
“Kau mau apa?” tanya Adnan saat sudah tiba di depan sebuah pintu ruangan. “Kami mau melakukan breafing.” Tanpa mendengar balasan dari Dion, Adnan langsung menutup pintu dengan cepat dan juga wajah kesal.
.
.
.
Hampir 3 jam lamanya Dion menunggu dengan sabar di depan pintu yang tadi. Tidak, lebih tepatnya terpaksa sabar. Tak sedetikpun ia mengalihkan pandangan dari daun pintu itu. Ia duduk dengan punggung dan kepalanya menempel pada dinding. Bayangkan saja, seorang pemimpin perusahaan ternama rela menunggu berjam-jam dan bahkan duduk beralaskan lantai karena di lorong itu tidak ada tempat duduk.
Sampai suara derit pintu terdengar dan pintu terbuka lebar. Dion segera bangkit menghampiri Adnan yang adalah orang pertama yang keluar dari sana.
__ADS_1
“Adnan, tolong beritahu aku di mana Lily?” Suara Dion mengiba.
Seperti tadi Adnan tetap tidak acuh. Ia mempercepat langkah untuk segera keluar dari sana. Panggilan Dion yang terus-menerus menyerukan namanya tidak ia hiraukan sampai akhirnya mereka tiba di parkiran.
“Adnan!” seru Dion dengan suara lantang sambil menarik bahu lelaki itu ke belakang. Dion tidak tahan lagi karena pertanyaannya tidak dijawab sedari tadi. “Aku berhak bertemu Lily!” serunya lagi dengan suara tegas.
Adnan menepis tangan Dion dari bahunya. Menatap Dion dengan penuh kemarahan. “Ya, kau mungkin berhak menemuinya karena papa memintamu untuk selalu di sampingnya, tapi kau tidak berhak menyakitinya!” seru Adnan tidak kalah tegas.
“Aku tidak mungkin menyakitinya. Aku me–”
“Apa? Kau bilang kau tidak menyakitinya?” Adnan tertawa hambar. “Lalu pernikahanmu itu kau anggap hanya sebagai lucu-lucuan untuknya, begitu?”
“Itu yang ingin kujelaskan padanya. Dan bukankah sudah kubilang kalau pernikahan itu tidak jadi.”
“Sudahlah, Tuan Dion yang terhormat.” Suara Adnan dipaksa melunak karena beberapa orang yang berlalu-lalang mulai mengamati mereka. Begitupun pengunjung kafe yang berada di dekat parkiran. “Saat ini Lily sedang berusaha memulai hidup baru. Dia sudah tidak ingin membahas tentang masa lalu pernikahannya. Bahkan mendengar atau menyebut namamu saja dia tidak mau. Tolong biarkan dia hidup tenang.” Adnan melangkah menuju motornya yang terparkir.
“Biarkan aku menemuinya dulu. Aku mohon, Adnan.” Dion mencoba menghentikan gerakan tangan Adnan yang akan menyalakan mesin motornya.
“Untuk apa lagi kau menemuinya? Kau ingin membuatnya terpuruk dan akhirnya gila lagi?” Adnan kembali berapi-api. Kalau dia masih tetap ada di sana, ia tidak akan mampu menahan emosinya untuk tidak menghajar Dion yang keras kepala itu.
Epilog
“Sial! Ke mana dia pergi? Seharusnya tadi aku membawa motor. Sial... sial... sial!”
Dion menghentikan mobilnya di pertigaan jalan. Ia kehilangan jejak Adnan yang melesatkan motornya begitu cepat di kegelapan malam. Stir mobil yang ada di hadapannya menjadi korban pukulan-pukulan lelaki yang sedang menggila itu. Lagi-lagi harus memperoleh kekecewaan yang semakin membuatnya jatuh pada frustrasi yang terdalam.
•
•
•
Makasih buat akak-akak sekalian yang masih setia pada Lily sejauh ini. Doakan Dion, ya, supaya secepatnya bisa menemukan Lily. Salam sehat....
__ADS_1