
Lily menahan kelopak matanya supaya tidak terbuka. Sesekali mencoba juga menggeser kepala mencari posisi nyaman supaya wajahnya tidak terganggu dengan sesuatu yang mengganggu tidurnya. Namun apa daya, semakin menggeser kesilauan itu rasanya semakin menerpa sempurna wajahnya. Dengan terpaksa Lily akhirnya membuka mata.
Di luar sudah terang benderang. Burung-burung terdengar bercicit sahut-menyahut. Ternyata hari sudah pagi. Namun ia merasa baru saja terlelap.
Lily menggeser kembali kepalanya seperti semula. Ada yang dirasa aneh. Sebuah tangan seperti mengganjal di bawah kepala.
Senyum gadis itu akhirnya terukir sempurna mengingat kejadian semalam. Tidak, bukan hanya karena semalam, tetapi juga tersenyum karena sosok yang berbaring di sebelahnya ternyata nyata.
Wajah Dion terpampang saat ini di sampingnya. Wajah yang selalu dirindunya. Senyum Lily semakin tertarik lebar karena yang dialaminya ini adalah kenyataan. Jantung dan juga hatinya jadi bergetar tidak karuan.
Pelan-pelan dia mencoba bangun. Menggerakkan tubuhnya yang nyaris sudah tidak bertenaga. Tak lupa juga menjepit selimut di kedua lengannya. Sekali lagi dia menoleh. Melihat sebagian dada Dion yang tidak tertutupi apapun, membuatnya jadi malu sendiri mengingat kelakuannya semalam yang tidak mau kalah dari Dion.
“Kamu sudah bangun?”
Lily terkejut karena saat ini sepasang mata Dion sudah terbuka dan sedang menyorotnya. Dan yang membuat wajahnya semakin terasa memerah, dia kedapatan tengah memandang dada polos itu.
”Mas udah bangun?” Bertanya dengan menyembunyikan wajah. Tangannya mengumpulkan lipatan selimut di dada. Entah apa yang dipikirkannya.
Lily merasakan pergerakan. Juga merasa selimut ditarik. Gadis itu jadi panik. Ia menggeser tubuh menjauh. Menarik balik selimutnya agar pertahanan di dada tidak tersingkap.
“Mas....” Suara dibuat sedemikian mengiba supaya acara tarik menarik selimut berhenti. Tapi Dion sepertinya tidak terpengaruh.
“Aku sepertinya lapar.” Suara berat Dion membuat kulit Lily merinding.
“Iya, Mas, akan kubuatkan sarapan. Tapi lepas dulu selimutnya,” mohon Lily penuh harap. Kakinya sudah menjuntai ke lantai. Namun Dion seperti anak kecil yang tidak mau kalah.
“Bukan sarapan seperti itu.” Pupil mata Dion seolah ikut berbicara tentang apa yang diinginkannya.
Karena tidak tega melihat wajah tampan itu mengiba seperti itu, Lily bergeser mendekat dengan perlahan. Menyambut tangan Dion yang sudah terulur.
“Kamu capek, ‘ya?”
Dion merapikan rambut Lily ke belakang telinga sekaligus mengusapnya dengan sayang. Kulit Lily semakin meremang dengan perlakuan Dion.
“Nggak, kok, Mas, cuma sedikit. Hehe.” Lain di mulut lain di hati.
Dion mengambil tangan Lily lalu menciuminya, mengusapnya, cium lagi, begitu seterusnya hingga akhirnya menempelkannya di pipi sambil memejamkan mata. “Aku masih sangat merindukanmu. Jadi jangan pergi dulu ke mana-mana.”
“Aku juga merindukanmu, Mas.”
Dion akhirnya membuka mata. Tangan kanannya melepaskan tangan Lily dan berpindah ke belakang punggung gadis itu. Membuat Lily yang kini memejamkan mata sambil menelan ludah.
“Maaf, ‘ya, sudah membuatmu capek.”
Eh!
Lily dengan cepat membuka mata. Tangan Dion ternyata memberi pijatan lembut di punggungnya. Tangan yang hangat menempel di kulit seperti mentransfer kekuatan baru untuknya. Lily pikir Dion akan....
“Apa enakan?”
“Eh, iya, Mas.”
Tetap saja meskipun Dion hanya bermaksud memijat punggung istrinya, kulit Lily tetap meremang. Sampai-sampai tanpa sadar selimut yang tadinya dijepit merosot karena tangannya yang sibuk berpindah-pindah mencari sesuatu untuk dipegang. Matanya tertutup dan terbuka. Bahunya bergoyang tidak menentu ke semua arah. Bibir bergetar.
__ADS_1
Sentuhan tangan Dion membuatnya hilang akal.
Dion tersenyum. Padahal dia sama sekali tidak ada niat membuat istrinya bertingkah begitu. Tangan yang satunya lagi kini terangkat memegang pinggul Lily yang sudah terpampang di depan mata.
“Mas....” Lily hampir menjerit karena pinggulnya disentuh sedemikian lembut dan diberikan gerakan aneh di sana yang semakin membuatnya ingin terbang melayang. Gerakan aneh itu semakin mendekati area sensitifnya hingga Lily tidak bisa berkata apa-apa lagi. Rona merah di pipi dan bibir yang digigit sudah menjelaskan semuanya.
“Ayo kita ulang lagi.” Suara dan napas Dion terasa tepat di ujung hidungnya semakin membuat Lily mabuk kepayang. “Aku tidak ingin lagi menghabiskan waktu sendirian.”
Langit di luar tiba-tiba saja didatangi gerombolan awan gelap. Tidak lama rintik hujan mulai turun membasahi bumi, sesekali dibarengi dengan kilat dan suara gemuruh. Namun tidak membuat sepasang manusia ini menghentikan aktivitas yang baru saja mereka mulai.
Kejadian tadi malam terulang kembali. Lily pasrah membiarkan Dion melakukan apa saja yang diinginkan suaminya itu. Dia sendiripun menginginkan kehangatan ini yang sudah lama tidak ia rasakan.
“Aku mencintaimu Lily.” Suara Dion terdengar diantara deru napasnya yang naik turun dan juga suara petir. “Akan selalu mencintaimu.”
Ungkapan cinta itu sampai menembus relung hati Lily dan menancap di sana. Mungkin tidak akan ada yang mampu mencabutnya sekalipun nantinya alam berguncang.
“Aku juga mencintaimu, Mas,” balas Lily dengan sisa tenaga yang hanya sedikit lagi dan akhirnya dia terkulai lemah.
*
Lily melihat dirinya dari pantulan kaca. Meskipun lelah dan tubuh terasa remuk tidak berdaya, ia masih mampu tersenyum. Padahal dirinya sudah tidur untuk beberapa waktu setelah kegiatan mereka tadi, tetap saja tenaganya belum pulih. Sudah sangat lama ia tidak merasakan lelah yang seperti ini dan juga tidak pernah melihat lagi tubuhnya memiliki tanda merah sementara.
Senyumnya kini menyurut diganti dengan wajah sedih. Betapa hebatnya Dion yang bisa menahan hasratnya yang satu ini, memilih bertahan dalam pernikahan mereka walau tidak tahu akan bagaimana akhirnya.
“Kamu punya cinta yang luar biasa, Mas, dan itu hanya kamu berikan untukku,” ujarnya hampir terisak sembari menghapus air mata yang hampir menetes. “Aku sungguh beruntung,” lanjutnya lagi.
Kemudian ia menurunkan tangan dan juga pandangannya mengelus perutnya hingga beberapa saat. “Semoga malaikat kecil itu segera hadir lagi untuk mengobati luka kita.”
**
Sudah dari tadi dia berjongkok di samping batu nisan. Semenjak meninggalnya papa, baru ini dia melawat.
Anak macam apa aku ini.
“Papa tidak akan suka melihatmu menangis begini.” Dion buka suara setelah dari tadi membiarkan Lily menangis.
“Aku anak durhaka, Mas. Ak–”
“Tidak,” sela Dion cepat. “Aku yakin kamu pasti selalu mengirimi doa buat papa dan mama.”
“Tapi mereka pasti sedih karena aku nggak pernah datang.”
“Percaya sama aku. Papa dan mama tidak mungkin merasa demikian. Mereka akan senang kalau kamu kuat, tidak menyesali yang sudah terjadi.”
Setelah meresapi apa yang dikatakan Dion, Lily akhirnya diam juga. Tidak ada gunanya ia menangis seperti ini. Raga boleh tidak bisa dilihat lagi, tetapi orang yang kita sayangi itu akan selalu tinggal di hati selagi kita masih mengingat dan mendoakan mereka.
“Iya, Mas, kamu benar.” Lily menghapus wajahnya yang basah. Kini ia berdiri. “Ayo, Mas,” ajaknya untuk pergi.
“Kamu sudah lebih tenang sekarang?”
Lily mengangguk dan membenarkan kembali wajahnya yang masih saja sembab. Terdengar tarikan napasnya yang berulang-ulang. Takdir hidupnya yang yatim piatu harus ia terima dengan lapang dada.
“Kamu tidak ingin mengunjungi satu orang lagi?”
__ADS_1
Pertanyaan Dion menghentikan langkah Lily yang berada di depan. Ia menatap Dion penuh tanya. Dan baru sadar kalau masih ada satu keranjang bunga tabur dipegang suaminya itu.
“Siapa, Mas?”
Dion tersenyum. Lalu tangannya menuntun Lily menuju satu gundukan tanah, tidak jauh dari mereka berdiri.
Lily cukup lama terlihat bingung. Tidak tahu makam siapa yang imut-imut ini.
“Anak kita,” jawab Dion pada akhirnya.
*****
Menangis membuat Lily merasa lega. Menangis membuat Lily juga merasa lebih kuat. Semua kerinduannya telah tercurahkan meskipun harus menangis sejadi-jadinya.
Tangan gadis itu tidak ingin lepas dari tubuh Dion dari tadi.
“Mas.” Setelah sekian lama akhirnya Lily buka suara. Masih terdengar sisa sesenggukannya.
“Ya?” Dion menoleh sebentar lalu fokus kembali menyetir.
“Terimakasih.”
“Kenapa berterimakasih?”
“Terimakasih sudah merawat dan menjaga rumah peninggalan papa dan mama.” Mata Lily sudah berembun dan isakannya terdengar teratur lagi.
“Sudah, sudah. Jangan dipikirkan. Itu sud–”
“Terimakasih sudah melanjutkan usaha toko bunga, hiks, bahkan sekarang semakin besar dan maju.”
Ini tidak benar kalau Dion masih tetap menyetir. Ia lalu menepikan mobilnya.
“Kenapa jadi men–”
“Terimakasih sudah merawat makam papa, mama, dan anak kita.”
Dion memeluk tubuh Lily yang sudah berguncang karena tangisan. Tadi gadis itu sudah mantap membuat janji tidak akan menangis lagi.
“Terimakasih sudah membuatku menjadi seorang dokter.”
“Sstt. Kamu sudah terlalu banyak bicara. Kit–”
“Terimakasih karena kamu memilih bertahan menjadi suamiku, Mas. Terimakasih banyak.”
Mata Dion ikut berembun dibuatnya. Pelukan Lily yang erat menghangatkan hatinya yang berdetak.
“Tentu saja aku memilih bertahan. Karena di hatiku ada banyak cinta untukmu,” ungkap Dion dengan sungguh-sungguh.
Lily semakin mengeratkan pelukan. Hatinya tidak berhenti mengucap syukur karena memiliki suami yang mau menerima segala kekurangannya.
“Aku mencintaimu, Mas.”
“Aku lebih mencintaimu.”
__ADS_1
END
Akhirnya mampu juga aku membuat last chapternya setelah sekian purnama, hehe. Terimakasih banyak, 'ya, buat kalian yang masih mengikuti. Tunggu, ‘ya, ceritaku selanjutnya 😊