
Dion melihat waktu di ponsel pintarnya yang menampakkan pukul 00.51 dini hari setelah telepon barusan. Memberitahu papi atau mami akan keberangkatannya besok di waktu ini tidak mungkin karena orangtua itu pasti sekarang sudah terlelap.
Dengan langkah gontai ia berjalan menuju sofa lalu mendudukkan diri di sana. Fokusnya teralih ketika Lily mengubah posisi tidur, membelakangi dirinya. Selimut yang sedikit tersingkap ke bawah hingga menampakkan punggungnya yang mulus membuat Dion tersenyum. Hati sungguh menentang dirinya untuk pergi besok. Padahal biasanya kalau dia akan melakukan tugas penting, ia akan sangat bersemangat sekalipun itu perjalanan jauh dan dalam waktu lama.
Lama ia termenung dalam duduknya hingga akhirnya ia berhasil meyakinkan diri kalau keputusannya ini tepat. Lagipula ia hanya akan menghabiskan waktu dua hari di Bali.
Dion menarik napasnya yang berat sebelum kemudian ia bangkit dan menuju ruang pakaian, mempersiapkan barang yang akan ia bawa besok.
Setelah semua barang yang ia perlukan selama di Bali selesai disusun dalam sebuah koper, pria itu kembali merangkak naik ke tempat tidur lalu berbaring. Guncangan yang ia ciptakan membuat Lily mengubah posisi tidur. Tangan gadis itu perlahan menyentuh dada Dion dan naik ke atas sampai mendapatkan tonjolan kesukaannya.
Dion memiringkan badan menghadap gadis itu lalu menopang kepalanya dengan tangan. Tangan yang satunya menahan tangan Lily supaya tidak terjatuh, supaya tetap menyentuh lehernya yang memiliki tonjolan itu.
Ia memperhatikan wajah Lily yang tidur dengan damai. Hati kecilnya kembali berdenyut nyeri karena akan meninggalkan gadis imutnya itu. Boleh lah ia mengatakan kalau Lily adalah gadisnya. Sebab begitulah yang ia rasakan. Lily adalah miliknya sampai kapanpun.
Dion menarik tangan yang menyentuh jakunnya dan ia ciumi beberapa kali. Namun rasa sakit yang menusuk hatinya belum juga sirna. Dan kali ini iapun menghujani ciuman yang bertubi-tubi pada wajah Lily. Semakin banyak ia menciumi Lily, hatinya malah seperti ditusuk duri. Membuat pria itu mengumpat jengkel dalam hati. Belum juga ia pergi tapi rasa rindunya pada Lily sudah menggunung.
Kembali Lily bergerak karena tidak nyaman atas kelakuan dan perlakuan Dion. Dengan cepat pria itu merengkuh tubuh Lily dan memeluknya erat, sangat erat. Hingga pada akhirnya ia ikut terlelap, berharap esok rasa sakit di hati akan lenyap.
Keesokan hari.
“Papa ... Papa ....”
Dari ruang pakaian Dion bisa mendengar jeritan Lily yang histeris. Dengan cepat pria itu mengenakan bajunya karena baru selesai mandi, lantas berlari menemui Lily yang masih terus menjerit memanggil papanya.
Dion mendapati Lily masih terbaring memejamkan mata, namun gelisah sembari memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri. Dan juga masih meracau memanggil-manggil papa. Wajahnya penuh dengan ketakutan dan sampai berkeringat. Gadis itu sudah pasti mimpi buruk. Dengan cepat Dion membangunkan Lily dengan cara menepuk-nepuk pipi istrinya itu.
Tidak berapa lama Lily terbangun dan berhambur memeluk Dion, “Mas ... Mas ... papa, Mas. Papa dibawa pergi,” ujarnya seraya terisak ketakutan. “Ayo, Mas, kita harus menolong papa!” ajaknya setelah melepas pelukan dan menarik tangan Dion supaya cepat beranjak. Kekhawatiran gadis itu sungguh besar.
__ADS_1
“Kamu tenang dulu. Kamu tadi hanya mimpi.” Dion berupaya menenangkan Lily yang tidak sadar atau mungkin tidak peduli kalau dirinya sedang tidak pakai apa-apa di tubuhnya.
“Papa dalam bahaya, Mas. Papa dibawa pergi oleh orang-orang bertubuh besar itu.” Lily terus saja menyampaikan isi mimpinya tadi. Yang ia pikirkan saat ini ialah segera bertemu papa.
Dion membawa wajah Lily dalam pandangannya. “Lihat aku! Papa tidak apa-apa. Tadi aku sudah menelepon papa dan papa baik-baik saja.” Setelah mengatakan itu Lily tidak berontak lagi namun di wajahnya masih terbesit rasa khawatir.
Kenyataannya memang begitu. Tadi sebelum fajar menyingsing papa mengirimkan pesan pada Dion, menanyakan apakah menantunya itu sudah bangun atau belum. Kebetulan Dion sudah bangun dan sedang mengecek pesan dari Fasa tentang waktu keberangkatan mereka nanti. Melihat pesan papa yang masuk, Dion dengan segera menghubungi papa.
Awalnya papa hanya iseng mengatakan kalau beliau rindu dengnnya karena kemarin tidak bertemu. Kemudian percakapan mereka semakin hangat dan Dion merasa ada yang tidak beres saat papa berulang-ulang memohon agar Dion menjaga Lily dengan sepenuh hati. Kalau suatu saat Dion bosan atau tidak menginginkan Lily menjadi istrinya lagi, papa ingin agar Dion jangan menyakiti anak semata wayangnya itu. Atau bisa mengembalikan Lily padanya atau pada anak angkatnya yang bernama Adnan. Tentu Dion tercekat mendengarnya dan berjanji tidak akan pernah menyakiti atau meninggalkan Lily.
“Sekarang kamu mandi atau berpakaian dulu. Baru setelahnya kamu menelepon atau mengunjungi papa,” saran Dion.
***
“Bagaimana? Sudah puas mengobrolnya dengan papa?” Dion yang sudah rapi keluar dari ruang pakaian dengan membawa kopernya. Tadi ia membiarkan Lily dan papa berbicara sendirian melalui sambungan telepon.
“Ah itu–, pertemuan dengan klien harus dimajukan karena suatu alasan. Aku dan Fasa pergi hanya dua hari. Lusa juga sudah pulang.”
“Jangan pergi!” Lily memohon dengan muka dan suara memelas membuat Dion melihatnya tidak percaya. Biasanya bila urusan pekerjaan gadis itu tidak pernah mau menghalang-halangi.
“Aku pergi hanya dua hari. Lusa juga sudah pulang,” ulang Dion lagi. Ia meyakinkan Lily walau sebenarnya dirinya juga merasa berat untuk pergi.
“Perginya tiga hari lagi aja, ya.”
“Kau kenapa jadi manja begini? Dua hari bukan waktu yang lama. Oh ... kamu tidak bisa jauh-jauh dariku, ya?”
“Ihh.” Raut wajah Lily memerah. Namun kemudian ia bergumam, “iya.” Dion terkekeh pelan mendengarnya.
__ADS_1
“Trus buah mangga itu gimana, Mas?”
“Kamu ini mangga terus mulai tadi malam. Nanti akan kusuruh Edu memintanya untukmu.”
“Tapi aku mau lihat Mas Dion yang memetiknya.”
“Kau ini. Aku atau Edu atau siapapun yang memetiknya rasanya akan tetap sama, asam. Sudah dibilang beli saja!”
Lily mencebik. Melihat Lily yang merajuk, Dion berpura-pura akan meninggalkannya sambil menggerek koper. Langkahnya terhenti saat Lily memeluknya erat dari belakang. “Mas Dion pulangnya cepat, ya?” pinta gadis itu dengan suara lirih.
Baik Dion maupun Lily sama-sama memejamkan mata. Dion menarik napas sebelum kemudian berbalik dan menyapu wajah Lily yang berubah sendu dan sedikit memucat. Gadis itu benar-benar berat melepas kepergian Dion.
“Iya. Kalau urusan sudah selesai tentu saja aku akan pulang. Untuk apa aku berlama-lama di sana. Seperti tidak punya pekerjaan saja,” oceh Dion namun tidak berhasil membuat Lily tersenyum. Sorot mata gadis itu tetap sendu, berharap Dion akan membatalkan perjalanannya.
Lagi-lagi Dion menarik napasnya. Sejujurnya firasatnya pun meminta dia untuk tidak pergi. Hanya saja Dion lebih mampu menampik perasaan anehnya yang datang semenjak tadi malam.
“Jangan sedih seperti itu. Aku pergi hanya dua hari. Nanti selama di sana kalau ada waktu luang aku pasti menelepon.”
Dengan berat hati Lily pun mengangguk. Tetapi tangannya tidak lepas dari pinggang suaminya itu. Tatapannya teduh menyusuri setiap lekuk wajah Dion. Seakan-akan ini adalah kesempatan terakhir melihat wajah tampan pria itu. Semakin lama bola matanya semakin terlihat jelas digenangi oleh cairan bening.
“Jangan menangis! Kita bukan mau berpisah.“ Kecupan hangat Dion daratkan pada kening istrinya, cukup lama. “Ayo, turun!” Dion menarik pergelangan tangan Lily untuk mengajaknya beranjak dari sana. Dion ingin cepat-cepat pergi supaya urusan cepat selesai dan cepat pulang juga. Lily tetap bergeming dan sudah terlihat meneteskan air mata.
Dion jadi bingung. Kepergiannya tidaklah perlu ditangisi karena dia bukan bagian dari abdi negara yang akan pergi perang mempertaruhkan nyawa. Dengan kesabaran penuh Dion membelai pipi sang istri yang terlihat berisi dan Dion baru menyadarinya sekarang. Berharap dengan begini Lily bisa lebih tenang dan merelakan kepergiannya yang hanya dua hari.
Lily menikmati setiap sentuhan tangan Dion di pipinya. Sampai-sampai gadis itu terlarut hingga memejamkan mata.
Lily membawa tangan Dion yang membelai pipinya ke hidung. Ia menciumi tangan kokoh pria itu berulang kali. Dion tidak habis pikir dengan kelakuan Lily yang ini. Sangat aneh namun pria itu membiarkannya.
__ADS_1
Setelah merasa puas menciumi tangan Dion, kini wanita itu melihat bibir Dion penuh maksud. Dion tertegun. Biasanya Dion yang melihat seperti itu. Tanpa ada kata yang terucap di antara mereka, akhirnya bibir mereka bertemu. Untuk yang pertama kali Lily membalas ciuman Dion diiringi dengan air matanya yang semakin berjatuhan.