Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Adnan Kembali


__ADS_3

Keesokan hari seperti biasa Dion menjemput istrinya ke kampus. Sudah beberapa waktu ia menunggu dan mulai gelisah karena Lily belum juga menampakkan batang hidungnya. Kondisi di sekitar kampus juga sudah mulai sepi. Saat ia hendak turun dari mobil bermaksud untuk mencari keberadaan wanita muda itu, tampaklah dari kejauhan Lily yang kerepotan membawa barang-barang dengan ke dua tangan yang terisi penuh. Dion memicingkan mata. Semakin dekat istrinya itu semakin jelas apa yang dibawanya. Berbagai macam camilan.


“Mas, tolong bukakan pintunya!” teriak Lily dengan tidak sabaran saat sudah berada di jarak yang dekat. Dion menuruti permintaan Lily dengan muka heran. Kemudian gadis itu menyimpan makanannya di dashboard lalu menyeka peluhnya yang bercucuran. Dion masih terus mengamati Lily sampai gadis itu duduk dan menutup pintu mobil.


“Untuk apa makanan sebanyak ini dan kenapa kamu sampai keringatan begitu?”


“Makanan ini tentu saja untuk dimakan. Untuk apa lagi,” jawabnya enteng. “Aku lapar banget. Kantinnya jauh makanya aku capek dan keringatan gini. Aku tadi udah nunggu Mas Dion tapi nggak datang-datang. Ya udah, aku ke kantin aja dulu beli makanan-makanan ini.”


Dion antara percaya dan tidak bergiliran melirik makanan dan wajah Lily, “apa kamu tidak salah membeli makanan kurang sehat sebanyak ini?” tanyanya lagi dengan ragu.


“Nggak, Mas. Ini enak, tahu!” Dengan sesekali gadis itu masih menyeka butiran keringat yang masih keluar dari pori-pori kulitnya. “Ibu Kantin kasih bonus kue donat karena belanjaanku banyak. Mas mau?” Lily menawarkan sembari tangannya mengaduk-aduk isi kantong plastik bawaannya. Dion semakin terhenyak mendengarnya. Lily mengambil air minum kemasan yang dibelinya dan meminumnya hampir habis. Dion belum sanggup berkata-kata. Tidak pernah ia melihat Lily membawa camilan sebanyak ini. Kini Lily terlihat menyobek bungkus keripik kentang dan mengambil banyak isinya lalu memasukkan ke mulut. Dion hampir ternganga dibuatnya.


“Apa kamu tadi saat istirahat tidak makan?”


“Makan. Makan mie ayam. Bakso juga,” jawab Lily di tengah kunyahannya. Kali ini pria tampan itu benaran ternganga mendengar jawaban Lily. Artinya gadis itu sudah makan makanan berkalori tetapi mengapa terlihat begitu kelaparan.


“Mas mau?”


“Tidak, tidak.” Dion menjawab dengan tergagap seraya menggelengkan kepala. Kemudian ia memilih menyalakan mesin mobil dan mulai melajukannya. Lily pikir Dion menginginkan makanannya karena terus melihatinya.


***


Mobil sudah sampai di depan kafe milik papa karena Lily meminta langsung ke sana saja. Keadaan kafe lumayan ramai pengunjung. Sepanjang jalan tadi Dion terus geleng-geleng kepala menyaksikan Lily yang menyantap keripik dan kawan-kawannya tanpa jeda.


“Ayo, Mas, turun. Aku udah nggak sabar pengin makan.” Lily bersiap mau turun.


“Kamu masih lapar?” Dion sungguh tidak percaya. “Terbuat dari apa perut kamu itu?”


“Ya, namanya juga lapar. Untuk mengobati lapar, ya makan.”

__ADS_1


Dion langsung tergugu. Lebih baik menyudahi perdebatan tentang makanan yang tidak kunjung berujung itu. Gadis ini entah mengapa terlihat sangat kelaparan hari ini. “Tunggu dulu!” cegah Dion saat Lily hendak turun dari mobil. “Aku tidak bisa mampir. Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan,” imbuhnya lagi.


“Oh. Kalau Mas Dion sibuk seharusnya nggak usah jemput tadi. Aku, 'kan bisa pulang sendiri,” sesal gadis itu.


“Tidak apa-apa. Sudah sana! Katamu kamu lapar.”


“Oh, ya, udah.” Tangan sudah membuka pintu mobil.


“Beritahu papa, aku tidak bisa mampir.”


“Iya.” Sebelah kaki sudah keluar dan akan mendarat di atas tanah.


“Tunggu dulu!”


“Kenapa, Mas?” Lily menoleh dan mengurungkan niatnya untuk turun. Takut kalau ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan pria itu.


“Kau belum memberi ciuman selamat siang.”


Lily berjalan cepat menuju ruang pribadi papa. Aroma makanan yang tersaji di meja pelanggang yang ia lalui sungguh membuat air liurnya ingin berjatuhan.Berkali-kali ia sampai menelan ludah karena makanan yang sangat menggodanya itu. Sampai akhirnya ia sampai di depan pintu ruang pribadi papa.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu gadis itu langsung menyelonong masuk.


“Kau sudah datang?” tanya papa yang sedang duduk di kursinya dan memegang kertas. Lily menjawab singkat tanpa melihat ke arah papa. Matanya sudah asyik pada meja bundar yang di atasnya sudah tersedia beberapa jenis makanan. Tanpa berpikir panjang, ia kembali mengayunkan langkah dengan tergesa menuju meja yang hampir penuh oleh makanan itu. “Mana Dion? Apa dia tidak mampir ke sini?” tanya papa lagi yang tidak melihat Dion.


“Iya, Pa. Mas Dion katanya ada pekerjaan penting jadi nggak bisa mampir.” Papa hanya manggut-manggut.


“Mm, makanan ini enak, Pa,” ujarnya setelah beberapa suap masuk ke dalam mulutnya.


“Kalau sedang makan jangan bicara.”

__ADS_1


“Iya, Pa.”


Eh! Itu bukan suara papa.


Lily melihat ke sumber suara tadi, “Mas Adnan!” pekiknya tidak percaya. Mahasiswi yang sudah bersuami itu sampai-sampai menyemburkan makanannya yang belum ia telan. Kemudian ia menghampiri kedua laki-laki yang sedang duduk berhadap-hadapan di meja yang lainnya.


“Mas Adnan kapan datang? Kok nggak kasih tahu aku?” Gadis itu sangat bersemangat dengan mengguncang salah satu lengan Adnan. Adnan langsung menepisnya karena tangan Lily yang kotor karena dipakai makan.


“Kemarin. Ya udah, kamu habisin dulu makananmu. Tuh, bajuku jadi kotor.” Adnan mengibas-ibas lengan bajunya yang kotor seakan itu adalah kuman yang harus segera disingkirkan.


Lily cemberut. Namun ia membenarkan ucapan Adnan untuk kembali menyantap makanannya.


“Beberapa bulan tidak ketemu, kamu makin gemuk, ya.”


“Biarin aja gemuk. Orang udah laku juga.” Lily menjawabnya dengan mulut yang penuh. Adnan terkekeh dibuatnya sedang Pak Miko hanya geleng-geleng kepala.


“Pantas saja kamu gemuk. Makanan sebanyak itu bisa kamu habiskan tanpa jeda.” Adnan kembali menggoda Lily. Yang digoda hanya cuek bebek sampai makanannya habis.


“Ayo, sekarang Mas Adnan harus cerita. Kenapa tiba-tiba udah ada di sini tanpa memberitahu?” Lily langsung menyemburkan pertanyaannya dengan tidak sabar. Adnan dan Pak Miko yang sedang membicarakan omzet dan profit café terinterupsi dengan pertanyaan Lily. Pak Miko menarik napasnya dan merapikan kertas-kertas di meja. Lalu duda namun masih terlihat gagah itu mengajak Adnan untuk bergabung bersama Lily di meja sana.


“Tentu saja karena Papa yang minta. Papa kangen,” kilah papa. Padahal sebenarnya beliau sendiri pun turut terkejut akan kedatangan laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai anak tersebut.


Setelahnya ketiga orang itu lanjut mengobrol dengan hangat dan diselingi gelak tawa. Papa tiada henti tersenyum memandangi Adnan. Tiada lagi kemarahan di wajah pria yang dulu pergi tanpa pamit itu. Papa bersyukur kini Adnan sudah bisa menerima pernikahan Lily dengan ikhlas.


“Ini pipi kamu, kok, jadi bulat sekarang? Dulu makanmu juga banyak tapi nggak sampai membuat pipimu jadi seperti bola begini.” Adnan mencubit gemas pipi Lily yang menurutnya tembem. Lily dengan muka cemberutnya menjauhkan pipinya dari jangkauan Adnan karena merasa sakit. Papa kembali merekahkan senyum melihat interaksi Lily dan Adnan.


“Kalian harus seperti ini selamanya. Harus akur. Anggap kalau kalian ini adalah memang saudara kandung. Jangan sampai bermusuhan apalagi saling membenci.”


Baik Lily maupun Adnan bersamaan melihat papa. “Iya, Pa.” Mereka berdua menjawab bersamaan dan itu mampu menciptakan tawa kembali. Lagi-lagi papa turut tersenyum dibuatnya.

__ADS_1


“Itu pesan Papa. Kalian harus saling menjaga sebagai adik dan kakak. Jadi kalau nanti waktu Papa sudah habis, Papa bisa pergi dengan tenang.”


__ADS_2