
Hari sudah sore, warna jingga sudah remang-remang terlihat di langit sana. Jalan raya di depan toko pun berangsur padat. Isyarat bahwa semua individu akan kembali pada tempat masing-masing.
Papa meminta Lily untuk pulang. Pulang dalam artian ke rumah suaminya. Dipaksa atau tidak, Lily memang harus mengerti keadaannya yang sudah terikat pernikahan. Pernikahan yang tidak tahu di mana dia akan menemukan ujungnya.
Dengan memiliki keahlian drama di atas pentas, Lily bisa menutupi gurat kesedihan di depan papa dengan senyum palsunya. Meyakinkan papa kalau dia sudah benar-benar menerima pernikahan ini.
Biasanya kalau sudah pulang dari toko begini, Lily akan menghubungi Luna untuk mengerjakan pr atau mengusir rasa sepi atau nonton drakor bersama. Kalau bukan Luna yang datang ke rumah, maka Lily yang akan mendatangi Luna. Lily harus membiasakan diri dengan perubahan ini. Toh ini demi kebahagiaan papa.
Lily sudah memasuki kawasan perumahan rumah mertuanya dengan menunggangi motor kesayangannya. Motor hadiah ulang tahun dari papa yang akan dijaga sampai kapanpun.
Setelah diantar Axel tadi ke sekolah untuk mengambil motor, Luna sudah mati-matian menjelaskan arah jalan menuju rumah suaminya, tapi tidak bisa masuk juga ke dalam ingatan Lily. Tidak bisa digambarkan seberapa dongkol Luna tadi pada Lily yang ekspresi wajahnya tanpa dosa itu. Akhirnya Luna memberi ide cemerlang agar di download saja aplikasi GPS penunjuk arah jalan.
Motor sudah masuk melalui gerbang utama. Wajah penjaga pintu gerbang dan pelayan tercengang melihat Lily mengendarai motor dengan lihainya. Selama ini mereka tidak pernah melihat majikannya naik kendaraan itu. Bahkan ini kali pertama ada motor yang masuk ke dalam.
Seorang penjaga berlari mengejar Lily. “Biar saya saja yang memarkirkan, Nona,” ucap penjaga itu setelah menundukkan kepala.
“Ah, iya. Maaf ya Pak, merepotkan,” ujar Lily. Ingin menolak, tapi penjaga itu sudah keburu menuntun motornya ke garasi. Sebenarnya tidak enak hati mendapat perlakuan ini karena tidak pernah merasakannya.
Kebetulan sekali ada Mas Edu.
“Selamat sore, Mas Edu,” sapanya dengan ramah pada Edu yang berdiri di dekat tangga di teras rumah, dijawab dengan anggukan. “Apa mami dan papi sudah pulang?”
“Tuan dan nyonya akan pulang larut. Silakan masuk, Nona.” Edu mempersilakan, sepertinya dia tidak ingin mengobrol lebih lama dengan Lily.
“Memangnya ke mana mereka?” Bertanya lagi tanpa menghiraukan perintah Edu.
__ADS_1
“Tuan dan Nyonya ke perusahaan, setelah itu menjenguk kerabat yang sakit,” jawabnya datar.
Setelah menyelesaikan kalimat itu, hp Lily berbunyi tanda ada pesan masuk. Dibukanya pesan itu yang ternyata dari mami. Isi pesannya sama dengan yang disampaikan Edu barusan. Dan Lily membalas dengan kata iya mami.
“Mas Edu, boleh kan kita berteman?” pinta Lily dengan wajah bersahabat. Edu bergeming, tidak menjawab apa-apa. Tidak nyaman dengan permintaan sederhana Lily.
“Tolong dong, Mas Edu jangan sungkan. Jangan menolak berteman denganku, ya.” Lily meraih tangan Edu tanpa ragu. Diberikannya setangkai bunga pada tangan itu yang sengaja dia bawa dari toko untuk menghias kamar. “Ini lambang pertemanan kita ya, Mas Edu,” tambahnya lagi dengan berbinar.
Ingin menolak tapi tidak ingin membuat kecewa. Tidak ingin melewati batasannya, tapi ingin membuat Lily senang dan nyaman tinggal di rumah seperti yang diperintahkan mami.
“Oh iya, apa Mas Dion ada di rumah atau ikut dengan papi dan mami?”
Seketika Edu mengangkat wajahnya dan menatap Lily lekat dengan muka tidak percaya. Benarkah dia tidak salah dengar dengan pertanyaan itu? Tidak mungkin nona mudanya tidak tahu kalau Dion pergi.
“Jangan bercanda Nona. Tuan muda sudah berangkat ke Spanyol tadi siang.”
“Negara yang dijuluki negeri matador kan?” Bertanya lagi untuk mendapat jawaban pasti.
Mengangguk lagi, “iya, Nona.”
“Kenapa dia pergi kesana?”
“Tentu saja karena urusan pekerjaan, Nona.” Edu mengernyit heran. Nonanya pura-pura tidak tahu atau memang benar-benar tidak tahu.
“Berapa lama dia di sana?” Mata itu berubah sayu.
__ADS_1
“Sebulan, Nona.” Edu bisa menangkap ada kesedihan di wajah sana. “Silakan masuk, Nona. Saya akan menyiapkan makan malam Anda.” Berusaha membuang kesedihan Lily.
“Nggak, Mas Edu. Nanti saja makannya. Aku mau naik dulu ke atas.” Tiba-tiba suara Lily terdengar lesu dengan wajah kusut, kecewa lebih tepatnya. Tanda tanya berkecamuk di kepala.
Pantas dia tadi menyuruhku tidur di kamarnya, dia tidak ada. Lantas kenapa dia tidak memberitahuku kalau dia akan pergi. Apa menurutnya tidak penting untuk memberitahuku? tapi aku kan berhak tahu ke mana dia dan mau melakukan apa.
Lily melewati ruangan demi ruangan. Tidak terasa air mata lolos juga.
Dia pasti menganggapku tidak ada artinya. Dia pergi sebulan dan tidak memberitahu. Mengapa tidak kau pulangkan saja aku ke rumah papa?
Gadis itu berlari karena sudah lama berjalan tapi belum sampai juga. Dia menghapus air matanya yang tidak mau berhenti. Semoga saja tidak ada orang yang melihatnya menangis. Lily bukanlah gadis cengeng, tapi mengingat Dion yang tidak berpamitan, itu sangat menyayat hatinya. Membenarkan pemikirannya kalau Dion benar-benar tidak menganggapnya sebagai istri.
Lily menghempaskan tubuhnya di kasur sampai terpental. Tangisnya pun pecah dengan tubuh menelungkup. “Begitu tidak pentingkah aku sampai kau tidak berpamitan?” Cukup lama dia di posisi itu sambil mengeluarkan semua unek-unek di hatinya.
Setelah sedikit puas meluapkan isi hatinya, dia duduk bersandar, meraih bantal dan diletakkan di atas kaki yang ditekuk.“Kenapa aku harus menangisi dia?” Menghapus air matanya dengan bantal. “Memangnya apa yang aku harapkan dari pernikahan terpaksa ini. Jelas-jelas tidak ada cinta dalam pernikahan ini.
Sebaiknya kalau dia pulang nanti, akhiri saja pernikahan ini. Toh kita sama-sama tidak bahagia. Papa pasti akan mengerti.” Walau memutuskan begitu, tetap saja air matanya masih menganak sungai.
Tanpa di sengaja, Lily melihat ada bungkus kado di dekat jendela. Lily mengingat-ingat seperti pernah melihat warna bungkus kado itu. Dihapusnya lagi air matanya, dan mendekat mengambil bungkusan itu yang isinya tidak ada lagi.
Lily menangis lagi dengan menutup mulutnya.
Kau bahkan ingat untuk membawa hadiah dari kekasihmu. Seharusnya dari awal kau berontak sebelum pernikahan ini benar-benar terjadi, agar tidak ada yang sakit hati.
Lily membuang kasar bungkusan kado itu ke belakang tubuhnya. Mata yang tetap berair dan sendu dia perlihatkan ke luar angkasa lewat kaca jendela. Inilah sisi terapuh Lily setelah kepergian mamanya.
__ADS_1
Kado dari Indira ikut serta bersama Dion, begitu Lily menyimpulkan. Atau jangan-jangan Indira juga ikut?