Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Menghormati Pernikahan


__ADS_3

Semilir angin malam yang dingin menemani Lily dalam perjalanan pulangnya. Dia melajukan motornya dengan perasaan lega karena sudah menyampaikan hal penting kepada Axel. Dia tahu Axel akan sangat terpukul, marah, kecewa, atau sedih. Namun kenyataan harus disampaikan agar pria yang mencintainya itu tidak terus mengacukan harapan padanya.


Setelah melewati gerbang utama, Lily berinisiatif memarkirkan sendiri kendaraan roda duanya. Tidak ingin merepotkan penjaga gerbang atau siapapun. Memarkirkan motor bukanlah sesuatu yang sulit yang butuh bantuan orang lain.


“Saya bisa memarkirkannya sendiri, Pak!” teriaknya pada seorang penjaga yang mengikutinya dari belakang. Penjaga bertubuh tegap itu berhenti berlari, sejenak menyaksikan Lily yang masuk ke dalam parkiran dan memarkir sendiri motornya. Setelah yakin Lily selesai memarkirkan motor, penjaga itupun berbalik dan menuju pos penjagaan.


Lily melangkah dengan gontai. Dia benar-benar lelah hari ini. Berendam air hangat lalu tidur adalah pilihan yang tepat sepertinya untuk merelaksasi otot-otot yang menegang.


“Darimana kamu?”


Pertanyaan itu membuat langkah kaki Lily terhenti. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan mencari sumber suara. Dia melihat Edu sedang berdiri menghadap sofa, dan seseorang ada yang duduk di sofa itu. Lily tidak tahu siapa yang ada di sana karena duduk membelakanginya.


Lily mendekat untuk memastikan siapa orang itu. Dia mengenalnya. “Kamu? Kapan kamu pulang?” Mata Lily berbinar. Orang yang dia tunggu kepulangannya sudah ada di depan mata, dialah Dion, suaminya. Sebelum Dion menjawab, Lily dengan semangatnya segera mendaratkan tubuhnya di samping Dion. Ada gejolak bahagia mencuat dari dalam dadanya. Matanya tetap lekat menatap wajah yang dia rindukan itu.


“Ada apa? Kenapa menatapku begitu?” Dion tetap datar lalu mencerup tehnya yang asapnya masih mengepul.


Lily menyongnyong. Lalu menjatuhkan pandangannya ke leher Dion yang bergerak naik turun akibat menelan teh.


Tidak tahukah dia kalau aku merindukannya?


Dion menatap Lily yang tetap terdiam asyik memandanginya, alisnya berkerut, “ada apa denganmu?”


Lily belum sadar dari lamunannya. Sepertinya dia benar-benar terhipnotis bila memandang wajah tampan itu.


“Gadis ini sering sekali melongo kalau diajak bicara,” Dion bergumam melihat Lily yang belum menunjukkan reaksi apapun.


“Edu, kamu boleh pergi,” perintahnya. Edu menunduk lalu pergi.


Setelah kepergian Edu, Dion membuat batuk yang dibuat-buat cukup keras. Batuk pura-pura itu ternyata berhasil menyadarkan Lily. Lily jadi kikuk sendiri, tidak tahu sudah berapa lama dia tidak sadar karena hanyut dalam benaknya.

__ADS_1


“Kamu darimana? Kenapa pulang semalam ini?” tanya Dion. Tatapannya lurus ke depan menonton tv yang volumenya terdengar kecil. Kakinya diangkat menindihi kaki yang lainnya.


“Hari ini sekolah mengadakan acara perpisahan sampai sore. Dan sebelum pulang aku tadi pergi dengan Axel,” jawabnya jujur dengan sedikit senyum.


Dion melirik Lily, “Axel? Pacar kamu itu? Sepertinya kau senang sekali ya, setelah bertemu dengannya.” Nada suaranya masih tergolong normal, tapi tatapan sinisnya menakutkan.


“Eh, bu–bukan. Dia cuma teman, bukan pacar.” Lily kelabakan. Sadar karena sudah membohongi Dion dua minggu lalu di telepon.


Kenapa jadi membahas Axel sih?


“Apa kau tidak bisa mengendalikan dirimu?” Amarah merajai Dion. Tidak habis pikir Lily akan menyebut nama itu lagi. “Sebenarnya aku tidak peduli hubunganmu dengannya bagaimana. Tapi seharusnya kau sadar diri kalau kau itu sudah menikah. Kau harusnya bisa menghormati janji suci pernikahan.” Lily bisa melihat tatapan dingin dan tajam itu. Kata ‘menikah’ yang dilontarkan Dion penuh penekanan.


Dion beranjak pergi entah ke ruangan apa, membawa serta tehnya. Meninggalkan Lily yang duduk diam termangu.


Dia bilang dia tidak peduli hubunganku dengan Axel seperti apa. Tapi kenapa dia memperingatkanku tentang pernikahan? Jadi sebenarnya dia itu peduli atau tidak padaku?


Lily membatin kesal. Bukannya senang karena akhirnya bertemu lagi dengan orang yang dia rindukan, yang ada malah kesal. Padahal di benaknya sudah terbayang akan mendapat pelukan hangat dari pria dingin itu.


***


Lily mewujudkan rencananya tadi. Berendam air hangat dan meresapinya sampai ke tulang-tulang. Tidak lupa juga dengan tetesan aroma terapinya agar bisa menenangkan pikirannya. Hari yang melelahkan, pikirnya. Perpisahan sekolah sudah diselenggarakan. Hanya sekali pertemuan lagi bisa bertemu dengan teman-teman dan semua guru, yaitu pada saat menerima kelulusan.


Lily juga sudah berterus terang pada Axel tentang pernikahannya. Itu membuat dadanya plong dan tidak lagi dihantui rasa bersalah. Namun wajahnya berangsur kesal mengingat sikap dingin Dion terhadapnya.


Dia menarik napas panjang dan membuangnya pelan. Berendam air hangat memang pilihan yang tepat saat suasana hati sedang kesal.


Saking menikmatinya berendam di bak mandi, dia sampai tidak mendengar ada yang menggedor-gedor pintu.


“Nona, apa Anda sedang ada di dalam?” terdengar suara Edu dari luar setelah gedoran yang lumayan keras itu. Edu sedari tadi memanggil-manggil namanya. Tidak juga ada sahutan. Ingin membuka pintu itu namun tidak mungkin.

__ADS_1


Menggedor pintu lagi, kali ini lebih keras, “Nona!”


“Iya, sebentar.” Akhirnya dijawab juga. “Ada apa, Mas Edu?” tanya Lily yang mengenali suara Edu. Dia tidak membuka pintu kamar mandinya, menjawab dari balik pintu saja.


“Waktunya makan malam, Nona.”


“Aku sudah makan tadi di luar.”


“Baiklah, saya permisi dulu.”


Mendengar langkah kaki Edu yang semakin menjauh, Lily segera membilas tubuhnya.


**


Lily kini di atas kasur. Membuka kado dari teman-temannya satu per satu. Lily senyum-senyum sendiri. Yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah boneka kayu nan imut, panjangnya sekitar 5 cm yang wajahnya mirip dengannya, dengan ukiran memakai kostum toga wisuda. Di selempangnya juga terukir namanya, cantik sekali. Dari siapa lagi kalau bukan pemberian dari Luna, sahabat terindahnya.


“Luna, aku mencintaimu,” ujarnya tersenyum sembari memeluk boneka minimalis itu.


Dia ragu untuk membuka kado dari Axel. Namun rasa penasarannya juga sangat besar.


Dibukanya kado itu pelan-pelan. Ada bingkai foto lucu terbuat dari cangkang kerang. Sudah ada sebuah foto yang menempel di sana, fotonya dan Axel saat masih pacaran. Sepertinya Axel membuat sendiri bingkai foto itu, rapi sekali.


Lily memandang lama foto itu, menerawang saat-saat dia menjalin hubungan dengan Axel setengah hati.


Axel, maafkan aku.


Lily melihat sebuah amplop mini disela-sela cangkang kerang itu. Dengan hati-hati menarik amplop itu dan membukanya. Axel menulis puisi cinta.


Lily membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat. Matanya berkaca-kaca, dan bibirnya bergetar. Dia semakin merasa bersalah. Walau sudah mengatakan kebenaran tentang statusnya sekarang, namun kepura-puraannya di masa lalu belum terucap. Waktu telah bekerja sendiri untuk menghukumnya.

__ADS_1


__ADS_2