Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Negosiasi


__ADS_3

“Sebaiknya kau menikah lagi, Dion.” Semua mata langsung menatap Tiara. Bahkan Dion sampai memajukan tubuhnya dengan mata melotot.


“Jangan bicara sembarangan, Mbak!” sembur Dion tidak percaya dengan yang ia dengar.


“Apa yang kamu bicarakan ini, Ara?” tanya mami diikuti matanya yang membeliak.


“Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan barusan?” Papi turut bertanya. Tidak habis pikir dengan ucapan anak sulungnya tadi.


“Ya, aku sadar dengan yang kuucapkan barusan, Pi,” jawab Tiara dengan wajah penuh keseriusan. “Dion lebih baik menikah lagi. Kita tidak tahu sampai kapan Lily akan begini terus. Apakah lima tahun, sepuluh tahun atau sampai....”


“Tidak,” potong Dion cepat. “Aku tidak mau menikah lagi. Seharusnya Mbak memberi dukungan dan doa untuk kesembuhan Lily. Bukannya malah memberi usul tidak masuk akal seperti itu!” Dion emosi. Memikirkan keadaan Lily yang begitu menyedihkan serta penolakan-penolakan Lily yang tidak mau didekati oleh dirinya sudah sangat membuatnya frustrasi. Kini kakak satu-satunya itu malah menambah beban pikiran dengan mengusulkan pernikahan. Bahkan dirinya sendiri tidak pernah berpikir sampai ke arah sana.


“Iya, Ara. Seharusnya kita lebih berusaha lagi untuk kesembuhan Lily,” ujar mami berusaha meredam emosi Dion yang sedang memuncak. Walau sejujurnya mami juga sudah tidak begitu yakin lagi dengan kesembuhan Lily.


“Mi, selama setahun ini kita sudah mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan Lily. Memindahkannya ke rumah sakit-rumah sakit lain dan mendatangkan dokter-dokter hebat. Tapi sejauh ini tidak ada perubahan. Kita bukannya tidak berusaha untuk kesembuhan Lily,” terang Tiara.


Dion memijit pelipis. Keterangan Tiara tentang usaha mereka selama satu tahun terakhir membuat kepalanya semakin berdenyut nyeri. Tidak bisa dipungkiri memang begitulah adanya. Dion lalu bangkit. Bisa-bisa kepalanya meledak kalau dia masih mendengarkan celoteh Tiara yang tidak masuk akal.


“Dion....”


“Tidak akan ada pernikahan, Mbak,” pungkas Dion cepat. “Lily akan sembuh. Dia pasti akan sembuh.” Lelaki itu kemudian beranjak pergi tanpa permisi menuju lantai atas, ke kamarnya. Meski ia sadar bahwa sikapnya tidak sopan pergi dengan cara seperti itu, namun ia terlanjur kesal pada Tiara.


***

__ADS_1


Dion’s POV


Aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar ini setelah lebih dulu duduk di sisi ranjang. Kamar ini kembali lagi seperti semula saat aku masih lajang dulu, sunyi dan senyap.


Tidak ada lagi buku-buku Lily yang berserakan sampai ke tempat tidur. Tidak lagi kudengar suara tawanya saat sedang menonton drama asia kesukaannya. Tidak ada lagi yang menggangguku kala aku bekerja dengan serius. Tidak ada lagi pertanyaan tentang materi kuliah yang ditujukan padaku.


Kuembuskan napas untuk melonggarkan beban yang menghimpit dada. Kalau boleh jujur, aku sangat lelah menjalani semua ini. Selama setahun aku fokus untuk pengobatannya yang tidak ada hasilnya sama sekali. Dan selama itu pula aku abai terhadap pekerjaan, diriku sendiri juga semua yang ada di sekitarku.


Bukanya aku tidak ikhlas dengan semua yang sudah kulakukan untuk Lily. Namun melakukan sesuatu yang tidak ada hasilnya dalam jangka waktu yang lumayan lama, siapapun orangnya perlahan akan merasa mulai lelah dan lambat-laun ada keinginan menyerah.


“Akkkhh!”


Aku berteriak frustrasi sembari menjambak rambutku. Aku marah pada semuanya. Kehidupan seakan-akan mempermainkanku untuk tidak bahagia.


“Dion, Mbak masuk, ya?”


Ternyata itu Mbak Tiara. Untuk apa lagi dia menemuiku? Membicarakan pernikahan konyol itu lagi?


Tidak berapa lama terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki yang perlahan-lahan mendekatiku. Aku masih diam dengan kepala menunduk dan tanganku sebagai penyangganya. Aku merasakan Mbak Tiara duduk di sampingku.


“Dion....” Suaranya lembut menyebut namaku. Tidak seperti saat di bawah tadi. Tangannya turut menyentuh bahuku. Namun aku segera menghentikan ucapannya.


“Apa lagi, Mbak?” keluhku dengan kesal sembari mengangkat kepala. “Tolong jangan membicarakan pernikahan konyol itu lagi,” imbuhku dengan ketus dengan kepala memutar menemui wajahnya.

__ADS_1


Dia malah tersenyum ringan. Tangannya terangkat semakin tinggi lalu membenarkan rambutku yang mungkin berantakan. “Tapi sayangnya itu yang ingin Mbak bicarakan.”


“Mbak, tolong. Jangan menyudutkanku dalam situasi ini. Semua akan kembali normal seperti dulu. Aku bisa menunggunya sampai dia sembuh. Lily hanya butuh waktu untuk menerima semua kenyataan ini.” Aku menyakinkan. Meski aku sendiri pun tidak tahu sampai kapan kondisi istriku itu begitu terus.


“Dion.” Mbak Tiara menatap mataku dalam. Demikian juga aku. Bukan, lebih pasnya aku melirik tidak suka pada saudari satu-satuku itu yang pasti akan mendesakku agar mau mengikuti keinginannya. Tangannya sudah berpindah memegang tanganku. “Para medis yang sudah ahlinya saja tidak bisa memastikan kapan Lily akan sembuh. Atau menurut penilaianmu saja, apa kau melihat Lily semakin membaik?”


Aku membuang muka agar pandanganku tidak bersirobok dengan kakakku itu. Bohong kalau aku menjawab iya.


“Mbak sudah memikirkan ini jauh-jauh hari.” Mbak Tiara masih berbicara lembut dan itu mampu meredam emosiku yang sempat naik. “Kami ingin melihatmu hidup lebih baik, tidak terpuruk terus dalam lingkaran ini. Kita berdua juga harus memikirkan keinginan terbesar papi dan mami yang semakin hari semakin tua.”


Terpaksa mataku menemui Mbak Tiara lagi. Meminta penjelasan untuk kalimat terakhirnya. “Apa maksud Mbak?” tanyaku tidak mengerti.


Mbak Tiara menarik napas lalu menampilkan raut wajah memohon, persis seperti mami kalau sedang ada maunya. “Kamu mungkin bisa hidup begini dalam waktu yang lama. Tapi, apakah kamu tidak mengerti kalau papi dan mami menginginkan penerus?”


Aku dengan tidak berdaya bangkit dan berjalan mendekati jendela yang menampakkan langit sudah gelap. Aku masih tetap egois meski Mbak Tiara sudah mengatakan apa tujuan terbesar memintaku menikah lagi. “Mbak, tolong jangan memaksaku. Semuanya akan kembali seperti dulu,” pintaku dengan mata menerawang jauh menembus kaca bening jendela itu.


Sekian menit Mbak Tiara terdiam di tempatnya. Begitupun aku yang terus memandang cakrawala malam. Malam yang gelap segelap hatiku.


“Baiklah, Dion.” Mbak Tiara diam untuk sesaat lalu berdiri mendekatiku. “Kalau Mbak masih bisa untuk punya anak lagi, Mbak tidak akan mendesakmu untuk menikah.” Aku merasakan usapan di lenganku. “Kau harus tahu, hanya kau harapan satu-satunya papi dan mami dan Ariel dan Mbak. Pokoknya kami semua. Ariel tidak bisa selalu datang kemari sebagai pelipur lara orangtua kita. Kau sendiri tahu kalau Kharel anak tunggal. Ariel bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah mertuaku ketimbang di rumah kami.”


Aku menutup mata untuk semua penuturan kakakku itu. Hingga akhirnya Mbak Tiara melangkah menjauh meninggalkanku yang masih bergeming di depan jendela.


Mbak Tiara yang sudah membuka pintu kembali berucap, “kita tunggu beberapa bulan lagi. Kalau Lily masih tetap tidak menunjukkan tanda-tanda sembuh, kau harus menikah.”

__ADS_1


__ADS_2