Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Dion vs Axel


__ADS_3

Waktunya pulang bagi orang-orang yang bekerja selama delapan jam, kecuali yang mendapat lemburan. Begitupun bos yang satu ini. Sebenarnya dia sudah selesai dengan semua pekerjaannya dari sebelum makan siang. Namun sebagai bos yang berwibawa dan patut ditiru, lebih baik dia berkeliling mengawasi kinerja bawahan.


Cuaca hari ini sama dengan kemarin, sama-sama tidak bersahabat. Ada sih bedanya, hari ini hanya sedikit gerimis.


Fasa yang mengemudi mobil dan si bos duduk santai di kursi penumpang.


Untuk mengusir jenuh dan bosan karena perjalanan masih jauh, Fasa memutar musik jazz kesukaan bosnya. Sebagai asisten pribadi harus tahu lah apa yang disukai dan tidak disukai bos.


Diliriknya bosnya dari kaca spion atas, ternyata mulut ikut komat-kamit melantunkan syair. Ini serius, tidak pernah ada orang yang melihat atau mendengar Dion menyanyi. Fasa pun terkejut mendengar dan melihat ini secara langsung. Fasa mempertajam indera pendengarannya, benar, dia benar-benar mendengar suara atasannya bernyanyi.


Wahh, ada apa dengan hari ini, ya? Apa si bos menemukan sesuatu di note book tadi?


Lagu sudah berubah judul dan Dion masih tetap ikut bernyanyi. Lumayanlah suaranya.


“Berhenti!”


Lha, kok berhenti? Perasaan lagu ini lagu barat. Mana ada liriknya berhenti.


“Aku bilang berhenti!” Dion meninju sandaran kursi Fasa.


Fasa panik dan menoleh ke belakang. Ternyata bosnya menyuruh menghentikan mobil. Segera ditepikannya mobil itu.


“Ada apa, P–” Belum juga Fasa selesai bertanya, Dion sudah awut-awutan keluar mobil.


Fasa membungkukkan kepala dan menyipitkan mata mengikuti pergerakan bosnya melalui kaca belakang mobil. Dia melihat bosnya berlari kecil menuju halte bis yang sudah terlewati beberapa jarak. Bosnya menerobos keluar tanpa peduli gerimis menyerbu tubuhnya.


Ini tidak benar kalau dia masih tetap tinggal, bisa-bisa dipecat dia. Segera keluar, mengambil payung di bagasi dan ikut menyusul walau tidak tahu apa yang diperbuat si bos.


*****


Dion sudah berdiri di samping seorang gadis. Matanya menatap tajam pria remaja di depannya yang sedang memegang bahu gadis itu.


“Aku bilang lepaskan tanganmu!” ucapnya dengan tegas pada pria remaja itu.


Fasa yang baru tiba ternganga. Apa tidak salah yang dilihatnya ini. Semoga apa yang ada di pikirannya bukanlah yang sebenarnya.


“Bapak ini siapa? Datang-datang langsung main perintah saja. Jangan-jangan Bapak mau berbuat jahat, ya.” Menarik gadis itu dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.

__ADS_1


Dion ingat. Pria remaja ini yang dilihatnya dulu di toko bunga bersama Lily dengan wajah saling berdekatan, atau mungkin berpelukan. Ahh, Dion tidak ingat jelas sedang apa mereka waktu itu. Mengingat itu darah Dion naik cepat. Tangannya sudah terkepal dan siap melayangkan tinju.


“Axel,” panggil gadis itu dengan suara parau. Dia keluar dari punggung itu. Suara Lily menggagalkan niat Dion.


“Kamu tenang aja, Ly. Aku akan melindungi kamu dari mereka,” ucapnya lagi dengan tatapan menantang tanpa gentar. Menggeser tubuhnya untuk menutup Lily lagi dari pandangan atau jangkauan Dion dan Fasa.


“Xel, bukan begitu. Kamu salah paham.” Lily kebingungan dengan situasi ini. Lily bisa melihat kemarahan suaminya lagi.


“Oh, jadi ini yang namanya Axel,” ucap Dion sinis.


“Iya, saya Axel. Walaupun Anda berdua dan saya sendiri, saya bisa melindungi wanita yang saya cintai.”


“Cih.” Dion berdecih geli mendengar kata cinta keluar dari mulut anak di bawah usianya. Tak ingin berlama-lama di sana, Dion menarik tangan Lily. Namun karena Axel yang sudah menguasai sabuk hitam dalam taekwondo, dia mampu melepas tangan Lily dari Dion yang membuat Dion sedikit meringis kesakitan. Untungnya hanya ada mereka berempat di halte bis itu.


“Xel, dia orang yang aku maksud.” Keluar dari balik punggung pria remaja itu dan berdiri di tengah. Takut persoalan akan berbuntut panjang. “Dia suamiku,” ucapnya dengan menunduk.


Axel terperangah. Bola matanya sekarang berpindah menatap Lily, berusaha mencari kejujuran di sana.


Lily mengangkat wajahnya menatap Axel lagi, “iya, Xel. Dengannya aku menikah,” ucapnya lagi dengan mata sendu.


“Tidak, tidak, tidak.” Axel menggeleng tidak percaya. “Kamu bohong, iya, kan?”


Lily sendiri tak kuasa melihat reaksi Axel yang terpuruk. Tapi bagaimanapun juga kebenaran harus diberitahu pada Axel, agar laki-laki itu berhenti mengharapkan cintanya. Lily bisa membayangkan seberapa dalam Axel terluka karena laki-laki itu tulus mencintainya.


Lily mendekati Axel dan memegang bahunya, “aku minta maaf, Xel. Seharusnya kamu tahu ini lebih awal,” ujarnya dengan ketulusan. Kini Lily mengusap-usap lembut bahu itu. Sebisa mungkin memberi ketegaran.


Lily tidak tahu sikapnya itu malah membuat Dion tambah keki. Dion sungguh tidak bisa berlama-lama melihat ini semua.


“Hei anak kecil! Gadis yang ingin kau lindungi ini istri orang. Jadi kedepannya berhati-hatilah.” Ditariknya tangan gadis itu sedikit kasar dan berjalan menjauh.


“Mas, lepas.” Namun tidak digubris. Dion membawa Lily menjauh dari halte itu.


Lily menoleh ke belakang, dilihatnya Axel merosot lemah dengan punggung menempel di dinding halte memegangi kepalanya. Lily merasa sedih dan sangat bersalah.


Fasa yang sedari tadi diam, lalu bergerak mengekor dari belakang, “Pak, ini payungnya.” Juga tidak digubris. Dion terus menarik tangan gadis itu dibawah tetesan gerimis menuju mobilnya.


“Mas....”

__ADS_1


“Kau ikut pulang denganku.”


“Aku akan pulang sendiri. Aku ingin menenangkan Axel sebentar, Mas. Kasihan dia.” Berusaha melepas pergelangan tangannya yang dicekal. Namun sia-sia, cengkraman itu bahkan semakin kuat.


Dion berhenti. Lily dan Fasa yang di belakang juga ikutan berhenti. Kini matanya menatap tajam gadis itu, membuat Lily menelan ludah.


“Apa kau sadar mengatakan ingin menenangkan laki-laki lain di hadapanku?”


“Mas, dia temanku.”


“Dan aku suamimu.”


Aku tahu kau suamiku.


“Mas, Axel terluka karena aku. Aku nggak bisa tinggalin dia dalam keadaan begitu.”


“Dan aku tidak bisa membiarkanmu dekat-dekat dengannya.” Menarik lagi tangan itu sampai mereka tiba di mobil.


Dion membuka pintu mobil samping kemudi, “masuk!” serunya setelah melepas genggamannya. Raut wajahnya tidak sedap dipandang mata.


“Motorku,” tunjuknya pada sebuah motor yang terparkir di dekat halte.


“Mana kuncinya?”


Walau tidak tahu apa yang akan dilakukan Dion, Lily segera merogoh ke dalam tas selempangnya mencari kunci. “Ini.”


Dion merampas kunci itu dari tangan Lily. “Kau bawa motor itu,” suruhnya pada Fasa yang dari tadi kebanyakan diam seraya memberikan kunci itu.


“Jangan. Itu motor kesayanganku.” Berusaha merebut kembali dari tangan Fasa. Dion dengan cepat menarik tangan Lily dan mendorong tubuhnya masuk ke dalam mobil. Setelahnya Dion ikut menyusul masuk.


“Mas, itu motor kesayanganku.” Merengek tidak terima barang kesayangannya disentuh orang lain.


“Fasa akan membawanya pulang, bukan untuk memakannya atau menghancurkannya.”


Lily melihat lagi ke belakang. Axel masih duduk meringkuk. Untuk kedua kalinya Lily meninggalkan Axel sendirian dalam hati yang terluka.


Fasa diam termangu melihat mobil yang biasanya dia kemudikan melaju meninggalkannya. Dilihatnya kunci yang ada dalam genggamannya. Sudah lama sekali dia tidak mengendarai kendaraan roda dua itu.

__ADS_1


__ADS_2